
Menjalani hari tanpa Nathan cukup untuk menggali lubang kehampaan dalam hati Dara. Meskipun memang sebetulnya Nathan lebih sering pergi dan meninggalkannya sendiri di apartment, namun sebelumnya kepulangan Nathan di malam hari adalah salah satu hal yang selalu di tunggu-tunggu.
Kini, tak ada lagi pria berpenampilan ghotic yang dengan sukarela menyerahkan ranjang empuk untuknya sementara dia ikhlas tidur di atas sofa yang panjangnya kalah dengan kakinya. Pria penggemar berat ayam bakar Minang. Dia yang selalu lahap menyantap masakannya meskipun tanpa ada satu pujian yang terucap.
Ini sudah hari ke tujuh dan Dara mulai merindukannya. Walau Nathan lebih sering mengabaikan dan mengacuhkannya, namun Dara tidak peduli. Dia tetap mencintai pria itu tanpa syarat apapun, tanpa sebuah ketentuan dan batas waktu.
Dara menduduki sofa singgasana Nathan, berusaha membayangkan kehadirannya. Jemarinya menyentuh lembut permukaan sofa tersebut sembari mengukir senyum tipis di bibirnya.
"Nathan.." Ucap Dara lirih. Dia menjeda kalimatnya sejenak. "Aku, dan dia. Rindu.." Sambung Dara sembari mengelus bagian perutnya. Tempat buah cinta nya dengan Nathan sedang bertumbuh.
Dara terhenyak, ada dorongan kuat dari lubuk hatinya yang paling dalam untuk menemui Nathan. Tidak perlu berlama-lama, cukup dengan hanya melihat wajahnya secara langsung. Dia tak tahu apakah ini murni keinginannya atau ada campur tangan si kecil. Tapi yang pasti rasa itu sangat besar. Harus bertemu Nathan hari ini juga!
Dengan hasrat yang menggebu Dara segera turun ke lantai satu, menuruni anak tangga cepat-cepat kemudian melangkahkan kaki menuju dapur. Jika ingin bertemu Nathan, maka ia juga harus menyiapkan sesuatu yang spesial untuknya. Dara hendak membuat menu favorit Nathan dan memasaknya dengan segenap perasaan cinta.
"Hari ini, kita akan bertemu ayah nak.. Tapi masakin menu favoritnya ayah dulu ya" Ucap Dara bagai sedang berbicara dengan anak di dalam kandungannya.
Dara belum pernah se-semangat ini, sekujur tubuhnya mendadak penuh energi. Dengan relung hatinya yang terus menggaungkan nama seorang pria, Nathanael Edward Smith.
...***...
Sesuai dengan ekspektasi, Nathan menyantap hidangan yang di bawakan Dara berupa ayam bakar itu dengan lahap. Dia menghabiskan semua menu kurang dari sepuluh menit. Bagai orang yang kelaparan, ia bahkan sempat mengacuhkan Dara yang menatap iba didepannya.
Baru genap seminggu, Nathan nampak mengalami penyusutan berat badan yang cukup signifikan. Wajahnya terlihat lebih tirus dibanding biasanya. Dara yakin pria itu pasti tidak makan dengan benar.
"Enak nggak?" Dara baru melemparkan pertanyaan ketika melihat Nathan telah selesai dengan makanannya.
"Semua yang kamu buat itu enak, Dara" Sahut Nathan setelah meneguk air mineral. Dara tersenyum lega.
"Syukurlah kalau kamu suka. Nath.. Aku lihat kamu sepertinya kurusan ya?"
"Uhm.. Aku memang jarang memakan jatahku"
Kedua mata Dara membulat. "Lho, kenapa?"
"Nggak ada yang enak. Sesekali aku makan cuma untuk menyambung hidup aja" Sahutnya asal.
"Yasudah, aku bawain aja ya. Tiap hari aku kesini"
Mendengar ucapan Dara, membuat Nathan tergelitik. Ia terkekeh pelan menanggapi istrinya yang nampak polos dan begitu mengkhawatirkan nya.
"Mana bisa Ra.." Ucap Nathan. "Sesekali juga sudah cukup. Kamu nggak usah terlalu khawatir padaku. Aku baik-baik aja. Kamu justru harus lebih memperhatikan dia" Arah mata Nathan mengisyaratkan ke area perut Dara.
Secara refleks tangannya menyentuh bagian perutnya yang mulai terasa berbeda. Rasa haru menyelimuti Dara ketika Nathan akhirnya memberi sedikit perhatian pada calon bayinya. Ia menatap Nathan dengan senyumnya yang mekar.
"Apa.. Dia baik-baik saja?" Tanya Nathan.
