
"Hoo..ooo.." Nathan tengah asyik memetik gitar sembari menyanyi di ruang studionya ketika bunda tiba-tiba datang dan menghentikan kegiatannya.
"Hahh.. Bunda!" Teriak Nathan terkejut dengan kehadiran bunda.
"Segitu seriusnya sampai kaget bunda datang" Sahut bunda yang masih berdiri di ambang pintu.
"Bunda sekarang suka tiba-tiba saja muncul, datangnya juga gak kelihatan. Ini, bunda baru sampai kah?" Tanya Nathan sembari meletakkan gitarnya.
"Sudah dari semalam bunda disini. Memangnya kamu tidak sadar?"
"Tidak.."
"Ya.. Sudah pasti sih kamu tidak tahu bunda disini. Sejak bunda sampai kamu sudah tidak ada" Ucap bunda.
Nathan diam.
"Hari ini, makan malam disini ya. Bunda ada mengundang tamu untuk makan malam bersama" Lanjut bunda.
"Tamu siapa bun?" Tanya Nathan.
"Nanti kamu juga tahu. Jangan kemana-mana ya? Bisa kan?"
"Iya, aku gak kemana-mana" Sahut Nathan.
"Good" Ucap bunda. Pandangan matanya mengedar ke sekeliling ruangan studio, memperhatikan dengan detail isi dalam tempat Nathan biasa menghabiskan waktunya saat sedang di apartment.
"Kenapa bun?" Tanya Nathan penasaran.
"Tidak apa-apa" Jawab bunda. "Lanjutkanlah" Sambungnya lagi.
Nathan mengernyit memperhatikan gelagat bunda yang sorot matanya bagai sedang 'menggeledah' ruang studionya, kemudian keluar begitu saja tanpa pamit. Dan juga, kenapa bunda tiba-tiba datang dengan tanpa membahas pertengkaran kemarin? Apa dia sudah melupakannya? Entahlah.
\*\*\*
"BERSIAPLAH DARA. BUNDA SUDAH MEMINTA PAK EKO UNTUK MENJEMPUTMU. DIA AKAN TIBA DI RUMAH SEKITAR PUKUL 19:00"
Dara membaca pesan teks dari bunda yang ditujukan padanya. Perasaannya semakin gelisah. Jantungnya berdegup kencang. Raut wajahnya yang terlihat tak tenang memancing perhatian ibu.
"Dara.." Panggil ibu seraya menepuk bahu Dara perlahan.
"Iya bu" Sahut Dara.
"Kamu jadi menghadiri undangan makan malam dengan bu Erina?" Tanya ibu.
"Jadi bu.."
"Kenapa sekarang masih disini? Pulanglah nak, bersiap segera. Berikan kesan pertama yang baik untuk calonmu" Gurau ibu.
"Duh.. Ibu" Sahut Dara, wajahnya memerah. "Dara mau bantu ibu dulu disini" Lanjutnya.
"Tidak perlu nak. Kan sudah ada Lisa. Nanti tutupan warung juga bisa di bantu Rangga"
Dara diam sembari berfikir sejenak.
"Dara? Ada apa?" Tanya ibu.
"Tidak apa-apa bu" Jawab Dara dengan senyum manisnya.
"Apa kamu masih ragu?" Tebak ibu.
Dara menggelengkan kepalanya.
"Ya sudah, Dara pulang sekarang ya bu. Benar tidak apa-apa kalau Dara tinggal?" Tanya Dara memastikan.
"Iya nak. Tidak usah difikirkan" Jawab ibu.
"Baiklah. Kalau begitu, Dara pulang ya bu" Pamit Dara seraya mencium punggung tangan ibu.
"Iya nak, hati-hati dijalan ya" Ucap ibu.
Dara berlalu dari hadapan ibunya, lalu melangkahkan kaki keluar dari warung tersebut. Kemudian menyetop angkutan umum untuk di tumpanginya sampai ke rumah.
Di perjalanan, fikirannya kembali melayang. Ia hampir tak bisa mengendalikan rasa gugupnya. Dalam hati ia mencoba berlatih, mempersiapkan kosa kata yang baik juga bahan pembahasan yang tidak membosankan saat pertemuan nanti.
Berharap agar segalanya berjalan dengan lancar sesuai rencana. Respon dari pria yang akan dijodohkan dengannya dapat menerima dirinya dengan baik pula.
Dara terlalu asyik melamun hingga tak terasa angkutan umum yang di tumpanginya sampai di depan gang menuju rumah. Ia meminta sopir untuk menghentikan laju kendaraan dan segera turun setelah membayar ongkosnya terlebih dahulu.
Jarak dari depan gang hingga ke rumahnya cukup dekat, kira-kira sekitar 200 meter ditempuh dengan berjalan kaki. Lingkungan tempat tinggal Dara adalah sebuah wilayah perkampungan, yang tidak terlalu padat namun ramai.
Para warga biasa keluar rumah dan saling berkumpul di sore hari untuk sekadar bersosialisasi dan bertukar informasi antara satu dengan yang lainnya. Dara menyapa dengan ramah beberapa ibu tetangga ketika melewati mereka sebelum akhirnya tiba di rumahnya.
