
-WARNING- 21+
TERDAPAT ADEGAN DEWASA PADA CHAPTER INI. BIJAKLAH DALAM MEMILIH BACAAN YA READERS KESAYANGAN ROSE 😘
.
.
.
.
.
Satu hari yang hampa dan membosankan di jalani lagi oleh Dara. Ia termenung, duduk di atas sofa yang sempat menjadi ranjang untuk Nathan dulu. Untuk pertama kalinya, ia merasa malas melanjutkan hasil rajutannya yang baru setengah jalan.
Dara menghela napas, membayangkan Nathan ada disampingnya. Sejak pagi, pria itu baru satu kali mengirim pesan padanya, berisi kalimat yang hampir sama dengan hari-hari sebelumnya.
Hari sudah siang dan ia belum juga menelepon nya. Dara tidak tahu sesibuk apa suaminya, meski tersiksa dengan rindu, ia tak tergerak untuk menghubungi Nathan duluan. Khawatir akan mengganggu waktunya.
Menunggu memang melelahkan, tapi kali ini bukan lelah secara fisik yang dominan, melainkan batin yang terus berperang. Menyesaki pikirannya dengan rindu tak berujung.
Seharian ini kegiatan Dara hanya sarapan, merajut, makan siang, sesekali berbincang dengan mbak Asih, lalu merajut kembali sambil menonton televisi yang menayangkan drama romantis. Membuat ingatannya melayang pada Nathan.
Bolak balik ia mengecek ponselnya, mengharapkan sebuah pesan atau panggilan lagi dari suaminya. Tapi nihil, bahkan hingga malam datang, pria itu belum juga menyampaikan kabarnya.
Dara menilik jam dinding yang menunjukkan pukul 20:00, rasa penasarannya semakin menjadi-jadi. Ia lalu memutuskan untuk menghubungi Nathan duluan. Menekan layar touch screen ponselnya, membuat panggilan telepon pada sang suami.
"Nomor yang Anda tuju, sedang tidak aktif atau berada di luar jangkauan"
"Lho?" Dara mengernyitkan dahi, kemudian mencobanya sekali lagi.
Beberapa menit berlalu, sebanyak apapun ia mencoba, nyata nya nomor telepon Nathan tetap tak bisa dihubungi.
Dara melempar ponsel ke atas ranjang dengan kesal. Pikiran jeleknya mengular, bisa saja Nathan tengah bertemu lagi dengan Monica, karena yang Dara tahu, dia memang sangat mencintai wanita seksi itu.
"Hiks.." Secara tak sadar, air matanya mengalir tanpa permisi. Membayangkan Nathan bersama wanita lain sungguh menyakitkan.
Dara memasrahkan seluruh kelanjutan hidup nya pada Tuhan sang pemilik semesta. Ia membaringkan tubuh di atas ranjang, dengan posisi meringkuk, membelakangi arah pintu masuk ke kamar, menghadap jendela yang menyajikan pemandangan kota dari balik tirai yang tertutup.
...***...
Di tengah tidur lelapnya, Dara merasakan sebuah sentuhan dari arah punggungnya. Membelai lembut rambutnya, menelusuri tubuhnya, mengelus lembut bagian perutnya dan memeluknya dengan hangat.
Dara yakin, ini adalah bagian dari mimpi. Mengingat ia memang tengah berbaring di ranjang. Ia berharap ketika melihat siapa orang yang memeluknya, dia adalah pria yang sedang dirindukan nya. Dara mengharapkan Nathan datang dalam mimpi nya malam ini.
"Sayang.. Aku datang.." Suara itu terdengar lembut berbisik di telinga nya.
Wanita itu kembali berpikir, dalam keadaan mata yang masih terpejam, rasanya ini terlalu nyata jika dikatakan sebuah mimpi. Sentuhan dari kulit ke kulit, bahkan ia juga dapat merasakan bibir yang menyentuh permukaan kulit telinganya.