"Dia sangat baik. Apalagi setelah bertemu dengan ayahnya"
Nathan memahat senyum di bibirnya. Sepasang suami istri itu menghabiskan waktu kunjungan hanya dengan beberapa kali bertukar kata. Mereka lebih banyak saling memandang dan melempar senyuman. Nathan merasakan kehangatan menjalar ke seluruh relung hatinya, sikap tulus Dara padanya seakan kembali mampu menawan hati dan pikirannya.
"Baik-baik ya Ra.." Pesan Nathan ketika akhirnya polisi kembali menggandeng nya untuk kembali ke dalam sel.
Dara memandang Nathan dengan matanya yang berbinar. Ia menganggukkan kepala dengan hati yang berat, sembari berdo'a agar permasalahan yang tengah menimpa suaminya lekas mendapatkan titik terang.
Waktu kunjungan yang terasa singkat, tapi sudah sangat cukup baginya untuk mengobati rindu yang menyerbu. Dara meraih peralatan makan yang masih tergeletak di meja, semuanya sudah bersih tak tersisa. Nathan amat menyukai menu yang dimasaknya. Terlihat dari seberapa antusias pria itu menyantap dan ekspresi yang dikeluarkan setelahnya.
Nathan telah kembali ke dalam sel. Merenung, sembari meresapi pertemuannya dengan Dara barusan. Senyum ramah beserta lesung pipi yang memesona itu berganti dengan ruang kosong dan jeruji besi di depannya. Semua pemandangan pagi hari dan kesibukan Dara yang selama ini lekat dalam pandangannya sirna, berganti dengan kehampaan.
Dia menyesal karena dulu lebih memilih untuk mengabaikannya, disaat seperti sekarang hal-hal se sederhana itu justru malah jadi berharga dan selalu terkenang. Terlebih setelah ia menikmati lagi hasil mahakarya Dara si pemilik tangan ajaib itu, semakin membuatnya rindu dengan rumah.
Jika nanti, suatu saat diberi kesempatan lagi, Nathan bersumpah akan menghargai setiap momen kebersamaannya dengan Dara. Sekecil apapun, akan ia jaga dan simpan baik-baik sebagai sesuatu yang berharga. Wanita itu telah memantik api cinta yang sempat padam. Memulai kembali cerita kehidupan rumah tangga yang sesungguhnya. Di detik ini, Nathan yakin bahwa dia sudah jatuh cinta lagi.
Untuk yang kedua kali, dengan Dara.
...***...
"Dara.. Kamu darimana saja?" Suara seorang pria menggelegar, mendekat ke arahnya. Dara masih mematung di depan tangga, belum ada satu kaki pun yang ia pijakkan di atasnya.
Bibir Dara mengatup, belum tergerak untuk menjawab pertanyaan Keenan yang menghampiri nya dengan gurat kekhawatiran terukir di wajahnya. Dia tidak tahu apa masalah pria itu, yang pasti nampak sekali ada sesuatu yang membuatnya bereaksi sedemikian rupa.
"Kamu darimana?" Ulang Keenan. Dia masih berusaha untuk mendapat jawaban dari Dara.
"Aku.. Habis jenguk Nathan" Sahut Dara dengan intonasi datar.
"Sampai malam begini?" Nada bicara Keenan membuat Dara tak nyaman. Lebih terasa seperti interogasi dibanding khawatir.
"Tadi mampir sebentar ke cafe, minum segelas lemon tea. Aku butuh udara segar, sesekali keluar seorang diri nggak masalah kan?" Ucap Dara dengan penekanan di akhir kalimat.
Sorot mata Keenan melemah, mendengar ucapan Dara barusan sedikit menyadarkannya. Betapa saat ini dia tengah menghadapi situasi yang cukup rumit.
"Dara, maaf.. Kakak minta maaf kalau pertanyaan kakak membuat kamu nggak nyaman. Huuffhh..." Tukas Keenan dengan hembusan napas berat. Dara menjawab dengan segaris senyum.
"Kakak khawatir denganmu. Tadi kakak tanya mbak Asih, dia bilang kamu pergi sejak siang. Tapi sampai hari mulai gelap kamu belum juga sampai. Kamu sedang hamil dan dihadapkan dengan masalah seperti ini. Jadi kakak merasa, harus menjadi pengganti Nathan"
Kedua bola mata Dara membulat, membuat isyarat pertanyaan soal kalimat terakhir Keenan.
"Ehm.. Untuk menjaga kamu. Sampai.. Nathan kembali" Sambung Keenan, menegaskan maksud ucapannya yang terdengar ambigu.
"Makasih ya kak. Aku baik-baik saja.. Kakak jangan khawatir ya"
"Iya Dara.." Pria itu berkacak pinggang dengan satu tangannya. Sementara tangan yang lain ia gunakan untuk memijit bagian dahinya.
"Kakak kenapa? Apa ada masalah?"
