
Beberapa hari yang lalu, hari dimana Monica memberitahukan tentang kehamilannya sungguh telah merubah jalan hidup Nathan seketika. Mau tak mau dia harus memilih untuk bertanggung jawab atas janin yang di kandung Monica, dan membatalkan pernikahannya dengan Dara.
Hal itu tentu juga melanggar janjinya untuk tak lagi menyakiti hati bunda. Ia sangat merasa bersalah dan hampir membenci dirinya sendiri. Setiap hari, sebelum keputusan itu dibuat, Nathan selalu diliputi perasaan gundah gulana. Rasanya tidak ada lagi yang menyenangkan untuk dilakukan, selain berpikir, berpikir dan berpikir mencari jalan keluar terbaik tanpa harus menyakiti siapapun.
Monica menawarkan opsi 'kawin lari' dengan pergi ke Singapore dan menetap disana. Nathan sedikit terkejut dengan apa yang diucapkan Monica. Terlebih ketika menyadari bahwa jika dia menyetujuinya, maka ia harus benar-benar meninggalkan semuanya. Bunda, kawan-kawan, serta karirnya yang terbilang sedang melejit saat ini.
Memulai hidup baru di negeri orang bersama Monica dan calon anak mereka. Artinya harus mengulang semuanya dari nol, ia bahkan tak tahu akan bekerja sebagai apa, dimana, dan bagaimana. Mungkin dia hanya mengandalkan tabungan dan aset yang dimiliki dan pasti akan habis dalam sekejap mata. Bagaimana ia bisa menghidupi anak nya jika tak punya pekerjaan?
Cup..
Nathan merasakan kecupan mendarat di pipinya, membuatnya tersadar dari tidur lelap. Selama perjalanan Nathan tak kuasa menahan rasa kantuk yang menyerang, hingga tanpa sadar dirinya tertidur sangat pulas. Sementara Monica menyetir sampai ke tempat tujuan.
Sinar matahari pagi telah memancarkan cahaya terangnya dan menembus kaca mobil. Nathan sedikit mengernyitkan dahinya kala berusaha membuka matanya lebar-lebar dan memperhatikan situasi di sekelilingnya.
"Good morning my honey. Kita sudah sampai" Ucap Monica.
"Silau sekali, apa ini sudah siang?" Tanya Nathan.
"Baru pukul 07:01 kok"
"Kita.. Ada dimana?"
"Coba tebak ada dimana hayoo" Ujar Monica sambil melebarkan pintu mobil yang baru terbuka setengah.
Nathan memperhatikan di sekelilingnya. Tempat ini nampak seperti villa pribadi, karena melihat lingkungannya yang begitu sepi. Namun pepohonan yang rindang, serta tanaman yang terawat dengan baik membuat kawasan ini terasa begitu menyejukkan.
Pria itu keluar dari mobil, menyingkirkan kupluk hoodie serta topi yang dikenakannya agar angin pagi dapat dengan leluasa masuk ke dalam pori-pori wajahnya.
"Ini villa milik kakakku, Helena. Biasanya dia datang kesini untuk berlibur bersama suami dan anak-anaknya. Tapi sekarang sih, dia sudah jarang kesini. Sibuk katanya" Ucap Monica.
"Apa ini sudah keluar dari Jakarta?"
"Belum. Hampir sih sebenarnya, sudah di ujung. Sedikit terpencil. Kita sampai disini sekitar pukul 06:00 tadi, aku sedikit membereskan kamar dan beberapa ruang yang akan kita tempati terlebih dahulu. Lalu bangunin kamu deh" Terang Monica.
"Aku tidak pernah melihat tempat ini, tapi.. Kenapa malah kesini? Bukankah seharusnya kita berangkat ke Singapore?" Tanya Nathan penasaran.
Wanita itu mendekatkan tubuhnya pada Nathan.
"Belum bisa sekarang honey.. Paspor kita belum selesai diurus. Tapi jangan khawatir, itu tidak akan lama karena aku telah mengatur semuanya. Jadi sambil menunggu sampai waktunya tiba, kita akan tinggal sementara disini" Ucap Monica.
"Lalu kenapa harus disini? Tidak bisakah kita menunggu di rumahmu saja?"
"Jelas tidak bisa dong.. Kalau ada yang tahu keberadaan kita, bisa berantakan semuanya. Aku memutuskan untuk membawamu kesini karena tempat ini jauh dari kota dan berada di tempat yang cukup terpencil. Aku yakin tidak akan ada yang tahu. Jadi kita aman sayang.. Setelah semua persyaratan beres, kita akan langsung terbang ke Singapore. Bye.. Bye.. Jakartaa.. Ha..ha..ha.." Lanjut Monica cekikikan sembari melangkahkan kakinya menjauh dari Nathan.