Dara berusaha membuka mata, dan berhasil. Ia menoleh ke arah belakang, pada seseorang yang tengah mencumbu nya. Wajah tampan itu, tertangkap sorot matanya. Dia benar-benar menemukan Nathan, tapi bukan dalam mimpi.
"Nathan?" Ucapnya parau.
"Ya sayang, aku pulang.."
Dara tak mampu lagi menyembunyikan rasa bahagianya, dan langsung menyambut bibir suaminya dengan sigap.
Mereka saling menumpahkan kerinduan satu sama lain yang meledak-ledak di atas ranjang, ditemani cahaya temaram dari lampu di kamar tersebut.
Dara mendekap tubuh Nathan dengan hangat begitupula sebaliknya, namun pria itu sedikit merenggangkan posisinya yang berada di atas Dara karena khawatir akan terlalu menekan perut istrinya yang besar.
"Nath.." Panggil Dara dengan kedua telapak tangannya yang memegang wajah Nathan, menjeda ciuman yang mulai memanas itu.
"Hmm?" Nathan balik memandang istrinya.
"Aku merindukanmu.."
"Aku merindukanmu seribu kali lipat" Balasnya. "Kita lakukan malam ini ya?"
Dara menyetujui nya dengan cepat, mengangguk-anggukkan kepala penuh keyakinan. Nathan bernapas lega dan kembali ******* bibir istrinya, mencumbu seluruh tubuhnya penuh kelembutan dan hasrat yang menggebu.
Dengan peluh yang mulai berjatuhan, serta napas yang memburu, tubuh mereka saling bertautan dengan tempo gerakan yang dibuat senyaman mungkin untuk Dara yang tengah hamil tua.
Setelah malam panjang menyakitkan waktu itu, pada akhirnya Dara bisa merasakan kenikmatan duniawi yang sesungguhnya malam ini. Bukan sekadar jadi tempat pemuas nafsu yang tak diperhitungkan perasaannya.
Bersama Nathan, dia merasa segalanya lebih dari cukup.
...***...
"I love you" Bisik Nathan di telinga Dara. Ia memeluk wanita itu dari arah belakangnya. Tubuh mereka masih polos, hanya ditutupi setengah menggunakan selimut tebal yang hangat.
Sedangkan Dara tentu merasa amat nyaman dalam pelukan suami yang dirindukan nya itu. Walau di sisi lain ada sedikit pertanyaan yang ingin diajukan padanya.
"Apa kamu menyukainya?" Tanya Nathan penasaran.
Dara mengangguk sambil mengecup jemari suaminya yang berada dalam genggamannya. "Aku sangat menyukai malam ini"
"Tapi.. Nath, kenapa kamu nggak menghubungiku setelah mengirim pesan tadi pagi?" Lanjutnya.
"Aku sengaja ingin memberimu kejutan. Karena aku pikir kami akan sampai Jakarta jelang sore hari, tapi ternyata pesawatnya delay hampir satu jam. Dan ponselku mati total. Aku nggak bisa menemukan kabel charge nya, mungkin hilang atau entah kemana" Jelas Nathan panjang lebar.
"Lalu, ketika akhirnya sampai di Jakarta, Regy meminta untuk meeting terlebih dahulu di basecamp. Jadi aku baru bisa pulang pukul 21:00. Dan begitu sampai sini, kamu sudah tidur. Gagal deh surprise nya" Keluh Nathan.
"Nggak gagal kok. Apa yang kamu lakukan barusan adalah bagian dari kejutan"
Nathan tersipu, membenamkan wajahnya di belakang punggung Dara.
"Aku nggak bisa berhenti memikirkanmu, aku pikir kamu sudah melupakanku"
"Dara, tahukah kamu bahwa aku hampir mati karena merindukanmu? Kemanapun mataku memandang, aku hanya akan melihat bayang-bayangmu. Jadi, gimana bisa aku melupakanmu?"
Dara mengulas senyum diam-diam, tersentuh dengan apa yang baru saja diutarakan Nathan. Kalimat itu terdengar jelas tanpa dusta, dan ia memercayai nya.
