An Angel From Her

An Angel From Her
9# Peringatan



Nathan mengucek matanya berulang kali untuk memastikan apa ada yang salah dengan pandangannya. Karena di depannya terpampang jelas wajah dan tubuh ayahnya. Ia benar-benar tidak percaya dengan apa yang dilihat.


"Papa? Benarkah ini.. Ini papa?" Ucap Nathan dengan suara yang bergetar. Namun papa tidak menjawab sepatah kata pun. Ia hanya terus menatap Nathan dengan senyum tipis di bibirnya.


"Papa.. Ini.. Kita ada dimana pa? Kenapa suasananya begini? Dan.. Kenapa papa pergi ninggalin aku, kak Keenan dan bunda? Apa papa tidak merindukan kami?" Tanya Nathan bertubi-tubi, bagai tak ingin kehilangan kesempatan untuk bertanya.


Sebanyak apapun Nathan bertanya dan mengajak berkomunikasi, papa tetap tidak menjawabnya. Ia lalu berbalik arah dan meninggalkan Nathan yang masih duduk di atas rumput dengan tubuh gemetaran dan keringat yang bercucuran.


Nathan berdiri kemudian mengejar dan berusaha menggapainya, namun tubuh papa tiba-tiba berubah, berhamburan bagai debu yang tertiup angin ketika jemari Nathan menyentuh bagian punggungnya.


"Tinggalkan.." Suara misterius yang sama seperti tadi kembali bergema.


"Tinggalkan.."


"Tinggalkan apaaa?? Apa yang harus ku tinggalkan? Papaa... Itu suara papa kan?? Kenapa tadi papa diam saja dan hanya berani berbicara di belakangku? Keluarlah pa.. Banyak yang ingin kubicarakan dengan papaa" Teriak Nathan bagai orang kesurupan.


Pria itu berlari ke arah rumah yang ada disana. Ia merasa bahwa rumah tersebut pernah ada di dalam ingatannya, entah rumah siapa. Namun rasanya ia pernah ada di dalamnya.


Ia menaiki beberapa tangga menuju teras rumah tersebut. Ada beberapa kursi santai beserta meja di tengahnya, juga tanaman hias yang terlihat segar bergantungan di sepanjang teras. Tiba-tiba saja perasaan hangat menyebar di relung hatinya.


Pria itu melanjutkan langkahnya, membuka pintu perlahan dan memasuki ruang tamu rumah tersebut. Perhatiannya teralihkan ketika melihat sebuah foto pernikahan yang di pigura terpajang pada dinding. Ia memperhatikan dengan saksama wajah sepasang pengantin yang mengenakan pakaian adat Minang, yang mana itu adalah tanah kelahiran bunda.


Pupil matanya membesar ketika menyadari bahwa pengantin itu adalah kedua orang tuanya. Ya, itu adalah bunda dan papa di masa muda ketika mereka baru saja menikah.


"Ini.. Mungkinkah ini rumah itu?" Gumamnya. Rasa penasaran nya semakin menggebu seiring ditemukannya sebuah mainan robot yang tergeletak di lantai.


Ia lalu menaiki tangga menuju lantai dua dengan langkah yang cepat, untuk memenuhi hasrat keingintahuannya tentang rumah siapa yang tengah dipijakinya ini.


"Kriieettt...." Suara derit pintu yang terbuka dari salah satu kamar di lantai dua mengarahkan Nathan kesana.


Pada lantai dua, terdapat tiga buah kamar yang mana salah satunya adalah kamar utama dari rumah tersebut. Dan di kamar utama inilah sumber suara pintu tersebut berasal.


Nathan sampai di ambang pintu yang terbuka sedikit itu, namun tak langsung membukanya lebar-lebar karena matanya masih memperhatikan keadaan sekitar.


"Sepertinya, ini rumah bunda yang dulu" Ucapnya dalam hati. Kemudian ia mendorong sedikit pintu itu dengan niat untuk menggeledah isi dalam kamar guna mencari bukti lain.


"HAHH..!!!" Teriak Nathan. Ia tersentak kaget hingga kembali terjatuh.


"P-PA.. PAPAA"


Betapa terkejutnya ia ketika mendapati papa tergeletak di lantai dalam posisi terlentang dan mulut yang mengeluarkan buih. Matanya terbelalak dengan bola mata bagai hampir keluar dari tempatnya.


