
Kedua calon mempelai telah sampai di rumah sakit, tepatnya dalam ruang rawat inap VVIP yang bunda tempati. Beberapa yang lain juga nampak telah hadir disana. Ada ibu dari Dara, juga paman Surya yang akan jadi wali dari pihak Dara.
Nampak juga paman Arya yang biasa dipanggil Ucu dalam bahasa minang oleh Nathan keponakannya. Beliau adalah adik laki-laki dari bunda yang pagi ini baru mendarat di Jakarta untuk turut menjadi saksi dari pernikahan keponakannya itu.
Penghulu yang akan menikahkan Nathan dan Dara juga telah hadir disana kira-kira sejak setengah jam yang lalu. Semua yang dibutuhkan untuk kelangsungan acara akad nikah pagi ini telah siap.
Namun, hanya keluarga dan yang berkepentingan saja yang hadir. Nathan memang tak mengizinkan orang lain datang kesana. Saat menemui kawan seperjuangannya di black romance dua hari lalu, Nathan juga berpesan pada mereka agar tak datang ke pernikahannya.
Semua dilakukan untuk menghindari kehebohan yang mungkin saja terjadi. Bayangkan saja jika semua orang tahu seorang Nathan Smith gitaris terkenal yang dipuja bagai dewa oleh para fans menikah, dengan wanita yang bukan dari kalangan public figure. Wanita tukang masak di warung makan sederhana. Ia sangat tak ingin kabar pernikahan ini viral. Biarlah jadi rahasia, dunia tak perlu tahu.
Dara mengenakan kebaya pengantin yang nampak mewah dan elegant ditubuhnya. Kebaya yang sempat ditunda waktu pakainya. Wanita itu sungguh tampil sangat cantik, rambutnya di sanggul dan poni depan yang sengaja di sisakan pada sisi kiri dan kanan dahinya.
Riasan wajahnya nampak flawless, sangat pas. Tak ada yang berlebihan. Di hari spesialnya, Dara benar-benar bersinar. Semua orang berdecak kagum kala melihat penampilannya, kecuali Nathan sang calon suami yang bahkan masih terus memikirkan mantan pacarnya.
Nathan dan Dara diminta untuk menempati kursi yang telah dipersiapkan, bersebrangan dengan penghulu. Sementara paman Surya duduk di ujung meja yang di atasnya terdapat beberapa berkas yang nantinya akan di tanda tangani oleh kedua mempelai.
Perasaan Dara tak dapat digambarkan dengan apapun. Semua bercampur aduk, ada bahagia, haru, gugup, juga setitik keraguan. Ia melirik Nathan disebelahnya yang tampak dingin, tak ada raut kebahagiaan yang terpancar dari wajahnya.
"Ya Tuhan, aku akan menikah. Apa ini nyata" Batin Dara.
Penghulu bersiap untuk memulai acaranya, ia melafalkan do'a-do'a dengan khidmat. Setelah itu ia meminta Nathan untuk berjabat tangan dengannya. Dengan ragu pria itu menjulurkan tangan perlahan dan segera disambut oleh sang penghulu.
Dalam satu tarikan nafas dan suara yang terdengar sedikit bergetar, Nathan berhasil melafalkan ijab dan qabul, tanpa ada pengulangan sama sekali. Ia telah resmi jadi suami untuk Dara.
Do'a-do'a indah dipanjatkan pada sang khalik, agar rumah tangga mereka senantiasa diberi keberkahan, rezeki yang melimpah serta langgeng sampai maut memisahkan. Tapi hal itu berbanding terbalik dengan Nathan yang terus tenggelam dalam bayang-bayang Monica.
Dara diminta untuk menyematkan cincin pernikahan di jari manis Nathan, begitu pula sebaliknya. Cincin itu, dimaksudkan sebagai simbolis bahwa kini mereka adalah dua insan yang telah dipersatukan oleh ikatan pernikahan yang sah, secara agama dan negara.
Setelah saling menyematkan cincin satu sama lain, Dara langsung mencium punggung tangan Nathan. Memindahkan baktinya yang semula untuk ibu jadi kepada pria asing yang sudah jadi suaminya.
Perasaan gugup yang dialami Dara makin menjadi kala Nathan juga diminta untuk menciumnya. Dengan tubuh yang gemetar ia membiarkan Nathan memegang kedua pipi dan mendaratkan kecupan tepat di tengah keningnya.
