An Angel From Her

An Angel From Her
25# Kekecewaan Yang Teramat Dalam



Seperti pepatah mengatakan, manusia hanya bisa berencana, namun Tuhan yang menentukan. Semua keperluan untuk hari pernikahan yang telah disiapkan matang-matang pada akhirnya hancur berantakan. Kepergian Nathan yang tanpa jejak membuat pernikahan yang semestinya di gelar hari ini dibatalkan.


Rasa malu yang di rasakan bunda tentu tak dapat terbendung lagi. Beberapa kerabat dekat yang telah dikabari perihal tanggal pernikahan nampak bergantian menghubungi bunda, mereka kebingungan lantaran area yang seharusnya jadi tempat pernikahan itu digelar terlihat kosong dan tak ada satupun orang disana.


Sedari pagi, bunda hanya mampu duduk termenung, dengan pikirannya yang kosong. Mbak Asih beberapa kali menawarkan makanan namun ditolak mentah-mentah. Bunda belum sama sekali mengisi perutnya sejak kemarin. Dia hanya sibuk mencari, dan terus mencari keberadaan Nathan yang tiba-tiba menghilang.


Air matanya pun bagai telah habis. Hanya tersisa rasa sakit dan kekecewaan yang teramat dalam di hatinya.


"Permisi bu, saya sudah datangi kembali beberapa teman-teman mas Nathan. Tapi tidak ada satupun yang mengetahui keberadaannya" Ucap pak Eko yang diutus untuk membantunya mencari Nathan.


"Ya, pak Eko. Terimakasih bantuannya. Sudahi pencarian ini. Sudah cukup" Ucap bunda dengan nada yang lemah. Pandangannya kosong, serta matanya yang juga sembab.


"Apa ibu tidak ingin lapor polisi?"


"Tidak perlu. Dia sudah dewasa, jika tidak ada satupun orang yang tahu, artinya dia pergi dengan keputusannya sendiri" Ucap bunda.


"Baik kalau begitu saya permisi bu" Ucap pak Eko seraya beranjak dari sana.


"Hiks..hiks..hiks.." Bunda menutup wajahnya dengan kedua tangan yang disangga pada ujung pahanya. Isak tangisnya pecah kembali.


"Bu.. Ibu yang sabar.. Ini semua sudah jalan dari Tuhan.." Ucap mbak Asih menenangkan bunda sembari mengusap-usap bahunya.


"Semuanya berantakan mbak.. Hiks.. Anak itu benar-benar membuat saya malu. Bagaimana saya mampu bertemu dengan Dara? Rasanya seperti Nathan telah melempar kotoran ke wajah saya" Keluh bunda.


"Ini bukan salah ibu.. Jangan salahkan diri ibu sendiri" Ucap mbak Asih.


"Saya harus bagaimana mbak? Saya benar-benar malu bertemu dengan Dara, tapi saya juga harus meminta maaf dengannya"


"Menurut saya, tidak apa-apa jika ibu datang dan meminta maaf dengan non Dara. Beliau orang baik, saya rasa bisa mengerti" Ucap mbak Asih menyampaikan pendapatnya.


Bunda diam, nampak memikirkan apa yang baru saja diusulkan mbak Asih padanya. Meski dirinya tahu Dara dan keluarganya adalah orang-orang baik, tetap saja rasanya ia bagai tak punya nyali untuk bertemu dengan mereka. Kali ini, apa yang telah diperbuat Nathan sungguh kelewatan.


...***...


Dara berdiri terpaku di depan jendela kamarnya, memandangi pemandangan luar rumah. Hari sudah siang, namun langit nampak kelabu. Semesta bagai ikut merasakan kekecewaan yang di rasakan Dara. Ada setitik rasa sakit di hatinya.


Kepalanya menoleh ke arah manekin yang menyangga kebaya pengantin bertabur kristal di kamarnya. Ia menghampiri, lalu menyentuh dengan lembut baju yang semestinya dikenakan pada hari bahagianya sekarang. Memang nampaknya orang seperti dirinya tak pantas mengenakan pakaian semewah ini, takdir tak pernah salah.


"Kok bisa nggak jadi bu Reny? Calon suaminya kabur atau gimana?"


"Tidak bu. Mungkin akan ditunda sampai waktu yang belum di tentukan. Mohon do'anya yang baik-baik saja ya bu"


"Saya bilang juga apa bu. Hari gini, mana ada sih laki-laki yang mau dijodohin begitu. Harusnya nggak usah diterima saja sih. Daripada begini, bikin malu"


"Iya bu.."


