An Angel From Her

An Angel From Her
52 # Menyadari



Sudah berjam-jam usai kejadian siang tadi di pantai, Nathan tak menegur Dara sama sekali. Hal ini cukup membuat Dara bingung dengan suasana hati pria itu. Meski ada kecurigaan bahwa suaminya cemburu, namun Dara berusaha menepis nya. Khawatir dia akan salah persepsi.


Hari sudah malam ketika Vincent datang ke villa dan mengajak pasutri tersebut untuk keluar dan mendapatkan makan malam mereka. Tapi Nathan menolak, ia hanya asyik menonton televisi sembari menenggak minuman beralkohol.


Berulang kali Dara membujuk, namun keputusan Nathan tetap sama. Ia tak ingin keluar dan tak ingin makan apa-apa. Sebegitu keras kepalanya pria itu. Membujuk Nathan adalah hal yang paling membutuhkan effort sangat maksimal.


Tak berapa lama kemudian Dara menginfokan pada Vincent agar kembali pulang saja karena mereka tak akan makan malam diluar. Pria itu mengiyakannya dan berlalu, kemudian pergi dengan mengendarai mobilnya.


Dara menghampiri Nathan yang tengah fokus menonton acara televisi sembari duduk di atas sofa empuk. Ia berdiri di samping sofa dan menyilangkan lengan di dadanya, sembari bersiap untuk berbicara dengan Nathan yang tampak acuh.


"Kamu kenapa Nathan? Sejak tadi sepulangnya kita dari pantai, kamu sama sekali nggak tegur aku. Ya memang aku sudah terbiasa dengan sikap cuekmu. Tapi ini lebih lebih lagi dari biasanya.. Ada apa? Aku punya salah denganmu?" Tanya Dara penuh rasa penasaran.


Tak ada jawaban dari Nathan satu patah katapun.


"Nath, aku bicara denganmu. Tolong jawab aku"


"Ahh.." Desah Nathan usai menenggak minuman. "Kamu pikirkan saja sendiri. Apa kamu punya salah denganku" Sahutnya tanpa mengalihkan perhatiannya dari televisi.


"Aku beneran nggak ngerti Nath. Makanya aku tanya.."


Nathan lagi-lagi tak menggubris.


"Oke, aku minta maaf. Apapun itu kesalahanku, tolong kiranya kamu sudi memaafkanku" Pinta Dara mengiba.


Nathan menoleh ke arah Dara dan menatap tajam kedua mata sang istri yang dibuat bergidik olehnya.


"Kamu benar-benar nggak sadar dengan kesalahanmu?"


Dara mengangguk ragu.


"Astaga.. Apa wanita selalu begitu ya?!" Cicit Nathan.


Pria itu meletakkan botol minuman diatas meja dengan kasar. Kemudian beranjak dari sofa, dan memulai langkahnya berniat meninggalkan Dara yang masih terpaku di tempat berdirinya sedari tadi.


"Apa.. Karena turis itu?"


Tebakan Dara menghentikan langkah Nathan. Ia berbalik dan langsung menghampirinya. Kini, posisi Nathan hanya sejengkal di depan Dara. Membuat tubuh mereka hampir bersentuhan. Tatapan mata elang dari Nathan menusuk dalam, pada sorot mata wanita di hadapannya.


Sementara Dara membalas tatapan Nathan sambil mendongakkan kepalanya, karena tubuh Nathan yang jauh lebih tinggi darinya.


"Baguslah kalau akhirnya kamu sadar"


Dara bahkan dapat mencium aroma minuman beralkohol dari bibir Nathan kala pria itu berbicara.


"Jadi... Karena itu?" Ucap Dara gugup.


"Kamu pikir karena apa lagi?"


"Apa kamu... Cemburu?"


Nathan terus menatap Dara yang hampir tak sanggup membalas tatapannya.


"Pertanyaan macam apa itu?"


"Aku benar kan?" Tantang Dara.


Pria itu kembali bungkam, sorot matanya melemah. Ia terdiam beberapa menit.


"Nath?"


"Selama statusmu masih jadi istriku, jangan pernah coba-coba untuk dekat dengan laki-laki manapun. Mengerti?"


Dara mengangguk dengan yakin. Jujur, dia sangat senang dengan ucapan Nathan barusan. Sudah jelas bahwa sekarang pria itu mulai mau menerimanya dan pernikahan yang sudah berjalan tujuh bulan tersebut.


Nathan berbalik dari hadapan Dara, namun sang istri cepat-cepat menggenggam lengannya.


Deg!


Entah kenapa tiba-tiba saja Nathan merasakan jantungnya yang berdegup cukup kencang, seiring dengan makin eratnya genggaman Dara pada lengannya. Ia menoleh, dan baru menyadari bahwa ternyata Dara begitu cantik.


Senyum manis dari bibir tipis berwarna merah muda alami itu dibingkai dengan dua lesung pipi di sisi kanan kirinya, sorot matanya yang teduh, hidung yang tidak terlalu mancung tapi proporsinya sangat pas menopang keseluruhan komposisi dari wajahnya.