Ciuman pertama yang ia rasakan dari seorang suami, tentu terasa begitu membahagiakan. Tapi tak berlaku bagi Nathan yang bahkan ketika mencium Dara, ia malah membayangkan wajah Monica.
"Semoga kalian bahagia selalu ya nak" Bisik bunda pada Nathan yang menghampiri dan memeluknya dengan erat.
"Bunda lekas sehat ya. Aku sangat menyayangi bunda" Balas Nathan haru.
"Terimakasih sayang"
Nathan melepas pelukannya, bergantian dengan Dara yang juga menyalami dan memeluk bunda yang masih terduduk lemah di atas ranjang.
"Dara, kamu sudah jadi anak bunda sekarang nak. Bunda sayang sekali denganmu. Bahagia selalu ya bersama Nathan" Ucap bunda lirih.
"Iya bunda, terimakasih atas do'anya. Mudah-mudahan bunda juga lekas sehat kembali ya. Dara juga sayang sama bunda" Balas Dara.
Bunda membelai lembut wajah menantu kesayangannya yang nampak sangat cantik hari ini. Menatap penuh kasih sayang kedua mata teduh itu.
Nathan berpindah pada ibu, ia mencium punggung tangannya sebagai tanda hormatnya pada ibu yang telah jadi mertuanya mulai hari ini. Ibu menyambutnya dengan mengusap lembut bahu Nathan.
"Ibu titip Dara ya nak Nathan. Tolong jaga dia baik-baik" Pesan ibu. Dalam tatapan ibu, tersirat harapan yang digantungkan pada menantu laki-lakinya itu.
"Iya bu" Jawab Nathan singkat.
Nathan menyingkir dari hadapan ibu, kini Dara juga melakukan hal yang sama dengan Nathan. Ia mencium tangan ibu lalu memeluknya erat. Tangis harunya tumpah dalam pelukan ibu.
"Do'akan Dara ya bu.." Ucap Dara lirih.
"Do'a ibu selalu menyertaimu nak.. Rukun-rukun ya nak.."
"Iya bu.. Hiks.." Dara memeluk ibu makin erat.
Usai mendatangi kedua orang tua, Nathan dan Dara juga turut menyalami paman mereka yang datang dan menjadi saksi serta wali dalam pernikahan. Meminta do'a restu agar pernikahan mereka berjalan dengan baik.
Prosesi akad nikah telah selesai. Semua berkas juga sudah ditanda tangani. Penghulu yang menikahkan mereka juga nampak telah meninggalkan ruangan, menyisakan hanya keluarga di sana.
Nathan mendudukkan dirinya di tepi ranjang sembari menggenggam lembut tangan bunda di sebelahnya. Senyum kebahagiaan tergambar jelas di wajah pucat bunda, cukuplah melihatnya seperti ini. Nathan berharap bunda lekas pulih dan tak lagi mengalami sakit seperti sekarang.
"Uni sudah baik-baik saja?" Sapa Arya pada bunda.
"Sangat baik.. Oh iya, Kamu menginap di Bandung saja Ar, nanti biar di antar pak Eko"
"Gampang itu uni, aku mau jalan-jalan dulu. Sudah lama juga tidak keliling Jakarta" Sahut Arya.
"Om nggak ajak tante sama anak-anak?" Tanya Nathan ikut menimbrung.
"Tidak Nath. Om baru berangkat tadi pagi, penerbangan pertama. Tidak ada persiapan dari jauh-jauh hari, jadi anak-anak sama ibunya ya ditinggal" Tanggap Arya.
Nathan menanggapi dengan senyuman tipis sembari menganggukkan kepalanya perlahan.
"Ya.. Memang ada sedikit masalah kemarin," Sahut bunda.
"Tidak apa-apa, yang penting kan sekarang jadi dilaksanakan. Mudah-mudahan rumah tangga kalian langgeng selalu ya. Nak Dara, kamu memang sangat cocok dengan Nathan," Puji Arya pada Dara yang berdiri di sebelah Nathan.
"Terimakasih do'anya Om," Tanggap Dara tersipu.
"Rancak kan menantuku Ar?"
"Sangat. Kamu pintar cari istri Nath" Gurau Arya ke arah Nathan.
"Oh iya, Keenan bagaimana kabarnya uni?"
"Dia baik. Tapi.. Yah, namanya sedang di luar negeri ya, jadi tidak bisa dadakan kembali ke Indonesia. Dia hanya titip salam untuk Nathan dan Dara"
"Iya.. Iya.."
