
Dengan hati penuh kerisauan Nathan berjalan menelusuri lobby usai memarkir kendaraannya di basement. Sambil mengutuki diri sendiri ia melangkahkan kaki dengan gontai menuju apartment nya.
Dari kejauhan nampak segerombolan orang-orang yang sepertinya sedang menunggu seseorang. Jelas terlihat dari beberapa orang disana yang tampak celingukan, dengan matanya yang mengedar ke berbagai arah.
Nathan menebak, mereka adalah sekumpulan wartawan yang tengah mencari berita segar untuk jadi bahan gossip di acara televisi atau media sosial. Mungkinkah mereka mencari seorang Nathan disini? Batin pria itu tanpa menghentikan langkahnya.
Beberapa detik kemudian Nathan menyadari bahwa dugaannya sangat tepat, tak ada kesalahan sama sekali. Para wartawan itu menghampiri nya secepat mungkin ketika menyadari sumber berita yang mereka cari telah nampak di depan mata.
"Ahh.. Mau apa mereka"
"Halo Nathan.. Selamat malam.. Boleh minta waktunya sebentar?"
Dengan perasaan yang gusar Nathan terpaksa menghentikan sejenak langkah kakinya. Ia memang tak berniat untuk memuaskan keingintahuan orang-orang ini tentang kehidupan pribadinya yang mungkin akan mereka kulik, tapi hanya sekedar menghargai jerih payah mereka yang bisa jadi telah menunggunya selama berjam-jam.
"Nathan.. Kemarin ada berita yang bilang kalau beberapa bulan yang lalu kamu pergi ke Bali berduaan dengan seorang wanita, tapi wajahnya seperti masih asing ya? Bisa diceritain nggak itu siapa?"
"Katanya Nathan juga putus ya sama DJ Monica? Terus dia pergi lama, nggak balik-balik?"
"Tapi baru-baru ini kalian terlihat bersama-sama lagi? Apa kalian sudah balikan? Lalu, bagaimana dengan wanita yang di Bali waktu itu?"
"Bahkan ada rumor yang mengatakan kalau Nathan sudah menikah. Apa itu benar Nath?"
Berbagai macam pertanyaan yang memekakkan gendang telinganya meluncur dari mulut-mulut orang ini tanpa memberinya sedikit jeda untuk bernafas. Ingin rasanya ia teriak dan mengusir semua wartawan yang datang tak tepat waktu itu. Tapi bukan Nathan namanya kalau tak terlihat 'friendly' di hadapan orang lain.
"Ehm.. Maaf teman-teman, tapi saat ini saya sedang sangat lelah. Mungkin lain kali kita bisa ngobrol-ngobrol ya" Ucapnya sembari mengatupkan kedua telapak tangan ke arah para awak media yang masih tak gentar mengerumuninya.
"Jawab salah satu saja Nath.. Nggak apa-apa kok. Yang kamu rasa point paling penting saja"
"Sorry.. Sorry banget. No comment ya" Nathan memulai lagi langkahnya, tapi wartawan itu terus saja menempel. Keadaan ini tentu membuat pria itu semakin risih.
"Maaf mas..mbak.. Mohon untuk tidak mengganggu kenyamanan di apartment ini ya. Silahkan datang lagi lain hari" Ucap salah satu petugas keamanan yang dengan sigap menghampiri Nathan yang tengah terkepung oleh kumpulan maniak berita.
Petugas itu berjumlah tiga orang. Dengan badan yang kekar, mereka dapat dengan mudah menjauhkan Nathan dari wartawan. Pria itu menghela nafas lega kala petugas keamanan berhasil 'mengusir' orang-orang tersebut dan menyelamatkannya dari pertanyaan yang tak ingin dijawabnya.
Tampak orang-orang itu dengan wajah kecewanya menghambur keluar dari lobby sesuai dari aba-aba petugas keamanan. Tapi bukan wartawan namanya kalau menyerah begitu saja. Mereka diam-diam mengatur rencana untuk menemui Nathan lagi di lain hari, dengan strategi yang harus diatur terlebih dahulu.
"Terimakasih banyak pak, sudah bantu saya" Ucap Nathan pada salah seorang petugas yang berdiri di sebelahnya.
"Sama-sama mas Nathan.. Silahkan dilanjutkan, dan selamat beristirahat" Sahutnya ramah.
Nathan menekan tombol pada lift, menaikinya setelah pintu terbuka dan membiarkan dirinya terbawa hingga mencapai lantai 15 tempat apartment nya berada. Suasana hatinya sedang berantakan, tak ada lagi rasa semangat yang tersisa.
"Hahh.. Kenapa jadi rumit begini. Kalau lo cinta Monica, buat apa sih memikirkan yang lain? Mau lo apa sih Nath.. Jadi cowok kok plin plan" Teriak batinnya yang tengah berperang.
