An Angel From Her

An Angel From Her
41# Menjenguk Ibu



Satu hari berlalu sejak demam yang menyerangnya kemarin. Kini ia telah kembali sehat seperti sedia kala, bahkan tubuhnya terasa lebih fit dibanding beberapa hari sebelumnya. Memang dirinya kurang istirahat dikarenakan jadwal yang lumayan padat.


Nathan patut berterimakasih pada Dara yang punya andil merawatnya ketika jatuh sakit kemarin. Tapi tentu saja dia enggan melakukannya. Apapun yang berkaitan dengan Dara, rasanya tidak ada yang berarti apapun baginya.


Hari ini ia kembali disibukkan dengan aktivitas seperti biasanya. Pria itu tengah bersiap hendak pergi ke basecamp, setelah satu hari kemarin dirinya izin tak dapat hadir untuk latihan. Dering ponsel membuatnya makin terburu-buru, itu adalah panggilan dari Regy yang tak sabaran menunggu sang gitaris datang.


Setelah dirasa rapi, ia segera beranjak meninggalkan kamar dan hampir menabrak seseorang yang berpapasan dengannya. Dirinya hampir bertabrakan dengan Dara.


"Astaga.." Keluhnya.


"Ah, Nath.. Maaf.. Maaf.. Aku nggak lihat-lihat.." Ucap Dara mengalah, padahal dia tahu, Nathan lah yang sembrono.


"Ck.." Decak Nathan jengkel.


"Kamu mau pergi? Apa sudah sehat?" Tanya Dara penuh perhatian.


"Sudah" Sahut Nathan singkat.


"Syukurlah.. Aku senang melihatmu kembali sehat"


Dara meneruskan langkahnya, melewati Nathan yang masih berdiri di tempatnya. Ada sesuatu yang hendak di ambilnya dalam kamar.


"Thanks.. Sudah bantu aku kemarin!" Ucap Nathan. Pada akhirnya ia sudi mengucap kata terimakasih pada sang istri yang telah penuh perhatian merawatnya.


Dara menghentikan aktifitasnya, ia terkesima dengan apa yang baru saja dikatakan suami ketus nya tersebut. Dia tersenyum, tapi masih dalam posisi membelakangi Nathan.


"Sama-sama.." Sahut Dara.


"Tapi jangan berpikir dengan hal ini aku akan berubah pikiran dan langsung mencintaimu ya. Itu sama sekali tidak ada pengaruhnya" Lanjut Nathan.


Pria itu bagai mempermainkan perasaan Dara. Setelah ucapan terimakasih yang terasa tulus di dengar, ternyata disitu juga tersimpan ungkapan yang cukup menyakitkan. Mendengar hal itu, tentu membuat Dara bereaksi.


"Itu urusanmu.." Ucap Dara sembari membalikkan tubuhnya menghadap ke arah Nathan.


"Aku nggak bisa memaksa seseorang untuk bisa suka atau mencintaiku. Disini aku hanya memposisikan diriku sebagai istri, yang mana tugas seorang istri adalah merawat dan melayani suami. Terlebih ketika suaminya sedang sakit. Jadi, aku memang nggak berharap apapun darimu" Lanjut Dara. Tegas, jelas, namun juga terdengar lirih di dalam kalimat yang baru saja dilontarkannya.


Nathan diam mendengarkan apa yang dikatakan Dara padanya. Kali ini, dia kalah telak. Dia tak mampu menanggapi ucapan sang istri yang terdengar begitu berpendirian.


"Baguslah.. Itu berarti kamu tahu diri" Balas Nathan. Ia langsung melangkah keluar dari kamar, meninggalkan Dara.


Air mata lirih menyembul dari kedua pelupuk mata Dara. Ia segera menghalau bulir bulirnya agar tak keluar seenaknya. Entah ini yang keberapa kalinya. Seperti yang diucapkannya barusan, ia memang tak berharap banyak pada Nathan. Bahkan soal kelangsungan rumah tangga yang baru dibina ini.


...***...


Hari-hari berganti, dilewati dengan penuh kesabaran oleh Dara dalam menghadapi suami yang masih belum bisa menerimanya. Meski sering menyakitkan, tapi wanita itu memilih untuk tetap bertahan.


Selama menjalani pernikahan dari hasil perjodohan ini, tak sedikitpun Dara di sentuh oleh Nathan. Tidur satu ranjang pun bagai sebuah kemustahilan. Alhasil di bulan ke lima pernikahan ini, belum jua ada tanda-tanda kehamilan pada diri wanita tegar tersebut.


Bunda begitu menginginkan cucu dari mereka, dengan semampunya dia membantu barangkali pasangan ini butuh therapi. Namun hasilnya selalu nihil. Karena tak ada satupun treatment yang di rekomendasikan dari bunda yang dijalankan, Nathan selalu menolaknya diam-diam.