Bunda dan Arya sang adik melanjutkan obrolan mereka. Dua kakak beradik yang telah lama tak berjumpa saling melepas rindu satu sama lain. Sambil sesekali juga melempar obrolan pada ibu yang masih berada di sana.
Sementara itu, Nathan hanya menyimak dengan pikirannya yang kian dipenuhi oleh Monica. Semakin ia berusaha untuk mengalihkan, justru semakin kuat pula ingatannya kembali padanya. Bahkan ketika mungkin suatu saat kepalanya mengalami trauma hebat akibat benturan, lalu mendadak amnesia, satu-satunya yang takkan terlupakan adalah hanya dia. Ya, hanya Monica seorang.
...***...
"Nath.." Panggil bunda yang baru terbangun. Nathan terperanjat, ia langsung beranjak dari sofa dan menghampiri bunda.
"Iya bun? Bunda mau apa?"
"Kalian masih disini," Ucap bunda kala melihat Nathan dan Dara yang masih berada di rumah sakit bersamanya.
"Iya, aku masih disini menemani bunda," Sahut Nathan.
"Jam berapa ini?"
"Sekarang pukul 20:00 bunda," Jawab Dara yang kebetulan memakai arloji.
"Sudah malam, Nathan.. Pulanglah, ajak Dara bersamamu," Ucap bunda.
"Aku ingin disini. Kalau aku pulang, Bunda akan sendirian," Ucap Nathan menolak.
"Bunda tidak apa-apa nak."
"Nathan benar bunda. Nanti kalau tidak ada yang menemani bunda akan kesulitan kalau butuh sesuatu," Ucap Dara.
"Disini banyak perawat nak. Bunda tidak akan kesulitan apa-apa kok. Kamu kan pasti capek Dara, butuh istirahat."
"Dara tidak apa-apa bunda."
"Pulang nak.. Ayo Nath, ajak istrimu pulang ya. Lagipula, ini kan malam pengantin kalian," Gurau bunda.
Mendengar hal itu, Dara langsung salah tingkah. Rasa gugup itu kembali muncul.
"Oh iya, apa pak Eko sudah kembali kesini? Dia kan tadi mengantar ucu jalan-jalan dan ke rumah di Bandung. Kalian bisa minta diantar kalau dia sudah kembali."
"Sepertinya belum bun. Ke Bandung pasti macet. Biar aku pulang naik taksi saja," Sahut Nathan.
"Baiklah."
Nathan mengambil kacamata hitam dari dalam saku jas, lalu memakainya. Tak lupa masker penutup setengah wajah untuk meminimalisir risiko seseorang yang mungkin akan mengenalinya ketika ia berjalan keluar bersama Dara.
"Kenapa pakai itu nak?" Tanya bunda keheranan.
"Biar aman. Aku pamit ya bun," Ucap Nathan seraya berlalu dari bunda.
"Aku juga pamit ya bunda," Pamit Dara sembari mencium punggung tangan bunda.
"Hati-hati di jalan ya nak," Ucap bunda.
Nathan keluar lebih dulu dari ruang rawat bunda, melangkahkan kakinya cepat-cepat khawatir ada yang memperhatikan dirinya. Sementara Dara mengikutinya dari belakang dengan tergesa-gesa.
Bawahan kebaya yang digunakan beserta tas jinjing berisi beberapa pakaian dan barang-barang yang dibawanya sedikit memperlambat langkahnya mengejar Nathan yang sudah jauh di depannya. Pria itu bahkan tak mengindahkan sedikitpun istrinya yang kesulitan mencapainya.
Ia baru berhenti ketika telah sampai di lobby dan menyetop taksi yang kebetulan baru saja menurunkan penumpang disana. Nampak Dara yang berjalan tergopoh-gopoh menghampirinya. Nafasnya terengah-engah.
"Lama banget. Ayo, masuklah!" Perintah Nathan.
Dara mengikuti instruksi darinya dengan langsung masuk ke dalam taksi yang telah dibukakan pintunya. Nathan segera menutup pintu kala Dara telah menempati kursi di kabin belakang, sementara dia memilih untuk duduk di kursi sebelah supir.
Dara menatap nanar Nathan yang berada di depannya. Di hari pertama mereka dinyatakan sebagai suami istri bahkan Nathan tak ingin duduk bersebelahan dengannya. Semenjijikan itukah dirinya untuk pria itu? Batinnya.