An Angel From Her

An Angel From Her
10# Bimbang



Rintik hujan turun membasahi sebagian wilayah ibu kota dan sekitarnya, termasuk kawasan tempat tinggal Dara saat ini. Udara pun berubah jadi sejuk dan segar untuk dihirup.


Makin malam suasana terasa makin syahdu, yang mana sebagian orang sudah terlelap dibuatnya. Namun tidak bagi Dara yang saat ini tengah duduk sendirian, termenung di teras rumah nya. Memperhatikan tetes demi tetes air hujan yang turun dan membuat genangan di tanah.


Ia masih memikirkan tawaran bunda tadi siang, tentang sebuah pernikahan yang diawali dari perjodohan. Dirinya merasa bimbang bagaimana sebaiknya ia memutuskan pilihan yang tak dapat sembarang di tentukan itu.


"Kok malam-malam melamun sendirian disini anak gadis?" Sapa ibu yang baru keluar dari dalam rumah dengan masih menggunakan kursi roda, menggubris lamunan anak gadisnya.


"Eh? Ibu.." Ucap Dara yang sedikit terkejut dengan kehadiran ibu.


"Sedang memikirkan apa nak?" Tanya ibu.


Dara menjawab dengan gelengan kepala dan senyuman ke arah ibu.


"Apa.. Soal tadi siang?" Tebak ibu.


"Hhm.. Yah.. Dara kok jadi berfikir, kalau apa yang bu Erina lakukan untuk kita seperti ada udang di balik batu ya bu" Ucap Dara. Matanya menerawang menembus tetesan rintik hujan di depannya.


"Kok bisa Dara berfikir begitu?" Tanya ibu.


"Entahlah bu, apa ini cuma fikiran negatif Dara saja. Dara merasa, bu Erina membantu kita agar kita jadi punya hutang budi dengannya. Lalu dia seenaknya meminta ini itu pada kita" Kata Dara menyampaikan argumennya.


"Hush.. Dara, tidak baik berfikir seperti itu" Sanggah ibu.


Dara diam.


"Kalau menurut ibu, bu Erina itu orang yang tulus lho nak" Sambung ibu.


"Bagaimana ibu tahu?"


"Ibu tidak tahu, ibu hanya bisa merasakan ketika berbicara dan bertatap muka dengannya. Ini terlepas dari apa yang sudah bu Erina lakukan untuk ibu ya.. Kalau memang beliau memiliki perangai yang buruk, ibu juga pasti tidak akan membela" Jelas ibu.


"Apa bisa mengetahui perangai seseorang hanya dari melihat wajahnya ketika berbicara?" Tanya Dara mulai penasaran.


"Tentu bisa nak. Hati yang baik dan murni memancarkan aura yang baik pula, aura itu terealisasikan lewat wajah. Kalau bu Erina, ibu melihat aura yang positif dari nya. Lalu dari tutur katanya, sembilan puluh delapan persen ibu yakin dia adalah orang yang tulus" Jelas ibu.


"Entahlah bu.." Jawab Dara.


"Nak.. Ibu tidak memaksa kamu untuk segera menikah. Senyaman nya kamu saja, kapan kiranya akan memutuskan untuk menikah. Tapi menurut ibu.. Tidak ada salah nya untuk mempertimbangkan tawaran dari bu Erina" Ucap ibu mengakhiri obrolan dengan putri sulungnya itu.


"Ibu masuk dulu ya, mau istirahat" Pamit ibu.


"Dara bantu ya bu" Ucap Dara dengan sigap menawarkan bantuan untuk mendorong kursi roda, dan mengantar ibu sampai ke kamarnya.


Selepas itu, dia juga menuju kamarnya yang terletak di sebelah kamar ibu. Membuka pintunya lalu menutupnya kembali. Dara menghambur di tempat tidurnya dan menutupi sebagian tubuhnya dengan selimut.


Tubuhnya miring ke sisi sebelah kiri ranjangnya yang membuat pandangannya mengarah ke jendela. Dari sana masih terlihat samar-samar bulir bulir air hujan yang membasahi jendela bagian luar.


Dia sengaja tidak menutup gorden dengan rapat, karena memang gorden itu terdiri dari dua bagian, yaitu lembar tipis yang menempel di kaca, dan lembar tebal yang bergantung pada penyangganya.


