
Dara membolak-balik halaman demi halaman sebuah buku tebal bertema ilmu kedokteran, sembari duduk di sofa ruang tamu usai makan malam bersama keluarganya. Bertahun-tahun yang lalu, ketika Dara memutuskan untuk ikut seleksi penerimaan beasiswa di Fakultas Kedokteran, ia sempat membeli buku-buku tersebut untuk di pelajarinya.
Hatinya telah teguh dan yakin mampu mendapatkan beasiswa itu. Berlatih dengan giat siang dan malam, tanpa kenal lelah. Namun pada akhirnya ia mesti merelakan cita-citanya, melupakan semua impiannya menjadi seorang dokter demi membantu ibu. Meski begitu, tak ada yang di sesalinya sedikitpun. Ia justru merasa bangga karena dapat terus membersamai ibunya.
"Mau ikut beasiswa lagi kak?" Celetuk Rangga, ikut bergabung dengan Dara yang tengah asyik membaca.
"Eh? Nggak kok. Cuma baca-baca aja. Lumayan tambah pengetahuan" Sahut Dara.
"Kak.. Gimana kelanjutan pernikahan kakak?" Tanya Rangga.
"Belum tahu. Memangnya kenapa Ga?"
"Gak apa-apa kak. Aku penasaran aja, kok belum ada kelanjutannya lagi. Bu Erina juga gak pernah kelihatan. Aku gak mau kakak disakiti" Ucap Rangga parau.
"Bu Erina bukan orang yang seperti itu. Kakak yakin, semua akan berakhir dengan baik" Jawab Dara, walau ia sendiri tak yakin dengan apa yang dikatakannya.
"Semoga ya kak"
"Ngobrolin apa sih kakak dan abangku" Ucap Lisa menimbrung.
"Huh.. Miss kepo datang" Celetuk Rangga.
"Enak aja!" Bantah Lisa, ia menempatkan dirinya di sebelah Dara.
"Kamu sudah belajar?" Tanya Dara.
"Sudah kak" Sahut Lisa. Ia meraih toples berisi kue keju kering favoritnya di atas meja dan segera melahapnya.
"Kak.. Kakak jadi.. nikah sama anaknya bu Erina?" Tanya Lisa dengan mulut yang penuh dengan makanan.
"Tuh kan kepo. Telan dulu kuenya baru ngomong!" Protes Rangga.
Dara tertawa kecil melihat kedua adiknya.
"Ini kenapa pertanyaan kalian sama sih?" Ujar Dara.
"Kakak belum dapat info lagi dari bu Erina. Do'akan saja yang terbaik ya" Lanjut Dara sembari mengusap-usap puncak kepala Lisa di sebelahnya.
"Iya kak.."
"Kalau ada keperluan, kakak bisa minta tolong aku. Nanti pasti akan ku bantu" Ucap Rangga.
"Iya.. Makasih ya" Sahut Dara.
Ia termenung, memikirkan seperti apa kelanjutan dari pernikahannya. Besar kemungkinan semuanya akan batal, mengingat tak ada lagi komunikasi antara ia, dengan bunda. Apalagi dengan Nathan, calonnya sendiri.
Meski begitu, Dara telah menyiapkan hati untuk hal yang akan terjadi di kemudian hari. Ia tak ingin menggantungkan harapan pada manusia, karena pasti akan kecewa.
Tapi, memanglah lebih baik batal sekarang jika harus. Ketika semuanya belum disiapkan. Setidaknya, ia tak akan mempermalukan siapa-siapa. Pikirnya.
"Yasudah, kakak ke kamar dulu ya. Mau istirahat" Pamit Dara pada kedua adiknya yang masih santai duduk-duduk.
"Iya kak" Sahut Rangga.
Dara melewati Rangga dan masuk dalam kamarnya. Ia mengunci pintu dan menyalakan lampu tidur berwarna kuning. Cahaya temaram dari lampu itu memang cocok meningkatkan kualitas tidur.
