An Angel From Her

An Angel From Her
AAFH - Extra Part : Chapter 2



Nathan memutar memorinya mengingat-ingat beberapa wanita yang pernah singgah dan berusaha mendapatkan hatinya walau semuanya harus menelan kekecewaan sebab ia tetap tak bergeming.


Tak ada dari mereka yang mampu menawan hatinya, kecuali Michelle. Dia baru menyadari perbedaan yang dimaksud Angel setelah berpikir lebih dalam tentang wanita itu. Selama bertahun-tahun hidup dan mengenalnya, Nathan selalu mencurigai bahwa dia adalah reinkarnasi dari Dara.


Sebab satu waktu, Michelle sering berbicara seolah dia datang dari masa yang lalu, dan seolah dia sudah sangat lama mengenalnya. Maka atas dasar prasangka yang belum terbukti itulah ia masih menjaga hubungan baik dengannya.


Nathan menemukan Michelle sepuluh tahun silam saat wanita itu datang ke toko alat musik miliknya, mencari sebuah bow untuk biola. Usianya baru sembilan belas tahun waktu itu, masih seorang mahasiswa sekolah tinggi musik di kota nya.


Pria itu memeluknya, hangat. Dengan perasaan bahagia yang membanjiri hati sebab menemukan sosok Dara setelah bertahun-tahun menjalani hari tanpa wanita yang dicintai nya itu. Dan Michelle membiarkannya, tak memberontak sedikitpun ketika Nathan mendekap erat tubuhnya.


Mereka baru saling melepas pelukan saat Nathan sendiri yang melepasnya. Ia memandang wajah itu, begitu cantik dan berseri. Sembari menyibak helaian rambut model bob se bahu, Nathan memahat senyum haru nya mengabaikan isyarat bingung dari Michelle yang sedang menatapnya lekat-lekat.


"Dara.." Gumam Nathan.


"Siapa Dara?,"


Dan di saat itulah, Nathan baru tersadar dari khayalan nya. Ia memandang Michelle tanpa ekspresi.


"Kamu.. Bisa berbahasa Indonesia?"


"Ya. Aku asli Indonesia, hanya bersekolah disini," Sahut Michelle. Suaranya, bahkan sekilas juga mirip dengan Dara. Yang berbeda darinya hanya model potongan rambutnya yang lebih pendek.


Nathan menghela napas sembari menetralkan perasaannya yang meledak-ledak. "Siapa namamu tadi?,"


"Michelle," Jawab wanita itu. "Aku kesini untuk mencari bow, apa kamu punya?," Sambungnya lagi.


"Tentu. Mari ku tunjukkan padamu," Ajak Nathan.


Ia mengambilkan bow biola yang dicari Michelle dan memberikannya pada wanita itu. Matanya tak bisa berhenti menatapnya, tak hentinya berdecak kagum atas kemiripan nya dengan Dara.


Bahkan ketika ia hendak pergi, Nathan menyempatkan diri untuk meminta nomor ponselnya dengan alasan yang terkesan di buat-buat. Namun wanita itu tak menganggapnya demikian, dan memberikan nomornya secara sukarela.


Maka sejak hari itulah, Nathan merasa Tuhan telah berbaik hati dengan mengembalikan sosok Dara dalam hidupnya, mungkin semacam memberi kesempatan kedua yang tentunya takkan ia sia-siakan lagi. Ia tak peduli siapapun namanya, berapapun usianya, bagaimanapun model rambutnya.


Nathan tetap percaya bahwa itu adalah Dara, dan ia terus menjaga komunikasi dengan baik agar bisa selalu terhubung dengannya, hingga detik ini. Sampai tiba saatnya Angel pun mulai menyukai sosok Michelle yang sering datang berkunjung dan mengajari ia bermain piano. Sebab selain biola, Michelle juga mahir memainkan musik dengan piano, dan karena bakatnya itu pula ia menjadi seorang tenaga pengajar di lembaga kursus musik.


Siang ini, setelah membereskan beberapa pekerjaan Nathan berniat untuk menemui Michelle di tempat kursus. Sudah sekitar satu minggu mereka tak saling bertemu, wanita itu sedang banyak jadwal sehingga tak memiliki waktu bahkan untuk sekadar bertatap muka dan say hello sambil berlalu sekalipun.


Ia mengendarai mobil sedan hitam mengkilap membelah lalu lintas yang lengang dan nampak rapi di sepanjang jalan ibu kota. Sejak pindah ke Los Angeles dan memiliki anak, ia sudah tak lagi berminat dengan mobil semacam Jeep seperti yang dulu. Meski mobil lama nya masih tetap ada, di tempatkan dalam garasi rumah bunda disimpan sebagai kenangan.


Pria itu sampai di lembaga kursus musik tempat Michelle mengajar dalam waktu lima belas menit. Ia menunggu di dalam mobil dengan kaca nya yang diturunkan sembari mengamati pintu masuk tempat tersebut. Perasaannya tak bisa dijelaskan antara senang, gugup dan rindu yang menjadi satu.


Hanya berselang beberapa menit sejak kedatangannya, Michelle nampak telah selesai dengan pekerjaannya. Ia keluar dari sana, dan Nathan langsung bergegas menghampiri sembari mengulas senyum untuknya dari kejauhan.


"Hei.." Sapa Nathan.


"Hei, kak Nathan. Kamu sampai datang kesini?," Michelle nampak antusias menyambutnya.


"Just Nathan," Ucap pria itu membenarkan panggilan Michelle padanya.


"Tapi aku merasa tidak enak kalau hanya panggil nama"


"Michelle please, kita sudah sering bahas ini. Oke?," Sejak saling mengenal, Nathan tak pernah setuju jika Michelle memanggilnya dengan embel-embel panggilan di depan namanya. Dari dulu, dia memang lebih senang begitu. Seperti Dara yang hanya memanggilnya dengan nama.