Ada perasaan yang ia sendiri tak dapat mengerti. Di satu sisi, ia merasa harus menerima tawaran bunda. Namun sisi yang lain ia masih belum terbayang akan jadi seperti apa dirinya ketika nanti jadi seorang istri.


Tapi dari semua hal, yang paling membuatnya bingung adalah, kenapa harus ada rasa untuk memenuhi permintaan bunda?


Dara fikir, setelah ibu sehat dan keluar dari rumah sakit beban di kepalanya akan berkurang, namun nyatanya justru makin bertambah. Bahkan cukup rumit jika di bilang ini adalah masalah yang bisa diputuskan hanya dengan memilih salah satu pilihan.


Setelah sekian lama bertarung dengan perasaannya sendiri, akhirnya gadis itu memutuskan untuk memejamkan matanya dan membiarkan dirinya terlelap dalam mimpi. Fikirnya, mungkin alam bawah sadar lebih 'bersahabat' dengannya.


\*\*\*


"Oke.. Nanti kita atur lagi sisanya saat meeting ya" Ucap bunda sembari mengakhiri panggilan di ponselnya.


Hari ini bunda memang masih berada di apartment, ia berniat untuk kembali ke Bandung siang harinya. Sebelas dua belas dengan Dara, entah mengapa setelah menyampaikan tentang rencana perjodohan itu bunda justru merasa gelisah, juga bimbang.


Ia menduga-duga hal apa yang akan diputuskan Dara nantinya, namun besar harapan gadis itu akan mau menerima pinangannya. Meski ia sendiri belum memastikan dengan betul, bersediakah putranya di jodohkan dengan gadis pilihannya.


"Eh Nath, kamu mau kemana?" Panggil bunda ketika melihat putranya baru saja keluar dari ruang studio.


"Ke basecamp bun.. Ada apa?" Jawab Nathan yang langsung menghentikan langkah ketika suara bunda sampai ke telinganya.


"Bisa kita bicara? Bunda hanya akan meminta sedikit waktumu" Tanya bunda.


"Bisa" Jawab Nathan. Ia lalu mengikuti bunda yang menduduki sofa ruang keluarga.


"To the point saja ya" Tutur bunda.


Nathan diam dan menyimak.


"Kamu.. Masih pacaran sama si Monica?" Tanya bunda langsung pada inti nya.


"Kenapa bunda menanyakan hal itu?" Nathan bertanya balik.


"Jawab saja dulu pertanyaan bunda" Tukas bunda.


"Masih"


"Kamu sudah siap menikah?" Tanya bunda.


"Menikah?" Nathan mengulang pertanyaan bunda barusan.


Bunda mengangguk pelan, menunggu kalimat apa yang akan keluar dari mulut Nathan.


"Tunggu.. Bunda mau meminta aku untuk menikah dengan Monica?" Tegas Nathan.


"Bunda hanya ingin bertanya. Sudah, pergilah" Perintah bunda.


"Hanya itu?"


"Ya.." Ucap bunda.


Nathan tak mengerti dengan maksud dari pertanyaan bunda barusan. Meski dirinya sedikit penasaran, namun pada akhirnya melanjutkan kegiatannya lagi lah yang dipilih. Pria itu bergegas pergi lengkap dengan tas gitar kesayangannya yang di sangkutkan pada sebelah bahunya.


"Ibu mau dibuatkan minum apa?" Sapa mbak Asih dari arah belakang bunda.


"Oh? Iya.. Tolong buatkan saya kopi ya mbak" Pinta bunda.


"Baik bu" Jawab mbak Asih.


"Eh mbak, tunggu sebentar. Sini, duduk dulu" Panggil bunda.


"Ada apa ya bu?" Tanya mbak Asih yang sedikit khawatir. Ia menduga ada hal terkait pekerjaannya yang akan disampaikan bunda.


"Mbak Asih tahu Monica kan?"


"Iya bu, tahu. Yang waktu itu kesini.. Pagi-pagi ya" Jawab mbak Asih dengan sedikit mengulur, khawatir akan salah sebut.


"Dara? Oh.. Gadis yang di pasar waktu itu ya bu?"


Bunda menjawab dengan anggukan. Mbak Asih menarik nafas sembari mengumpulkan kata-kata yang tepat untuk menjawab pertanyaan dari bunda.