Dara menyandarkan punggungnya pada headboard ranjang, membuka kunci password ponselnya dan memandangi sebuah foto yang sempat di ambilnya bersama bunda ketika mereka bertemu di salah satu cafe milik bunda beberapa waktu lalu.
"Bunda, aku ikhlas jika pernikahan ini batal. Tidak mengapa. Sesuatu yang dipaksakan itu sering berakhir dengan tidak baik" Gumamnya.
...***...
"Nathan, bunda berencana untuk mempercepat pernikahan kamu dengan Dara. Akhir pekan nanti kita ke Jakarta, dan langsung datang melamarnya ya" Ucap bunda menyampaikan ide nya pada Nathan yang tengah duduk santai di kursi belakang rumah, bersama dirinya yang sibuk menyirami tanaman koleksinya.
Pagi ini, cuaca cukup cerah di Bandung. Terutama kawasan rumah bunda yang masih sangat asri, jauh dari keramaian kota. Udaranya begitu sejuk untuk dihirup, di selimuti kabut tipis. Membuat Nathan betah berlama-lama disana. Disampingnya, tersaji secangkir vanilla latte yang masih sedikit berasap, diletakkan di atas meja bundar yang didampingi dua buah kursi santai pada sisi kiri dan kanannya.
"Di percepat?" Tanya Nathan kaget.
"Iya.. Tidak ada salahnya kan?" Sahut bunda.
Nathan tak menjawab.
"Kalau bisa satu atau dua bulan lagi ya" Sambung bunda lagi.
"Kenapa harus terburu-buru bun?"
"Lebih cepat lebih baik. Kamu tidak keberatan kan?" Ucap bunda.
"Nath?" Panggil bunda menggubris lamunan Nathan.
"Ya?" Sahut Nathan.
"Bagaimana?"
"Bunda atur saja"
"Oke. Kalau begitu, duuh.. Bunda sudah tidak sabar rasanya. Ingin melihat kamu bersanding dengan Dara yang cantik dan baik itu" Ucap bunda kegirangan.
"Bunda.." Panggil Nathan.
"Ya nak?" Sahut bunda tanpa menolehkan wajahnya. Ia masih sibuk merawat tanaman.
"Aku.. Ingin ke makam papa" Ucap Nathan.
Bunda sedikit terkejut dengan apa yang diucapkan Nathan barusan.
"Apa?" Tanya bunda.
"Aku ingin berziarah ke makam papa" Sahut Nathan.
"Tumben, ada angin apa?"
"Tidak ada apa-apa. Terakhir aku kesana waktu acara pemakaman berlangsung saja. Setelah itu, aku tidak pernah lagi datang mengunjungi. Biar bagaimanapun, dia adalah papaku. Orang tuaku" Ucap Nathan.
Bunda diam sembari meletakkan kembali gembor yang baru saja di gunakannya untuk menyiram tanaman pada tempatnya.
"Kamu bisa kesana lain kali. Makam papa ada di Bukittinggi, butuh waktu untuk kesana" Sahut bunda. Ia menempatkan dirinya di kursi santai sebelah putranya.
Ingatan Nathan melayang pada mimpi waktu itu, ketika ia bertemu dengan almarhum papa berwajah pucat, dan secara tiba-tiba menemukannya terkapar di dalam sebuah kamar yang terasa tidak asing baginya.
Jika dihubungkan dengan apa yang bunda ceritakan mengenai kisah masa lalunya, mungkinkah itu adalah tanda dari papa agar dirinya mengetahui manusia macam apa papanya. Mengingat Nathan yang masih sangat kecil ketika semua kejadian itu menimpa keluarganya, tentu dirinya takkan banyak mengerti.
Ingin rasanya dia menceritakan semua yang di lihatnya dalam mimpi pada bunda, namun ia juga khawatir akan membuat bunda terpaksa harus mengingat kenangan pahit itu lagi.
"Nak?" Panggil bunda pada Nathan yang tengah termenung dengan sorot matanya yang kosong.