"Yaa.. Sedikit. Bukan masalah sih sebenarnya" Keenan menjeda kalimatnya "Tadi.. Kakak kedatangan pasien anak yang sedang kritis. Kami hampir kehilangan dia. Situasi cukup menegangkan ketika dia sempat henti napas selama kurang lebih tujuh menit. Setelah kami upayakan pertolongan untuknya, syukurlah.. Akhirnya kami mendapatkannya lagi. Sekarang dia sedang dalam perawatan intensif" Sambung Keenan yang berusaha menghilangkan perasaan tak karuan di hatinya dengan bercerita pada Dara.
Meski bukan baru sekali kedatangan pasien anak dalam keadaan gawat darurat, Keenan masih seringkali merasa kalut. Dia adalah pria berhati lembut dan penyayang, terutama pada anak-anak yang lemah dan masih harus mendapat perhatian lebih.
"Ya ampun.. Syukurlah kalau anak itu masih bisa di selamatkan. Kak Keenan sudah melakukan yang terbaik. Pasti tidak lama lagi dia akan sehat kembali"
Keenan tersenyum tipis sembari mengangguk "Iya Dara, semoga dia lekas sehat"
"Kak Keenan ini suka ya sama anak-anak?" Tebak Dara mencoba membuka topik obrolan. Melihat keenan yang nampak layu, menggugah hatinya untuk memberi penghiburan untuk kakak ipar yang sudah di anggap sebagai kakak kandung nya itu.
Sebelum menjawab pertanyaan Dara, Keenan terlebih dulu menempatkan diri di salah satu anak tangga, duduk di atas sana. Matanya menatap sendu wajah Dara. Menyiapkan lidahnya untuk berucap.
"Itu memang salah satunya. Tapi ada lagi alasan lainnya"
"Apa itu?" Pertanyaan Dara mengandung rasa penasaran.
"Nathan.."
Dara mengernyitkan dahi, belum sepenuhnya paham dengan kalimat Keenan barusan. Pria itu nampak mengulur waktu untuk menjelaskan maksudnya, entah kenapa tapi Dara tertarik untuk tetap disana. Apalagi topik yang akan dibahas seperti ada hubungannya dengan Nathan, suaminya.
Lututnya mendadak pegal, Dara memutuskan untuk turut serta duduk di salah satu anak tangga bersebelahan dengan Keenan. Dan mulai mendengarkan cerita kakak iparnya.
Keenan menjelaskan bagaimana awal mula ia memilih untuk menjadi seorang dokter spesialis anak. Yang mana semua itu berawal dari kisah masa kecil Nathan yang penuh perjuangan, dari kehilangan sosok ayah, hingga tubuh lemahnya yang sangat sering terserang penyakit hingga hampir merenggut nyawa.
Keterbatasan mereka membuat bunda hanya mampu sekadar membeli obat dari sebuah warung kecil pinggir jalan. Tanpa diagnosis, tanpa dosis yang tepat. Tak ada satu orangpun yang sudi membantu gelandangan seperti mereka, dunia amat kejam dengan membiarkan orang-orang lemah menderita. Bahkan sampai mati.
Hingga datang satu hari dimana Nathan terserang demam tinggi. Amat tinggi hingga membuat tubuhnya melemah. Dua rumah sakit di datangi dan keduanya menolak bahkan mengusir mereka tanpa belas kasih. Bunda hampir putus asa dan berusaha merelakan jika Nathan harus meregang nyawa, meskipun nyatanya tidak ada satu orangpun ibu yang bisa benar-benar mengikhlaskan kematian anaknya.
Di tengah terpaan masalah yang menghadang, datang malaikat berkedok seorang dokter yang dengan sukarela menolong Nathan sampai sembuh tanpa meminta bayaran sepeser pun! Hanya ada 1:1000 manusia yang memiliki hati sebesar beliau. Memandang rata semua makhluk yang hidup di bumi.
Nathan selamat, selain karena pertolongan beliau, juga karena belum waktunya bagi Nathan untuk berpulang ke pangkuan Tuhan. Semua skenario telah di buat, masalah dari yang remeh hingga berat yang di hadapi hanya sebagai bumbu penambah cita rasa kehidupan yang fana ini. Bagaimana bisa seorang manusia hidup tanpa adanya sensasi menegangkan dan menantang?
Dari rentetan peristiwa yang di alami dan di saksikan, hati kecil Keenan tergerak untuk bersumpah. Suatu hari nanti, saat raganya jadi manusia dewasa, ia akan menjadi seorang dokter anak yang ringan tangan menolong semua anak-anak yang membutuhkan. Memandang mereka setara, tanpa ada yang di 'anak emas' kan berdasarkan ekonomi keluarga mereka.
Dara menyimak semua tanpa mengalihkan perhatiannya sedikitpun. Merasa bangga karena memiliki keluarga baru yang luar biasa. Saling menyayangi, menghargai dan tangguh. Dan di detik yang sama, rasa rindunya pada Nathan semakin memuncak. Membuat lubang kerinduan di hatinya kian dalam dan menyesakkan.