An Angel From Her

An Angel From Her
16# Sakaw



Cahaya rembulan terlihat begitu indah dengan ditemani hamparan bintang yang berkelap-kelip di atas langit cerah Jakarta. Nathan dan Mike yang telah selesai nge-jam sejak sore tadi memilih untuk kongkow bareng di cafe langganan dan menempati area outdoor di lantai dua.


Angin berhembus membelai wajah keduanya yang tengah asyik menyeruput minuman pesanan mereka dengan Mike yang sesekali menghisap rokoknya, sementara Nathan sibuk memutar-mutar jari telunjuknya mengikuti bentuk bibir cangkir berisi kopi Vietnam yang dipesannya.


Sejak tiba disana, Nathan tidak banyak bicara seperti biasa nya. Hal itu memancing Mike untuk mencari tahu apa penyebab kawannya berperilaku demikian. Ia menekan ujung puntung rokok di atas asbak agar bara nya mati, lalu memusatkan perhatiannya pada Nathan yang duduk di sebrangnya.


"Nath!" Panggil Mike.


"Hmm?" Sahut Nathan tanpa melihat ke arah Mike.


"Lo kenapa lagi sih Nath? Dari tadi pas nge-jam gue perhatiin kayak yang gak semangat gitu" Tanya Mike.


Nathan diam tak menggubris pertanyaan Mike,


dengan jari nya yang tak lepas dari bibir cangkir.


"Woi.. Budek ya?" Protes Mike.


"Apaan sih Mike" Sahut Nathan.


"Gue nanya, lo ada masalah apa? Cerita-cerita lah" Ucap Mike.


"Yah.. Lo udah tahu deh apa masalah gue" Jawab Nathan. Kali ini, ia juga menatap balik Mike yang raut wajahnya terlihat penasaran.


"Nyokap?" Tebak Mike.


Nathan menjawab dengan anggukan.


"Belum selesai masalahnya?" Tanya Mike.


"Belum. Tadi malam, setelah gue balik ke apartment, nyokap belum tidur. Disitu dia akhirnya ngeluarin unek-uneknya. Dia juga ngebahas soal bokap yang udah meninggal. Jujur gue banyak lupa tentang bokap, karena dia meninggal waktu umur gue baru lima tahun. Tapi berdasarkan cerita nyokap. Apa yang dulu di lakukan bokap, gue ulangi lagi sekarang" Cerita Nathan.


"Apa yang bokap lo lakukan?" Tanya Mike makin penasaran.


"Dia juga 'pemakai'.." Sahut Nathan sembari menatap kedua mata Mike.


"Ya ampun.."


"Bokap meninggal karena overdosis, nyokap yang nemuin waktu dia meregang nyawa. Setelah itu yang sedikit gue ingat nyokap bawa kita pergi jauh dari rumah, kita tidur beralaskan kardus bekas. Atau semacam gubuk gitu lah" Ucap Nathan, dahinya mengkerut sembari berusaha memutar memori ingatannya yang banyak terlupakan.


"Tapi dari cerita nyokap. Dia banyak menerima hal-hal yang menyakitkan semasa bokap gue hidup. Meskipun gak diceritain secara lengkap. Tapi gue nangkepnya, nyokap begitu tersiksa. Lalu, melihat kelakuan gue yang begini, jadi bikin dia teringat lagi sama bokap"


Mike diam sembari menyimak semua yang Nathan tuangkan padanya.


"Nyokap bilang kalau dia gak mau membuka lembaran di masa lalu yang udah dikuburnya bertahun-tahun. Jadi dia ingin gue berubah dan ninggalin dunia kelam gue. Cuma yang gue gak paham, entah apa korelasinya dengan ingin gue berubah dan ngejodohin gue sama cewek itu?" Lanjut Nathan.


"Hmm.. Begini Nath, mungkin cewek itu adalah cewek baik-baik ya.. Udah pasti sih. Cuma maksud gue, mungkin aja nih ya. Nyokap ingin membawakan seseorang yang punya pengaruh baik untuk lo, agar nanti nya lo dapat terbawa arus dan perlahan berubah jadi orang yang baik juga" Ucap Mike.


"Terus?" Tanya Nathan.


"Ya udah begitu"


"Tapi kenapa harus cewek itu? Kan gue udah ada Monica" Ucap Nathan sembari menyeruput kopi nya.


"Ya itu tadi Nath, penilaian nyokap lo udah pasti bahwa Monica gak cukup baik. Dan dia gak akan bisa bawa pengaruh baik buat lo. Itu dari sudut pandang gue ya, berdasarkan apa yang lo ceritakan" Jawab Mike.