Sekujur tubuhnya membiru nan kaku. Dalam kondisi seperti itu sudah dipastikan papa dalam keadaan tak bernyawa. Tapi apa ini? Apa maksud semua ini? Apa papa pergi dengan kondisi seperti ini? Kira-kira itulah yang ada dalam fikiran Nathan sekarang.


Ia menangis ketakutan menyaksikan pemandangan ini. Ada emosi yang tak dapat di jelaskan dalam hatinya, perasaan sakit, kehilangan, kesepian, serta kekecewaan seakan menyatu. Tubuhnya lemah bagai kehilangan seluruh tenaga, dia juga tak mampu lagi untuk berdiri.


"Nathan.." Panggil suara misterius itu lagi. Nathan menengadah, menoleh, namun tetap tidak menemukan siapa pemilik suara tersebut.


"Papa?" Ucap Nathan ketika melihat papa tak lagi berada di tempatnya terkapar tadi, entah hilang kemana.


"Nathan.."


"Tinggalkan.."


"Tinggalkan.."


"SIAPA KAMU?! PAPAAA!!" Teriak Nathan histeris sembari memejamkan matanya.


"Nathan.. Nath.. Nath.." Samar-samar terdengar suara seseorang yang memanggil-manggil namanya. Kali ini, suara itu kedengaran lembut di telinga, seperti suara wanita.


"Papaa..pa.." Lirih Nathan.


"Nath.. Hey.. Bangunlah.." Panggil wanita itu lagi.


"HAHH.. Hahhh.. Ha.. Papa.. Papa dimana?" Ucap Nathan saat matanya kembali terbuka, nafasnya terengah-engah.


"Papa? Papa siapa?" Suara wanita itu ternyata adalah Monica.


"Papa.. Tadi ada disini, bukan.. Bukan disini, tapi di rumah, rumah itu" Ucap Nathan kebingungan.


Ia baru tersadar bahwa saat ini, dirinya tengah berada di tempat tidur dalam kamarnya di apartment tempat tinggalnya. Bukan di desa, dan di rumah itu. Pandangan matanya mengedar, memperhatikan seluruh isi ruangan dengan serius.


"Mon, tadi ada papa.. Aku ketemu sama papa ku" Ucap Nathan lagi, dengan nada meyakinkan.


"Papa kamu?" Tanya Monica keheranan.


Nathan menjawab dengan anggukan.


"Bukannya papa kamu sudah meninggal?"


"Iya, papa sudah meninggal, tapi tadi aku bertemu dengannya" Jawab Nathan penuh keyakinan.


"Ck.. Ya ampun Nath.. Kamu pake berapa banyak sih semalam? Sudah ku bilang jangan" Monica menggeleng-gelengkan kepalanya.


"Ini gak ada hubungannya dengan itu. Aku bertemu dengan papa, sepertinya ada yang ingin dia sampaikan, tapi tidak tahu bagaimana bicaranya" Sanggah Nathan.


"Hey.. Sadarlah. Ini di apartment kamu. Sejak aku kesini, tidak ada siapa-siapa selain mbak Asih di bawah, dan kamu yang tidur sambil teriak-teriak. Kamu itu mimpi Nath, itu hanya mimpi" Jelas Monica.


Nathan diam dan termenung sekian detik. Nampaknya yang baru saja dikatakan kekasih nya itu benar adanya. Papa yang dilihatnya tadi hanyalah ilusi, dan ada dalam mimpi. Mungkin terbawa akibat bunda yang sempat menyebutnya tadi ketika mereka adu argumen.


Ia menatap kedua mata Monica yang juga sedang menatapnya. Monica mengusap kening kekasihnya, sangat penuh dengan keringat yang bercucuran.


"Sudah ku peringatkan, jangan mulai lagi. Kenapa kamu nekat?" Lanjut Monica.


"Kalau kamu kesini hanya untuk ceramahin aku, mending kamu pulang saja" Sahut Nathan.


"Lho kok sensi banget sih!" Protes Monica.


"Aku pusing Mon" Jawabnya singkat.


"Yasudah, lanjutkanlah tidurnya!" Ucap Monica seraya beranjak dari tempatnya duduk dan langsung berjalan keluar meninggalkan Nathan.


"Mon.. Kok ngambek sih.. Sayang.." Nathan cepat-cepat mengejar kekasihnya yang hendak pergi, kemudian langsung meraih lengannya agar ia menghentikan langkahnya.