"Assalamu'alaikum.." Ucap Dara kepada Rangga sang adik yang tengah duduk santai di teras dengan buku dalam genggamannya.
"Wa'alaikumsalam.. Kakak pulang duluan?" Jawab Rangga sembari menutup sejenak buku di tangannya.
"Iya, kakak ada undangan makan malam di apartment nya bu Erina. Jadi kakak pulang duluan untuk siap-siap" Sahut Dara.
"Makan malam di apartment kak? Waah.. Aku ikut dong" Ujar Rangga.
"Bu Erina cuma ngundang kakak dek. Nanti kakak beliin makanan saja deh ya? Kamu mau apa?" Tanya Dara.
"Kebab ya kak!" Jawab Rangga semangat.
"Oke. Nanti kakak belikan"
"Yeeay.. Makasih ya kak" Ucap Rangga.
"Tapi kakak minta tolong. Bantu ibu di warung ya. Sekarang ibu cuma berdua Lisa, sebentar lagi kan mau tutupan. Berangkat sekarang gih" Perintah Dara.
"Oke, siap! Aku jalan sekarang ya kak" Pamit Rangga yang langsung kabur begitu mendengar instruksi dari sang kakak.
"Hei.. Kamu sudah mandi belum?" Ucap Dara setengah teriak.
"Sudaah..!" Sahut Rangga dari kejauhan.
Dara tersenyum sembari menggelengkan kepala melihat tingkah adiknya yang kekanakan itu. Padahal usianya kini telah menginjak 16 tahun, yang mana tak lama lagi, ia akan meninggalkan masa remaja dan mesti bersiap menyambut kedewasaannya.
Gadis itu segera masuk ke dalam rumah dan bergegas membersihkan diri. Kemudian menyiapkan semua yang diperlukan untuk memenuhi undangan dari bunda sekaligus bertemu dengan 'calonnya'.
\*\*\*
Bunda telah menyulap meja ruang makan bak restoran mewah. Semua menu mulai dari appetizer, main course dan dessert tertata rapi di meja. Dalam membuat suatu jamuan, bunda memang tidak pernah main-main.
Suara gaduh yang ditimbulkan bunda memancing Nathan untuk menengoknya. Ia terpukau dengan apa yang dilihatnya saat ini. Meja ruang makan yang biasanya sepi, hanya ditempati beberapa gelas dan wadah penyimpanan air minum. Kini penuh dengan aneka hidangan yang nampak lezat, meski sekarang dirinya benar-benar kehilangan selera makan.
"Wow.." Ucap Nathan yang baru keluar dari ruang studio yang jaraknya berdekatan dengan dapur juga ruang makan.
"Hei nak. Kamu belum siap-siap?" Sapa bunda.
"Begini saja lah bun. Bukan tamu negara kan yang datang" Ucap Nathan.
Bunda menoleh dan memperhatikan penampilan putranya yang saat itu mengenakan kaos polos warna hitam dan celana panjang blue jeans belel. Sekilas ia memang terlihat tak terlalu berantakan, rambutnya juga sedang tidak di tata ke atas seperti saat manggung.
"Iya bukan tamu negara. Tapi tamu spesial" Sahut bunda.
Ting.. Tong..
Seseorang memencet bel dari arah luar. Mbak Asih segera menghambur ke depan dan membukakan pintu. Ada pak Eko disana, ia masuk dan menginfokan bahwa tamu yang ditunggu telah datang.
"Langsung ajak masuk saja pak" Ucap bunda.
"Baik bu" Jawab pak Eko yang langsung menjalankan perintah dari sang nyonya besar.
"Sudah datang" Ucap bunda pada Nathan yang memilih untuk tak berkomentar.
"Selamat malam.." Ucap Dara memberikan salam pada bunda dan Nathan yang sedang berdiri menyambutnya.
"Selamat malam sayang" Jawab bunda seraya melakukan cipika cipiki dengan Dara.
"Gimana tadi di jalan? Macet tidak?" Tanya bunda basa basi.
"Nggak kok bunda. Lancar" Jawab Dara.
Nathan menatap Dara dari atas kepala hingga ujung kaki. Seorang gadis yang tingginya kira-kira hanya mencapai bahunya, mengenakan sebuah gaun selutut dengan warna dasar hitam dihiasi motif bunga-bunga kecil berwarna mint.
Rambut hitam yang panjang dan tebal di jepit ke belakang pada bagian atasnya, juga sandal selop sederhana yang warnanya senada dengan motif bunga pada gaunnya.
Gadis itu juga menatap balik Nathan. Senyum tipis tersungging di bibirnya. Siapa dia? Mengapa bunda begitu gembira ketika hanya menyambut seorang gadis seperti dia? Pikirnya.
"Oh iya. Dara, perkenalkan. Ini Nathan, putra bungsu bunda" Ucap bunda mengenalkan Dara dengan Nathan.
Dara menjulurkan tangannya, agar Nathan dapat berjabat tangan dengannya.