"Bisa jadi juga. Apa yang lo omongin ada benarnya" Sahut Nathan.


"Kalau gue jadi lo Nath. Jujur gue lebih pilih aman. Ketika gue hanya memiliki satu orang tua yang tersisa, sebisa mungkin gue akan jaga, dan bahagiakan dia. Membalas semua jasanya adalah ketidakmungkinan, tapi membahagiakannya adalah hal yang paling masuk akal" Lanjut Mike dengan bijak.


Nathan meresapi dengan baik apa yang disampaikan oleh Mike. Ia beruntung masih memiliki kawan yang bisa diajak berdiskusi serius seperti Mike. Walau pada awal nya Mike juga yang menjerumuskan dirinya pada dunia kelam, namun Mike yang sekarang terasa lebih positif dibanding yang dulu.


"Thanks ya Mike. Gue bisa pertimbangkan masukan dari lo" Ucap Nathan.


"Sama-sama, semoga membantu ya. Eh ngomong-ngomong, gue curiga nih. Lo make lagi ya Nath?" Tebak Mike.


"Iya" Jawab Nathan singkat.


"Ah.. Gila lo, udah bagus-bagus bisa lepas. Gak takut di kurung lagi apa?"


"Ya jangan sampai ketahuan"


"Dasar sinting" Hardik Mike.


"Gue memang salah karena memulainya lagi. Gue cuma kangen sensasinya aja. Tapi udah sekitar tiga harian gue udah gak pake lagi"


"Trus lo gak sakaw?"


"Belum kayaknya" Sahut Nathan sekenanya.


"Dasar bodoh. Cari penyakit aja kerjaan lo" Umpat Mike yang geram dengan pengakuan Nathan.


\*\*\*


Sekitar satu bulan lebih berlalu. Nathan menyadari bahwa bunda telah tak sama sekali datang ke apartment, ataupun menghubunginya. Ini adalah hal yang cukup aneh baginya. Nampaknya bunda benar-benar serius dengan sikap nya, dirinya telah sakit hati.


Nathan menarik koper berisi perlengkapan pribadinya yang ia bawa saat manggung. Melewati lobby dan masuk ke dalam lift. Siang ini, ia baru saja tiba di apartment setelah sekitar tiga hari singgah di Surabaya, mengisi event disana.


Tubuhnya merasakan kelelahan yang amat sangat, cukup ekstrem hingga kedua kakinya terasa enggan untuk menaiki tangga menuju lantai dua setibanya ia di apartment miliknya.


Ia merebahkan dirinya di atas sofa empuk ruang keluarga. Setelah sebelumnya melepaskan sepatunya terlebih dahulu. Mbak Asih yang baru turun dari lantai dua menghampirinya ketika menyadari sang tuan muda telah tiba.


"Mas Nathan sudah pulang toh" Ujar mbak Asih.


"Iya mbak" Sahut Nathan yang menutupi mata dengan lengannya.


"Gak usah mbak. Bereskan saja koper saya" Jawab Nathan.


"Baik mas" Ucap mbak Asih seraya membawa koper itu ke belakang.


Tak lama kemudian ponselnya yang di letakkan dalam saku celananya berdering. Ia segera merogohnya dan membaca nama siapa yang tertera disana. Itu adalah Monica.


"Honey?" Panggil Monica lewat telepon.


"Ya?" Sahut Nathan.


"Kamu sudah sampai?"


"Sudah. Aku di apartment"


"Oh. Kenapa gak kabari aku?"


"Maaf honey. Aku lelah sekali, sejak sampai di apartment rasanya tubuhku gak berdaya" Jawab Nathan.


"Kamu sakit?" Tanya Monica khawatir.


"Nggak. Aku baik-baik aja" Jawab Nathan.


"Aku kesana ya? Aku mengkhawatirkanmu, tidak ada bunda kan?" Ucap Monica.


"Tidak. Sudah satu bulan lebih bunda tidak datang"


"Oh. Begitu ya?"


"Hmm.."


"Yasudah. Aku mau siap-siap dulu. Nanti aku kesana ya" Ucap Monica seraya mengakhiri panggilan.


Nathan meletakkan ponselnya di atas meja. Tak lama kemudian dirinya merasakan ngilu diseluruh tubuhnya, serta sakit kepala yang cukup menyakitkan. Dia lalu memaksa dirinya untuk bangkit dan pergi ke kamarnya. Khawatir mbak Asih akan melihatnya.


Ia langsung menghamburkan dirinya ke ranjang sesampainya di kamar. Menarik bed cover tebal dan menyelimuti seluruh tubuhnya. Keringat bercucuran dari dahinya, membasahi wajahnya perlahan. Rasa sakit ini, sudah tak asing bagi tubuhnya. Ya, Nathan tengah sakaw.


