An Angel From Her

An Angel From Her
62# Malam Panjang



-WARNING-


18+


Harap Bijak dalam membaca yaa 🙏


Mike dilema, ia kembali merasa tak yakin membiarkan Nathan pulang dan bertemu Dara dengan kondisi yang seperti itu. Di tengok nya lagi untuk yang kesekian kalinya penampakan kawannya di jok belakang. Dia bahkan belum sadar penuh.


Tapi lagi-lagi ia mematahkan pikirannya sendiri.


"Nathan! Kita sudah sampai di apartment" Panggil Mike.


Tak ada jawaban dari Nathan.


"Nath!" Panggilnya sekali lagi. Kali ini dengan bantuan dari Adly yang duduk di sebelah Nathan. Ia mengorak-orak tubuh kawannya agar segera membuka mata.


"Oh? Apa? Hahh.. Sudah sampai ya.. Ssshh.." Sahut Nathan.


"Gue antar ya Nath. Lo pasti nggak kuat jalan" Tawar Adly yang tak yakin Nathan akan bisa mempergunakan kakinya dengan baik.


"Nggak usah. Gue bisa jalan sendiri. Lo pikir gue anak kecil" Sahut lelaki itu asal.


"Bener Adly Nath, mending lo diantar deh. Bisa ambruk lo di tengah jalan" Mike menambahi.


"Udah dibilang gue bisa! Ngeyel amat sih?! Udah sana kalian pulang!" Nada bicara Nathan mendadak naik setengah oktaf. Membuat bergidik kawannya yang lain.


"Galak banget lo Nath" Celetuk Regy.


"Oke kalau nggak mau.. Gue cuma nawarin aja, hati-hati. Pelan-pelan aja jalannya" Pesan Mike yang di abaikan Nathan. Pria itu melenggang keluar dari mobil bahkan tanpa berterima kasih. Menutup pintunya dengan keras dan berjalan tergopoh-gopoh melewati lobby.


Butuh waktu sekitar lima menit untuk menunggu pintu lift terbuka. Lima menit yang terasa seperti lima jam bagi Nathan yang sudah banyak kehilangan tenaga. Entah akibat hormon adrenalin yang masih mendominasi atau karena hal yang lain, Nathan tak terlalu merasakan sakit di sekujur tubuhnya.


Padahal jika dilihat secara kasat mata saja sudah pasti luka di wajahnya mengeluarkan rasa sakit yang cukup hebat. Mengingat wajah putih mulusnya yang hanya ditumbuhi sedikit jenggot itu terdapat banyak warna merah dan mulai membiru.


Pria itu sampai di lantai tempatnya tinggal. Hanya beberapa langkah lagi menuju apartment nya. Beruntung malam sudah larut sehingga tak banyak orang yang menaruh perhatian padanya. Jika saja hari masih sore, mungkin Nathan akan jadi bahan tontonan banyak pasang mata disana.


Seorang gitaris terkenal dengan wajah babak belur penuh luka berjalan bak zombie di lobby apartment.


Mendadak Nathan menderita alzheimer sehingga ingatan soal susunan angka yang membentuk password di pintu masuk buyar begitu saja dalam memorinya. Ia frustasi karena tak dapat dengan benar mengingat kode rahasia itu.


Dalam kepikunan akutnya, dia hanya mampu menggedor-gedor pintu masuk tersebut berharap lama kelamaan pertahanan dari pintu itu melemah dan dapat terbuka dengan mudah. Tapi dia lupa pintunya bukan terbuat dari kayu biasa. Sistem keamanan yang canggih tak dapat semudah itu di jebol paksa.


Sementara dari dalam, Dara masih terjaga. Menunggu kepulangan Nathan. Entah rasanya ia seperti memiliki firasat akan sesuatu tentang suaminya. Dia tahu, kini sudah larut malam dan mungkin saja Nathan tak pulang seperti beberapa waktu lalu. Namun entah kenapa, hatinya sangat ingin mendekati pintu masuk dan melihat layar kecil disana.


Layar itu terhubung dengan kamera kecil sejenis CCTV di bagian luar pintu, sistem keamanan apartment yang dirancang agar pemiliknya dapat dengan mudah mengecek terlebih dahulu siapa tamu yang berada di luar sana. Dan memutuskan untuk membuka pintu lalu mempersilahkan masuk atau sebaliknya.


Perlahan Dara berjalan mendekati layar itu. Ia menyipitkan kelopak matanya, mengamati seseorang yang sedang berada di luar. Beberapa detik berlalu dan Dara sadar penuh bahwa orang itu adalah Nathan suaminya.


Cepat-cepat dia membuka pintu, menyambut sang suami yang baru saja tiba. Dara sangat antusias, irama jantung nya ramai di dalam sana. Dia telah menyiapkan kejutan untuk Nathan di hari ulang tahunnya yang sebenarnya sudah terlewat satu hari itu.