"Apa sih" Protes Monica.


"Tunggu sayang.. Maaf.. Maafin aku ya?" Pinta Nathan.


"Sayang.. Honey.. Pacarku yang paling cantik. Aku minta maaf ya? Aku.. Ya.. Aku memang salah karena tidak mendengarkan kamu. Aku hanya rindu dengan sensasinya. Tapi aku juga gak nyangka bakal mimpi seperti tadi, bikin mood ku jadi berantakan" Ucap Nathan.


"Memangnya kamu mimpi papa mu seperti apa sih?" Tanya Monica yang mulai penasaran.


"Mmm.. Sudahlah.. Aku juga malas mengingatnya lagi. Bukan sesuatu yang bagus juga" Jawab Nathan sekenanya. Monica tersenyum sinis.


"Kamu sudah makan?" Tanya Monica membuka obrolan kembali.


"Aku gak selera"


"Duh.. Makanlah! Nanti kamu bisa sakit" Perintah Monica.


Nathan menjawab dengan menggelengkan kepalanya.


"Ayo ikut aku ke cafe, kita pesan makanan yang enak-enak disana" Ajak Monica.


"Oke, nanti aku minum kopi saja ya" Ucap Nathan menawar.


"Gak! Kamu harus makan" Paksa Monica.


"Kopi, atau tidak sama sekali. Aku siap-siap dulu ya" Ucap Nathan seraya kembali ke kamarnya hendak bersiap pergi dengan kekasihnya.


Sementara Monica yang masih jengkel dengan Nathan memilih untuk menunggu di ruang keluarga yang berada di lantai satu.


***


Dua minggu berlalu sejak kejadian memilukan yang menimpa ibu dari Dara. Kini, sang ibu yang telah pulih sudah di izinkan pulang dari rumah sakit dengan catatan masih harus kontrol beberapa kali guna menyempurnakan kembali bagian tulang yang patah.


Ibu dibawa menggunakan kursi roda yang di dorong oleh Dara dari belakang, memasuki rumah. Mereka pulang dengan di antar bunda menggunakan mobil pribadinya.


"Ini obat-obatannya Dara" Ucap bunda seraya menyerahkan kantong berisi obat ibu ke tangan Dara.


"Terimakasih bunda" Jawab Dara.


"Bu Erina, terimakasih banyak untuk semua bantuannya. Saya akan mencicil nya segera" Tutur ibu membahas soal biaya rumah sakit yang dilunaskan seluruh nya oleh bunda.


"Mencicil apa bu Reny? Tidak. Saya bukan meminjamkan uang. Saya melunasi dengan niat murni untuk membantu ibu. Karena Dara juga pernah berkorban untuk membantu saya waktu itu. Jadi saya rasa, saya perlu balas budi dengan Dara dan keluarga" Jawab bunda.


"Tapi bunda.."


"Sudah.. Jangan dipikirkan, bunda ikhlas. Tidak menganggap itu sebagai hutang. Anggap ini hadiah dari bunda ya" Ucap bunda seraya mengusap bahu Dara.


"Terimakasih banyak bunda, terimakasih..hiks.." Dara begitu terharu atas rezeki yang di terimanya. Ia menangis sampai bersujud di bawah kaki bunda.


"Dara.. Bangunlah nak.. Bangun.. Tidak perlu seperti ini" Bunda membantu Dara untuk bangkit.


"Dara tidak tahu harus dengan apa membalas semua kebaikan bunda" Ucap Dara terisak.


"Sudah nak.. Yang penting ibu sekarang sudah sehat ya" Ucap bunda sembari memeluk Dara.


"Terimakasih bu Erina" Ucap ibu.


"Sama-sama bu Reny" Jawab bunda.


"Lisa, tolong buatkan minuman untuk bunda Erina ya" Perintah Dara kepada adik perempuannya yang saat itu juga berada disana.


"Iya kak" Jawab Lisa seraya bergegas menjalankan instruksi dari kakak nya.


"Tidak usah repot-repot nak" Ucap bunda.


"Tidak repot bu, silahkan duduk. Sampai lupa mempersilahkan bu Erina duduk" Ujar ibu.


"Terimakasih" Jawab bunda seraya menempatkan dirinya di sofa ruang tamu.


Tak berselang lama kemudian, minuman telah tersaji di meja untuk dinikmati bunda.