Terdengar samar-samar percakapan dari luar kamar. Nampaknya beberapa tetangga berbondong-bondong datang dan memastikan soal kabar pernikahan yang dibatalkan.


Hati Dara terasa sesak, tak terbayang bagaimana perasaan ibu yang di todong dengan berbagai pertanyaan yang dilontarkan dari orang-orang kepadanya.


"Dara.." Panggil ibu yang tiba-tiba datang dan menghampiri Dara di dalam kamar.


"Iya bu" Sahut Dara dengan senyum manisnya.


"Menurut ibu, ada baiknya kamu menemui bu Erina nak. Ibu yakin beliau sedang terpukul saat ini" Ucap ibu sembari mengusap kepala Dara dengan lembut.


"Buu.. Maafkan Dara.." Lirih Dara seraya memeluk tubuh ibu dengan erat.


"Lho.. Kenapa nak?" Tanya ibu keheranan.


"Maafkan Dara bu.. Dara sudah buat ibu malu. Karena keputusan Dara untuk memilih menikah lewat jalan perjodohan berujung seperti ini.. Dara sudah mempermalukan ibu di depan keluarga, tetangga dan banyak orang" Ucap Dara terisak.


"Nak.. Ibu tidak merasa dipermalukan oleh siapapun" Ucap ibu, ia melepaskan pelukan Dara dan membelai wajah putrinya yang mulai memerah.


"Ibu ikhlas jika harus seperti ini jalannya. Mungkin kalian memang tidak berjodoh" Ucap ibu.


"Tetap saja Dara bersalah bu. Benar kata orang tadi, seharusnya Dara tolak saja tawaran perjodohan itu.."


"Kamu mendengarnya ya? Abaikan saja nak. Ibu tidak merasa malu. Ibu ikhlas.. Sungguh.. Justru ibu memikirkan perasaanmu" Ucap ibu.


"Dara juga baik-baik saja bu. Walaupun ada sedikit perasaan sakit, tapi lebih kepada sakit ketika melihat ibu ditanya ini itu oleh orang-orang.. Dicibir, di cemooh. Itu sangat menyakiti perasaan Dara bu" Ucap Dara.


"Sudah.. Sudah.. Tak perlu difikirkan Dara. Tidak mengapa nak" Ucap ibu sembari menghapus air mata Dara yang menetes dari pelupuk matanya.


"Kamu temui bu Erina ya nak" Pinta ibu.


"Untuk apa bu?"


"Apa perlu?"


"Menurut ibu perlu nak. Meskipun kamu dan Nathan batal menikah, namun sebaiknya tali silaturahmi kita jangan sampai putus" Ucap ibu dengan bijak.


Dara menimbang perkataan ibu barusan, ia tak langsung menjawab.


"Dara?" Panggil ibu, Dara kembali terfokus.


Ibu memberi isyarat dengan anggukan pada Dara. Membuat wanita itu memilih untuk menjalankan nasihat sang ibu dengan bergegas mendatangi bunda yang hampir stress.


Hampir satu jam perjalanan Dara akhirnya sampai di apartment. Mbak Asih dengan sigap membukakan pintu kala mendengar seseorang menekan bel dari luar. Kemudian mempersilahkan Dara untuk masuk dan menemui bunda yang masih belum beranjak dari sofa.


Dara mendapati bunda tengah duduk sembari merentangkan kedua kaki di atas sofa, dengan selimut yang menutupi sebagian kakinya. Dari arah belakang nampak rambut bunda yang sedikit berantakan, dirinya tak lagi memedulikan penampilannya seperti biasa. Dara menghampirinya perlahan.


"Bunda?" Panggil Dara lembut.


Bunda menoleh dan merasa seperti mendapat kejutan kala menyaksikan bahwa Dara datang, dan berdiri di depan matanya.


"Dara.." Ucap bunda, matanya berbinar.


Dara ikut duduk di pinggir sofa yang ditempati bunda, mencium punggung tangan bunda dan langsung memeluk tubuhnya dengan erat.


"Dara.. hiks.. hiks.. hiks.." Tangis bunda kembali pecah dalam pelukan Dara.


"Bunda yang sabar ya" Ucap Dara berusaha menenangkan bunda.


Bunda hendak menjawab kata-kata Dara namun lidahnya kelu. Tak ada yang dapat keluar dari mulutnya selain isak tangisnya yang kian menjadi. Dalam pelukan Dara yang disayanginya, semua beban terasa runtuh seketika.


