
Empat belas hari berlalu sepeninggal Dara, putri kecil nya telah pulih dan Keenan menjamin ia akan kuat hidup tanpa peralatan medis. Nathan memberinya nama lengkap: Angeline Nathania Smith, yang keseluruhannya memiliki arti malaikat pemberian Tuhan. Dia berjanji akan menjaga nya dengan baik, berusaha untuk menjadi ayah yang baik.
Nathan masuk ke dalam kamar tamu yang telah di sulap jadi kamar bayi untuk pertama kalinya. Membawa Angel dalam pelukannya. Bayang-bayang kenangan saat ia dan Dara merakit ranjang bayi itu mendadak melintas, menyerang hatinya dengan rindu tak berujung pada dia yang dicintai.
Di pandanginya lekat-lekat wajah Angel yang tertidur lelap dibalut selimut hangat bertopi, begitu cantik. Pipinya bersemu merah merona, bibir mungilnya cerah warna merah muda dengan alis yang belum tercetak jelas. Di dahinya ditumbuhi bulu-bulu halus berwarna kemerahan. Kulitnya putih, mirip dengannya.
"Hei gadis cantik, Daddy mencintaimu." Nathan menundukkan kepala, menggapai putrinya dalam buaian lalu mengecup kening nya, membuat bayi itu sedikit terperanjat, kaget.
"Daddy akan memanggilmu Angie, boleh kan?" Ucapnya lagi.
Nathan melanjutkan langkahnya, menempatkan Angel dengan perlahan di ranjangnya. Ketika menyadari tangan ayahnya tak lagi memeluknya, Angel sedikit menggeliat, mencari-cari sumber ketenangannya. Dan dengan sigap Nathan menepuk-nepuk lembut kaki kecilnya sambil berkata
"Sshh.. Sshh.. Daddy disini sayang."
Lambat laun Angel mulai kembali terlelap, suara Nathan begitu menenangkan baginya seolah ia telah mengetahui bahwa itu adalah suara pengganti ibunya yang telah pergi.
Nathan menatap nanar putri kecilnya, lagi-lagi merasa bersalah atas ulahnya. Ia telah merenggut sosok ibu darinya. Seharusnya Angel dibuai, dipeluk, dicium, dirawat dan disusui oleh ibunya sendiri, bukan memperoleh air susu dari seorang pendonor.
Perih, itu yang dirasakannya ketika mengingat rentetan kejadian di malam Dara mengalami kontraksi, dan dengan bodohnya ia malah mengabaikan lalu meninggalkannya.
"Maafkan daddy, Angie.. Seharusnya ibumu masih disini, bersama kita." Ucap Nathan lirih.
Tak lama dari itu, bunda masuk membawa sebuah botol susu berisikan air susu perah yang dikirimkan dari Adriana. Ia menyadari cucunya tengah tertidur lelap, bersama Nathan yang menemani di samping ranjangnya. Jadi ia membuat langkahnya se-senyap mungkin agar Angel tak terganggu.
"Nath.." Panggil bunda setengah berbisik.
Nathan menoleh dan tersenyum tipis pada ibunya.
"Sudah waktunya Angel minum asi." Bunda mengingatkan.
"Panggil dia Angie," Ucap Nathan yang juga setengah berbisik.
"Baiklah."
Bunda meraih Angel perlahan dari ranjang. Duduk di sebuah kursi yang terletak berdekatan dengan ranjang bayi sambil menggendongnya. Nampak Angel yang merasa terganggu mulai menggeliat tidak terima. Wajahnya memerah karena kesal, dan suara tangis melengking keluar dari bibir mungilnya.
"Ssh.. Sayang.. Minum dulu ya." Ucap bunda berusaha menenangkan cucu kecilnya.
Suara melengking nya seketika hilang digantikan oleh suara meneguk dari Angel yang mendadak kehausan, padahal baru saja dia tertidur tampak begitu lelap seakan tak ada satu hal pun yang di rasakan.
Nathan mengulas senyum memperhatikan putrinya yang lahap menyedot asi dari botol sambil membayangkan jika Dara yang menyusui nya secara langsung. Dan entah bagaimana bunda tiba-tiba berubah jadi Dara yang sedang mendekap Angel dalam pelukan sembari menyusui bayi mereka dengan penuh kasih sayang.
Senyum manis dan lesung pipi itu nampak jelas di depan mata, menyihirnya hingga terasa nyata, membuat jantungnya berdegup kencang. Nathan mengedip-ngedipkan mata berulang kali, tapi yang di tangkap indera penglihatannya tetap Dara.
Dara menjulurkan sebelah tangan, seolah ingin Nathan menyambutnya. Pria itu langsung bangkit dan berusaha menyentuh tangan istri yang dicintainya. Hingga ketika ia berhasil menggenggamnya, suara lain malah menyadarkannya.
"Nath! Hei!"