"Oke.. Oke.. Nathan."


"Good," Pria itu mengulas senyum mempesona untuk wanita yang disukainya. "Sudah selesai?," Tanya nya kemudian.


"Ya. Aku sudah selesai"


"Uhm.. Coffee? Sudah lama kita nggak ngobrol-ngobrol," Ajak Nathan seraya menunggu respon Michelle.


"Boleh. Sekarang?"


"Yes. Atau.. Kamu masih ada kegiatan yang lain?"


"Hmm. No, enough for today," Dua lesung pipi tercetak jelas ketika senyum manis itu mekar dengan sempurna di bibirnya, kontan membuat degup jantung pria yang berdiri di depannya ramai di dalam sana, dan membuatnya berusaha mati-matian menahan segala perasaan yang membuncah di hatinya.


"Let's go," Ajak Nathan seraya mengarahkan Michelle untuk mengikuti langkahnya.


Ia membukakan pintu untuknya, mempersilahkan wanita itu masuk dan menempati jok di sebelahnya. Selesai dengan itu, ia langsung menempatkan diri di belakang kemudi dan memacu kendaraannya menuju coffeeshop yang tak jauh dari sana.


Wanita itu baru tergerak untuk membuka obrolan ketika iced coffee pesanannya dan caramel macchiato pesanan Nathan datang.


"Bagaimana studio mu?," Tanya Michelle seraya mengaduk-aduk isi dalam gelas kopinya.


"Uhm? Studio? Oh. Ya, perkembangannya cukup bagus. Makin ramai," Jawab Nathan yang nampak salah tingkah.


"Syukurlah," Sahut Michelle sembari mengulas senyumnya.


Hening beberapa detik.


"Apa pekerjaanmu lancar Michelle?," Kali ini Nathan yang memulai.


"Lancar. Aku mendapatkan tiga orang murid privat, maka dari itu minggu ini aku jadi bertambah sibuk," Ucap Michelle.


"Wow. That's good," Timpal Nathan.


"Dimana Angie? Aku merindukan nya."


"Tadi dia pamit pergi ke rumah temannya, mungkin sekarang masih di sana. Dia juga bilang kalau dia merindukanmu."


"Ya, dia selalu mengatakan itu lewat telepon."


"Apa dia sering meneleponmu?"


"Ya.."


Nathan terkekeh pelan seraya menyembunyikan garis senyumnya dengan punggung tangan.


"Maaf ya kalau dia mengganggumu."


"It doesn't matter. Aku tidak merasa terganggu sama sekali Nath. Justru aku senang, karena saat bersama dengannya, aku merasa seperti sedang bermain bersama adikku," Ucap Michelle.


"Ehm, adik ya," Gumam Nathan dengan suara sekecil mungkin.


"Kenapa Nath?"


"Ah..? Nggak. Nggak ada apa-apa," Sahut Nathan gelagapan. Ia memahat senyum yang nampak dipaksakan di bibirnya, lalu berusaha bersikap biasa saja sembari meneguk minumannya perlahan.


Pria itu merutuk dalam hati atas gelagat anehnya barusan yang mungkin saja di sadari Michelle. Bagaimana bisa seorang pria kepala empat bersikap seolah ia adalah remaja belasan tahun yang sedang jatuh cinta? Perasaan canggung, kikuk, dan kadang-kadang salah tingkah di depan gadis yang disukainya, sungguh ia merasa sangat tak pantas.


Namun begitulah yang terjadi, Nathan tidak mampu menahannya. Sebab Ketika melihat wajah Michelle 'kembaran' Dara, membuatnya seringkali melupakan kenyataan bahwa dia adalah wanita yang lain, bukan istrinya, bukan Dara.


"Aku juga sangat merindukanmu, Nathan"


Bola mata pria itu membulat begitu mendengar pengakuan wanita di depannya.


"Apa?"


"Sudah sangat lama sekali. Aku merindukanmu setiap hari.."


Mendadak lidahnya kelu, tak ada kata yang dapat dikeluarkannya kecuali napas berat yang keluar secara bergantian dari hidung dan mulutnya yang sedikit menganga. Suara, dan ungkapan itu sungguh membuatnya shock.


"Be-benarkah?"


Mereka saling memandang cukup lama, hingga Nathan merasa bahwa ia baru saja terkena serangan jantung mendadak.


"Michelle, benarkah?," Seolah tak memercayainya begitu saja, Nathan mengulang lagi pertanyaan yang belum terjawab. Namun wanita itu seketika bereaksi seakan baru saja mendapatkan kesadarannya kembali. Ia mengedip-ngedipkan matanya beberapa kali sebelum menjawab pertanyaan Nathan.


"Apa?"


"Benarkah? Yang kamu katakan tadi?"


"Aku?," Michelle menunjuk dirinya sendiri. "Memangnya aku bilang apa ke kamu?," Ucapnya yang terdengar begitu natural.


"Tadi kan kamu bilang kalau.." Pria itu menggantung kalimatnya sementara Michelle terus memandangnya dalam kebingungan yang tak di buat-buat.


"Uhm.. Nevermind" Ucap Nathan akhirnya yang memilih untuk mengurungkan penjelasannya. Ia meminum lagi caramel macchiato yang mulai dingin itu, dan menghabiskan nya sesegera mungkin.


Ini adalah kali kesekian Michelle bersikap aneh seolah ia memiliki dua kepribadian. Atau mungkin dua jiwa dalam satu raga. Dan hal itu pula yang memperkuat dugaannya bahwa Michelle, adalah reinkarnasi dari Dara.