"Maafkan bunda Dara.. Maafkan bunda.." Lirih bunda.


"Ini bukan salah bunda, Dara mengerti.. Bunda tenang ya.." Ucap Dara.


"Bunda tidak habis pikir dengan anak itu. Teganya dia melakukan ini padamu" Ucap bunda di tengah isak tangisnya.


"Sudah ya bunda.. Tidak perlu menyalahkan siapa-siapa. Ini semua takdir, kalaupun ada kesalahan dari seseorang, Dara sudah ikhlas memaafkannya"


Bunda melepaskan pelukannya, dan memandangi wajah cantik Dara di depannya. Bagaimana bisa Nathan melewatkan wanita sebaik ini.


"Dara.. Terbuat dari apa hatimu nak? Sudah dikecewakan seperti ini, tidak ada sedikitpun rasa dendam dalam hatimu" Ucap bunda.


"Dendam hanya akan menjadi boomerang bagi yang menyimpannya bunda. Dara menganggap ini adalah sebuah ketetapan yang tak bisa lagi diubah. Ini takdir, yang datang dari Tuhan. Jika demikian, kita mau menyalahkan siapa? Tidak mungkin menyalahkan Tuhan kan bunda?" Tutur Dara, kata-katanya lembut menyentuh hati.


"Kamu benar nak. Ini sudah takdir, maaf kalau bunda terlalu memaksa kamu untuk menikah dengan Nathan. Kalau saja bunda tahu akan jadi seperti ini, bunda tidak akan bersikeras dengan kehendak bunda sendiri. Maafkan bunda ya Dara" Ucap bunda parau.


"Iya bunda" Jawab Dara. "Bunda kelihatan lemah sekali, apa bunda sudah makan?" Sambungnya.


"Bunda sedikit kelelahan, tapi tidak apa-apa kok. Bunda hanya ingin istirahat"


"Bunda mau istirahat di kamar? Dara antar ya" Ucap Dara.


"Disini saja nak"


"Disini kurang nyaman. Lebih baik bunda istirahatnya di kamar ya. Mari Dara bantu"


Bunda mengiyakan usul Dara untuk beristirahat di kamar. Dara membantu menopang tubuh bunda yang nampak begitu lemah, menaiki satu per satu anak tangga dan membukakan pintu agar bunda dapat masuk ke dalam kamar. Kemudian wanita itu juga membantu bunda untuk merebahkan tubuhnya di atas ranjang.


"Bunda mau Dara bawakan makanan?"


"Tolong ambilkan air mineral saja ya nak" Pinta bunda.


"Iya bunda. Dara ambil sebentar ya" Ucap Dara seraya bergegas turun ke dapur untuk mengambil minuman pesanan bunda.


Usai mendapatkan segelas air mineral dan beberapa camilan, Dara langsung cepat-cepat kembali menghampiri bunda. Ia tak ingin membuat bunda menunggu terlalu lama. Dirinya juga merasa iba dengan kondisi bunda saat ini, nampak sekali seperti orang yang tengah dilanda depresi.


Kantung mata yang menghitam, kelopaknya yang sembab, serta wajah yang pucat menggerakkan hati Dara untuk tinggal sementara waktu disana, demi bisa menjaga dan merawat bunda. Meski batal jadi mertua, namun Dara tetap tak menganggapnya orang lain.


Wanita itu membuka pintu perlahan dengan nampan yang berada di atas telapak tangannya. Ia membuka pintu perlahan, dan betapa terkejutnya ketika mendapati bunda yang sudah terkapar tak sadarkan diri di lantai. Dara segera meletakkan nampan tersebut lalu berusaha menyadarkan bunda.


"Bunda.. Ya ampun, bunda.. Bunda kenapa" Ucap Dara panik. Ia mencoba membangunkan bunda dengan terus memanggil-manggil namanya.


"Bunda.. Sadarlah.. Bunda.."


Tanpa membuang waktu Dara langsung meminta bantuan dengan memanggil mbak Asih serta pak Eko. Membopong tubuhnya, kemudian melarikannya ke rumah sakit. Sepanjang perjalanan bunda sama sekali tak memberi respon, bahkan nafasnya pun melemah.


Menilik dari rekam medisnya, dapat dipastikan bunda baru saja terkena serangan jantung. Mengingat dirinya memang begitu stress menghadapi situasi tak terduga saat ini.