"Kalau boleh jujur, mbak Monica memang cantik. Tapi mbak Dara lebih cantik, ayu gitu lho bu. Kalau di sandingkan dengan mas Nathan, rasanya jadi serasi bu. He he. Begitu" Tutur mbak Asih.


"Iya.. Saya juga setuju kl mbak bilang Dara itu ayu parasnya. Saya juga merasa Nathan sangat cocok dengan Dara. Daripada si DJ itu, saya rasanya nggak suka jika nanti dia jadi istrinya Nathan" Ucap bunda mengeluarkan keluh kesahnya.


"Tapi.. Si Monica ini, memang nya sering datang kesini ya mbak?" Lanjut bunda.


"Ah? Emm.. Anu.. J-jarang sih bu.. Kadang-kadang saja" Jawab mbak Asih terbata. Tentu saja ia mesti berkata bohong pada bunda karena sudah lebih dulu berjanji pada Nathan.


"Hhm.. Memang ya perempuan itu. Tidak punya aturan. Sudah tahu Nathan tinggal sendiri, mbak Asih disini juga nggak lama. Eh.. Dia malah sengaja datang-datang kesini" Ucap bunda jengkel.


Mbak Asih gelagapan, ada perasaan tidak enak hati pada bunda karena telah berbohong. Namun tak terbayang jika dirinya mengatakan hal yang sebenarnya bahwa Monica bahkan hampir setiap hari datang ke apartment, yang tentu nya jika bunda sedang tidak menyambanginya.


Mungkin apartment ini akan roboh akibat kemarahan bunda pada putranya, Nathan.


"Sebenarnya, saya sedang ada rencana untuk menjodohkan Nathan dengan Dara. Karena saya fikir, mungkin Nathan akan meninggalkan dunia nya yang sekarang jika dia punya istri. Apalagi kalau nanti sudah ada anak, pasti nalurinya sebagai ayah akan membuatnya berubah sedikit demi sedikit" Tutur bunda.


"Menurut mbak gimana? Pemikiran saya tepat tidak ya?" Sambung bunda.


"Bisa juga sih bu. Apa yang ibu bilang memang mungkin bisa merubah mas Nathan. Hanya saja, perlu dipertimbangkan juga siapa yang jadi pasangannya" Jawab mbak Asih, mengutarakan pendapatnya.


"Iya.. Mbak Asih benar. Nathan memang nampaknya sangat mencintai Monica. Sedangkan Dara, boro-boro cinta. Kenal pun tidak. Sepertinya akan butuh perjuangan keras untuk Dara" Ucap bunda menanggapi.


"Tapi, sekeras-kerasnya batu, bila tertimpa hujan akan retak juga. Begitu pula hati manusia, walau awalnya keras dan kaku, jika terus mendapat respon kebaikan pasti lama kelamaan akan baik pula" Tutur mbak Asih.


"Iya mbak. Terimakasih ya sudah bersedia mendengarkan curhatan saya" Ucap bunda.


"Sama-sama bu. Kalau begitu saya permisi mau buatkan kopi untuk ibu dulu ya" Ucap mbak Asih.


"Iya mbak" Jawab bunda singkat.


Sebelum minuman pesanannya tersaji, ponsel bunda kembali berdering. Ada panggilan dari karyawan restonya di sana. Ia lalu segera menekan tombol hijau pada layar touch screen ponselnya, dan menjawab panggilan tersebut. Hari ini, nampaknya bunda sangat sibuk.


\*\*\*


Usai menjalani latihan, Nathan memilih untuk menyendiri diruang tamu basecamp nya hanya berdua, dengan gitar kesayangannya. Ia memetik senar sembari menyanyikan sebuah lagu bertema romansa favoritnya dan Monica.


Meski mulut dan jemari berkolaborasi menciptakan nada yang harmoni, namun fikirannya justru melayang ke tempat lain. Tiba-tiba saja ia teringat pada pertanyaan soal pernikahan yang terlontar dari bunda siang tadi.


Sejujurnya, walau sekarang usianya sudah sangat cukup untuk menikah namun dirinya memang masih enggan menjalaninya. Karena yang ada di benaknya pernikahan itu adalah ikatan yang merepotkan.


Apalagi jika memiliki buah hati, terasa seperti sangat menyita ruang dan waktu baginya. Membayangkannya saja sudah membuatnya gerah.


