
Keesokan hari, sepulangnya Nathan dari Bandung, dia diberi kejutan oleh Monica yang tiba-tiba sudah berada di apartment lebih dulu. Menunggunya dengan memasang wajah sangar.
Memang selama dua hari kemarin Nathan tak sama sekali mengabarinya. Dia mengabaikan semua pesan dan panggilan dari Monica. Hal itu dilakukan agar ia bisa terbiasa jauh dari wanita itu, meski nyatanya dia tak berhasil karena bayang-bayang Monica selalu mampu melemahkan hati.
Monica menatap tajam ke arah Nathan yang berdiri mematung di depan tangga menuju lantai dua. Wanita itu menunggu sang kekasih membuka mulutnya untuk menjelaskan apa maksud dirinya menghilang selama dua hari.
"Sudah puas menghilang?" Tanya Monica dengan nada interogasi.
Nathan diam dan menundukkan pandangannya. Dia tak tahu akan menjawab apa, haruskah ia jujur? Atau lebih baik berbohong?
Monica merasa tak puas jika berbicara dengan Nathan dari jarak yang berjauhan, ia lalu mendekat pada pria itu agar dapat lebih jelas menatap wajahnya.
"Kemana saja kamu dua hari ini?" Tanya wanita itu lagi.
Nathan masih mengunci rapat mulutnya, tak satu kata pun keluar dari sana.
"Nath, jawab aku!" Ucap Monica. Ia tak tahan lagi dengan tingkah Nathan yang menguji kesabarannya.
"Lihat aku!" Perintah Monica sembari mencengkeram kedua lengan Nathan kuat-kuat.
"Kamu pergi kemana? Kenapa tidak mengabari aku? Kamu bahkan tidak mengangkat panggilan ku. Tidak menjawab semua pesanku. Ada apa? Ada apa dengan kamu?!" Bentak Monica.
"Aku ke Bandung" Jawab Nathan singkat.
"Bandung?" Ulang Monica.
"Ya"
Monica melepaskan cengkeramannya. Kedua matanya terus menatap tajam wajah kekasihnya yang bahkan tak berani menatap balik padanya.
"Lalu, kenapa kamu tidak mengabariku sama sekali? Apa karena bundamu yang tak punya perasaan itu?" Ucap Monica bernada sinis.
"Jaga mulutmu! Kamu tidak pantas berkata seperti itu padanya" Ucap Nathan murka.
"Kenapa tidak pantas? Apa yang aku ucapkan barusan memang sebuah kebenaran kan?! Bundamu itu tak punya perasaan. Dia bahkan bersikeras berusaha memisahkan kamu dariku yang jelas-jelas sudah saling mencintai" Bantah Monica.
"Aku lebih terima jika kamu ingin menghinaku, tapi jangan coba-coba melakukannya pada bunda! Kamu tak cukup mengenalnya hingga bisa berkata demikian" Sanggah Nathan tak kalah lantang.
"Hah..! Bagaimana aku bisa mengenalnya jika dia saja tak mempersilahkan aku masuk dan berhubungan baik dengannya. Kamu sendiri juga tak pernah bisa menengahi aku dengannya, lalu sekarang salah siapa? Salah aku?!" Sahut Monica.
Apa yang dikatakan Monica memang ada benarnya. Sejak pertama kali mengetahui putranya menjalin hubungan dengan Monica, bunda tak pernah sekalipun tertarik untuk mengakrabkan diri dengan wanita itu.
Semakin Monica berusaha keras untuk bisa dekat dengannya, bunda justru juga semakin keras berusaha untuk menjauh dan memisahkan mereka berdua. Nathan menghela napas dalam-dalam. Perasaan sedih dan marah bercampur aduk di hatinya.
"Aku baru saja sampai. Lelah. Aku ingin istirahat.. Kamu pulanglah, tolong jangan ajak aku berdebat sekarang" Ucap Nathan sembari melangkahkan kaki meninggalkan Monica yang terlihat belum puas melampiaskan emosinya.
Namun langkahnya segera dihentikan Monica yang secepat kilat memeluk tubuhnya dengan erat dari arah belakang.
"Aku sangat mencintaimu Nathan.. Tolong jangan seperti ini.." Ucap Monica lirih. Nathan dapat merasakan getaran dari tubuh kekasihnya.
