An Angel From Her

An Angel From Her
73# Bad News



"Oh.. Hai tante, good morning. Long time no see" Sapa Monica yang sejujurnya cukup terkejut dengan kehadiran bunda di hadapannya. Ia terlanjur berekspektasi bahwa Nathan yang muncul, tapi kenyataan mematahkannya.


Bunda tak serta merta menjawab sapaan Monica. Ia menyilangkan lengan di depan dada, memandang benci pada wanita di depannya dengan tatapan sinis. Memperhatikan tiap detail dari tubuh Monica dari atas hingga ke bawah dan sebaliknya.


"Ya.. Sudah lama ya. Ngomong-ngomong, ada perlu apa pagi-pagi datang bertamu ke rumah orang?"


"Uhm.. Yah, pastinya ingin ketemu dengan Nathan" Ucap Monica tanpa basa basi.


"Begitu ya?" Bunda menghentikan kalimatnya sejenak. "Memangnya kamu lupa? Atau belum tau kalau Nathan sudah menikah? Sudah punya istri?"


Segaris senyum getir tersungging di bibir Monica. "Aku tau kok tante. Tapi memangnya seberapa yakin tante bahwa Nathan bahkan benar-benar menganggap dia istri?"


"Tentu sangat yakin. Dia suka kok sama Dara. Sekarang pasti sudah cinta"


"Oh, please.."


"Monica, apakah tidak ada setidaknya setitik saja harga diri dalam diri kamu? Dan lagi, kamu tau kan sebutan apa untuk perempuan yang suka mengganggu rumah tangga orang lain?"


"Tante, kami saling mencintai. Perlu tante tau bahwa aku adalah cinta pertama Nathan, dan cinta pertama tak akan mudah untuk dilupakan"


Bunda berdecak sembari menggelengkan kepalanya perlahan. Kegigihan wanita bertubuh seksi itu sungguh memukaunya. Sepanjang hidupnya, baru hari ini dia menemukan wanita seperti Monica yang amat bermuka tembok.


"Maaf, saya tidak punya waktu untuk meladeni kamu karena masih banyak sekali hal penting yang mesti saya urus. Sebaiknya kamu pulang, lupakan Nathan dan jangan ganggu kebahagiaan dia dengan istri, dan calon anaknya"


Kata terakhir bunda menyita penuh perhatian Monica. Wajahnya berangsur berubah, ia meyakinkan diri bahwa apa yang baru saja di dengarnya tak salah.


"Calon anak?" Ulang Monica. Api emosinya seakan tersulut, kedua alisnya menukik menatap serius bunda di depannya.


"Iya, calon anak. Oh.. Sorry, memangnya Nathan nggak bilang ini sama kamu?" Bunda merasa menang karena telah mampu merubah ekspresi wajah yang awalnya nampak tenang menjadi tak karuan itu.


"Biar saya perjelas ya. Dara hamil"


"Nggak mungkin.."


"Lho, kenapa nggak mungkin?" Tanggap bunda santai, sementara lawan bicaranya makin terpancing emosi. "Kan sudah saya bilang. Nathan itu suka sama Dara"


"Tante pasti bohong"


"Untuk apa Monica? Kamu pikir saya bohong dengan bilang bahwa Dara hamil cuma untuk manas-manasin kamu?"


"T-tapi.."


"Sudahlah Mon.." Sambar bunda. "Lihat dirimu. Kamu itu cantik, seksi, masih muda. Pasti banyak sekali laki-laki yang mau sama kamu"


Monica hampir tak bisa mengatur napasnya dengan baik. Ia dapat merasakan kepalanya yang mendidih di penuhi amarah. Jika saja bunda bukan orangtua dari Nathan, dia sangat ingin mencabik-cabik mulutnya agar berhenti bicara.


"Ini nggak masuk akal" Gumam Monica.


"Mau saya kasih bukti? Eh, tapi jangan deh. Saya masih baik lho.. Saya tidak mau membuat kamu makin down karena melihat kondisi Dara yang nampak sekali aura hamilnya"


Bunda tertawa dalam hati atas gejolak batin yang mungkin sedang melanda Monica. Dia merasa amat puas atas reaksi yang ditunjukkan wanita itu padanya, sekaligus berharap Monica takkan lagi jadi duri dalam hidup putranya.