Itu sebabnya dirinya selalu tak menanggapi permintaan Monica untuk menikah. Ia memang sangat mencintainya, namun jika harus terikat dengan 'pernikahan', rasanya ia perlu memikirkan satu juta bahkan satu miliar kali sebelum meng-'iya'kannya.


"Woi.. Nyanyi apa bengong" Gubris Mike yang ikut bergabung dengan Nathan. Ia membawa dua buah minuman kaleng satu miliknya yang telah dibuka, satu yang lainnya di sodorkan pada Nathan.


"Ngagetin aja lo" Ucap Nathan gusar.


"Tuh kan beneran bengong. Bisa-bisanya nyanyi sambil bengong" Komentar Mike.


"Mike.. Menikah itu gimana sih rasanya?" Tanya Nathan.


Mendengar pertanyaan kawannya barusan membuat Mike tergelak tak kuat menahan tawa.


"Ha..ha..ha.. Mana gue tau Nath. Kan gue belum nikah. Tanya Regy sana" Ucap Mike.


"Memangnya lo mau nikah Nath? Ah.. Lo sih gak nikah juga udah segitu bebasnya sama Monica. Ngapain lagi nikah" Sambung Mike lagi.


"Gue sih memang belum mau menikah. Lagi seru-serunya ngejalanin hidup kayak gini. Cuma tadi, nyokap tiba-tiba aja nanya, gue udah siap menikah apa belum" Ungkap Nathan.


Mike mengelus-elus janggutnya dengan ekspresi wajahnya yang bagai sedang berfikir.


"Ya mungkin memang beliau kepingin lo cepat menikah. Berapa sih umur lo sekarang? Tiga puluh lima ya?"


"Tiga puluh tiga woi" Bantah Nathan.


"Iya segitu, ya wajarlah kalau nyokap minta lo nikah Nath. Udah tua" Ejek Mike.


"Tuaan juga Regy" Bisik Nathan.


"Jangan ditanya. Ha..ha..ha.." Ucap Mike menimpali.


"Gue heran aja. Ada angin apa ya" Lanjut Nathan.


"Memangnya tadi gak tanya kenapa?"


"Nggak sempat" Jawab Nathan.


"Eh tunggu. Bukannya lo punya abang ya Nath?" Tanya Mike.


"Iya" Jawab Nathan singkat.


"Belum nikah juga kan dia?" Tanggap Mike.


"Belum. Itu yang sebenarnya jadi pertanyaan gue. Kenapa nyokap gak nanyain hal itu ke dia" Ucap Nathan sembari membuka segel minuman kaleng yang dibawa Mike.


"Ya, kalau memang disuruh nikah dan udah ada calonnya sih lanjut aja Nath. Yang masalah kan kalau calon belum ada, uang belum ada. Semua persyaratan lo udah memenuhi, tunggu apa lagi?" Tanya Mike.


"Gue belum siap. Gue bener-bener gak minat nikah sekarang" Sahut Nathan.


"Lo homo ya" Ledek Mike.


"Heh.. Br*ngs*k" Bantah Nathan sembari menendang kaki Mike disebelahnya.


Mike tertawa lepas melihat ekspresi Nathan yang kesal akibat kata-katanya barusan.


"Monica juga udah sering banget ngajak nikah, cuma ya itu tadi, gw sama sekali gak minat menyandang status sebagai suami" Ucap Nathan.


"Heh Nath, hidup itu sebenarnya simple, suka jalani, nggak ya tinggalkan. Ini mah emang lo aja yang bikin pusing sendiri. Gak mau nikah, yaudah gak usah nikah. Tapi cari pasangan yang se frekuensi, kalau Monica menentang keputusan lo, artinya dia gak cocok sama lo. Soal nyokap, bilang aja kalau lo gak mau nikah. Udah beres" Jelas Mike.


"Hahh.. Seandainya ini segampang cocot lo, gue gak akan curhat begini Mike" Sahut Nathan.


"Gak tahu ah, suka plin plan lo kayak cewek" Ucap Mike beranjak meninggalkan Nathan yang masih duduk di sofa.


"Eh.. Mau kemana?" Panggil Nathan.


"Boker. Mau ikut lo?" Jawab Mike.


Nathan tersenyum tipis sambil menggelengkan kepalanya. Ia kembali memetik gitarnya dan bersenandung merdu di tengah senja hari yang cerah.