
Derap langkah tergesa-gesa dari seorang pria dengan sepatu boots nya menggema di lorong rumah sakit. Kepanikan menyertai raut wajahnya. Napasnya ikut terengah-engah, menjadi satu paket dengan keadaan yang di alami nya saat ini.
Nathan mendapat kabar dari mbak Asih tentang Dara yang mendadak mengalami kontraksi sekitar empat puluh menit yang lalu. Tanpa berpikir satu atau dua kali, dia langsung melesat secepat mungkin menuju rumah sakit tempat Dara dilarikan.
Dari kejauhan, nampak mbak Asih yang terlihat duduk dengan gamang di sebuah kursi. Nathan makin mempercepat langkahnya.
"Mbak.. Mbak.. Gimana keadaan Dara sekarang?!"
Mbak Asih langsung berdiri, tapi belum sempat menjawab karena dokter yang menangani Dara keluar dari ruangan di depannya.
"Dokter. Istri saya bagaimana?"
"Ibu Dara mengalami kontraksi di kehamilannya yang masih sangat dini untuk melahirkan. Analisa pertama, kemungkinan karena tekanan darahnya yang tinggi. Tapi saya masih akan melakukan pemeriksaan lebih lanjut untuk memastikan apakah ada penyebab lainnya atau tidak" Jelas dokter.
"Darah tinggi?" Nathan seakan tidak percaya dengan apa yang di dengarnya. Karena selama ini Dara tak pernah mengeluhkan apapun padanya. "Tapi.. bayinya?"
"Bayinya terpantau aman. Semua masih bagus, hanya ibu Dara harus dirawat beberapa hari untuk memastikan kondisinya tetap baik"
Nathan sedikit bernapas lega ketika mendengar bayi nya baik-baik saja. Namun di sisi lain, dia juga sangat mengkhawatirkan Dara.
"Terimakasih banyak dok"
"Sama-sama. Saya permisi"
Usai menjelaskan kondisi terkini dari pasiennya, dokter tersebut melenggang pergi sedangkan Nathan cepat-cepat masuk ke dalam ruang rawat untuk menemui sang istri yang tengah tergolek lemah dengan selang infus, serta oksigen di hidungnya.
"Sayang.." Nathan menghambur begitu melihat Dara yang ternyata masih terjaga.
Wanita itu tersenyum, menyadari bahwa ini adalah pertama kali Nathan memanggilnya dengan panggilan se-mesra itu, 'sayang'.
"Are u okay? Apa yang kamu rasakan sekarang?"
"Mmhh.. Aku hanya merasa sedikit lemas"
"Gimana dengan perutnya? Apa masih sakit?" Nathan menyentuh perut istrinya dengan rasa khawatir yang membludak.
"Sudah lebih baik. Dokter sudah memberikan obat agar sakitnya hilang"
Pria itu melepaskan napas penuh kelegaan, mendengar dan melihat sendiri bagaimana kondisi Dara sudah membaik. Meski wajahnya terlihat masih pucat.
"Kamu nggak usah khawatir Nath. Aku dan bayinya baik-baik saja"
"Gimana aku nggak khawatir sayang. Kalian adalah hidupku sekarang" Suara Nathan melembut. Dia juga menghadiahi Dara dengan belaian dan kecupan di puncak kepalanya. Membuat rasa hangat menjalari seluruh tubuh wanita itu.
"Kamu kok nggak pernah cerita kalau ada riwayat darah tinggi?"
"Aku nggak pernah punya riwayat darah tinggi Nath. Itu terjadi juga baru-baru ini, saat aku sudah hamil" Jelas Dara. "Waktu itu dokter hanya bilang kalau aku nggak boleh, stress"
"Kamu pasti stress. Karena kelakuanku, sayang.. Entah berapa kali lagi aku harus meminta maaf padamu, untuk menebus semua dosa-dosaku"
"Naath.." Dara menyentuh lembut wajah Nathan dengan sebelah tangannya.
"Pintu maaf selalu terbuka untukmu. Aku juga sudah melupakan kejadian masa lalu. Yang terpenting, sekarang kamu kembali padaku"
Dara memandangi raut wajah Nathan yang dipenuhi rasa penyesalan. Membalas sentuhan Dara, pria itu menggenggam balik tangannya dan mengecupi dengan penuh cinta.
"Aku mencintaimu Dara. Janji ya, kamu harus kuat!"
"Aku juga mencintaimu Nathan" Segaris senyum mekar sempurna di bibir Dara, lengkap dengan lesung pipi. Dalam keadaan sakit pun, dia tidak kehilangan pesona nya sama sekali. Membuat Nathan kian jatuh hati padanya.
"Oh iya. Ngomong-ngomong, makasih ya kiriman brownies nya. Enak, aku suka!" Ucap Dara.
"Brownies?" Nathan mengulang penuh keheranan.
