An Angel From Her

An Angel From Her
76# Sepenggal Kisah Masa Lalu



Nathan tercengang, mendengar keputusan bunda yang meminta Keenan untuk tinggal bersamanya hingga pembangunan rumah itu selesai. Dia amat tak menyukai kakaknya, dan merasa mustahil jika harus hidup berdampingan dengannya.


Apalagi setelah melihat bagaimana cara Keenan menatap Dara. Tatapan penuh arti yang hanya Tuhan dan dia yang tahu apa maknanya.


"Kenapa Nath? Ada masalah?" Tanya bunda.


"Ya.. Kenapa harus disini sih bun? Dirumah bunda rasanya lebih cocok. Apalagi bunda cuma tinggal berdua dengan bi Sari. Bunda butuh seorang laki-laki yang bisa jaga bunda"


"Tapi rumah bunda itu di Bandung nak.. Sedangkan tempat praktek Keenan di rumah sakit yang jarak nya hanya 20 menit dari sini. Tentu lebih memungkinkan kalau dia tinggal disini"


"Ya tapi... Bun, aku butuh privasi"


"Privasi apa? Dia itu kakak kandung kamu" Protes bunda pada Nathan yang masih membantah.


"Bunda.. Sudahlah, biar aku cari apartment lain saja untuk ku tempati sementara. Nathan benar, dia butuh privasi" Selak Keenan berusaha melerai pertikaian di antara adik dan ibunya.


"Tidak perlu nak. Sepertinya Nathan hanya lupa apartment milik siapa ini"


Nathan tersenyum sinis mendengar apa yang terucap dari bunda. Dara di sebelah nya hanya diam tak ingin ikut berbicara, dia paham akan porsinya disana.


"Kalau kamu sewa apartment lagi, akan terlalu banyak cost yang harus di keluarkan. Ini adalah pilihan paling tepat, lagipula kan masih ada kamar kosong yang bisa kamu pakai. Disini pun kamu tinggal bersama adik-adikmu. Jadi apa masalahnya?" Ucap bunda yang masih bersikeras dengan keinginannya. Keenan tahu betul wanita macam apa ibunya itu.


Nathan semakin muak dengan bunda yang tak mau mendengar ketidak setujuannya. Ia bangkit dari sofa hendak mengakhiri perdebatan yang sudah pasti takkan di menangkannya.


"Nathan! Kamu mau kemana?" Panggil bunda.


Nathan menghentikan langkah dan menoleh ke arah bunda yang mulai terlihat kesal.


"Sudah selesai kan? Maaf, aku lelah ingin istirahat. Jika memang itu keputusan bunda yang mana adalah pemilik dari apartment ini, aku bisa apa? Lanjutkan lah.. Dia bisa tinggal disini" Ucap Nathan seraya memberi isyarat pada Keenan.


"Oh iya. Dara, masuk ke kamar sekarang! Kamu harus banyak istirahat. Aku nggak mau kalau sampai anakku kenapa-kenapa jika ibunya nggak bisa menjaga diri dengan benar" Perintah Nathan, berusaha menyelamatkan Dara dari ruang lingkup yang terdapat Keenan di dalamnya.


"Tapi Nath.. Kan ada bunda sama kak Keenan.."


"Nathan benar nak. Ibu hamil memang harus banyak istirahat, demi menjaga tumbuh kembang bayi yang sedang di kandung. Istirahatlah, nanti kita bisa ngobrol-ngobrol lagi" Ucap bunda.


"Eemhh.. Yasudah kalau begitu, Dara permisi ya bunda.. Kak Keenan" Pamit Dara dengan sopan. Dia menyusul Nathan yang sudah lebih dulu sampai di kamar.


Keenan merasa canggung, padahal yang ada di hadapannya adalah adiknya sendiri. Dia merasa tak enak hati dan serba salah dalam situasi ini. Bunda yang memaksanya untuk tetap tinggal, dan Nathan yang menolak keputusan itu secara terang-terangan.


Meski pada akhirnya dia tetap akan tinggal disini karena Nathan tak punya kekuatan untuk melawan bunda. Keenan berharap, semoga hubungannya dengan sang adik dapat membaik seiring berjalannya waktu. Dia sangat ingin akrab lagi dengan Nathan seperti dulu.


...***...


Malamnya, setelah menimbang beberapa hal bunda akhirnya memutuskan pulang ke Bandung. Ia mengatakan akan ada meeting yang digelar besok pagi, jadi harus dipersiapkan materi dan segala keperluannya se dini mungkin. Bunda berangkat pukul 19:00 usai menyempatkan diri untuk makan malam.


Suasana apartment mulai hening, Nathan dan Dara langsung masuk ke kamar begitu bunda pergi, pun dengan Keenan yang juga masih sibuk menata dan merapikan barang-barangnya di kamar yang akan di tempatinya sementara waktu.


"Ffiiuuhh..." Rasa lelah mulai menyerang Keenan. Ia juga merasa perlu menghidrasi tubuhnya. Pria itu memutuskan turun ke lantai dua mencari sesuatu untuk melegakan dahaganya.


