
Nathan mematung di ambang pintu, menyimak setiap penjelasan dari bi Nah di hadapannya. Monica pergi tanpa pamit, meninggalkan rumah, tanpa meninggalkan jejak. Pria itu diam sembari berpikir langkah apa yang harus di ambilnya sekarang.
Ia mengingat-ingat beberapa orang yang mungkin saja di datangi Monica dan mengetahui kemana perginya wanita itu. Walau tak sepenuhnya yakin, tapi tak perlu berpikir seribu kali untuk langsung mengambil langkah tersebut. Lebih cepat tentu akan jadi lebih baik.
"Bi Nah, saya pamit dulu.."
"Eh, mas Nathan mau kemana?"
"Saya mau cari Monica ke tempat temannya. Barangkali dia ada disana"
"Kalau sudah ketemu, tolong kabari bibi ya mas.. Bibi tunggu kabar baiknya"
Nathan menjawab dengan senyum tipis pada bi Nah yang nampak begitu cemas. Ia bergegas meninggalkan rumah Monica, kemudian melaju bersama Jeep nya menuju rumah salah satu teman baik dari Monica.
Tempat pertama yang di tuju adalah rumah Tara. Dia adalah teman sesama DJ di tempat mereka bekerja. Monica cukup akrab dengannya, bahkan ia juga sering menginap dirumahnya, serta menghabiskan waktu bersama. Kemungkinan Monica berada disana pasti ada, hanya saja Nathan tak ingin terlalu yakin.
"Hilang?" Ucap Tara yang sedikit terkejut. Nathan mengangguk perlahan.
"Kamu sudah ke rumahnya Nath?"
"Barusan aku habis dari rumahnya. Bi Nah bilang sudah sekitar satu minggu lebih Monica nggak pulang-pulang. Nomornya juga nggak bisa di hubungi" Terang Nathan sembari tolak pinggang.
"Aku juga nggak dengar kabarnya cukup lama Nath. Dia juga nggak masuk kerja. Yah.. Kurang lebih sama dengan apa yang bi Nah bilang. Sekitar satu minggu lebih. Waktu itu aku coba hubungi, tapi nomornya nggak aktif. Aku sih nggak mikir gimana-gimana, aku fikir dia cuti dan belum sempat ngabarin" Jelas Tara panjang lebar.
Nathan memijit-mijit dahinya sembari berpikir. Ia harus meneruskan pencariannya. Meski sesekali terdengar gemuruh dari atas langit, niatnya tak sama sekali tergoyahkan.
"Yasudah, aku pamit ya. Makasih Tara"
"Sama-sama Nath. Kabari aku juga ya, kalau sudah ketemu Monica"
"Ya.."
Nathan berlari kecil ke arah mobilnya yang terparkir di depan gerbang rumah Tara. Ia segera menaikinya dan kembali memikirkan tujuan selanjutnya.
"Kamu kemana sih Mon" Gumamnya sembari mengendalikan setir di tangannya.
Selain Tara, ada pula kawan baik dari Monica sejak duduk di bangku sekolah menengah, Cathy. Wanita itu tinggal di apartment tak jauh dari tempat tinggal Tara. Cathy juga seorang anak broken home yang tak lagi dekat dengan kedua orang tuanya.
Persamaan nasib di antara keduanya menjadikan mereka semakin dekat. Pertemanan yang terjalin juga cukup awet. Cathy banyak mengetahui sekilas tentang masa lalu dan semua yang berkaitan dengan jalan hidup Monica, begitu pula sebaliknya.
Hal ini membuat Nathan sedikit yakin bahwa Cathy mungkin saja mengetahui keberadaan Monica sekarang. Karena selain pada dirinya, Monica biasanya juga sering mencurahkan isi hati dan segala unek-unek pada wanita yang berprofesi sebagai model itu.
Setibanya di apartment, pria itu tak perlu waktu lama untuk menemukan pada lantai berapa dan kamar mana yang di tempati oleh Cathy. Ia bersyukur Monica pernah beberapa kali mengajaknya mampir kesana.
Usai beberapa kali memencet bel, keluarlah seorang wanita cantik bertubuh tinggi, dengan rambut panjang warna coklatnya yang terurai indah. Dialah Cathy yang di cari.
"Nathan?" Terka Cathy sembari menatap pria di hadapannya.
"Hai Cath, sorry ganggu" Sapa Nathan.