"Aku benar-benar tidak bisa jika tanpa kamu. Apa yang membuatmu berubah? Kamu bukan Nathan ku yang dulu" Derai air mata Monica mengalir deras, tetesannya sedikit membasahi bagian belakang jaket hitam Nathan.
Mendengar wanita yang masih sangat dicintainya terisak seperti itu sangat menyakiti hatinya. Bagaimana bisa, pada akhirnya dia sendiri yang mematahkan hati orang yang bahkan telah tidur dengannya, orang yang sudah masuk dalam daftar masa depannya. Dia merasa sungguh jahat, benar-benar tidak berperasaan.
"Apa kamu sudah ada yang lain? Kamu.. Kamu selingkuh di belakangku? Tolong jawab Nathan.." Ucap Monica, ia tak merenggangkan sedikit pun pelukannya dari pria itu.
Nathan melepaskan pelukan Monica dengan sedikit memaksa. Kemudian membalikkan tubuhnya menghadap langsung ke arah wanita yang wajahnya telah basah dengan air matanya itu.
"Aku tidak selingkuh. Aku.. Hanya ingin fokus dengan karirku. Jadi maaf kalau mungkin sekarang aku akan jarang punya waktu untukmu. Karena ada banyak kegiatan yang harus aku lakukan. Aku harap kamu mengerti" Ucap Nathan berusaha menenangkan Monica yang masih terisak sesekali.
"Aaarrggghhh...!!!" Teriak Nathan sembari mencengkram rambutnya, mengeluarkan emosi negatif yang meluap-luap dari dirinya. Wajahnya memerah, urat-urat halus tercetak jelas di wajahnya kala ia mengerang sekuat tenaga.
Dia merogoh salah satu saku jaketnya, tempat dimana ia menyelipkan sebuah kotak kecil bertuliskan Tiffany & Co pada bagian atasnya. Jemarinya membuka kotak tersebut dan kilauan berlian seketika menyambut matanya. Itu adalah sebuah cincin yang akan diberikan untuk Dara di hari lamaran nanti.
Sebelum Nathan kembali ke Jakarta, bunda menyempatkan diri pergi ke kota untuk membeli cincin pertunangan tersebut kemudian menyerahkannya pada Nathan untuk dijaga dengan baik sampai tiba waktunya.
Nathan memandangi cincin itu dengan nafasnya yang terengah-engah. Emosi masih menguasai dirinya hingga tanpa sadar telapak tangannya meremas kotak cincin dengan segenap tenaga nya yang dikerahkan. Tubuhnya bergetar menahan segala perasaan yang tak bisa dijelaskan.
...***...
Tiga hari berlalu sejak pertemuan terakhirnya dengan Monica, nampaknya Nathan telah mengecewakan perasaan Monica begitu dalam, hingga tak ada lagi kabar dari wanita itu.
Nathan juga tak munafik, dirinya menunggu-nunggu kabar dari kekasihnya. Berulang kali mengecek ponselnya, namun tak ada satupun pesannya yang dijawab oleh Monica. Dia tak sampai hati jika harus datang ke rumahnya, mungkin jika ia lakukan hal itu hanya akan memberi harapan palsu bagi Monica mengingat sebentar lagi dirinya akan menikahi wanita lain.
Bunda terlihat sibuk sedari subuh, menyiapkan segala keperluan yang akan dibawa untuk acara lamaran hari ini. Ya, pada akhirnya hari dimana Nathan akan melamar Dara datang juga, beberapa parcel sudah siap menunggu untuk diberikan pada wanita yang mungkin kini telah menunggu kedatangan rombongan calon suaminya datang.
Beberapa hari yang lalu, begitu Nathan memutuskan untuk menyetujui perjodohan itu, bunda langsung menghubungi Dara dan menginfokan padanya bahwa akan datang melamarnya di akhir pekan. Tentu hal itu cukup mengejutkan Dara yang sebenarnya telah mengikhlaskan pernikahan tersebut.
"Nath, kamu sudah siap?" Tanya bunda pada Nathan yang tengah duduk di sofa ruang keluarga sembari memandangi ponsel di tangannya.
"Sudah bun" Sahut Nathan.
Hari ini tampilannya sangat rapi dan elegant, dengan inner turtleneck hitam dilapisi blazer panjang warna abu-abu muda yang dibiarkan terbuka bagian tengahnya. Serta celana jeans hitam slim fit yang memperindah bentuk kakinya. Juga sepatu boots semi formal yang juga berwarna hitam. Nathan terlihat begitu gagah dan tampan.