"Iya. Yang kamu kirim tadi siang"
Nathan mengernyitkan dahi, sampai kedua ujung alisnya menukik kebawah hampir menyatu.
"Tapi.. Aku nggak kirim apa-apa ke kamu Ra, apalagi brownies"
Mereka saling melempar pandangan satu sama lain selama beberapa detik sambil berpikir.
"Lho.. Tapi tadi kurirnya bilang kalau kamu yang order disana, lalu pakai layanan pengantaran agar aku bisa segera mencicipi nya. Karena hari ini kamu akan pulang malam" Dara bersikeras.
Dara termenung, menyadari ada sesuatu yang tidak beres.
"Lalu.. Siapa yang mengantar brownies itu tadi?"
...***...
"Dari hasil serangkaian pemeriksaan, penyebab kontraksi spontan yang terjadi pada ibu Dara disebabkan oleh konsumsi obat misoprostol, atau kebanyakan orang mengenalnya sebagai obat penggugur kandungan" Terang dokter yang menangani Dara.
Kedua bola mata Nathan membulat, bagai tak memercayai informasi yang baru saja diterima gendang telinganya.
"Apa tidak salah dok? Penggugur kandungan?"
Dokter tersebut menyerahkan lembar hasil pemeriksaan lab, dan Nathan langsung membaca dengan teliti.
"Kami menemukannya dari sample urine ibu Dara. Obat tersebut sangat berbahaya. Karena bukan hanya bisa meluruhkan janin dalam kandungan, tapi juga menyebabkan perdarahan pada ibu hamil, yang berujung pada kematian"
Nathan menyimak baik-baik penjelasan sang dokter sambil menyimpulkan sendiri sesuatu dalam pikirannya. Dia teringat kemarin Dara baru saja menceritakan soal kiriman brownies misterius padanya, bisa jadi ini semua ada hubungannya.
Usai berdiskusi dengan dokter kandungan, Nathan langsung buru-buru mendatangi kamar perawatan Dara. Terpikir untuk mengkonfirmasi sesuatu pada sang istri yang masih terbaring lemah disana.
"Hei.." Sapa Nathan lembut, pada Dara yang baru terbangun dari tidurnya.
"Hei Nath.." Senyum manis terulas di bibirnya.
"Kamu baru bangun?"
"Iya, baru saja. Bisa minta tolong ambilkan minum Nath? Aku haus"
Nathan beranjak, menuangkan segelas air mineral untuk Dara. Kemudian menyerahkan gelas tersebut setelahnya.
"Makasih ya.." Dara membangunkan tubuhnya dengan sedikit dibantu Nathan, lalu cepat-cepat meneguk perlahan. Membasahi kerongkongan nya yang kering.
"Iya sayang. Mau makan?"
Dara menjawab setelah menyelesaikan tegukan nya. "Belum Nath"
"Oke. Mmm.. Dara, ada sesuatu hal yang ingin ku tanyakan padamu. Bisa kamu jawab?"
"Iya Nath, apa itu?"
"Kamu merasakan kontraksi, sebelum atau sesudah memakan brownies itu?"
Dara diam sejenak, dengan ingatannya yang kembali pada kejadian satu hari yang lalu.
"Sesudah Nath, tidak lama setelahnya. Mendadak perutku kram ringan, bertahap hingga mencapai puncaknya aku nggak mampu lagi menahan"
Nathan menghela napas.
"Ada apa Nath?" Dara mulai penasaran.
"Bagaimana packaging brownies itu? Maksudku, apa ada nama toko di kotaknya?"
"Aku nggak terlalu memperhatikan. Tapi kalau nggak salah ingat, hanya kotak kardus polos"
"Belum kamu buang kan?"
"Belum"
Nathan menjeda interogasi nya. Setelah mengumpulkan beberapa informasi dari Dara, kini dia semakin yakin dengan dugaannya. Untuk sementara waktu, sebelum menemukan bukti lainnya, Nathan menduga bahwa Dara baru saja di racuni seseorang. Karena sangat tidak mungkin wanita itu tega mencelakai bayi dan dirinya sendiri dengan meminum obat penggugur kandungan, mengingat ia amat menyayangi bayi nya.
Orang se positif dan baik seperti Dara, rasanya amat mustahil jika melakukan hal nekat seperti itu.
"Nath, kenapa kamu menanyakan brownies nya?"
Nathan mengulas senyum. "Nggak apa-apa sayang. Oh iya, kamu harus minum obat lho. Menu makan siangnya juga sudah di antar tuh. Makan dulu ya sayang. Mau ku suapin sweetheart?"
Dara tersipu seketika saat Nathan memanggil dengan panggilan mesra lainnya.
"Sweetheart?" Ulang Dara malu-malu.
"Yes. You are my sweetheart, sunshine. And, my erverything" Ucap Nathan seraya mengerlingkan sebelah matanya, menciptakan serangan jantung ringan untuk Dara.