
Dara pulang ke apartment setelah memastikan kondisi ibu sudah lebih baik. Nampaknya memang ibu hanya butuh dikunjungi olehnya. Ia merasa lega karena tak terlambat bertemu dengan sang ibu.
Dia juga sangat berterimakasih pada Nathan karena telah mengizinkan bahkan mengantarnya untuk menemui ibunya. Dirinya hampir tak memercayai kenyataan yang terjadi siang tadi. Meski pria itu tak bersedia menunggunya lebih lama lagi, tapi apa yang dilakukannya sudah cukup berkesan di hatinya.
Dara masih penasaran tentang siapa Nathan sebenarnya. Meski dia telah melihat sendiri bagaimana seorang remaja begitu mengidolakan suaminya, sampai-sampai histeris kala berhadapan langsung dengannya.
Tapi daripada itu, Dara juga sempat menaruh perhatian ketika Amel menyebutkan satu nama yang disebutnya sebagai 'pacar' Nathan. Namun sayangnya ia tak dapat mengingat dengan baik siapa nama tersebut.
Ia memaksa otaknya bekerja keras untuk dapat mengingat bagian yang terlupakan. Ditengah terpaan angin malam yang menyentuh wajah dan tubuhnya di atas motor salah seorang tukang ojek yang sedang melesat, mengantar penumpangnya sampai ke tujuan.
Sekuat apapun ia berusaha untuk mengingat, tetap saja nama itu tak lewat dalam kepalanya. Dia benar-benar melupakan part yang cukup penting tersebut. Lain kali, ia akan menyempatkan diri untuk mencari tahu. Bukan untuk apa-apa, akan lebih baik jika dirinya mengetahui banyak hal tentang pria yang jadi suaminya itu.
Si pengendara ojek yang membawanya sejak tadi tiba-tiba saja menghentikan motornya. Mereka telah tiba di depan apartment, Dara bahkan tak menyadari nya sama sekali jika orang itu tak menoleh dan memanggilnya.
Wanita itu segera turun dari motor, menyerahkan helm yang di kenakannya, lalu cepat-cepat membuka dompet untuk membayar ongkos ojek. Ia melirik ke arloji yang digunakannya. Sudah pukul 21:00 ternyata, pantas angin terasa lebih dingin mengenai tubuhnya.
Dara bergegas masuk ke lobby, menaiki lift menuju apartment tempatnya tinggal dilantai 15. Ia memikirkan Nathan yang mungkin saja belum makan malam karena sebelum pergi siang tadi, dirinya belum sempat memasak apapun.
Wanita itu berlari kecil usai keluar dari lift. Ia cepat-cepat menekan tombol password di pintu untuk membukanya. Beruntung kali ini dia tak melupakan juga susunan angkanya. Beberapa waktu lalu, mbak Asih sempat menginfokan padanya tentang password di pintu masuk. Dan dia pun langsung menghafalkannya saat itu juga.
Dara menghambur ke dalam dan mencari keberadaan Nathan disana. Tempat pertama yang ditujunya adalah ruang studio. Firasatnya mengatakan sang suami ada disana, dan ketika ia membuka pintunya, dirinya menyadari bahwa pilihan itu tepat.
Tapi ternyata Nathan tengah terlelap dengan posisi membungkuk di atas kursi, serta kedua tangan yang di letakkan pada atas meja digunakannya untuk menopang area kepala. Laptopnya juga masih dalam keadaan menyala, sepertinya ia tak sengaja tertidur disana.
Dara memandangi raut Nathan yang nampak kelelahan. Di sekitarnya terdapat bungkus makanan cepat saji beserta remahan bekas makan yang berserakan serta satu gelas bahan kertas sekali pakai berisi minuman soda.
Ia bersyukur, walaupun kini Nathan tertidur, setidaknya dia sudah lebih dulu mengisi perutnya. Karena jika tidak, bukan tak mungkin penyakit akan kembali menyerangnya.
Dara sedikit merapikan beberapa helai rambut Nathan yang berantakan dengan gerakan lembut penuh kehati-hatian. Ia tak ingin suaminya terjaga dari tidur lelapnya. Meski banyak pekerjaan yang harus di selesaikan olehnya, namun tidak ada salahnya memberi tubuh waktu untuk istirahat.
Dara berbalik, bermaksud untuk meninggalkan Nathan disana dan membiarkan sang suami dibuai mimpi.
"Mmmh.. Honey.."
Wanita itu terperanjat ketika mendengar suara Nathan. Ia menoleh, tetapi pria itu masih memejamkan matanya. Ternyata dia hanya mengigau.
"Honey.. Aku.. Rin..du.." Ucap Nathan dengan suara yang sengau. Namun satu kata dapat ditangkap dengan baik oleh Dara. Kata yang begitu mesra di dengar. Siapa yang dia panggil "Honey"?
Dara mengernyitkan dahi, sembari memandangi Nathan yang nampak begitu nyenyak tidur dengan posisi seperti itu. Ia menduga, "honey" yang diucap Nathan barusan adalah seseorang yang ada di dalam masa lalunya. Seseorang yang sudah pasti dicintainya. Teringat dengan ucapan Amel siang tadi soal "pacar Nathan", Dara sudah dapat menarik kesimpulan saat itu juga.
...***...