"Ada yang sedang kamu tunggu?" Tanya bunda ketika melihat ponsel yang masih berada di tangan Nathan.
"Uhm.. Tidak bun. Kita berangkat sekarang?" Ucap Nathan.
"Iya. Ayo! Semuanya sudah siap. Mbak.. Tolong bawa yang ini ya" Ucap bunda pada mbak Asih yang juga ikut dalam lamaran ini. Karena acaranya yang dadakan, bunda memang tak sempat lagi mengundang keluarganya dari kampung. Jadi ia hanya mengajak mbak Asih dan pak Eko untuk ikut serta meramaikan acara lamaran tersebut.
"Baik bu" Jawab mbak Asih.
"Ayo nak.." Ajak bunda pada Nathan yang langsung beranjak dari sofa.
Mereka berangkat menggunakan mobil bunda, sementara Jeep milik Nathan di istirahatkan. Siang ini cuaca cukup cerah, dengan langit biru juga cahaya yang menyilaukan mata. Monica memperhatikan mobil bunda yang terdapat Nathan di dalamnya. Kala rombongan itu baru saja keluar melewati gerbang apartment.
Hari ini, ia memang berniat untuk datang ke apartment dan menyelesaikan masalahnya dengan Nathan. Namun ia dibuat heran dengan kepergian Nathan yang mendadak dan keberadaannya di mobil bunda. Mau kemana mereka?
Monica akhirnya mengambil langkah untuk membuntuti mobil bunda diam-diam. Agar dia dapat mengetahui kemana tujuan mereka saat ini. Ia langsung tancap gas mengarahkan mobilnya cepat-cepat, khawatir akan tertinggal jika dirinya lengah sedikit.
Jalan yang dituju terasa asing baginya, karena memang ia tak pernah pergi ke daerah sana. Wilayah padat penduduk di pinggir kota, tempat apa yang akan Nathan tuju?
Tak lama kemudian mobil bunda belok ke sebuah gang yang tidak terlalu besar, namun nampaknya muat untuk dua mobil yang berpapasan. Monica makin penasaran seiring dengan berhentinya mobil bunda di depan sebuah rumah.
Wanita itu memarkir mobilnya di lahan kosong sedikit jauh dari tempat mobil bunda berhenti. Lalu melanjutkan pengintaiannya dengan berjalan kaki. Nampak dari kejauhan Nathan yang keluar dari mobil, diiringi bunda yang terlihat anggun dengan kebaya dan membawa tentengan semacam parcel di tangannya.
Di belakangnya ada mbak Asih sang asisten serta sopir pribadinya yang juga membawa parcel. Apa ini? Jika dilihat dari bentuknya parcel itu seperti yang digunakan orang-orang untuk acara lamaran atau pernikahan. Siapa yang akan menikah? Apakah Nathan?
Monica terus mendekat namun tetap berhati-hati agar tidak ada yang mengetahui kehadirannya. Ia mulai berhenti ketika dirasa cukup dekat untuk mendengar semua percakapan yang dilakukan oleh orang-orang yang ada di dalam rumah itu.
Tak berselang lama, dirinya mendengar kata 'lamaran' terlontar dari salah satu orang disana. Pikirannya makin penasaran dan memberanikan diri untuk mengintip ke dalam rumah tersebut. Nampak Nathan yang terlihat begitu rapi dan tampan, ia berdiri disana dan seorang wanita juga berdiri tepat di sebelahnya.
Kemudian bunda menghampiri Nathan dan memberi sebuah kotak kecil atau entah apa, dirinya tak dapat melihat dengan jelas. Tapi terlihat Nathan seperti memakaikan benda kecil ke jari wanita disebelahnya, begitu pula sebaliknya. Apa ini? Apa mereka sedang melangsungkan lamaran? Atau malah telah menikah?
"Selamat Nathan dan Dara, semoga dilancarkan segala urusannya sampai hari H" Ucap seseorang yang terdengar sangat jelas oleh gendang telinga Monica.
Wanita itu terkejut setengah mati dengan apa yang baru saja di dengarnya. Nathan telah melamar wanita lain di belakangnya, tanpa sepengetahuannya. Jadi ini, yang membuat Nathan berubah belakangan ini? Karena telah ada yang lain? Ternyata benar dia berselingkuh. Laki-laki b*jingan!