
Suara menggelegar dari knalpot motor sport yang di kendarai Nathan terdengar lantang di sepanjang jalan yang di laluinya, membelah kepadatan lalu lintas jelang siang hari itu. Emosi masih mengendap di hatinya, seakan mengarahkannya untuk berkendara hampir tanpa menginjak pedal rem.
Kedua sorot matanya fokus pada jalanan yang ditempuh, meski pikirannya melayang ke tempat lain. Masih sama sekali tak mengira bahwa Monica sanggup melakukan kejahatan seperti ini. Dia mengenalnya sebagai wanita yang baik dan rendah hati, meski punya segudang masa lalu yang rumit.
Nathan sadar sepenuhnya, bahwa dia telah menyakiti perasaan Monica hingga sangat dalam. Bahkan menghancurkan mimpi mereka yang telah dirangkai sedemikian indah di masa depan. Namun tak pernah sedikitpun terpikir olehnya bahwa Monica akan melakukan upaya balas dendam dengannya, bahkan melibatkan orang yang sebenarnya tak ada keterlibatan apapun.
Flashback on..
"Aku menyukaimu, Monica. Kita pacaran ya!"
Senyum manis terpahat sempurna di bibir seksi wanita berkulit eksotis di depannya. Monica sang DJ hits itu telah berhasil memikat hatinya tanpa ada celah.
"Kamu beneran yakin sama aku Nath? Kamu kan sudah tau bagaimana masa laluku, semua tentangku"
"Nggak ada apapun yang dapat merubah perasaanku padamu"
Nathan menatap dalam-dalam kedua mata wanita yang dicintainya.
"Aku nggak pernah jatuh cinta sebelum ini. Meski banyak wanita macam apapun di sekelilingku, cuma kamu Mon. Yang mampu menawan hatiku"
"Bagaimana dengan fansmu? Mereka mungkin akan membully ku habis-habisan kalau sampai ketahuan kita pacaran" Monica memandang Nathan dengan manja.
"Peduli setan. Lebih baik aku kehilangan mereka daripada harus kehilanganmu"
Nathan menggenggam lembut tangan Monica.
"Aku akan membahagiakanmu. Dengan cara apapun. Semampuku, sebagai orang yang mencintaimu" Pria itu menghadiahi kecupan di atas punggung tangan Monica. Sukses melemparkan Monica hingga ke langit.
"Oke. Aku pun akan jujur padamu, bahwa aku juga mencintaimu"
Rona merah memuai di permukaan kulit wajah Nathan kala mendengar jawaban dari wanita pujaannya. Merasa jadi pria paling beruntung karena memiliki kisah cinta yang mulus.
Mencintai seorang wanita-mengungkapkan perasaan-diterima. Suatu proses instan yang mungkin saja tak banyak orang bisa dapatkan.
Nathan mendekap erat tubuh Monica, menghadiahi kecupan bertubi-tubi di puncak kepalanya. Di sebuah cafe yang memiliki pemandangan indah ibu kota dari atas rooftop nya, dengan beberapa pasang mata yang menyaksikan momen bersejarah mereka.
Cinta bersemi dari dua orang yang saling mencintai. Nathan tidak tahu, apakah ada hal yang lebih indah dari ini.
Ckiiiitttttt..
Kembali pada kehidupan nyata, dimana ia masih duduk di atas motor sport yang di kendarainya. Nathan menginjak rem mendadak ketika menyadari baru saja tiba di persimpangan jalan. Lampu lalu lintas juga memerintah nya untuk menghentikan kendaraan. Selain itu, ia juga nyaris menghantam sebuah truck yang melintas di depannya.
Kenangan bersama Monica yang tiba-tiba berseliweran di kepalanya sedikit mengacaukan konsentrasi. Meski begitu, Nathan tak sedikitpun menyesali keputusannya untuk meninggalkan Monica dan memilih meneruskan kisah bersama Dara yang tengah mengandung calon anaknya.
Karena sudah jelas, Monica dapat dengan mudah menjelma seperti monster. Sedangkan Dara, tak peduli seberapa tersakiti hatinya, ia tetap tulus mencintai orang yang memiliki gelar sebagai suaminya.
...***...
Krriiieeett...
Derit pintu diciptakan Nathan yang baru saja sampai rumah sakit. Setelah menyelesaikan urusannya dengan Monica, kerinduan mengantarnya pada Dara yang masih terbaring disana.
Pintu ruang rawat inap terbuka lebar, ternyata ibu sudah berada disana. Duduk di pinggir ranjang tempat Dara berbaring. Sementara bunda menempatkan diri di atas kursi samping ranjang. Ia melempar tatapan heran pada Nathan yang menutup kembali pintu tersebut dan berjalan ke arah mereka.
"Bu.." Nathan meraih dan mencium punggung tangan ibu terlebih dahulu.
"Iya nak" Ibu tersenyum ramah.
