
Selangkah demi selangkah Dara memasuki apartment bagai ragu. Dia baru saja pulang dari apotek untuk mendapatkan sebuah alat tes kehamilan. Tadinya ia tak berniat untuk mencari tahu kebenaran tentang kecurigaan ibu padanya.
Namun, dia juga sedikit penasaran. Karena memang seumur hidup ia tak pernah merasakan sakit yang seperti ini. Payah di pagi sampai siang, lalu akan kembali ber-energi dan hilang mual di sore sampai malam hari.
Waktu sudah menunjukkan pukul 19:00 dan di jam inilah Dara mulai merasa kembali fresh. Jadi ia memutuskan untuk pergi keluar dan mendapatkan barang yang dicari.
Wanita itu duduk di sofa lantai satu. Memandangi barang yang terbungkus kotak kecil yang baru dibelinya. Pikirannya di awang-awang. Sedikit ragu untuk melakukan test kehamilan itu.
"Apa ini benar-benar perlu?" Tanya Dara pada dirinya sendiri.
Jantungnya terasa ramai di dalam sana, berulah lagi. Entah kenapa mendadak rasa gugup menyerangnya seketika. Membuat kedua tangannya gemetar. Dia belum mengetahui hasil dari tes kehamilan itu tapi perasannya sudah gugup duluan.
.
.
.
Beberapa menit setelah berpikir, pada akhirnya Dara melanjutkan test dengan mengikuti prosedur yang tertulis di bungkusnya. Dia memasang mata baik-baik membaca setiap tulisan yang tertera. Dara belum pernah tahu bagaimana cara kerja alat kecil tersebut. Ini adalah pengalaman pertamanya, dan dia sangat memaklumi dirinya sendiri.
Usai mencelupkan ujung strip ke dalam cairan urin yang dikumpulkannya dalam wadah sesuai petunjuk pemakaiannya, Dara meletakkan dahulu alat tersebut di bagian atas wastafel sembari menunggu beberapa saat sampai hasilnya nampak.
Wanita itu berjalan mondar mandir di dalam kamar mandi sambil menggigiti kuku jari menahan rasa nerveous yang menguasainya.
"Duuh.. Sudah belum ya?"
Dara menoleh ke arah jam dinding yang terpasang di kamar mandi dan menyadari bahwa sudah lewat waktu untuk menunggu. Kini, dia harus mengecek kembali alat tersebut untuk memastikan hasilnya.
Meski tak berharap banyak, Dara tetap sangat tegang. Tangannya masih gemetar, apalagi ketika akhirnya alat itu berhasil di genggamnya.
"Ini.. Hasilnya ya?" Gumamnya sambil mengamati testpack di tangannya. "Garis merahnya ada.. Dua" Dia meraih kembali bungkus dari alat tersebut dan membacanya baik-baik.
DEG!
"Hahh?!!" Dara terperanjat. Irama jantungnya semakin tak karuan ketika melihat dengan pasti hasil yang ditunjukkan testpack itu. Saking terkejutnya hingga tanpa sadar ia menjatuhkan bungkusnya ke lantai.
"Ak-aku.. Aku hamil??" Dia tak percaya dengan apa yang sedang terpampang nyata di depan matanya sendiri.
"Jadi beneran, aku mual kayak gini karena.. Hamil?" Dara memandangi wajahnya dari cermin di atas wastafel bagai sedang berkomunikasi dengan pantulan dirinya. Salah satu tangannya menyentuh dan mengusap lembut perutnya yang masih tampak rata. Disana tersimpan benih cinta Nathan yang sebetulnya tidak disengaja.
"He-hey.. Hey kamu, apakah benar-benar ada kamu disini? Nak?" Air mata haru mengalir sembarangan tanpa disadarinya. Dara sangat bahagia dengan kenyataan itu. Dan dia yakin Nathan pasti akan bisa menerimanya dan juga pernikahan ini dengan hadirnya calon buah cinta mereka.
Disaat moment seperti ini, dia hanya seorang diri. Tanpa adanya keberadaan sang suami yang semestinya hadir di sisinya. Mungkin ini akan jauh lebih indah ketika Nathan memeluknya bahagia dan mendaratkan kecupan hangat di kening atau puncak kepalanya.
Dara menggenggam erat dengan kedua tangan testpack tersebut bagaikan itu adalah bayinya. Wajahnya berseri, rasa tegang yang tadi dirasakan berangsur menghilang. Berganti dengan kebahagiaan yang begitu dalam.
Sekali lagi ia mengusap perutnya penuh kasih sembari membisikkan ungkapan cinta pada calon buah hati yang sedang tumbuh di rahimnya.
"Sehat selalu ya nak. Ibu sayang kamu" Dara terisak sendirian dengan masih berada di kamar mandi. Rasa haru yang menyelimuti membuatnya lupa akan segalanya.
Hingga kini, belum ada tanda-tanda Nathan pulang. Dara menyimpan dahulu cerita hari ini untuk di sampaikan pada sang suami esok hari. Kini, untuk yang pertama kali, tak seperti biasa perutnya terasa sangat lapar.
Ia langsung cepat-cepat menuju dapur mencari makanan untuk disantap nya segera, demi memuaskan rasa lapar dan memberi nutrisi terbaik bagi bayinya.
...***...