Menjadikan paras wanita yang telah jadi istrinya itu sangat manis, cantik dan tak membosankan untuk di pandangi. Nathan sedikit grogi di buatnya, ia tak sanggup menatap Dara lebih lama lagi. Ia mulai takut lama kelamaan akan memiliki rasa padanya.


"Terimakasih ya.." Ungkap Dara.


"Untuk apa?"


Dara masih mempertahankan senyumannya.


"Kamu banyak berubah semenjak kita datang kesini. Terimakasih untuk semuanya"


Nathan termenung mendengar apa yang diucapkan Dara barusan. Padahal dirinya sendiri tak menyadari perubahan apa yang di maksud Dara. Apa karena kemarin malam ia mau menyelamatkannya saat tenggelam?


Atau mungkin saja dia peka dengan respon cemburu yang di keluarkan Nathan saat di pantai tadi siang? Itukah yang dia maksud 'berubah'?


Dara berlalu dari Nathan, arah langkah kakinya menuju dapur. Pria itu tak mampu menjawab kata-kata Dara tadi, ia hanya terus berdiri di tempatnya tanpa bergeser sedikitpun.


"Aku akan membuat makan malam dengan bahan seadanya. Tunggu ya, nanti kita makan bersama lagi" Pamit Dara.


Nathan menepuk keningnya sendiri, sembari menggelengkan kepala. Ia tak mengerti, bagai tak mempercayai diri sendiri ketika menyadari bahwa ada setitik perasaan dihatinya yang memang berubah. Ia mulai menyukai Dara beserta kepribadiannya.


...***...


Aku bangun dari tidur nyenyak sejak semalam karena merasakan getaran dalam saku celana. Ah, benar ternyata memang ada panggilan telepon disana. Awalnya ku kira itu adalah Regy, karena memang selalu dia yang mengganggu tidur nyenyakku dengan perintah-perintahnya.


Tapi beberapa detik kemudian aku baru sadar ternyata itu adalah Vincent. Si guide yang sempat membuatku kesal kemarin, bisa-bisanya dia meninggalkan Dara sendirian dan di goda oleh turis yang sedang mencari jodoh disana.


Ah, Nathan. Kenapa pula harus terus mempermasalahkan itu? Memangnya ada pengaruhnya? Maksudku, saat ini aku tidak mencintai Dara. Semestinya bukan masalah dong kalau dia di dekati oleh laki-laki manapun.


Hei hati, tapi kenapa rasanya kamu kesal dan marah sekali kemarin. Sudahlah, daripada terus memikirkan perasaan yang aku sendiri tak mengerti, lebih baik ku jawab panggilan telepon yang tak hentinya sejak tadi.


"Halo.."


"Halo.. Kak Nathan" Jawab Vincent disana, suaranya sedikit serak.


"Ada apa mas Vincent?"


"Kak mohon maaf ya sebelumnya. Sepertinya hari ini saya nggak bisa mengantar dan menemani kakak jalan-jalan. Saya sedikit nggak enak badan. Juga, diluar cuaca sedang kurang bagus. Hujan terus sedari pagi"


Tunggu, Vincent bilang sedari pagi? Apa sekarang..


"Saya minta maaf sekali lagi ya kak Nathan. Mungkin besok juga sudah enakan. Saya akan menemani kakak lagi. Saya janji"


"Yasudah kamu istirahat saja. Nggak masalah kok. Hujannya juga cukup deras. Saya akan tinggal di villa saja" Sahutku.


"Terimakasih banyak ya kak sudah mau mengerti. Salam untuk kak Dara" Ucap Vincent sembari menutup panggilan.


Aku mengamati jam di ponselku. Ya, ternyata sekarang sudah pukul 11:00 siang. Waktu sangat tak terasa jika digunakan untuk tidur. Tapi, rasanya ada yang kurang dalam kamar ini. Dimana Dara?


Sejak datang kesini, aku memang tidur di sofa dalam kamar. Serupa dengan apa yang ku lakukan di apartment. Kebetulan sekali, furniture nya hampir sama dengan yang ada di kamarku. Membuatku merasa lega karena tak harus tidur satu ranjang dengan Dara.


Sejujurnya, aku mulai menyukainya. Tapi ini hanya suka, belum ada rasa yang lebih selain itu. Maka dari itu, meski dia adalah istriku, hati ini masih belum sampai jika harus melakukan 'hubungan' bersamanya.


Lagipula, tak ada yang menarik dari bentuk tubuhnya selain wajahnya yang lumayan cantik. Hal itu tentu tak menggerakkan hasratku sama sekali. Jadi aku yakin akan bisa menahannya, mungkin sampai nanti ketika aku menemukan kembali cinta pertamaku yang hilang, Monica.