Usai mempertimbangkan nasehat yang disampaikan Mike beberapa waktu lalu, Nathan memang memutuskan untuk kembali stop menggunakan sabu. Mulai dari mengurangi dosis dan benar-benar menghindari pemakaiannya.


Namun kini ia sampai pada titik di mana sudah harus meninggalkannya karena jika pendiriannya lemah sedikit, dosis yang dibutuhkan tubuhnya bukannya semakin berkurang, tapi justru kian bertambah. Dengan begitu, ia takkan bisa benar-benar berhenti jika tanpa bantuan pusat rehabilitasi yang sudah enggan di singgahinya.


Setiap sakaw nya kambuh, ia hanya bisa meminum obat pereda yang dibelinya secara mandiri. Dirinya harus serius dengan komitmennya kali ini, semua demi bunda. Ya, orang tua satu-satunya yang begitu dicintainya.


\*\*\*


"Honey.. Honey.. Hey.. Kamu kenapa?" Ucap seseorang sembari menepuk-nepuk pipi kanan dan kiri Nathan, berusaha menyadarkannya.


Nathan membuka matanya sedikit. Nampak wajah Monica yang sepertinya baru datang, ekspresinya terlihat begitu khawatir. Nathan mengerang sesekali.


"Honey.. Ada yang sakit?" Tanya Monica.


"Aarrgghh..hhrr..hhrrrhh..." Erang Nathan. Tubuhnya menggigil dengan keringat yang tak henti bercucuran.


"Mon.. Aku butuh..aarrgghh.." Ucap Nathan, nafasnya makin tersengal-sengal.


"Butuh apa? Aduh.. Ini udah gak beres! Ayo kita ke rumah sakit sekarang. Kamu harus dapat perawatan!" Ajak Monica.


"Gak.. Jangan rumah sakit. Aku cuma butuh itu.." Bantah Nathan. Ia juga mendorong tubuh Monica dengan kasar. Saat ini, rasanya sangat tidak nyaman berdekatan dengan siapapun.


"Aku tahu kamu kenapa. Sudah, ikuti saja aku. Ayo cepat bangun, aku bantu" Ucap Monica ngotot.


Monica dengan sigap membantu Nathan membangunkan tubuhnya. Membopongnya keluar dari apartment dan medudukkannya dalam mobilnya. Wanita itu segera memacu kendaraannya menuju rumah sakit terdekat untuk menyelamatkan nyawa Nathan yang terancam.


Setiba nya di rumah sakit dia langsung menyerahkan Nathan pada petugas kesehatan untuk di tindak lanjuti. Sementara dirinya menanti kabar di ruang tunggu. Tak berselang lama, seorang dokter datang menghampirinya, dengan membawa kabar terkini dari sang kekasih.


"Nathan harus dirawat. Kami akan melakukan langkah pertama dari pengobatan, yaitu detoksifikasi. Dalam hal ini dia harus terus mendapat pengawasan agar step pertama dari terapi penyembuhan dapat berjalan dengan baik" Ucap dokter.


"Lakukan saja apa yang baik untuknya. Tapi saya pesan satu hal. Tolong jaga hal ini dari media. Saya tidak ingin berita ini sampai menyebar kemana-mana, akan saya siapkan berapapun jumlah yang dibutuhkan untuk merahasiakan hal ini. Karena jika tidak, karir Nathan akan hancur berantakan" Ucap Monica.


"Itu bisa di kondisikan. Saya permisi" Jawab dokter tersebut yang kemudian berlalu dari hadapan Monica.


Efek candu yang di alami Nathan kali ini memanglah tak separah beberapa tahun silam. Namun tetap saja, narkotika yang memiliki nama lain metamfetamin ini berpengaruh kuat terhadap syaraf si pemakai, sehingga timbul rasa ingin memakai terus menerus. Dan jika ingin sembuh total, penggunanya tetap harus mendapatkan pengobatan serta pengawasan tenaga kesehatan demi menunjang keberhasilan terapi.


Namun jika ingin terus terjebak dalam lingkaran setan itu, pengguna harus menyiapkan diri untuk menerima kemungkinan final yang akan di alaminya dikemudian hari. KEMATIAN.


\*\*\*\*\*\*


.


.


.


.


.


.


.


Duh.. Ngeri banget ya efek narkotika ini gais.. Jadi, sebelum menyesal, jangan pernah coba-coba yaa, niat pun jangan!! Karena adanya perbuatan pasti di awali dari niat kaan ☺


Happy reading.. Nantikan part selanjutnya yaa 💕