Nathan benar-benar kehilangan kosa kata mendengar semua yang dikatakan Monica.
"Ayo sayang.. Kita masuk. Jangan malu-malu, anggap saja ini rumah kita" Ajak Monica yang berjalan lebih dulu dari Nathan yang masih tercenung di samping mobil.
Tak berapa lama kemudian Nathan memutuskan untuk mengikuti Monica masuk ke dalam rumah di villa yang bernuansa american style itu. Interior ruang tamu yang mewah menyambut Nathan kala ia memasukinya.
Ia berjalan perlahan menelusuri rumah tersebut. Memperhatikan seluruh isi di dalamnya. Rumah sebesar ini, sangat sayang sekali jika hanya di tempati sesekali saja. Batinnya.
"Honey.. Akhirnya sebentar lagi aku akan memilikimu" Ucap Monica yang tiba-tiba datang dan memeluk Nathan dari arah belakang.
"Hhm.." Sahut Nathan.
Monica memutar arahnya jadi menghadap Nathan yang berdiri tanpa respon apapun. Agar ia dapat dengan leluasa memandangi wajah tampannya dengan tatapan penuh cinta.
"Apa kamu tidak senang?" Tanya Monica.
"Aku senang," Jawab Nathan singkat.
"Masa sih? Tapi kok wajahnya begitu?"
"Mungkin aku sedang lelah. Beberapa hari kemarin aku benar-benar sibuk" Sahut Nathan.
"Setelah ini, kamu tidak akan sesibuk itu lagi sayang" Ucap Monica sembari membelai rambut Nathan yang terjulur ke depan.
"Aku masih belum terpikir. Akan kerja apa nanti di sana. Apa aku harus mengamen?"
"Sstt.. Tidak perlu di pikirkan yang belum terjadi honey. Kita tidak akan kekurangan apapun" Hibur Monica.
"Tapi itu akan terjadi, sebagai laki-laki yang berstatus suami, aku harus bertanggung jawab atas hidupmu, dan dia" Ucap Nathan sembari melirik ke arah perut Monica.
"Uuh.. So sweet sekali sayangku.." Ucap Monica seraya mengecup bibir Nathan.
"Bisakah aku istirahat? Aku masih lelah"
"Tentu. Ayo ikut aku, kita ke kamar ya.." Ucap Monica seraya menarik tangan Nathan agar mengikuti langkahnya.
...***...
"Selamat datang bu" Sapa mbak Asih ketika membukakan pintu untuk bunda.
Bunda baru saja datang kembali ke apartment setelah dua hari yang lalu pulang ke Bandung sejenak karena ada urusan yang mesti di selesaikan. Setelah semuanya beres, ia langsung bergegas kembali ke Jakarta mengingat pernikahan putranya akan dilaksanakan dalam tiga hari lagi.
"Makasih mbak" Jawab bunda.
"Nathan belum bangun mbak?" Tanya bunda.
"Mas Nathan sepertinya tidak ada disini bu" Sahut mbak Asih.
"Hah? Tidak ada?"
"Iya bu, tadi waktu saya ke kamarnya untuk mengambil pakaian kotor, kamar mas Nathan kosong. Lalu saya coba cek ke studio, juga tidak ada" Jelas mbak Asih.
"Kemana ya" Gumam bunda.
"Mas Nathan biasanya selalu berangkat agak siangan bu. Suka sih pergi pagi, tapi jarang sekali. Apa dia menginap di rumah temannya kali ya bu?" Ucap mbak Asih.
"Oh.. Iya.. Bisa jadi mbak. Duh.. Padahal ada yang mau saya bicarakan. Anak itu semakin sibuk saja" Gerutu bunda.
"Kopernya mau dibawa ke kamar bu?" Tanya mbak Asih.
"Iya mbak.. Tolong ya" Sahut bunda.
Rasa penasaran menghampiri bunda, ia lalu mencoba untuk mencari tahu keberadaan Nathan dengan meneleponnya.
"Nomor yang anda hubungi sedang tidak aktif, atau diluar jangkauan"
"Lho.. Kok tidak aktif" Gumam bunda. Tak langsung menyerah, ia mencobanya berkali-kali. Namun nomor Nathan tetap tak bisa dihubungi.
"Kemana ya anak itu. Tumben sekali dia sampai tidak mengaktifkan nomornya" Ucap bunda bagai bertanya pada diri sendiri.
"Mbak.. Tolong buatkan saya minuman dingin ya" Pinta bunda pada mbak Asih yang baru saja turun dari lantai dua.
"Baik bu" Sahut mbak Asih.
...***...
