An Angel From Her

An Angel From Her
99# Menyesali



"Itu papa ku, sayang" Ucap Nathan tiba-tiba menginterupsi Dara yang tengah mengamati orang-orang dalam foto tersebut. Pria itu terbangun tak lama setelah menyadari Dara tak ada lagi dalam pelukannya.


Dia bangkit, menghampiri istrinya yang masih berdiri di depan rak buku. Ketika akhirnya ia mencapai dan mensejajari nya, sorot matanya juga ikut memandang sosok ayah dalam gambar itu.


"Terlihat seperti keluarga yang sempurna ya" Gumam Nathan.


"Ini memang sempurna"


"Setidaknya begitu kata orang-orang"


Hening sekian detik.


"Seandainya benar begitu, mungkin aku akan sangat bahagia"


Dara menghela napas, nada suara Nathan jelas terdengar parau.


"Aku pernah sedikit mendengar kisah tentangmu dan papa. Juga perjuangan kamu dan bunda" Kata Dara. "Nath, aku juga memiliki masa lalu yang kurang lebih sama denganmu. Bapakku pergi, membuang kami, tak menafkahi kami selama berbulan-bulan" Sambungnya.


Nathan menyimak sepenggal cerita Dara dengan serius. Sejujurnya, dia memang belum tahu banyak tentang bagaimana asal usul istrinya. Bagaimana masa lalunya, dan dari keluarga yang seperti apa ia dilahirkan.


"Bapak telah menggores luka sedemikian dalam di hati kami, menyakiti ibu berkali-kali, mengkhianati nya. Aku memahami perasaan ibu karena waktu itu aku sudah cukup besar untuk mengerti keadaan yang menimpa kami" Ucap nya lagi.


Menceritakan sedikit pengalaman hidupnya membuat Dara sedikit terkenang dengan rasa sakit dan kecewa yang bercampur jadi satu akibat perbuatan ayahnya dahulu.


"Wajar kalau aku, atau mungkin kamu merasa sakit hati dengan perbuatan orang tua kita. Tapi biar bagaimanapun, seorang ayah tetaplah ayah. Kita harus tetap berbakti, jangan sekali-kali coba untuk membenci. Nggak akan ada kita kalau nggak ada mereka. Tak peduli seburuk apapun perlakuannya, separah apapun hubungan kita dengannya, kita tetaplah menjadi keluarga yang sempurna"


Nathan mengukir senyum, dengan kehangatan yang menjalari relung hati tatkala mendengar kalimat Dara yang begitu menenangkan. Ia merangkulnya, dan memberi kecupan di puncak kepalanya.


"Kamu benar. Makasih ya selalu menebar energi positif untukku" Ujarnya. Dara mengangguk lembut sambil mengembalikan foto dalam frame tersebut ke tempatnya semula.


Mereka berdua keluar dari kamar beriringan. Nathan mulai merasa kelaparan, sedangkan Dara merasa harus segera menjamu suaminya.


Saat dua pasang kaki itu mencapai lantai satu, bunda yang tengah sibuk menata meja ruang makan langsung menyambut mereka. Terutama Dara, yang belum sempat ia temui dalam keadaan sadar sepenuhnya karena semalam ia begitu nyenyak dalam buaian mimpi.


"Bunda, apa kabar?" Ucap Dara yang segera menghampiri bunda dan mencium punggung tangannya. Sementara wanita paruh baya itu menyambut hangat menantu kesayangan nya dengan pelukan.


"Kabar baik anakku. Dara gimana? Calon cucu bunda juga bagaimana ini, sudah besar sekali ya" Ujar bunda sambil mengelus perut Dara.


"Sudah tujuh bulan" Sahut Nathan menimbrung.


"Wah.. Sebentar lagi dong ya. Haduh.. Nggak sabar bunda" Pendar kebahagiaan tampak berlompatan dalam sorot mata bunda.


"Eeh.. Non Dara, apa kabar non?" Sapa bi Sari yang baru datang dari dapur membawa dan meletakkan satu mangkuk bakmie goreng yang harum di atas meja.


"Baik bi Sari. Bibi apa kabar?"


"Kabar bibi juga baik, udah lama juga ya non ndak datang kesini"


Nathan terpusat pada kalimat terakhir bi Sari. Dia memandang penuh tanya pada sang asisten rumah tangga itu.


"Udah lama? Memangnya kapan Dara pernah datang kesini?" Pria itu juga melemparkan pandangannya pada Dara di sebelahnya. Sedangkan bi Sari juga nampak tak mengerti.


"Sudah, sudah, nanti lagi ngobrol-ngobrolnya. Sekarang kita sarapan dulu yuk. Dara, duduklah nak. Nath.." Bunda menginterupsi. Ia memberi isyarat pada Nathan untuk menduduki kursinya dan segera menyantap hidangan yang sudah tertata rapi di meja.