Dan BRUKK..


Nathan ambruk dan jatuh ke dalam pelukan Dara.


"Ya ampun.. Nathan!" Dara terkejut setengah mati dengan apa yang disaksikannya.


"Kamu kenapa? Kok sampai begini" Lirih Dara. Ia berusaha membantu Nathan berdiri dan menempatkan kedua kakinya sekokoh mungkin menempel di lantai.


Dara begitu khawatir, tapi Nathan mengabaikannya. Tak ada jawaban dari mulutnya yang mungkin dapat memuaskan rasa bingung Dara saat ini. Ia hanya terus menempelkan sebelah pipinya di bahu Dara, meski hal itu membuatnya harus membungkuk karena tubuh Dara yang lebih mungil darinya.


"Ayo kita masuk.. Aku akan bersihkan lukamu" Ucap Dara. Meski mungil, ia dapat dengan kuat menahan beban tubuh jangkung Nathan yang menjadikan tubuhnya sebagai tumpuan. Dara berusaha mengatur langkahnya sebaik mungkin agar tak hilang keseimbangan. Membopong Nathan menuju kamar mereka.


Napasnya tersengal-sengal ketika akhirnya kakinya berhasil menapaki lantai dua. Nathan yang berjalan dengan menyeret kakinya bagai enggan terlepas dari Dara yang nampak kelelahan. Meski begitu, Dara tak merasa terbebani sama sekali.


Wanita itu membuka pintu kamar perlahan dan membetulkan posisi tangan sebelah kanan Nathan yang ia bentangkan di sepanjang bahunya. Sementara tangan kirinya menopang dan sedikit mencengkram bagian pinggang tubuh pria tak berdaya tersebut.


"Ahh.. Surga.." Cicit Nathan ketika tubuhnya di hempaskan ke atas ranjang. Sementara Dara dengan cekatan membantu melepaskan sepatu boots rocker yang masih terpasang di kedua kakinya.


"Aku akan ambilkan obat untuk membersihkan lukamu. Sebentar ya" Meski setengah sadar, Nathan dapat dengan jelas mendengar ucapan demi ucapan yang keluar dari mulut Dara.


Dara kembali dengan sebuah nampan yang di atasnya terdapat segelas air mineral, satu mangkuk bahan plastik kecil berisi air antiseptik dan beberapa lembar kapas serta kain kassa untuk membersihkan luka terbuka di wajah Nathan setelah beberapa menit berselang.


Meski sangat banyak pertanyaan yang bergumul dalam kepalanya dan ingin diajukan pada Nathan, Dara lebih memilih untuk mengurungkannya. Terlebih dia juga sudah menyadari bahwa Nathan saat ini masih dalam pengaruh alkohol. Aroma yang cukup familiar baginya sejak lama.


"Sshh.. Ahh!" Teriak Nathan ketika Dara tak sengaja terlalu menekan bagian memar di pelipisnya. Rasa nyeri itu mulai terasa.


"Maaf.." Ucap Dara lembut. Ia kembali melanjutkan tugasnya dengan menjadi perawat pribadi bagi Nathan.


"Minumlah.." Perintah Dara sambil menyodorkan segelas air mineral yang langsung diterima Nathan. Ia meneguk sedikit dan menyisakan dalam jumlah yang masih banyak.


"Wajahmu sudah lumayan bersih, tapi beberapa luka harus diobati dengan obat merah. Aku lupa membawanya, tunggu sebentar lagi ya. Aku ambil dulu di bawah"


"Tunggu!" Nathan mencegat dengan menggenggam lengan kiri Dara. Sementara wanita itu hanya memandang bingung wajah Nathan di depannya dan tetap mempertahankan posisinya yang duduk di pinggir ranjang.


"Jangan ke mana-mana" Pinta Nathan dengan tanpa mengindahkan sedikitpun tatapannya dari Dara, membuat wanita berlesung pipi itu sedikit kikuk.


"Tapi lukanya harus diobati. Tidak sembuh kalau hanya dengan cairan antiseptik"


"Aku nggak butuh obat. Aku butuh kamu"


Dara membeku dengan mulutnya yang sedikit ternganga. Apa yang baru saja di dengarnya cukup membuat bulu kuduknya menegang. Apalagi Nathan semakin mempererat genggaman tangannya. Mata cokelat indahnya menatap Dara semakin dalam.


"Kamu cantik.." Pujian itu meluncur begitu saja dari mulut Nathan. Ia juga menghadiahi Dara dengan belaian di pipi sebelah kirinya.


Wanita itu tak mampu lagi membalas tatapan Nathan yang kian intens dan seductive. Hal ini sangat tidak baik bagi kestabilan detak jantungnya yang berdetak semakin tak beraturan. Udara di dalam kamar cukup dingin tapi bulir keringat satu per satu keluar dari pori-pori kulit wajah bagian dahinya.


