An Angel From Her

An Angel From Her
35# Kejutan Dari Bunda



Tiga hari berlalu sejak pernikahan dilaksanakan, jika pasangan lain kian mesra seiring berjalannya waktu, namun tidak bagi Nathan yang justru semakin menjauhi Dara. Mereka tak pernah tidur satu ranjang, tak pernah makan dalam satu meja. Bertegur sapa hanya seperlunya. Bulan madu untuk mereka hanya sebuah ketidakmungkinan.


Sejujurnya, hal ini cukup mengecewakan untuk Dara. Karena pernikahan yang diimpikannya bukanlah seperti saat ini. Dia memang belum mencintai Nathan, namun ia tak berniat menutup hatinya untuk lelaki itu.


Dara mau belajar mencintai dia yang kini telah jadi suaminya, ia rela berdamai dengan keadaan yang memaksanya untuk mengesampingkan ego. Meski terkadang harus ada tetes air mata yang jatuh akibat seringkali keinginan tak sejalan dengan apa yang terjadi.


Seperti hari-hari sebelumnya, Dara selalu bangun lebih awal dari Nathan. Wanita itu termenung di tepi ranjang, memandangi sang suami yang masih terlelap di atas sofa dalam kamar. Pikirannya berandai-andai, kalau saja mereka saling mencintai mungkin saat ini ia tengah merasakan indahnya jadi pengantin baru.


Menatap wajahnya ketika akan terlelap, dan pemandangan yang sama menyambutnya ketika ia membuka mata kembali. Mendapatkan ciuman selamat pagi darinya, menyiapkan segala keperluan dan kebutuhannya untuk bekerja. Seandainya keadaan sekarang se-normal itu.


Nathan menggeliat sesekali, nampaknya ia begitu kelelahan. Tiba-tiba muncul satu pertanyaan yang terlintas dalam pikiran Dara, sebenarnya apa pekerjaan Nathan? Kenapa tiap berangkat penampilannya sedikit 'berbeda'?


"Tok.. Tok.. Tok.."


Ketukan pintu dari seseorang diluar kamar memecah lamunan Dara. Ia beranjak dan membuka pintu yang gerakannya dibuat se-senyap mungkin, mengingat jarak dari pintu dan sofa tempat Nathan tertidur cukup berdekatan. Dia tak ingin membuat Nathan terjaga dari tidur nyenyaknya.


Nampak mbak Asih yang tersenyum padanya ketika pintu telah sukses dibuka tanpa membangunkan Nathan disana.


"Permisi non, maaf mengganggu. Apa ada pakaian kotor? Kalau ada biar saya cucikan non.."


"Ada mbak. Sebentar ya" Ucap Dara. Ia masuk kembali ke kamar dan mengangkat keranjang berisikan pakaian-pakaian kotor. Lalu menyerahkannya pada mbak Asih yang masih bersiaga di depan pintu kamar.


"Ini mbak.."


"Terimakasih non.. Mmm.. Non Dara mau saya buatkan sarapan? Atau ingin memasak sendiri seperti kemarin?"


"Saya akan masak sendiri. Mbak Asih lanjutkan pekerjaan yang lain saja ya" Jawab Dara ramah.


"Baik kalau begitu non, saya permisi" Pamit mbak Asih.


Dara menjawab dengan anggukan serta senyum yang menampilkan lesung pipinya seketika. Sebelum memutuskan meninggalkan kamar, ia menoleh sebentar ke arah Nathan yang tak merasa terganggu sedikitpun.


"Aku akan berusaha, aku percaya dengan adanya keajaiban" Gumamnya sembari menutup kembali pintu kamar rapat-rapat.


.


.


.


Dara berjalan menuruni anak tangga sembari memegang salah satu railing yang terpasang di kedua sisi tangga. Ia baru akan menuju dapur ketika mendengar suara pintu utama dibuka oleh seseorang di baliknya.


Ia memasang mata baik-baik, mengamati siapa yang datang. Ternyata itu adalah bunda.


"Bunda.." Ucapnya riang. Ia segera menghampiri sang ibu mertua yang masih harus menggunakan kursi roda.


"Selamat pagi nak.." Ucap bunda sambil memeluk menantu kesayangannya.


"Selamat pagi bunda.. Ini.. bunda sudah diizinkan pulang? Kenapa nggak menghubungi aku atau Nathan? Kan kami bisa menjemput bunda"


"Bunda sengaja. Ingin bikin kejutan untuk kalian"


"Ya ampun bunda.." Ucap Dara sembari mengusap-usap bahu bunda.


"Nathan mana nak?"