Meski masih penasaran dengan apa yang baru saja jadi pertanyaan nya, Nathan memilih untuk menyimpannya sementara. Dan berjanji akan mempertanyakan hal ini setelah sarapan selesai pada Dara yang terlihat enggan menjawab.


...***...


Melihat bagaimana tanaman itu dapat tumbuh dengan subur di sini, sudah pasti karena udaranya yang masih asri dan sejuk. Berbeda dengan di Jakarta kota metropolitan yang cenderung panas. Sehingga tanaman semacam mawar sedikit sulit untuk tumbuh dengan baik.


Dara mendekat, dan semerbak harum bunga mawar itu menyesap masuk ke indera penciuman nya. Area belakang rumah bunda menjadi spot favoritnya sekarang.


"Dara.." Panggil seseorang dari belakang punggungnya. Dara mengenali suara tersebut secepat kilatan cahaya.


"Iya Nath?" Sahutnya tanpa membalikkan badan.


Pria itu duduk di kursi yang disediakan bunda untuk sekadar bersantai sembari memandangi taman belakang rumah.


"Ada yang ingin ku tanyakan"


"Bertanya saja, apapun" Ucap Dara dengan cepat.


"Apa kamu pernah datang kesini sebelumnya? Kalau iya, kapan? Dan dengan siapa?"


Dugaannya benar, Nathan masih penasaran dan kembali mempertanyakan hal yang belum sempat terjawab tadi. Sebelum sesi sarapan bersama dimulai.


"Iya. Aku pernah datang kesini, tiga kali. Yang pertama sendiri, dan yang kedua dan ketiga kali.. Di antar kak Keenan" Dara membalikkan tubuhnya menghadap Nathan.


"Untuk apa? Jadi, kamu pernah pergi berdua dengan orang itu? Tanpa sepengetahuan ku?"


"Iya" Wanita itu berjalan perlahan sambil sedikit menopang bagian perutnya menuju kursi di sebelah Nathan yang masih kosong.


"Aku kesini waktu kamu masuk rutan. Ingin bertemu bunda untuk meminta bantuan. Setidaknya memiliki pengacara, agar bisa bantu kamu bebas" Jelas Dara.


Nathan bungkam, sembari menyimak baik-baik kalimat demi kalimat yang diutarakan istrinya.


"Aku datang kesini pulang pergi, karena beberapa kali bunda menolak permintaanku. Dan terkesan mengabaikannya. Aku paham, bunda telah sangat kecewa padamu. Tapi di sisi lain, aku harus tetap memperjuangkan kamu. Karena aku tau, kamu tidak bersalah"


Sesekali wanita itu menjeda kalimatnya, mengatur napas terlebih dahulu.


"Dan pada akhirnya, bunda mungkin merasa iba. Dia mengabulkan permohonan ku, menghubungi seorang pengacara handal andalannya. Tapi ketika kami ingin menemui kamu di rutan, ternyata kamu malah sudah dinyatakan bebas"


Rentetan cerita yang keluar dari mulut istrinya terasa bagai pisau yang menggores sayatan dalam hati. Nathan merasa malu, pada diri sendiri, terutama Dara yang ternyata sebegitu berjuang untuk kebebasannya.


Dalam kondisi hamil, bolak balik Jakarta-Bandung demi dirinya sang pengkhianat sejati, Nathan tak sanggup lagi membayangkannya.


Jika saja Dara tahu, bahwa semua ini adalah skenario rancangan Monica, mungkin dia akan merasa bahwa apa yang dilakukannya waktu itu sia-sia.


Nathan merutuk dalam hati, memaki dirinya yang amat bodoh.


"Kamu.. Bolak balik Jakarta-Bandung, demi.. Aku.." Ucap Nathan terbata. Dara memandangnya, tapi tak menjawab apapun. Hanya tersenyum manis. Amat manis.


Nathan sangat ingin menangisi kebodohannya, memeluk istrinya, mencari ketenangan dalam dekapannya. Tapi dia tahu, menangis hanya untuk seorang laki-laki pengecut. Yang berusaha lari dari dosa, berlindung dalam derasnya air mata. Berharap pengampunan yang tak pantas untuk nya.


"Ra.." Pria itu bersimpuh di hadapan Dara memegangi kedua tangannya.


"Aku mencintaimu"


Ada banyak sekali ungkapan yang ingin diutarakannya. Tapi Nathan memilih untuk hanya menyampaikan dua kata dari keseluruhan perasaannya saja. Selain itu, ia juga tak ingin terlalu banyak mengumbar janji pada Dara.


Bukan tidak yakin dengan dirinya sendiri, tapi akan lebih baik jika Dara cukup menerima pembuktian yang nyata. Bukan sekadar ucapan semu.