An Angel From Her

An Angel From Her
83# Hari Kebebasan



"Saudara Nathan, Anda di bebaskan!" Seru seseorang yang baru saja membuka pintu jeruji besi yang mengurung Nathan selama dua bulan ini.


Nathan menengadah, menatap tak percaya pada wajah polisi di depannya. Dia baru saja mengucap kata 'bebas', apa memang secepat ini? Tapi, kenapa? Mendadak pertanyaan itu bergumul di dalam kepalanya namun enggan diucapkan.


"Bebas?"


"Silahkan.." Ucap polisi itu lagi, dengan isyarat mempersilahkan Nathan keluar dari ruang membosankan yang membelenggu nya.


Pria itu berdiri sambil merapikan sedikit kaos tahanan yang dikenakannya. Detik ini dia masih belum sepenuhnya percaya bahwa waktu kebebasannya telah datang, mendadak dan sungguh mengejutkan.


Nathan berjalan melewati polisi bertubuh gemuk yang masih berdiri di depan pintu. Melirik dengan tatapan keheranan ke arahnya. Udara kebebasan menyambutnya di luar sel, dan tiba-tiba saja benaknya mengingat nama seseorang.


"Honey!!" Suara wanita yang menyerukan panggilan 'khusus' padanya bergema.


Monica datang, menghampiri Nathan dan mendekap erat tubuh pria yang tingginya hanya beda beberapa centi dengannya. Sementara Nathan masih nampak kebingungan. Kebebasan yang mendadak, kedatangan Monica dengan euphoria nya.


"Selamat yaa atas kebebasanmu. Aku senang banget" Monica melepas pelukannya.


"Aku.. Aku benar-benar nggak ngerti. Kok bisa?"


"Bisa dong. Kan aku sudah janji akan bantu kamu untuk bebas" Tutur Monica. Jawabannya belum memuaskan Nathan yang haus akan penjelasan.


"Gini honey. Kamu itu di jebak. Oleh seseorang yang membenci kamu. Dan aku berhasil menemukannya!"


"Semudah itu?"


"Semuanya akan menjadi mudah di tanganku"


"Tapi.." Nathan berpikir sejenak "Siapa orang yang membenciku? Rasa-rasanya aku nggak pernah punya masalah dengan siapapun"


Rasa penasaran Nathan seketika terjawab saat seseorang datang mendekat ke arah mereka. Seorang polisi, dan seorang pria yang di borgol pada bagian tangannya. Dia di dorong paksa untuk mengikuti langkah polisi tersebut, hingga membuat tubuhnya sedikit membungkuk.


Ketika akhirnya pria itu menegakkan tubuhnya, Nathan menyadari bahwa wajahnya nampak familiar. Dia merasa pernah melihat, bahkan terlibat suatu perkelahian.


Ya, Nathan langsung dapat mengingatnya dengan cepat.


"Lo.." Suaranya sedikit bergetar. "Lo Erick, kan?"


Erick berdecih, menatap sinis Nathan yang wajahnya mendadak mengalami perubahan warna.


"Ternyata lo masih ingat. Ya! Gue Erick. Gue orang yang mukulin lo waktu itu, dan orang yang sudah ngejeblosin lo kesini" Intonasi berat mengurai kalimatnya.


"Oh.. Ya, satu lagi. Kebakaran! Ingat?"


Nathan mengerutkan kedua alisnya dengan isyarat pertanyaan. Sambil memutar memori dalam ingatannya, tentang kejadian kurang lebih sekitar satu tahun yang lalu. Dimana pada saat itu basecamp yang juga merangkap jadi satu dengan studio tersebut dibakar oleh seseorang.


"Jadi..?"


"Gue yang ngebakar Nath! Ha.. Ha.. Ha.."


Tak ada perasaan apapun selain emosi yang mendominasi Nathan ketika mengetahui fakta tersebut. Dia mengepalkan kedua tangannya dan bersiap untuk menghajar Erick yang dengan bodohnya menertawakan ulah nya sendiri di hadapan aparat penegak hukum.