Dara tak dapat lagi menahan diri ketika menyadari bahwa hari sudah berganti. Tadi malam Nathan pulang begitu larut, dan sejak pagi ia sudah sibuk di studio. Dara tak tahu apa yang tengah di kerjakannya, tapi dia yakin itu adalah hal yang penting untuk pria itu.
Dara tak dapat membayangkan bagaimana reaksi Nathan ketika mengetahui hal ini, dia hanya mampu meyakinkan diri bahwa semua akan sesuai dengan ekspektasinya. Hingga pada akhirnya tiba siang hari, hatinya berdebar tak karuan ketika mencoba menghampiri Nathan di ruang studio.
Tampak pintu ruangan tersebut tertutup dengan rapat. Dara menarik napas dalam, mempersiapkan diri untuk menemui sang suami dengan hati yang diliputi kebahagiaan.
.
.
.
Kriieett..."
Derit pintu yang di buka perlahan oleh seseorang di baliknya, memecah konsentrasi Nathan yang tengah mengulik gitarnya. Pria itu melepas napas berat, merasa terganggu dengan suara derit yang ternyata di buka oleh Dara.
Wanita itu tak langsung masuk begitu saja sebelum aba-aba dari Nathan terdengar oleh gendang telinganya, meski saat ini pintu ruang studio Nathan telah terbuka lebar dan memperlihatkan seluruh isinya di depan matanya.
Nathan menghentikan kegiatannya. Ia menurunkan jemarinya dari senar gitar, kemudian menoleh ke arah tempat Dara berdiri. Matanya menatap gamang wajah Dara. Menunggu sang istri menyampaikan maksud dan tujuannya mengganggu ke-khusyukannya barusan.
"Ada apa?" Nathan memulai duluan karena Dara tak melontarkan sepatah kata pun. Selain itu, dirinya juga mulai penasaran, karena Dara datang dengan wajah yang begitu berseri.
"Boleh aku masuk?"
"hhm.. masuklah!"
Dara maju beberapa langkah menghampiri Nathan yang tampak enggan beranjak dari kursi. Langkahnya begitu percaya diri, hingga membuat Nathan makin keheranan. Kemudian ia menyodorkan sesuatu yang sedari tadi di genggamnya kepada Nathan. Benda kecil kombinasi warna biru dan putih dengan dua garis merah kecil yang terpampang jelas pada bagian tengahnya.
Nathan memperhatikan dengan saksama benda kecil itu dan berusaha membaca tulisan di atasnya. Dahinya berkerut ketika membaca tulisan "Hamil dan Tidak Hamil" Yang tertulis di benda itu.
"Ini.. Alat tes kehamilan?"
"Iya.." Jawab Dara ceria. Ia tidak bisa berhenti tersenyum sejak berdiri di depan pintu tadi.
"Trus.. Kenapa?"
"Coba kamu lihat, disini ada dua garis merah. Lalu kamu baca keterangannya. Kalau dua garis berarti positif.. Hamil.." Terang Dara.
"Hamil? Memang ini punya siapa?" Nathan benar-benar belum mengerti maksud Dara. Otaknya semakin bingung dibuatnya.
"Ini punya Dara"
"Kamu hamil?" Tanya Nathan setengah teriak.
"Iyah.." Wajah Dara terlihat begitu gembira, pipinya bersemu pink, berbanding terbalik dengan Nathan yang hanya diam mematung tanpa mengeluarkan argumennya sedikitpun.
"Oh.." Ucap Nathan singkat seraya mengembalikan alat tes kehamilan itu pada pemiliknya. Dara menerimanya dengan perasaan kecewa. Kenyataan yang di terima tak sesuai ekspektasinya. Nathan bahkan tidak sama sekali terlihat bahagia dengan kabar kehamilan istri nya.
Pada awal nya Dara sangat yakin Nathan akan senang dengan kehamilan nya. Mengingat sudah satu tahun lebih berjalan sejak pernikahan mereka dan bunda sudah sangat menginginkan cucu. Tapi ternyata reaksi Nathan benar-benar diluar dugaan.
Dara berbalik dan meninggalkan Nathan di ruang studio nya. Tak lupa ia menutup kembali pintu yang terbuka sejak tadi. Ada rasa nyeri di dadanya, serta bulir air mata yang tiba-tiba saja mengalir tanpa perintah. Wanita yang tengah hamil muda itu berjalan gontai menuju dapur. Ia ingin meminum segelas air untuk melegakan tenggorokannya yang tercekat oleh emosi dan kekecewaan.
Ia sedikit mengingat-ingat reaksi Nathan barusan. Kata "oh.." Dan wajah yang datar membuat hatinya makin perih. Ia menangis, sendirian, dengan hanya di temani sebuah gelas berisikan air minum serta hujan yang sebagian terlihat mengalir di jendela yang berhadapan dengan ruang dapur. Tempat Dara terduduk lemas menyandarkan lengan di atas meja makan.
"Apa itu? Kenapa ekspresi nya begitu? Apa dia tidak senang? Bahkan anaknya sendiri tidak diinginkannya?" Gumamnya dalam lembah kekecewaan.
Ia bersumpah, bahwa sama sekali bukan masalah jika memang hati Nathan masih belum menerima kehadiran dirinya sebagai orang yang ditakdirkan untuk menjadi istrinya. Namun jika calon anak dalam kandungannya juga ikut tak di terima, ia benar-benar akan segera membuat perhitungan dengan suami nya. Kali ini, nyali Dara begitu besar dengan lautan emosi yang mendominasi.