"Bunda"
"Kamu darimana saja Nath? Kok istrimu ditinggal sendirian disini" Bunda memulai sapaannya dengan sebuah protes.
"Ada perlu sebentar bun"
"Tapi semestinya kamu diam disini saja dong nak. Kasihan Dara kalau perlu apa-apa nggak ada orang"
"Nggak apa-apa bunda. Lagipula kan disini ada perawat yang berjaga, kalau Dara butuh sesuatu tinggal tekan bel saja. Nathan hanya keluar sebentar, itu pun sudah atas persetujuan Dara kok" Bagai malaikat, Dara menyelamatkan Nathan dari bunda yang begitu hobi menginterogasi nya.
Nathan bernapas lega ketika melihat bunda yang langsung bungkam.
"Hei.." Pria itu beralih pada Dara pada sisi ranjang yang satu nya. Membelai lembut puncak kepalanya, serta menggenggam sebelah tangan sang istri penuh cinta.
"Sudah selesai urusannya?"
Nathan mengangguk dengan mengukir senyuman terimakasih untuk Dara yang pandai berakting. Mengingat dia bahkan pergi sejak tadi malam, dan baru kembali se-siang ini.
"Sudah"
"Minum obatnya?"
"Sudah juga tadi"
"Good" Nathan menghadiahi Dara dengan kecupan di atas dahinya.
"Bunda senang melihat kalian makin harmonis. Langgeng selamanya ya nak"
Nathan dan Dara menoleh bersamaan, mengukir senyum juga hampir bersamaan mendengar kalimat bunda barusan.
"Nak, selain darah tinggi. Adakah hal lain yang membuat Dara sampai seperti ini? Ibu sangat khawatir"
"Nggak ada bu. Dara baik-baik saja kok. Nggak lama lagi juga pasti sudah bisa pulang. Ya kan Nath?" Ucap Dara.
"I-iya sayang. Sebentar lagi juga boleh pulang bu"
"Dara.. Sudah berapa kali ibu bilang, panggil suamimu itu dengan sebutan mas, atau abang. Apapun itu asal jangan langsung namanya" Protes ibu.
"Nggak apa-apa bu. Aku lebih nyaman dipanggil Dara seperti ini kok. Bukan masalah" Nathan gantian membela Dara di depan ibunya. Mereka sungguh kompak.
Dara melempar pandangannya pada Nathan. Sikap pria itu sangat manis, membuatnya makin tenggelam dalam perasaan cinta yang meluap.
Bunda dan ibu menghabiskan waktu kunjungan dengan saling mengobrol bergantian bersama Nathan, lalu Dara dan seterusnya. Suasana ruang rawat inap itu terasa hangat kekeluargaan. Semua jarak yang awalnya terbentang di antara Nathan dan Dara kini musnah. Digantikan dengan cinta yang seakan bertambah dalam setiap hembusan napas.
...***...
"Aaa.. Buka yang lebar" Nathan menyuapi Dara yang sudah bisa duduk lebih tegak.
"Mmmm... Kalau disuapin kamu, kenapa rasanya jadi lebih enak ya" Dara menggombal.
"Iih.. Kamu ini ternyata bisa gombal ya" Nathan mencubit pucuk hidung Dara gemas. Menciptakan rona merah di kedua pipi sang istri.
"Nath. Sebenarnya kamu pergi dari tadi malam kan?"
"Iya. Kamu cari-cari aku ya?"
Dara mengangguk sembari mengunyah.
"Maaf ya. Aku pergi terlalu lama"
"Nggak apa. Memangnya kamu kemana?"
"Ke apartment. Ada sesuatu yang harus ku kerjakan" Nathan bersiap untuk menyuapi Dara dengan snack berupa pudding buah yang disediakan pihak rumah sakit.
"Apa itu?"
"Bukan hal yang terlalu penting. Ayo, makan lagi" Mengarahkan sendok ke arah mulut Dara yang kembali terbuka.
Hening selama beberapa detik.
"Sayang, apa kamu sudah lebih baik?"
"Iya. Asal ada kamu, aku merasa lebih kuat"
Nathan tersipu.
"Ra. Sekarang kalau ada apa-apa, jangan segan bilang padaku ya. Aku akan melindungimu"
"Kamu pikir, aku nggak bisa melindungi diri sendiri?" Dara mengerucutkan bibirnya.
"Bukan begitu. Aku tau kamu perempuan mandiri. Tapi, bukankah itu fungsi seorang suami, selain.." Nathan menggantung kalimatnya.
"Selain apa?"
"Membuat perutmu jadi membesar seperti ini"
Dara tergelak mendengar guyonan Nathan yang menggelitik. Nyaris membuatnya tersedak. Lesung pipi membingkai senyumnya yang amat candu. Sepanjang Dara tertawa, Nathan hanya mampu memandangi, dan menikmati indahnya ciptaan Tuhan di depan matanya.
Menyadari bahwa bunda benar-benar tak salah memilihkan jodoh untuknya.