"Yasudah. Saya masuk dulu ya. Maaf lho tidak bisa mempersilahkan kamu masuk. Karena.. Saya menjaga perasaan menantu kesayangan saya yang sedang hamil cucu pertama saya. Bye Monica.. Have a nice day"


Bunda langsung menutup pintu tanpa mengindahkan Monica yang masih berdiri di tempatnya tanpa bergeser satu centi pun. Ia tak sama sekali memedulikan perasaan wanita itu yang seketika hancur berantakan, biarlah pikirnya. Memang itu yang diinginkannya.


"Ada siapa bun?" Tanya Nathan menginterupsi.


"Cuma orang salah alamat" Sahut bunda sekenanya. Kehadiran Nathan yang tiba-tiba cukup membuatnya terkejut.


"Oh.."


"Kita sarapan yuk. Mbak Asih sudah siapkan sepertinya. Dara mana?" Ajak bunda seraya mengarahkan putra nya menuju ruang makan.


"Masih di kamar. Sebentar lagi juga turun"


"Yasudah, kita tunggu di meja makan saja ya" Ucap bunda yang langsung di iyakan oleh Nathan.


Bunda bersyukur bahwa tadi bukan Nathan yang menemui Monica, bisa-bisa mereka akan kabur dan bukan tak mungkin Dara juga akan mengetahui tentang wanita itu. Detik itu juga bunda bersumpah akan menjaga hati dan perasaan menantunya sebaik mungkin sepanjang kehamilannya. Semua tak lain karena ia terlalu menyayanginya.


...***...


Monica tak sama sekali mengira akan mendengar kabar paling buruk dari mulut bunda, wanita paruh baya yang akan jadi target selanjutnya demi melancarkan niatnya untuk menikah dengan putranya. Kehamilan Dara, adalah hal yang paling tak diinginkannya. Tapi daripada itu, dia lebih merasa sakit hati dengan Nathan karena lagi-lagi gagal menepati janjinya.


Dia merasa sangat bodoh untuk yang kesekian kalinya karena mempercayai janji palsu yang keluar dari bibir Nathan. Kini agaknya makin sulit untuk memisahkan wanita itu dari hidup Nathan, anak yang dikandungnya tentu akan jadi alasan kuat bagi Nathan untuk mempertahankan pernikahannya.


Dari deretan pria yang pernah mengisi hidupnya, Nathan adalah yang mampu membuatnya sakit hati berulang kali. Pria brengsek yang sok berlagak patuh pada orangtuanya, pria paling plin plan dan menyebalkan. Dia sangat ingin mengutuk Nathan dengan kutukan kejam yang harus ditanggungnya seumur hidup atas semua janji palsunya.


Monica kalut, dia menyerah dengan semua impiannya hidup bersama Nathan. Wanita itu hamil, sudah pasti Nathan takkan semudah itu meninggalkannya. Dan bunda, akan mati-matian membela Dara.


"Nathan brengsek!" Umpatnya sembari menggenggam kencang ponsel yang menampilkan fotonya bersama Nathan lalu melemparnya sekuat tenaga ke arah cermin dalam kamar.


PRAANNGG....


Seketika pecahan cermin berhamburan dilantai. Layar ponselnya juga retak dan rusak akibat benturan keras tersebut. Monica dipenuhi amarah yang memuncak hingga tak mampu lagi berpikir jernih. Rasa sakit yang mendominasi hatinya seakan menuntunnya untuk melakukan hal-hal nekat.


"Aaarrgghhh...." Erangnya sembari mencengkram kuat-kuat rambutnya yang tergerai berantakan. Kedua bahunya naik turun, menanggung napas berat yang dihembuskan dengan kasar.


Ia menyumpah dalam hati akan membalaskan dendam atas rasa sakit yang diterimanya pada Nathan dan Dara. Monica berjanji, kedua orang itu takkan luput darinya.