Nathan kembali mencumbu istrinya dari tengkuk menjalar hingga ke bagian depan. Dara mendesis sesekali, menerima sentuhan itu. Sembari tangannya meremas pelan rambut bagian belakang suaminya.
Malam itu, Nathan bersungguh-sungguh dengan ucapannya yang mengatakan akan menyerang Dara tanpa ampun. Tubuh Dara benar-benar candu yang tak tergantikan baginya. Bagai obat yang mampu meredakan segala macam penyakit.
.
.
.
Mereka menghabiskan hampir setengah malam untuk bercinta, melepas rasa rindu satu sama lain. Membangun koneksi yang lebih intim sebagai pasangan suami istri. Sekaligus bonding untuk calon bayi mereka.
Dara terbangun dari tidurnya lebih dulu daripada Nathan, di waktu yang tanggung. Terlalu siang untuk ukuran pagi, dan terlalu dini untuk ukuran siang hari. Ia berpakaian dengan asal, sekadar untuk menutupi tubuh untuk berjalan ke kamar mandi.
Dibawah guyuran shower dengan air hangat, Dara membersihkan diri dari sisa pertarungan tadi malam. Dilihatnya bagian ujung bahu sebelah kanan, nampak tanda kemerahan di sana. Ia juga mendapati tanda itu di sekitar dadanya, dan mungkin masih banyak lagi di tempat lainnya yang Nathan tinggalkan.
Ia tersenyum dengan apa yang di dapatnya, perlakuan Nathan sungguh membuatnya ingin mengepakkan sayap lalu terbang sampai langit ke tujuh. Pengalaman bercinta yang luar biasa berkesan.
Selesai mengguyur seluruh badan, Dara segera mengeringkan tubuh dan mengenakan handuk kimono yang memiliki tali melintang di area pinggang. Ia juga mengeringkan rambut dengan hair dryer yang tersedia di samping meja wastafel. Diletakkan dengan penyangga yang menempel pada dinding.
Bibir nya tak dapat berhenti mengukir senyum seiring dengan kembalinya memori tentang tadi malam yang berputar sembarangan di kepalanya. Sembari mengarahkan alat pengering tersebut ke rambutnya yang mulai mengering.
Lalu ia mulai menyisir rambut menggunakan jemari, merapikan sedikit rambutnya yang tampak mengembang.
"Lagi mikir apa sampai senyum-senyum begitu?" Ucap seseorang ketika Dara merasa sudah cukup bersih dan baru akan berbalik menuju pintu, hendak keluar dari kamar mandi.
Dara terperanjat oleh suara yang diciptakan Nathan. Pria itu berdiri di depan pintu, diam-diam mengamati sang istri yang tengah sibuk bercermin sambil terus tersenyum sendirian.
"Nathan.. Kamu ngagetin aja" Protes Dara.
Nathan mendekat padanya, mendaratkan kedua telapak tangan di pinggang istrinya dan menatap wajah nya lekat-lekat.
"Aku tau apa yang kamu pikirkan" Ucapnya.
"Apa?" Nada bicara Dara terdengar menantang.
"Kamu sedang membayangkan aku kan?"
Dara mencubit manja perut Nathan. "Ihh.. Geer!"
Mereka tertawa beberapa detik, sebelum Nathan kembali memandangnya penuh arti.
Dan dalam satu kedipan mata, pria itu kembali ******* bibir istrinya, penuh nafsu yang menggelora.
"Mmh.. Nath.." Dara berusaha melepaskan jeratan itu, namun gagal.
Nathan terus menciuminya, aroma tubuh Dara yang telah membersihkan diri terasa sungguh nikmat menyesap masuk ke dalam rongga hidungnya.
"Nath, nggak. Ini kamar mandi!"
"Nggak masalah" Dengan segenap tenaga yang di kerahkan, Nathan mengangkat tubuh Dara dan mendudukkan nya di atas meja wastafel.
"Nathan.. Please.." Dara mendorong tubuh suaminya agar sedikit menjauh.
"Aku nggak dengar.."
"Nathaaannn!!" Teriak Dara. Saat Nathan melepas tali yang mengikat handuk kimono nya.