"Nggak ganggu kok. Ada apa ya? Tumben kamu kesini?"
"Mmm.. Aku to the point saja ya. Apa kamu bertemu dengan Monica baru-baru ini?"
"Monica? Hmm.." Gumam Cathy meraba-raba ingatannya.
"Sempat sih.. Aku ketemu beberapa hari yang lalu. Eh, apa sudah satu minggu yang lalu ya?" Cathy nampak tak yakin dengan ucapannya sendiri.
"Memangnya ada apa sih Nath? Kok kamu nanyain Monica sama aku?"
"Monica hilang Cath, aku sudah kerumahnya, ke rumah teman kerjanya. Nggak ada yang tahu dimana dia sekarang" Sahut Nathan.
"Kok bisa? Kalian pasti lagi berantem ya?" Tebak Cathy. Nathan merunduk.
"Aku sempat ketemu dengan Monica. Sepertinya baru tiga hari yang lalu. Kami minum kopi di cafe langganan kalian itu lho.." Sambung Cathy.
"Serius? Lalu.. A-apa yang dia bicarakan denganmu?" Ucapan Cathy barusan bagai angin segar bagi Nathan yang seperti kehilangan arah.
"Dia nggak ada cerita apa-apa sih. Nggak bilang juga kalau lagi ribut sama kamu. Kami ngobrol seperti biasa saja gitu. Aku malah sekarang kaget lihat kamu tiba-tiba datang kesini dan bilang Monica hilang. Kamu sudah coba hubungi belum?"
"Sudah. Sudah berkali-kali aku coba hubungi. Tapi nomornya nggak aktif" Ucap Nathan.
"Kemana ya?" Gumam Cathy bagai bicara dengan dirinya sendiri sembari menggigit-gigit ujung kuku jari telunjuknya.
"Cath, coba kamu yang hubungi dia. Barangkali nomorku di blokir dan nomormu nggak. Aku mengkhawatirkannya" Ide dari Nathan lewat begitu saja di dalam kepalanya.
Ia jadi sedikit teringat dengan kata terakhir Monica padanya beberapa waktu lalu, pada hari dimana ia akan menikahi Dara. Monica mengatakan bahwa akan pergi jauh dari kehidupannya, ia juga tak ingin Nathan mencarinya.
Pria itu sepenuhnya sadar bahwa telah menyakiti perasaan tulus Monica padanya. Menghancurkan hubungan dan kesetiaan satu sama lain yang di rajut sejak empat tahun silam. Menghamburkan semua mimpi mereka tentang kebersamaan hingga menua nanti.
Monica tak main-main dengan ucapannya. Ia benar-benar pergi, menjauh. Mungkin takkan kembali lagi.
"Nggak bisa juga Nath. Nggak aktif nomornya" Ucap Cathy usai melakukan panggilan pada Monica.
"Mungkin nggak kalau dia ke Singapore?" Tebak Cathy.
"Aku nggak tahu. Tapi sepertinya ada kemungkinan. Nanti aku coba hubungi Helena" Sahut Nathan dengan nada keputus asaan.
Cathy mengangguk perlahan sembari tersenyum iba pada pria di depannya.
"Aku pamit ya Cath. Makasih banyak untuk infonya. Sekali lagi, maaf sudah mengganggu waktumu"
"Iya Nath. Sama-sama. Semoga kamu segera mendapat info tentang Monica ya. Aku disini akan bantu sebisa ku untuk cari tahu keberadaannya" Ucap Cathy sembari mengusap lengan sebelah kiri Nathan.
"Thanks Cath.."
"Aku tahu dia sangat berarti untukmu. Kamu juga sangat berarti baginya. Hanya kamu yang diinginkannya. Aku mengerti bagaimana dia mencintaimu" Ucapan Cathy semakin menusuk perasaan terdalam Nathan. Perasaan bersalah kian menyiksa batinnya.
"Yasudah. Kamu hati-hati ya" Sambung Cathy.
Nathan tak sanggup lagi berkata-kata, ia hanya mampu melemparkan senyum tipis dan segera melangkahkan kakinya dengan gontai menjauh dari hadapan Cathy yang masih memperhatikannya dari ambang pintu.
Cathy dapat menangkap rasa penyesalan Nathan lewat tatapannya yang penuh harap. Meski di samping itu, ia sendiri juga tak mengerti dengan masalah yang menimpa mereka berdua. Karena yang ia tahu, selama ini ketika bertengkar pun Monica tak pernah sampai menghilang dan mengabaikan Nathan seperti sekarang. Dari sini sudah jelas, bahwa ada masalah yang lebih besar di antara mereka.