"Ada di kamar. Mari bunda, Dara bantu"


Dara segera mengambil posisi di belakang kursi roda, lalu mendorongnya perlahan memasuki ruangan. Wajah bunda hari ini mulai tampak berseri, menandakan kondisinya yang telah membaik.


Dara menempatkan kursi roda yang digunakan bunda di sebelah sofa ruang keluarga, kemudian membantu bunda dengan sedikit membopong tubuhnya untuk berpindah ke atas sofa agar ia bisa lebih nyaman duduk disana.


"Bunda bagaimana keadaannya sekarang? Apa yang bunda rasakan?" Tanya Dara.


"Hmm.. Kamu mau tahu apa yang bunda rasakan sekarang?"


Dara mengangguk penuh semangat.


"Bunda merasa sangaat bahagia. Karena, ketika bunda pulang kesini disambut oleh anak kesayangan bunda yang paling cantik.." Goda bunda sembari menggenggam lembut tangan Dara di sebelahnya.


"Ah.. Bunda bisa saja" Tanggap Dara, tersipu.


"Ha..ha..ha.. Bunda serius nak. Bunda senang sekali rasanya"


"Lho.. Bunda?" Panggil seseorang dari arah tangga.


Nathan berdiri disana dengan masih mengenakan kaos tanpa lengan dan celana pendek se-lututnya. Ia cukup merasa terkejut ketika menyadari bunda berada di apartment, tengah mengobrol penuh suka cita dengan Dara.


"Bunda kapan pulang? Apa bunda sudah baik-baik saja sekarang? Apa masih ada yang sakit?" Cecar Nathan bagai tak ingin memberi jeda untuk bunda menjelaskan.


"Satu-satu nak.." Jawab bunda dengan lembut.


"Aku mengkhawatirkan bunda. Kemarin waktu aku mampir kesana dokter bilang bunda belum bisa pulang, tapi tiba-tiba sekarang bunda ada disini.."


"Iya.. Sebenarnya bunda memang masih harus dirawat. Tapi bunda sudah tidak betah berlama-lama disana. Jadi bunda meminta untuk rawat jalan saja. Ketika dokter memeriksa, ternyata kondisi bunda sudah jauh lebih baik dari kemarin. Makanya dia mengizinkan bunda untuk pulang. Tapi dengan catatan harus rutin kontrol tiap minggu" Jelas bunda.


"Syukurlah.. Aku tenang kalau bunda sudah baik-baik saja"


"Iya nak. Oh iya, apa kalian tidak bulan madu?"


Pertanyaan bunda membuat Dara menelan ludah seketika, sementara Nathan diam tanpa komentar. Andai saja bunda tahu, sejak menikah mereka bahkan tidak pernah sama sekali 'tidur' bersama.


"Dara?" Panggil bunda pada Dara yang wajahnya nampak bingung.


"Nathan?" Bunda beralih pada Nathan yang justru nampak hilang mood.


"Kenapa tidak ada yang menjawab?"


"Aku banyak kegiatan bun. Mungkin kapan-kapan" Sahut Nathan sekenanya.


"Kok kapan-kapan? Kalian itu perlu melakukan bulan madu lho. Agar bisa saling mengenal satu sama lain lebih jauh. Karena kalian ini kan menikah dengan jalan perjodohan, baru belum lama bertemu pula. Bulan madu itu penting Nath, Dara.. Untuk membangun bonding diantara kalian berdua" Ucap bunda.


"Apa perlu bunda yang siapkan semua? Tiket, akomodasi dan lain sebagainya untuk keperluan kalian?" Sambung bunda lagi.


"Maaf bunda. Tapi untuk sekarang aku benar-benar tidak bisa. Banyak yang harus ku kerjakan. Mungkin lain kali, aku akan mempertimbangkannya"


"Tapi.."


"Emm.. Bunda, Nathan benar. Dia sekarang memang sedang sibuk. Masih ada lain hari, kami akan mengatur lagi waktunya nanti" Ucap Dara memotong kata-kata bunda.


Nampak raut wajah tak setuju dari bunda. Ia sedikit heran dengan pasangan baru ini, kenapa begitu mudahnya menolak untuk pergi bulan madu? Padahal itu jadi salah satu momen yang cukup penting dari pernikahan.


Dan lagi, ia juga merasa seperti ada sesuatu di antara mereka berdua. Seperti saling menghindar, tak ada kontak mata yang menunjukkan perasaan diantara keduanya. Mereka seakan tetap menjadi orang asing yang tak saling mengenal walaupun telah terikat dengan pernikahan.


Namun bunda menepis pikiran-pikiran itu, ia mengerti. Cukup wajar jika demikian karena mereka baru menjalani pernikahan dalam hitungan hari. Seiring bergantinya waktu, pastilah akan tumbuh benih-benih cinta di antara Nathan dan Dara.