"Nath!" Monica berusaha menahan tubuh Nathan yang menegang. Dia paham betul apa yang akan dilakukan oleh kekasihnya sebentar lagi.


"Jujur, gue belum cukup puas. Karena belum menyaksikan salah satu dari kalian terpanggang hidup-hidup. Si Regy brengsek itu bahkan selamat. Cih.. Harusnya gue lempar bom sekalian. Biar tubuhnya hancur tercecer berantakan dalam basecamp s*alan milik band murahan kalian itu!!" Umpat Erick hingga membuat urat-urat halus tercetak jelas di wajahnya.


BUKKKK....


Pukulan keras mendarat telak di wajah sebelah kiri Erick, menoreh luka dan darah yang mengalir seketika dari hidungnya. Nathan dipenuhi emosi yang meluap pada Erick yang memusuhinya tanpa sebab. Bagaimana bisa seseorang membenci orang lain yang bahkan tak memiliki urusan dengannya? Nathan menghabiskan puluhan tahun dengan selalu menjaga hubungan baik dengan siapapun.


Hampir tidak ada yang pernah terlibat masalah serius dengannya. Selain Keenan. Kecuali Keenan.


"Gue nggak ada masalah ya sama lo!"


"Cih.." Erick melempar pandangan menusuk pada Nathan.


"Nath, udahlah.. Yang penting sekarang kamu sudah bebas. Dan dia akan mempertanggung jawabkan perbuatannya" Ucap Monica yang membantu setidaknya sedikit saja meredam emosi Nathan yang memuncak.


"Ayo, kita pergi dari sini.." Mengarahkan Nathan keluar dari ruangan tersebut, Monica menggenggam erat sebelah lengan sang kekasih.


"Mon!" Panggilan dengan suara berat itu menghentikan langkah mereka. Monica menoleh pada Erick yang menatapnya tajam.


"Urusan kita belum selesai!"


Monica berdecih menanggapi pria itu. "Uruslah sendiri urusanmu!"


Wanita itu berbalik dan melanjutkan lagi langkahnya bersama Nathan keluar dari ruang tahanan. Sementara Erick di jebloskan langsung ke dalam sel, mempertanggung jawabkan semua ulah yang menjeratnya dalam pasal berlapis.


...***...


Nathan menghirup udara segar diluar rumah tahanan, angin yang bertiup lembut membelai wajahnya. Melihat cerahnya sinar mentari di tengah hari, langit yang berhiaskan awan-awan putih yang berjalan pelan-pelan. Pepohonan yang nampak menari karena terpaan angin, semua pemandangan sederhana ini terasa menenangkan.


Lega, dan damai seakan membanjiri perasaannya. Setelah melewati dua bulan yang terasa panjang, kini ia bisa kembali beraktifitas seperti semula. Pulang ke apartment dan bertemu dia, Dara.


"Nathan?" Suara lembut itu, menggubris lamunannya. Nathan menoleh pada sumbernya, mendapati Dara tengah berdiri di belakangnya. Bersama bunda, dan seorang pria paruh baya berpenampilan formal dengan kemeja dan celana panjang. Di tangannya menggantung sebuah tas jinjing yang nampaknya berisikan dokumen-dokumen penting. Sudah begitu jelas terlihat apa profesinya.


"Kamu.. Ada disini? Sudah ganti pakaian?"


Dara tampak keheranan melihat Nathan yang berada diluar, dengan kaos tahanan yang sudah ditanggalkan nya.


"Apa kamu.. Bebas?" Tanya nya lagi. Kali ini terlihat akan ada air yang sudah menyembul dari ujung matanya.


Nathan memandangi wajah Dara, ia menjawab dengan anggukan sambil menghadiahkan senyum untuknya. Sedangkan Dara langsung memeluknya erat, Nathan mendengar suara Dara yang mulai terisak dalam pelukannya. Kerinduan itu, tersampaikan kontan menelusup ke relung hatinya yang paling dalam.