...***...
"Satu hot americano" Ucap seorang pramusaji di cafe yang tengah di sambangi Nathan. Ia menyuguhkan kopi pesanan pria yang tengah fokus mengamati ponsel yang diletakkannya di atas meja.
"Terimakasih.."
"Sama-sama kak" Jawab si pramusaji seraya meninggalkan Nathan yang dipenuhi rasa gundah di hatinya.
Pria itu menyeruput perlahan kopi dalam cangkir yang di angkatnya mendekat ke bibirnya, sembari meniup sedikit uap panas yang menyentuh wajahnya. Ia buru-buru meletakkan cangkir itu di atas piring kecil dibawahnya ketika menyadari panggilan teleponnya ke Helena tersambung. Ini adalah panggilannya yang ke lima.
"Halo Nath.. Apa kabar nih?" Ucap Helena mengawali obrolan lewat telepon.
"Baik kak.. Kak Helena sendiri bagaimana?"
"Aku juga baik. Ada apa nih Nath? Tumben telepon?" Helena dapat sedikit menangkap maksud dari Nathan yang tiba-tiba menghubunginya.
"Mau tahu kabar kakak.. Dan.. Monica" Jawab Nathan, ia tak ingin langsung mengatakan bahwa dirinya tak dapat menemukan Monica disini.
"Monica? Maksud kamu?"
"Monica.. Ada bersama kak Helena kah?"
"Nggak tuh Nath. Monica nggak ada disini. Memangnya kamu nggak ada ketemu dia? Kok sampai nanyain ke aku?"
Nathan terdiam sekian detik. Menerima jawaban yang terdengar begitu alami, tanpa ada yang di rekayasa atau di tutupi keluar dari mulut Helena.
"Jadi.. Dia juga nggak ada disana kak?"
"Iya Nath.. Kamu sudah ke rumahnya?"
"Sudah kak. Bi Nah bilang belum pulang sudah satu minggu lebih"
"Hah?"
"Aku sudah mencari kemana-mana. Mendatangi teman-teman dekatnya. Mereka juga nggak tahu Monica dimana. Aku fikir dia mendatangi kak Helena"
"Nath, aku nggak ngerti deh. Ini kalian lagi bertengkar? Atau gimana? Terus Monica pergi gitu?"
"Iya kak.."
"Waduh.."
Mereka sama-sama terdiam sejenak, bagi Helena, ini adalah kabar yang cukup mengejutkan.
"Aku fikir Monica mendatangi kak Helena ke Singapore. Dia pergi tanpa kabar, nomornya juga nggak bisa dihubungi. Aku nggak tahu dimana dia sekarang"
"Nath, calm down. Pelan-pelan saja, kamu cari tahu lebih banyak lagi lewat beberapa orang yang mengenalnya. Mungkin dari sana kamu akan bisa menggali informasi. Aku rasa Monica nggak jauh-jauh. Dia kan nggak bisa berlama-lama jauh darimu"
DEG !
Kalimat terakhir yang diucapkan Helena begitu mengena jauh ke dalam hatinya. Hal itu mungkin saja terjadi jika bukan seperti ini jalan ceritanya, tapi ini berbeda. Rasanya terlalu sakit untuk terus di ratapi.
"Nanti ku hubungi lagi kalau aku sudah menemukannya ya. Terimakasih untuk infonya, maaf mengganggu waktunya kak" Tutup Nathan. Ia mengakhiri panggilan teleponnya.
Tangannya merogoh saku celananya, di dalam sana tersimpan satu bungkus rokok yang hendak di bakar untuk menemaninya berpikir kemana lagi arah dan tujuan selanjutnya. Orang-orang terdekat yang besar kemungkinan akan di datangi Monica sudah ia temui, namun semua jawaban mereka sama.
Asap rokok yang di hembuskan mengepul di sekelilingnya. Sambil menyeruput kembali hot americano nya yang sudah tak lagi 'hot' tiba-tiba terlintas dalam ingatannya tentang satu tempat yang bisa saja di singgahi Monica, sebuah kawasan yang terasing dari hiruk pikuk ibu kota. Tempat terakhir kali ia menghabiskan waktu berdua dengan wanita seksi yang sedang di carinya itu.
Ya, disana, villa pribadi milik Helena!