Tangannya gemetar bagai orang penderita tremor akut. Dara menundukkan arah matanya, mengamati tangannya yang digenggam Nathan saja dia gugup luar biasa. Darahnya terasa mengalir begitu deras dan cepat mencapai otak. Ia bahkan tak berani menggeser posisinya barang satu centi pun. Nathan berhasil menyihirnya jadi batu.


"Bagaimana aku baru menyadari bahwa kamu begitu cantik.. Ra.." Panggilan khas Nathan untuknya kali ini terdengar ngeri. Entah atmosfer apa yang tengah menyelimutinya saat ini.


Mestinya Dara merasa senang dan bahagia dengan pujian yang diutarakan suami yang di sayanginya. Tapi kenapa sekarang rasanya berbeda? Ia malah nampak takut dan sangat canggung berdekatan dengan Nathan yang tak henti memandanginya.


Nathan memaksa Dara untuk membalas tatapannya dengan sedikit mengangkat dagunya menggunakan tangan kanannya. Jelas sekali pendar kengerian bermain di kedua mata Dara ketika ia akhirnya menatap balik Nathan.


"Nath.." Panggil Dara dengan suara yang bergetar. Nathan semakin memajukan posisinya, tapi Dara sedikit menggeser tempat duduknya.


"Jangan menjauh" Pinta Nathan bagai orang yang sedang mengiba.


"Kamu harus istirahat Nath.."


"Kemarilah" Jika Dara hanya menggeser se-centi demi se-centi posisi duduknya, Nathan justru malah semakin mendekatkan tubuhnya pada Dara.


"Ra.." Nathan lagi-lagi mendaratkan telapak tangannya di pipi Dara. Belaiannya lebih terasa seperti api yang membakar wajahnya ketimbang rasa kasih sayang untuknya.


"Kamu mabuk Nath.." Dara menghalau belaian itu dengan gerakan kepalanya.


"Ya.. Aku mabuk" Ucap Nathan dengan nada yang entah kenapa terdengar mengerikan. "Aku mabuk cintamu" Imbunya lagi, membuat Dara hampir mimisan.


Nathan tak lagi memperdulikan penolakan terang-terangan yang dilakukan Dara sepanjang ia memberi sentuhan padanya. Pria itu langsung ******* bibir Dara tanpa permisi menciptakan serangan jantung bagi istrinya yang seumur hidupnya belum pernah disentuh oleh lawan jenis sekalipun.


Dara mengerjap, matanya terbelalak. Bibirnya terkunci, ia terpaksa menerima ciuman Nathan yang penuh nafsu itu. Ciuman yang seakan tak memberinya jeda hanya untuk sekadar mengambil napas.


Dengan napas yang memburu salah satu tangan Nathan kian liar, dengan menyusup ke bagian dalam baju Dara yang terbuka sedikit pada bagian dadanya.


"Mmhh..." Dara mendorong tubuh Nathan dengan keras dan berhasil melepaskan ciuman pria itu darinya. Sementara Nathan hanya menatapnya dengan kosong.


"Aku harus meletakkan ini ke bawah dulu" Dara mencoba mencari alasan dengan meraih nampan berisi beberapa P3K yang ia letakkan di atas nakas samping ranjang itu.


"Nggak!" Emosinya memuncak. Nathan menyambar nampan itu dari tangan Dara dan melemparnya ke lantai. Semuanya berserakan dan berantakan seketika. Dara terbelalak tak percaya dengan apa yang disaksikannya barusan. Suaminya nampak sangat kasar, Nathan begitu mengerikan. Ia tak tahu hal apa yang sebenarnya diinginkan pria itu.


Nathan langsung bangkit dari ranjang dan menggendong tubuh Dara, kemudian menjatuhkannya di atas ranjang. Entah sejak kapan seluruh energinya datang kembali hingga tiba-tiba kuat mengangkat beban tubuh sang istri yang sekitar setengah jam lalu justru membantunya berjalan mencapai kamar.


Dara terkesiap, wajahnya ketakutan. Bahkan saat Nathan mulai membuka pakaiannya dan memperlihatkan tubuh sixpack bertatto nya di hadapan Dara, wanita itu bereaksi seperti seseorang yang hendak di perkosa


Nathan merasakan darahnya yang berdesir, otaknya dikuasai nafsu yang memuncak. Ia menatap Dara dengan bengis, bagai tatapan seekor singa yang akan menyerang buruannya tanpa ampun. Sementara Dara memandangnya dengan wajah yang pucat. Nathan mulai naik ke atas ranjang dan mendekati istrinya.


"Layani aku" Imbuh Nathan ketika tubuhnya sudah tepat berada di atas Dara yang gemetar, dan menatap dua bola matanya yang memberi isyarat ketakutan luar biasa.


Beberapa detik kemudian Dara baru menyadari, bahwa malam ini akan menjadi malam yang panjang untuknya.