Tidur se nyenyak itu membuat kerongkonganku terasa haus. Jadi aku memutuskan untuk ke dapur dan mengambil segelas air untuk melegakan dahaga. Saat langkahku sampai di ruang tengah, nampak Dara yang sedang asyik mengerjakan sesuatu di tangannya.


Apa itu? Aku berhenti dan sedikit menaruh perhatian ke arahnya. Gerakannya seperti menjahit. Ah ya, aku baru ingat. Sepertinya dia sedang merajut. Entah apa yang di buat, ia memang selalu melakukan itu. Nampaknya merajut memang hobinya.


"Kamu sudah bangun" Ucapnya. Aku sedikit kaget. Ternyata dia menyadari kehadiranku disini.


"Iya.."


"Aku sudah buatkan makanan untukmu. Makanlah" Ucapnya lagi tanpa mengindahkan sorot matanya dari benang dan jarum di tangannya.


"Terimakasih.."


"Sama-sama.."


"Apa yang kamu buat?" Tanyaku penasaran.


"Ah, ini.. Iseng saja"


"Kamu selalu melakukan itu di apartment. Dan sekarang juga.. Sepertinya kamu memang hobi ya.."


Dara menghentikan gerakan tangannya. Ia menatapku sembari memberikan senyum manisnya. Dan lagi-lagi, hatiku tersentuh.


"Bisa di bilang begitu. Untuk mengisi waktu senggangku saja.. Kalau hasilnya bagus kan, bisa dipakai"


"Kenapa.. Kamu nggak jadi designer saja?"


Dia tampak menghela napas sebelum menjawab pertanyaanku.


"Karena bukan itu cita-citaku. Aku ingin jadi dokter"


"Lalu, kenapa nggak di kejar cita-cita itu?"


"Dulu, pernah ada kesempatan. Saat itu, aku dapat beasiswa. Tapi sayang kampusnya ada di luar kota. Artinya aku harus meninggalkan ibu dan adik-adikku. Awalnya nggak ada masalah. Tapi tiba-tiba ibu jatuh sakit"


Aku sedikit tertarik mendengar ceritanya. Jadi aku putuskan untuk terus menyimak dan memasang telinga baik-baik.


"Aku nggak mungkin ninggalin ibu dalam keadaan seperti itu. Memang ada dua adikku, tapi mereka masih sekolah. Tentu mereka nggak akan bisa menggantikan ibu berjualan di warung, sedangkan penghasilan keluarga kami, ya hanya dari warung makan itu. Kalau bukan aku, siapa lagi yang bisa menjalankan usaha ibu. Adik-adikku juga masih butuh biaya. Bapak sudah meninggal, jadi aku mutusin untuk merelakan mimpi-mimpiku, demi membantu dan menjaga ibu" Jelasnya panjang lebar.


Dara begitu menyayangi ibunya, dia sampai rela mengubur impiannya sendiri demi jadi anak yang berbakti pada orang tuanya. Berbeda denganku, yang tak sama sekali menggubris keinginan bunda agar hengkang dari black romance.


Aku terus mengejar mimpi-mimpi dan kesuksesan diatas air mata bunda. Aku tak memikirkan sama sekali perasaan bunda, serupa dengan Dara, aku juga hanya memiliki satu orang tua yang tersisa.


Aku berbeda dengan Dara, dan Keenan kakakku yang bisa membahagiakan orang tua. Ada sedikit penyesalan di hati ini. Tapi meskipun begitu, aku masih belum bisa berdamai dengan egoku. Masih tak sampai hati jika harus keluar dari zona nyaman dan kesuksesanku menjadi seorang gitaris yang terkenal.


Ketenaran yang ku dapatkan dari hasil jerih payahku sendiri. Haruskah aku relakan begitu saja? Demi bunda?


"Kamu sudah melakukan yang terbaik. Kalau ada kesempatan, kamu boleh mengambilnya. Aku takkan melarangmu" Ucapku bermaksud ingin sedikit menghibur perasaannya.


"Sudah cukup Nath, aku merasa sudah cukup puas dengan yang ku miliki saat ini"


Aku dapat dengan jelas melihat sorot matanya yang berbohong. Dia pasti masih sangat ingin mengejar impiannya. Apa dia bilang begitu karena sekarang sudah menikah denganku?


"Oke. Tapi aku serius dengan ucapanku tadi. Jangan sungkan"


"Terimakasih banyak untuk perhatianmu, Nathan"


Dia terus tersenyum sambil menatapku lekat-lekat. Binar-binar di mata nya bagai sedang memberitahu ku isi hatinya yang terdalam. Dara, andai aku bisa mencintaimu, mungkin ini takkan berat bagimu.


Guyuran hujan turun semakin deras membasahi wilayah Bali dan sekitarnya. Membuat kami tak bisa pergi ke mana-mana. Dan terpaksa menghabiskan satu hari itu hanya di dalam villa. Dengan Dara yang sibuk merajut, sedangkan aku asyik memetik gitar sambil memikirkan sebuah lagu.