"Eh, sudah rame nih" Ucap Monica yang baru datang dan bergabung dengan mereka.


Nathan baru akan membalas dekapan Dara, namun urung di lakukan ketika Monica akhirnya sampai dan berdiri tepat di sebelahnya. Pun dengan Dara yang juga melepas pelukannya.


"Oh.. Ada kamu. Dara kan?" Monica mengamati keseluruhan tampilan Dara yang dinilainya begitu sederhana untuk ukuran istri seorang pria yang terkenal seperti Nathan.


"Iya.." Sahut Dara singkat. Serupa dengan Monica, Dara pun ikut mengamati wanita seksi bertubuh tinggi di sebelah suaminya. Kalau tidak salah ingat, dia adalah wanita yang pernah dipergokinya mengobrol mesra dengan Nathan ketika fitting baju pengantin beberapa waktu sebelum pernikahan.


"Monica.." Ia mengulurkan tangan pada Dara yang tidak bereaksi apapun. Berharap wanita itu mau menjabat tangannya. Dan di detik yang sama, rasa ingin tahu Dara tentang wanita bernama Monica terbayar sudah.


"Nath.. Kamu benar-benar sudah bebas?" Kalimat Bunda mengambil alih situasi yang memuakkan baginya.


"Iya bun"


"Kamu! Mau apa ada disini?! Tidak lihat di depan kamu itu siapa?" Kalimat menusuk ditujukan bunda pada Monica.


"Lho, tante harusnya berterimakasih dong sama aku. Karena aku yang telah membantu Nathan bebas dari sini"


Bunda mengernyitkan dahi, menatap dengki pada Monica yang berlagak seperti pahlawan. Lebih tepatnya, pahlawan kesiangan.


"Untuk apa saya berterima kasih sama kamu? Tidak ada urusan!"


"Tapi karena bantuanku, calon cucu tante itu nggak akan ngerasain lahir dan besar tanpa sosok seorang ayah. Bukankah itu yang kalian inginkan? Ya kan, Dara?" Monica mengerling ke arah Dara yang membisu.


Di hadapannya hadir seorang wanita yang dicintai Nathan, Dara merasa kalah, bagai butiran debu di antara mereka yang tak nampak kehadirannya di pelupuk mata. Kehadiran calon bayi dalam kandungannya pun nampak tidak terlalu berpengaruh. Mereka akan terus saling mencintai, entah sampai kapan. Hanya Tuhan yang tahu.


"Tidak ada yang meminta kamu untuk melakukan semua itu Monica! Perempuan tidak tau malu seperti kamu ini, apa pantas dinobatkan sebagai pahlawan?! Apa tidak sadar? Siapa laki-laki yang kamu perjuangkan itu?" Sorot mata bunda berapi-api dengan lidahnya yang lentur melontarkan makian pada Monica.


"Dia suami orang. Dan istrinya sekarang berdiri tepat di depan kamu! Sedang mengandung anak mereka. Jadi, sadar kan apa posisimu? Kamu tidak lebih dari sebuah kerikil tak berharga di pinggir jalan. Tidak sebanding dengan berlian seperti Dara"


Kalimat menohok bunda mampu membungkam Monica. Terasa tajam dan menusuk hatinya. Monica memang sudah kehilangan sedikit rasa cintanya pada Nathan karena mengetahui fakta soal kehamilan Dara yang sudah merusak perasaannya sejak dua bulan lalu. Namun sebagai wanita, dia juga merasa bahwa harga dirinya sudah diinjak-injak dengan hentakan yang tidak berperasaan.


Sedangkan Nathan hanya pasrah ketika bunda mengatakan dengan gamblang tentang kehamilan Dara pada kekasihnya. Meski di samping itu, hingga sekarang ia belum tahu bahwa Monica sudah mengetahui Dara tengah hamil jauh sebelum hari ini datang.


Dan semua yang terjadi padanya, adalah salah satu skenario rancangan Monica. Dengan maksud untuk membalaskan sakit hatinya atas janji Nathan yang tidak pernah bisa di lunasi.