Dara mengimpikan sebuah rumah tangga yang harmonis, memiliki anak yang lucu-lucu, suami yang perhatian dan penyayang. Sedangkan Nathan, kalau bisa, dia hanya ingin sendiri saja selamanya. Meniti karir, hingga tutup usia.


Pun jika dirinya 'terpaksa' punya anak, dia hanya ingin anak yang lahir dari wanita yang dicintainya. Monica. Bukan dari wanita lain, apalagi Dara.


Hari ini jadwal off untuk semua kegiatannya. Dia sengaja mengaturnya demikian agar dapat menyelesaikan satu single ciptaannya untuk album terbaru black romance yang sudah lima bulan ini belum juga rampung.


"Nath.. Naatth.. Nathaan.." Panggil seseorang dari arah luar ruang studio. Nathan tengah sibuk disana, mengedit beberapa part dari keseluruhan lagu.


"Apa sih?" Sahut Nathan.


Wanita itu masuk ke dalam studio, menghampiri Nathan di meja kerja. Raut wajahnya nampak panik, Nathan bertanya-tanya dalam hati apa yang membuatnya demikian.


"Nath.. Aku mohon, izinkan aku untuk mengunjungi ibu.." Ucap Dara sembari bersimpuh di hadapan Nathan dengan kedua tangan yang di katupkan di depannya.


"Sudah lima bulan ini aku nggak mengunjunginya. Barusan aku dapat kabar kalau ibu jatuh sakit.." Lanjut Dara dengan suara yang bergetar.


"Ku mohon Nath.. Izinkan aku.."


Nampak kedua mata Dara yang berkaca-kaca memohon penuh harap padanya. Nathan paling iba jika sesuatu hal yang buruk menimpa seorang "ibu". Hatinya terenyuh, ia tak tega jika harus melihat Dara yang tak bisa menemui ibunya hanya karena perintah darinya yang tidak manusiawi.


"Pergilah.." Ucap Nathan.


"Benarkah?" Tanya Dara sambil terisak.


"Ya.. Aku mengizinkanmu. Pergilah! Sebelum aku berubah pikiran" Jawab Nathan.


"Terimakasih banyak Nath.. Aku pergi dulu ya" Pamit Dara. Ia buru-buru menghambur keluar dari studio.


"Daraa.. Ra.. Tunggu!" Panggil Nathan pada Dara yang melesat secepat kilat. Ada sesuatu yang ingin diutarakan pria itu padanya. Dara seketika menghentikan langkahnya kala mendengar panggilan dari Nathan yang memekakkan telinga.


"Ada apa Nath?" Dara memberi perhatian sepenuhnya pada Nathan yang mengejarnya hingga terengah-engah.


"Kamu larinya cepat banget sih. Tunggu dulu.. Aku akan mengantarmu" Ucap Nathan.


"Apa? Antar aku?" Dara bagai tak percaya dengan apa yang Nathan katakan barusan.


"Iya.. Aku akan mengantarmu ke rumah ibumu" Tegas Nathan.


Dara termenung dengan masih tak menyangka Nathan bahkan bersedia mengantarnya.


"Aku hanya ingin melihat juga bagaimana keadaan ibumu. Jangan ge-er ya" Ujar Nathan.


"Boleh Nath. Ayo.." Ajak Dara.


"Tunggu! Tunggu disini sebentar" Nathan bergegas mencari sesuatu yang hendak diambilnya. Ia nampak terburu-buru menapaki anak tangga menuju kamarnya. Selang beberapa menit kemudian, pria itu kembali dengan sudah memakai jaket beserta topi, dan tak lupa masker juga kacamata hitam.


"Pakai ini" Ucap Nathan sambil menyodorkan masker untuk Dara.


"Masker?"


"Ya.. Pakailah. Jangan sampai ada yang mengenali wajahmu" Jawab Nathan.


Dara menuruti apa yang di perintahkan oleh suaminya. Ia langsung memasang kedua tali masker tersebut ke telinganya masing-masing. Dan menarik masker tersebut agar menutupi setengah wajahnya.


"Oh ya satu lagi. Aku akan jalan lebih dulu. Kamu mengikuti di belakangku. Buat seolah-olah kita tidak ada hubungan apa-apa" Tukas Nathan.


Dara menghela nafas. Lagi-lagi ia harus mau menerima apa yang diucapkan pria itu padanya.


"Iya Nath, aku mengerti"


Nathan berjalan mendahului Dara di belakangnya. Ia membiarkan Dara menutup rapat kembali pintu yang membukakan jalan untuknya. Mereka berdua berjauhan, bagai tak saling mengenal. Pun saat berada di lift, pasangan ini saling menjaga jarak satu sama lain.


Dara memandangi Nathan dari arah belakang, sebenarnya ada perasaan sedih yang menyelimutinya. Betapa ia merasa hanya jadi beban, merasa bahwa dirinya benar-benar tak di anggap. Namun beberapa detik kemudian, ia menepis perasaan itu. Dan berusaha untuk tak lagi memikirkan hal yang hanya membuat mentalnya down.