"Dara.." Ucap Dara grogi.
Dengan ragu Nathan meraih tangan Dara dan menggenggamnya.
"Nathan.." Ucapnya.
Bunda memperhatikan dua muda mudi di hadapannya yang saling menatap satu sama lain itu. Dirinya merasa bahwa ini adalah awal yang baik, melihat respon Nathan yang cukup bagus.
"Ah.. Ayo kita langsung mulai saja ya makan malamnya. Bunda sudah menyiapkan ini semua untuk menyambut Dara. Pasti Dara suka" Ucap bunda menggubris Nathan dan Dara.
"Terimakasih bunda"
"Ayo silahkan duduk nak" Ajak bunda.
Dara menempati kursi yang bersebrangan dengan Nathan. Sementara bunda berada di antara mereka berdua dengan menduduki kursi yang terdapat di ujung meja.
"Silahkan di ambil, ini menu pembukanya nak" Ucap bunda menawari salah satu makanan pembuka yang tersaji di atas meja.
"Terimakasih bunda" Ujar Dara. Jika bisa jujur, dirinya saat ini bahkan tak merasa lapar sedikitpun lantaran rasa gugup yang menguasainya. Namun demi menghargai jamuan bunda, ia berusaha sebisa mungkin untuk terlihat tertarik dengan semua hidangan.
"Nathan, ayo nak, ambillah" Ucap bunda pada Nathan yang juga terlihat enggan mengisi piringnya.
"Aku.. Aku nanti saja kayaknya deh. Bunda saja duluan ya" Sahut Nathan.
"Lho.. Kenapa? Kan ini acara makan malam bersama. Masa makannya sendiri-sendiri" Ucap bunda.
"Baiklah" Pada akhirnya Nathan mengalah dan menyendok makanan pembuka yang berupa salad buah.
"Kita sambil ngobrol ya?" Ucap bunda.
"Nathan, mungkin kamu bertanya-tanya siapa sebenarnya Dara ini. Bunda akan cerita sedikit tentang pertemuan bunda dengannya" Sambung bunda lagi.
Nathan diam sembari menyimak.
"Jadi, beberapa bulan yang lalu bunda ikut mbak Asih ke pasar. Nahasnya, bunda jadi korban penjambretan. Tas bunda yang berisi beberapa cek senilai puluhan juta dan juga barang berharga di dalamnya di rampas oleh orang tak dikenal" Ucap bunda menceritakan kejadian beberapa bulan silam pada putranya.
"Hah? Bunda di jambret? Kok bunda gak cerita sama aku?" Nathan sedikit terkejut.
"Maaf, bunda lupa cerita ke kamu waktu itu. Kalau tidak salah, sorenya bunda kembali ke Bandung. Jadi tidak bertemu kamu lagi" Jawab bunda.
"Tapi bunda baik-baik saja?" Tanya Nathan.
"Bunda beruntung karena orang itu hanya merampas tas nya. Dia tidak melukai bunda sama sekali. Memang salah bunda, mestinya saat itu bunda bawa tas yang lebih kecil dan hanya membawa beberapa uang tunai saja" Tutur bunda.
"Nah, disini lah pertolongan datang. Seseorang melempar tas isi belanjaan sayuran ke wajah si penjambret yang membuatnya jatuh tersungkur. Lalu si penolong ini menarik kembali tas itu dari tangan penjambret. Hingga akhirnya si penolong ini menang, meski harus mendapat luka sabetan pisau di lengannya" Lanjut bunda.
"Siapa orang itu?" Tanya Nathan.
Bunda tersenyum sembari melirik ke arah Dara.
"Dia lah Dara. Si gadis penolong yang pemberani" Ucap bunda.
Nathan langsung menatap Dara di seberangnya. Ia tak menyangka gadis bertubuh mungil itu berani menolong ibunya yang bahkan belum dikenalnya. Padahal bisa saja hal itu justru akan membahayakan nyawa nya sendiri.
"Setelah kejadian itu, bunda mulai akrab dengan Dara. Dan bunda melihat, Dara ini adalah gadis yang baik, sangat baik. Sehingga bunda juga terfikirkan satu hal" Ucap bunda.
Nathan kembali memusatkan pandangannya pada bunda, ia melihat pendar penuh harapan di kedua mata bunda. Yang mana hal ini membuatnya sedikit punya perasaan tidak enak.
"Bunda ingin Dara jadi orang yang punya hubungan keluarga dengan kita" Ucap bunda dengan nada serius.
"Maksudnya, bunda mau menjodohkan dengan kak Keenan?" Tanggap Nathan sembari menyuap salad buah ke mulutnya.
"Bukan" Sahut bunda.
"Lalu?" Tanya Nathan sembari mengunyah.
"Dengan kamu"
Pupil mata Nathan membesar, ia juga reflek menelan langsung makanan yang belum selesai dikunyahnya hingga membuat dirinya tersedak. Wajahnya memerah, tangannya segera meraih gelas dan cepat-cepat mengisinya dengan air mineral. Kata-kata bunda benar-benar membuatnya terkejut setengah mati.