"Silahkan diminum bu Erina" Kata ibu.


"Terimakasih bu Reny, saya minum ya" Ucap bunda meraih secangkir minuman di hadapannya.


"Mmm.. Ngomong-ngomong, sebenarnya ada yang ingin saya sampaikan sejak beberapa waktu yang lalu. Namun tertunda karena musibah yang menimpa ibu. Jadi, apa bisa saya sampaikan sekarang?" Tanya bunda.


"Silahkan bu Erina, ada masalah apa ya?" Jawab ibu yang masih duduk di atas kursi rodanya.


"Bukan masalah bu, emm.. Bagaimana ya saya bilang nya" Ucap bunda yang kemudian terlihat ragu.


"Silahkan bicarakan saja bunda, kami akan mendengarkan" Tutur Dara.


"Mmh.. Begini Dara, bu Reny. Sebelumnya saya mohon izin dengan bu Reny. Apa.. ibu berkenan jika saya ingin menjodohkan Dara dengan anak laki-laki saya?" Bunda akhirnya memberanikan diri menyampaikan maksud dan tujuannya yang sempat tertunda itu.


Dara dan ibu terdiam saling memandang satu sama lain beberapa detik. Cukup terkejut dengan apa yang dikatakan bunda barusan.


"Ehm.. Dijodohkan, bu Erina?" Ucap ibu mengulang kata perjodohan yang mungkin saja salah di dengar.


"Iya bu Reny. Saya, ada niatan untuk menjodohkan anak saya dengan Dara. Karena, sejak pertama bertemu Dara entah mengapa hati saya begitu yakin dengannya. Dara adalah jodoh yang tepat untuk anak saya" Jelas bunda.


"Ah.. Emm.. Kalau soal itu, saya tidak bisa memberi kepastian sekarang bu. Sebenarnya, saya pribadi, mengizinkan jika ada seorang laki-laki yang serius ingin melamar anak saya Dara, karena usianya juga sudah cukup untuk menikah. Hanya saja, perkara menikah yang kita inginnya sekali seumur hidup itu kan harus dipikirkan matang-matang ya. Agar tak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan di kemudian hari" Ucap ibu mengutarakan pendapatnya.


"Iya, bu Reny benar. Semua harus dipikirkan dan juga disiapkan matang-matang. Syukurlah kalau ibu sudah mengizinkan Dara untuk menikah, artinya saya sudah memenuhi satu syarat untuk menjalankan perjodohan ini. Sekarang tinggal dari pihak Dara sendiri, apa Dara sudah siap menikah?" Tanya bunda pada Dara yang wajahnya terlihat sedikit tegang.


"Ah? Emm.. A..anu.. K-kalau Dara sih untuk saat ini.. Belum kefikiran untuk menikah bunda" Jawab Dara terbata-bata, lidahnya kelu.


"Tidak apa-apa jika Dara memang masih belum memikirkan soal pernikahan. Wajar, karena memang menikah itu perlu kesiapan mental yang matang" Ucap bunda bijak.


Dara berusaha keras untuk menyembunyikan perasaan groginya di hadapan bunda. Selama ini dirinya memang sama sekali tidak memikirkan hubungan dengan laki-laki manapun, apalagi soal pernikahan. Mendengarnya saja sudah membuatnya bergidik, apalagi jika harus menjalaninya.


Paras ayu nan cantik yang di miliki Dara memang seringkali di taksir banyak lelaki. Namun dari dulu dirinya tidak berminat untuk berpacaran seperti beberapa temannya. Ia hanya ingin satu laki-laki yang benar-benar serius langsung melamarnya untuk dinikahi. Sungguh Dara adalah gadis yang tak hanya cantik fisik, tapi juga cantik akhlaknya. Sebab ia mampu menjunjung tinggi kehormatan dirinya sebagai seorang wanita.


Namun jika perjodohan? Apa itu akan berjalan dengan baik? Mengingat bahkan dirinya belum mengetahui pria jenis apa yang akan menikahinya. Juga pria itu, belum tahu gadis seperti apa yang akan dinikahi nya.


"I.. Iya bunda. Kalau bisa Dara minta waktu ya?" Pinta Dara.


"Tentu saja nak. Bunda akan tunggu kepastian darimu. Hubungi bunda kapan saja ya" Jawab bunda. Dara mengangguk pelan.


***