Nathan mengerjap, Dara yang tadi dilihatnya berubah lagi menjadi bunda yang menatapnya keheranan. Dan tangan yang di genggam ternyata adalah miliknya. Ia buru-buru melepaskan nya, merasa malu dengan bunda yang memandang penuh pertanyaan.
"Kenapa? Kok tiba-tiba kamu megangin tangan bunda?," Tampak kedua alis bunda menukik mencoba menerka apa maksud yang dilakukan putranya.
Detik itu Nathan sadar bahwa ia baru saja berhalusinasi, berkhayal seolah Dara masih ada disini. Ia menatap bunda, kosong. Begitu juga sebaliknya, bunda menatapnya penuh tanya.
"Nath?" Panggil bunda lagi sebab Nathan masih termangu tanpa menjawab sepatah kata pun.
"Uhm.. Nggak apa-apa bunda." Sahutnya sambil tersenyum getir.
Itu adalah kali pertama mata nya melakukan kesalahan dengan menangkap sosok Dara, kedua kalinya adalah ketika Adriana datang untuk menyetor air susu perah dan meminta untuk menemui Angel yang sedang tertidur di kamar milik Nathan.
Kala itu ia tengah makan siang dan setelahnya, ia merasa ingin menghampiri putrinya. Dari balik pintu kamar yang terbuka setengah Nathan terperanjat sebab lagi-lagi mendapati Dara yang sedang duduk di tepi ranjang, bersama Angel yang terlelap di sebelahnya.
Ia mendekat sambil mengucek mata, dan itu masih tetap Dara. Membuat pikirannya semrawut hingga tidak mampu lagi membedakan mana yang nyata dan sebuah halusinasi. Ketika akhirnya ia berhasil menggapai, dalam penglihatannya Dara berdiri tepat di depannya, memandangnya lembut sambil tersenyum mempesona.
Nathan menggenggam sebelah tangannya, dan membelai wajah cantik itu penuh cinta. Terasa halus, dan ia percaya bahwa ini benar-benar nyata. Ia tak mampu menahan semua gejolak dalam diri, kerinduan mendalam yang dirasakan mengarahkannya untuk menggapai wajah itu dan mencium bibir yang ia rindukan.
Namun ketika tangis melengking dari Angel tertangkap indera pendengarannya, Nathan baru tersadar bahwa wanita di depannya bukanlah Dara melainkan Adriana, dengan wajah pucat dan tegang sebab jarak mereka hanya dipisahkan oleh kedua hidung yang menempel.
"Ahh.. Adriana, maaf.. Maafkan aku. Sungguh aku.." Nathan gelagapan sendiri, ia menggantung kalimatnya menanti respon Adriana yang masih kaku.
"Maaf. Aku minta maaf." Sambung Nathan pada akhirnya. Ia merasa amat malu, pada Adriana yang berdiri mematung di tempatnya tanpa berani bergeser. Memikirkan bahwa baru saja ada seorang duda tampan yang famous hendak mencium bibirnya.
Lalu kali ketiga dan seterusnya, hampir setiap hari Nathan selalu menangkap sosok Dara dalam penglihatannya, terakhir adalah saat ia secara tidak sadar berusaha melompat dari balkon apartment mengikuti Dara yang tiba-tiba terbang dan menghilang secara misterius.
Di malam yang dingin sebab hujan deras baru saja mengguyur ibu kota, dengan suara tangisan Angel yang kehausan namun terabaikan, Nathan hampir kehilangan nyawa jika bunda terlambat satu menit saja menangkap tubuh putranya yang hendak meluncur dari lantai lima belas.
Ketika tersadar, Nathan menangis, merengek bagai anak kecil dalam pelukan ibunya. Dan bunda menenangkan sambil memberi sugesti bahwa yang sering ia lihat belakangan ini hanya halusinasi, kenyataan bahwa Dara benar-benar sudah pergi sungguh menamparnya. Begitu sakit melebihi tamparan ibunya ketika sedang marah.
Keterpurukan nya semakin menjadi seiring bertambahnya hari, ia bahkan mengingkari janji untuk menjadi ayah yang baik bagi Angel. Nathan sering mengabaikan bayinya yang meronta, menangis dengan suara melengking sementara ia hanya termenung dengan tatapan kosong di pojok ruangan, duduk sembari memeluk lututnya sendiri.
Bunda merasa ini sudah tidak beres, Nathan benar-benar kehilangan jati diri dan berubah jadi seseorang yang terganggu kejiwaannya. Bukan tidak mungkin satu waktu ia akan menyakiti anaknya sendiri, dan bunda tak ingin mengambil resiko mengerikan itu.
Jadi ia berencana untuk membawa putranya kepada seorang psikiater kenalannya, mengikuti terapi, agar Nathan bisa lepas dari jeratan halusinasi yang di alami nya. Sementara Angel ia titipkan di rumah ibu dari Dara bersama dengan seorang baby sitter yang ditugaskan untuk membantu ibu mengurus bayi kecil cantik tersebut.