"Ya bun?" Sahut Nathan.
"Kalau kamu mau ke makam papa. Lakukanlah ketika nanti kamu sudah menikah, ajak istrimu kesana" Ucap bunda.
"Hhmm.. Entahlah bun" Jawab Nathan, sembari meneguk vanilla latte nya yang hampir dingin.
"Kok..?"
"Aku mau ke kamar dulu ya bun. Oh iya, sepertinya besok aku balik ke Jakarta. Ada keperluan" Ucap Nathan seraya beranjak dari kursinya dan melangkah masuk ke dalam rumah meninggalkan bunda yang keheranan dengan kata terakhirnya.
Bunda memandangi Nathan dari jauh, hingga ia menaiki tangga dan menghilang dari pandangannya. Ia baru menyadari postur tubuh Nathan begitu sama persis dengan John suaminya. Pun dengan wajahnya yang sembilan puluh tujuh persen serupa. Tapi dibalik itu semua dia bersyukur Nathan masih dapat di selamatkan, dan tidak berakhir seperti laki-laki itu.
Nathan yang baru tiba di kamarnya membuka-buka beberapa laci disana. Mencari sesuatu yang mungkin penting baginya. Pencariannya berhenti ketika menemukan selembar foto dengan warna yang hampir pudar.
Terpampang tiga orang disana, satu orang barat dewasa, satu balita dan satu bayi dalam gendongan orang dewasa tersebut. Orang yang tengah menggendong bayi adalah papa, dan bayi itu adalah dirinya sendiri. Ya, benar dia papa. Wajahnya sama persis dengan yang ada di mimpinya.
Setelah kehilangan papa, Nathan beserta Keenan dan bunda yang juga kehilangan rumah beserta isinya langsung pergi merantau ke Bandung demi menyambung hidup. Tak ada kenangan tersisa, hanya satu album foto masa kecil Nathan dan Keenan yang mampu dibawa bunda dalam tasnya.
Hingga akhirnya di masa remajanya, Nathan yang lupa dengan wajah ayahnya sendiri mencoba mencari tahu, dan ia menemukan foto tersebut dalam album yang di simpan bunda dalam keadaan terselip dan dilipat.
Agar dapat terus melihat wajah orangtua nya yang telah pergi itu, dia akhirnya mengambil lalu menempelkan foto tersebut ke dinding dalam kamarnya. Tentu bunda yang menyadari hal tersebut tidak menyukainya dan langsung merampas kembali foto itu.
Nathan yang tak tinggal diam kembali mencari-cari foto tersebut dan menemukannya dalam tong sampah, nyaris dibakar oleh bunda. Sejak saat itulah dirinya menyembunyikan foto itu di tempat yang tak akan bunda ketahui. Tempat penyimpanan rahasia nya.
Bukan tanpa alasan Nathan bahkan bisa melupakan wajah orang tuanya sendiri. Selain kematiannya yang mendadak, John memang sosok ayah yang buruk. Sejak kelahiran Nathan, kecanduannya terhadap narkotika semakin parah. Dia jarang dirumah, lebih banyak pergi melanglang buana dan mengedarkan barang haram itu kesana sini.
Nathan benar-benar haus akan kasih sayang seorang ayah. Saat teman-teman sebayanya di antar ke taman kanak-kanak bersama ayahnya, Nathan hanya bisa di antar bunda, atau terkadang bersama pembantunya. Ketika berada di rumah pun John selalu menghindari anak-anaknya, dan memilih untuk berdiam diri di kamar tanpa ada seorang pun yang boleh mengganggu.
Hal itu membuat Nathan tak cukup banyak memiliki memori tentang papa dalam otaknya.
"Papa.." Gumamnya sambil mengelus-elus foto di tangannya.
"Maaf aku belum sempat mengunjungi papa disana. Tapi, terimakasih karena sudah mau hadir dalam mimpiku. Istirahat yang tenang ya pa.. Aku sudah meninggalkannya" Ucap Nathan parau.
...***...