Dia terlalu hanyut dalam pikirannya sendiri sampai tak menyadari saat ini, dirinya sudah berdiri di depan pintu apartment nya yang masih terkunci. Untuk masuk kedalam, tentu ia perlu memasukkan passwordnya terlebih dahulu.
"Huft.." Nathan mendengus kesal sembari menepuk wajahnya sendiri.
Nit.. Nit.. Nit.. Nit.. Cklek..
Nampak disana masih terang, sepertinya Dara ada di ruangan itu. Dan kemungkinan dia belum tertidur. Apa yang dilakukannya? Padahal sekarang sudah larut malam. Nathan mengerutkan dahinya bagai sedang berpikir.
Demi memuaskan rasa keingintahuannya Nathan memutuskan untuk masuk dan memastikan apa yang tengah dilakukan Dara. Dengan hati-hati, dia melangkah perlahan karena tak ingin jadi pusat perhatian wanita itu.
"Sedang apa dia malam-malam begini? Kenapa belum tidur? Apa dia menungguku?" Batinnya sembari berjalan langkah demi langkah.
Tapi apa yang dilihatnya sekarang hanyalah Dara yang tengah tertidur pulas dengan benang dan alat rajut di atas pangkuannya. Posisinya duduk di atas sofa dengan kepalanya yang miring ke kiri. Ia terlihat sangat nyenyak dibuai mimpi. Wajahnya begitu damai di pandang. Dia selalu nampak mempesona ketika sedang tidur.
"Sepertinya dia ketiduran dan lupa mematikan televisi nya. Huft.. Pemborosan" Gumam Nathan. Ia berniat untuk mematikan televisi yang masih menyala dengan remote yang terletak di atas meja. Posisinya tepat berada di depan Dara.
Nathan menjaga langkahnya agar tak menyenggol Dara, ia tak ingin wanita itu terbangun dan menyadari kehadirannya. Perlahan tangan kanannya meraih remote dan PLAAKK.. alat itu jatuh akibat genggamannya yang kurang mantap.
"Ohh.. ****!" Gumamnya jengkel. Ia melirik Dara yang perlahan membuka mata. Wajar saja, dia pasti kaget mendengar suara remote sial itu terjatuh dengan keras. Nathan merasa sangat bodoh.
"Mmh..sshh.." Desah Dara yang mulai mencapai kesadarannya. Ia mengucek mata untuk memastikan apa yang dilihatnya adalah nyata.
"Nathan?" Panggilnya dengan suara yang serak.
Pria itu salah tingkah. Dia buru-buru mengambil remote di bawah dan langsung menekan tombol off.
"Kalau mau tidur TV nya di matiin dong. Jangan boros!" Ucap Nathan mengalihkan perhatian.
"Maaf, aku nggak sengaja ketiduran.." Wanita itu melemparkan senyuman setelah bangun dari tidurnya. Senyum yang nampak sangat alami, dan manis.
"Malam ini kamu pulang Nath. Aku senang"
Nathan menatap heran pada Dara. Wanita ini, tak sama sekali merasa kesal dan marah padanya karena beberapa malam kemarin dia membiarkannya sendirian di apartment. Dara justru seakan selalu mendukung apapun yang dilakukan Nathan sekalipun itu hal yang merugikannya.
"Ya.." Sahut Nathan singkat.
"Kamu pasti capek sekali ya dengan kegiatanmu. Sampai harus bergadang, dan tiap malam nggak pulang. Aku salut denganmu. Semoga kamu semakin sukses ya"
Nyut..
Dara sangat polos. Dia tak menaruh curiga sedikitpun pada Nathan yang kenyataannya justru sedang berselingkuh. Apa Dara memang benar-benar pendamping yang tepat untuknya? Pikiran Nathan kian kalut, wanita se positif ini, haruskah dia membuangnya demi Monica?
"Apa kamu sudah makan malam? Akan aku siapkan ya"
"Nggak perlu, aku sudah makan. Kamu istirahat saja" Ucap Nathan.
"Baiklah. Kamu juga jangan lupa istirahat ya. Jaga kesehatan" Imbuh Dara. Ia beranjak dari sofa ruang keluarga setelah sebelumnya merapikan peralatan merajutnya. Kemudian berjalan menaiki anak tangga menuju lantai dua.
Sementara Nathan merebahkan dirinya di atas sofa yang tadi di duduki Dara. Ketulusan wanita yang berstatus sebagai istrinya itu sangat terasa sampai ke relung hati. Di masa sekarang, ternyata masih ada wanita yang bisa berfikir positif ketika suaminya seringkali tidak pulang.
"Sekarang gue harus apa?" Gumamnya sembari memejamkan kedua mata.