Semalaman Dara hampir tak bisa tidur memikirkan siapa wanita yang dipanggil Nathan dengan panggilan se-mesra itu. Jika saja dia menyadari tentang mudahnya mencari tahu info seseorang lewat dunia maya, mungkin saja pikiran-pikiran itu tak mengganggunya. Apalagi orang yang tengah di selidikinya merupakan salah satu orang yang cukup terkenal saat ini.
Dara memang sedikit kurang update dengan perkembangan zaman. Hal itu, seyogyanya cukup merugikan dirinya sendiri. Di zaman yang saat ini memiliki istilah 'semua serba dalam genggaman' semestinya ia lebih mau untuk meng-upgrade diri. Untuk mau 'melek' dan mengikuti perkembangan yang ada.
Dan pagi ini, meski pada malam harinya tak mendapat istirahat yang cukup, Dara tetap menjalankan rutinitasnya seperti biasa. Tak ada yang diabaikan, tak ada yang di tunda. Ia tengah memasak dengan tanpa melupakan pikirannya yang semalam.
Ia terlalu sibuk dengan gejolak dalam hatinya sampai tak menyadari posisi pisau dengan jarinya begitu dekat, hingga pada irisan selanjutnya, jarinya lah yang jadi bahan.
Sontak Dara menarik tangannya dan menjatuhkan pisau ke lantai. Dia meringis sembari memegangi jarinya yang mulai bercucuran darah. Lukanya cukup dalam.
Sesekali ia menghisap sumber luka tersebut dan membuang darahnya ke wastafel. Tapi hal itu tak membantu, darahnya keluar makin banyak. Disaat yang bersamaan, Nathan keluar dari ruang studio. Ia berada di sana semalaman.
Pria itu hendak mengambil minuman di lemari pendingin, dan gelagat Dara disana sedikit menyita perhatiannya. Ia memandang istrinya yang kesakitan tapi tak tergugah untuk membantunya.
Usai mendapat apa yang dicari, Nathan langsung melanjutkan langkahnya menuju kamar. Tak sedikitpun dia memberi perhatian pada Dara yang masih sibuk menghentikan luka di jarinya.
"Ya Allah.. Non Dara.. Kenapa non?" Tanya mbak Asih panik, ia baru saja selesai beres-beres di lantai dua dan terkejut mendapati sang majikan yang tengah meringis kesakitan di dapur.
"Ah.. Ini, cuma kena pisau mbak"
"Ya ampun non.. Ini banyak sekali darahnya. Sebentar ya, saya ambilkan obat dulu"
Mbak Asih berlalu dengan terburu-buru mencarikan obat untuk pertolongan pertama bagi Dara. Ia begitu khawatir melihat darah yang bercucuran dari jemari lentik majikannya, hal ini langsung mengingatkannya pada kejadian waktu itu. Kejadian pada pertemuan pertama dirinya dan bunda dengan Dara.
Dara yang notabene nya adalah orang asing bagi mereka, rela mengorbankan diri untuk membantu menyelamatkan tas bunda yang dibawa lari penjambret, hingga melukai lengannya sendiri.
"Mari non, saya bantu obati lukanya"
Mbak Asih mengarahkan Dara untuk duduk sejenak di kursi. Dengan cekatan ia membantu membersihkan jari yang hendak di beri obat merah di atasnya. Bekas luka sabetan pisau penjambret hari itu masih nampak melintang di lengan Dara, membuat mbak Asih semakin tak tega melihat wanita baik hati itu.
Ditambah dirinya juga menyaksikan bagaimana acuhnya Nathan pada Dara, bahkan ketika melihat istrinya meringis kesakitan disana. Ingin rasanya ia mengadukan hal ini pada bunda yang selama ini hanya tahunya hubungan pernikahan mereka baik-baik saja. Tapi, rasanya kurang pantas jika dia ikut campur dalam urusan keluarga, ia sadar akan posisinya.
"Sudah selesai non. Kalau di obati akan cepat sembuh" Ucap mbak Asih sambil membereskan kembali kotak P3K itu.
"Terimakasih banyak ya mbak Asih, sudah bantu mengobati luka saya" Lesung di kedua pipi Dara membingkai senyumannya dengan manis.
"Sama-sama non. Biar saya yang lanjutkan masaknya ya non.."
"Eh, nggak usah mbak.. Biar saya saja"
"Tapi jari non kan luka.."
"Hanya luka kecil.. Tidak usah khawatir mbak.." Sahut Dara santai. Mbak Asih mengalah.
"Baiklah. Tapi izinkan saya membantu sedikit ya non. Supaya lebih ringan" Tawar mbak Asih.
"Hhm.. Yasudah.. Boleh mbak" Jawab Dara dengan ramah.
Sesuai dengan janjinya, mbak Asih hanya membantu sedikit proses memasak hingga selesai. Ia membatin, bagaimana bisa istri se-sempurna Dara di sia-siakan seperti ini oleh suaminya.
Sikap ramahnya, wajah cantiknya, serta hatinya yang baik dan tulus sungguh begitu 'mubadzir' jika harus dilewatkan begitu saja. Mbak Asih berharap, suatu saat nanti, tuan muda Nathan menyadari bahwa ada berlian di sisinya. Dan ketika saat itu tiba, semoga bukan di waktu yang terlambat.