Pemandangan senja hari menjelang malam di kawasan villa terasa begitu indah. Suasana nya sunyi, dan tenang dengan semilir angin yang menyejukkan. Nathan tengah berdiri di balkon, termenung sendirian memandangi lautan lepas di depan matanya.
Villa itu rupanya memang cukup dekat dengan pantai dan lautan. Empat tahun merajut hubungan, ini adalah kali pertama Monica mengajaknya datang kesini. Karena villa ini milik pribadi dan tak pernah disewakan, mungkin itulah alasannya Monica tak pernah memberi tahu siapapun perihal tempat ini.
Nathan merogoh saku celananya dan baru menyadari bahwa ia kehilangan sesuatu.
"Eh.. Kemana ya?" Gumamnya.
"Cari apa?" Tanya Monica yang datang tiba-tiba, bergabung dengannya di balkon sembari membawa gelas berisi wine di dalamnya.
"Ponselku. Apa kamu melihatnya?"
"Kamu tidak memerlukannya lagi honey" Ucap Monica seraya meneguk wine nya.
"Maksudmu?"
"Ponselmu. Kamu tidak lagi memerlukannya. Aku akan menggantikannya dengan yang baru."
"Astaga" Ucap Nathan. "Kamu bahkan merampas ponselku, untuk apa?" Tanya Nathan gusar.
"Supaya tidak ada yang bisa menghubungi kamu" Sahut Monica enteng.
"Lalu bagaimana caranya aku mengabarkan bunda soal keberadaan ku? Dia pasti akan sangat khawatir. Dan itu bisa saja membahayakan nyawanya!" Protes Nathan.
"Kamu sudah memutuskan Nathan. Kamu memutuskan untuk pergi dan menikah denganku. Kamu punya aku, jadi kamu tidak lagi memerlukan siapa-siapa, termasuk bunda mu!" Ucap Monica lantang.
"Dia satu-satunya orang tua yang kumiliki. Tidakkah kamu punya hati?" Nathan tersulut emosi atas sikap Monica yang sangat mengekangnya.
"Harusnya aku yang bertanya, apa kamu masih punya hati?! Kita menjalin hubungan bertahun-tahun. Bahkan aku sudah tidur denganmu, lalu tiba-tiba kamu akan menikah dengan wanita lain. Kamu mengambil keputusan sendiri, tidak memikirkan bagaimana perasaanku!" Bentak Monica.
"Waktu itu kubilang bahwa aku akan menjelaskannya. Tapi kamu tidak mau mendengar!"
"Sia-sia Nathan! Mau buat alasan apa lagi memangnya? Hah?! Laki-laki bodoh macam apa yang masih mau saja di jodoh-jodohkan begitu. Pengecut!"
"Kamu benar-benar sudah gila. Aku memang sangat mencintaimu, bahkan sampai saat ini. Tapi melihat kelakuanmu sekarang. Aku jadi ragu apakah perasaanku akan tetap bertahan" Ucap Nathan bernada kekecewaan.
Monica begitu murka, ia melempar gelas wine di tangannya hingga hancur seketika. Kemudian menarik sesuatu dari kantong belakang celana yang ia kenakan, dan menodongkan sebuah senjata api ke dahi Nathan.
"Maka pura-pura saja tidak melihat keburukan dariku, agar kamu bisa terus mencintaiku. Karena aku pun begitu. Aku menutup mataku tentang pengkhianatan mu. Aku selalu mencintaimu, dari dulu, sekarang, besok, dan selamanya. Kamu takkan bisa lepas dariku begitu saja," Ucap Monica.
Nathan yang mendapat serangan tiba-tiba tak mampu menggerakkan anggota tubuhnya. Ia membeku, hanya diam dan membiarkan senjata api itu menempel di dahinya.
"Uhh.. Ahh.. Ahaha.. Maaf sayang. Aku berlebihan ya" Ucap Monica sembari menarik kembali senjata api tersebut, lalu memasukkannya lagi dalam saku celana.
"Hhmm.. Aku perlu berjaga-jaga, khawatir ada seseorang yang datang dan memisahkan kita. Aku tidak ingin hal itu terjadi" Sambung Monica.
"Aku akan siapkan makan malam untuk kita. Ditunggu ya, sayangku" Ucap Monica, ia berlalu dari hadapan Nathan yang masih terkejut setengah mati sembari bersenandung riang.
Nathan bergidik menyaksikan reaksi Monica barusan, seolah ia adalah seorang psikopat. wanita itu bahkan memiliki senjata api yang entah di dapatnya darimana, dan untuk apa. Ia merasa perlu sedikit berhati-hati dengannya. Kini nyawanya bagai berada dalam genggaman wanita itu.