Disaat yang bersamaan Nathan juga keluar dari kamar berbarengan dengan Keenan yang baru sampai di ambang pintu. Kedua mata mereka saling bertemu, tapi Nathan buru-buru melenggang dari hadapan kakaknya.


Nathan berpura-pura tuli dan mengabaikan Keenan yang masih mengejarnya menuruni anak tangga.


"Nath, kakak perlu bicara"


Keenan menambah kecepatan langkahnya, mengikuti sang adik yang nampak enggan berbicara dengannya. Mereka berdua sampai di lantai satu. Dan Nathan menghentikan kedua kakinya. Dia berdiri membelakangi Keenan.


"Apa?" Sahutnya singkat.


"Oke, makasih sudah berkenan mendengarkan. Nath, kakak hanya ingin tau. Sebenarnya apa salah kakak padamu?" Tanya Keenan parau.


"Jujur, kakak nggak merasa berbuat salah. Kakak nggak paham kenapa kamu sebegitu bencinya dengan kakak. Tapi, apapun itu.. Kakak minta maaf jika ada kesalahan dari kakak yang mungkin tidak di sengaja menyakiti kamu"


Nathan berbalik. Dia memandang benci Keenan di depannya.


"Sudah?" Ucap Nathan. Sementara Keenan masih belum mengerti mengapa adiknya bereaksi seperti itu.


"Satu-satunya kesalahan kakak adalah. Menjadi orang yang selalu beruntung" Jawaban Nathan terdengar semakin rumit.


"Maksud kamu gimana Nath?"


"Ck.. Nggak ngerti?" Nathan menyilangkan kedua lengan di depan bahunya.


"Dari kecil, kakak selalu beruntung. Dapat kasih sayang yang utuh dari papa dan bunda, selalu di dukung semua yang kakak minati. Dan taukah kakak berapa banyak bunda membanggakan kakak di depanku atas prestasi di bidang yang kakak tekuni sekarang?"


Keenan diam dan menyimak baik-baik kalimat Nathan yang belum selesai.


"Sedangkan aku, papa nggak pernah merhatiin, apalagi memberiku kasih sayangnya. Bunda juga selalu menentang apa yang menjadi minatku. Mendiskriminasi setiap prestasi bermusik yang kuraih. Bunda bagai menutup mata, tentang apa saja yang sudah ku dapatkan. Dan selalu berbangga diri, atas apa yang sudah kakak lakukan. Ini benar-benar nggak adil" Ungkap Nathan panjang lebar.


"Jadi.. Hanya karena hal itu, kamu sampai membenci kakak?"


"Ya!" Hardik Nathan. "Karena kakak terlalu sempurna untuk dijadikan bahan perbandingan"


"Nath, pasti bunda punya alasan kenapa dia menentang apa yang kamu lakukan. Bunda pernah bilang, bukan bermusiknya yang dilarang. Tapi circle nya, yang sudah membawa kamu ke jalan yang salah" Ucap Keenan berusaha mengklarifikasi hal yang nampak salah paham.


"Klise sekali. Itu cuma alasan! Setiap orang berhak memilih siapa saja untuk dijadikan teman. Termasuk aku" Nathan tak mau kalah.


"Oke.. Oke jika itu pendapatmu. Kakak mengerti. Nath, kakak hanya ingin berdamai denganmu. Sudahilah rasa benci itu, ayo kita akrab lagi seperti dulu. Apa kamu nggak merindukan momen kebersamaan kita?" Ucap Keenan dengan matanya yang berbinar.


Nathan masih diam, belum berminat menjawab ajakan Keenan yang menginginkan perdamaian di antara mereka.


"Mungkin aku bisa berhenti membenci kakak. Tapi kalau untuk akrab lagi, aku nggak tau. Aku sudah terlalu lama menyimpan rasa ini. Perasaan kalah, payah, dan dibanding-bandingkan selalu menggelayuti pikiranku bahkan hanya ketika menyebut nama kakak" Jelas Nathan.


Kalimat terakhir Nathan membungkam Keenan seketika. Dia tak menyangka pencapaiannya yang cemerlang justru malah jadi boomerang baginya. Merusak mental adiknya sendiri karena terlalu sering dibandingkan oleh orang terdekatnya. Bunda, dengan segenap trauma masa lalunya menyetir hidup Nathan yang memiliki kesamaan karakter dengan almarhum papa nya.


Minatnya pada dunia musik terutama gitar, bahkan hal paling buruk itu juga seakan mendarah daging. Membuat bunda seakan melihat cerminan dari diri suami yang telah menjungkir balikkan hidupnya secara tak karuan.


Keenan kini mengerti, betapa Nathan harus menahan semua perasaan itu sejak kecil. Kehilangan sosok dan kasih sayang seorang ayah, serta bakat nya yang tak pernah di apresiasi. Namun di sisi lain, dia tetap bersyukur bahwa Nathan tetap bisa menyayangi bunda meski semua yang sekarang dijalaninya adalah hasil dari apa yang bunda kehendaki.