An Angel From Her

An Angel From Her
22# Persiapan Hari H



Pagi hari setelah acara lamaran kemarin siang semua berjalan dengan normal seperti biasanya. Nathan yang tengah sibuk di studionya, bunda yang saat ini tinggal di apartment untuk beberapa waktu juga sibuk dengan beberapa berkas di meja ruang makan. Ia sengaja mengambil tempat disana agar bisa bekerja sembari mengisi perutnya dengan beberapa lembar roti panggang yang tersaji di sebelah berkas-berkasnya.


Nathan saat ini tengah sibuk menulis sebuah lirik lagu untuk single terbaru dari black romance, sambil sesekali memetik gitar kesayangannya. Namun sekelebat ingatan tentang Monica tiba-tiba saja membuyarkan konsentrasinya. Dia memandangi kursi dengan dudukan berbentuk bulat dan berkaki panjang di sudut ruangan. Kursi itu biasa digunakan Monica ketika menemaninya bekerja di studio.


Wanita itu selalu dengan setia menyertainya dimanapun, dan kapanpun selagi mampu. Walau memiliki masa lalu yang cukup kelam, Monica adalah seorang wanita yang masuk dalam kategori pasangan setia. Dia memang tak pernah mengkhianati Nathan sepanjang hubungan mereka berjalan. Hanya saja, jalan yang dipilihnya kurang tepat hingga tak dapat memenangkan hati bunda.


Dunia malam yang di geluti, sering menenggak minuman beralkohol, semua hal yang di benci bunda memang menjadi teman sehari-harinya. Perasaan Nathan mendadak pilu. Kenangan manisnya dengan Monica terus terngiang di kepalanya. Semua keindahan itu akhirnya berakhir, benar-benar telah berakhir.


Dia mengecek ponselnya, berniat untuk mengirim pesan atau menghubungi Monica agar kerinduan ini dapat terobati. Namun beberapa detik kemudian ia mengurungkan niatnya. Dia telah memilih jalannya untuk menikahi Dara, jadi mestinya sudah tak perlu lagi kembali pada Monica yang telah menjadi bagian dari masa lalunya.


Bagi Nathan, Monica memang begitu melekat di hati, memenuhi seluruh ruang di dalamnya dan membuatnya sesak. Entah apakah ini berhasil? Melupakan semua tentangnya? Ia selalu merasa tak yakin.


Berlama-lama diam dalam studio membuatnya semakin kalut. Ia memutuskan untuk pergi keluar menghirup udara segar, barangkali di tempat terbuka dia juga akan mendapatkan banyak inspirasi untuk menulis sebuah lagu yang akan dipersembahkannya pada black romance.


"Iya.. Nanti bisa di atur saat fitting" Ucap bunda yang tengah fokus menelepon seseorang ketika Nathan berjalan melewatinya.


"Eee.. Nath.." Panggil bunda pada Nathan yang baru saja berlalu. "Sebentar" Lanjutnya sembari menjeda obrolannya di telepon.


"Karena pernikahan kamu tinggal sekitar satu setengah bulan lagi, jadi bunda akan banyak minta kelonggaran waktumu. Tolong jangan banyak kegiatan dulu di band mu itu. Fokuskan dulu persiapan pernikahan, ya?" Ucap bunda.


"Persiapan apa bun? Aku kan minta pernikahan yang se sederhana mungkin" Jawab Nathan.


"Sederhana pun semuanya perlu disiapkan nak. Seperti berkas-berkas yang harus di urus untuk pernikahan, dan lain sebagainya" Ucap bunda.


"Aku sudah banyak meluangkan waktu, perintah saja siapapun yang bisa bantu membereskan semua persiapan yang sekiranya bisa tanpa keterlibatanku. Seperti mengurus berkas misalnya, berikan saja semua data diriku dan minta seseorang untuk menyelesaikannya. Aku akan membayar jasanya berapapun itu" Tukas Nathan.


"Tapi kan lebih baik jika itu dilakukan kamu sendiri, kan kamu yang mau menikah" Sanggah bunda.


"Bunda yang ingin aku menikah. Bukan aku" Ucap Nathan tegas.


"Kamu.."


"Aku sudah banyak berkorban, waktuku, tenagaku, pikiran dan juga perasaanku. Mengertilah sedikit bunda, aku masih butuh waktu. Untuk meyakinkan diriku sendiri bahwa ini adalah nyata. Rasa sakit ini nyata" Selak Nathan. Nada bicara nya berubah pilu.


Bunda terdiam mendengarkan segala keluh yang baru saja terlontar dari mulut putranya. Nathan menatap nanar kedua mata bunda.


"Rasanya seperti mimpi. Meninggalkan seseorang yang dicintai demi orang asing yang baru saja datang. Bunda sendiri tahu, dia adalah cinta pertamaku. Jadi ini tidak akan mudah" Ucap Nathan.


Bunda mendengus pelan.


"Baiklah. Bunda tidak akan membebanimu dengan urusan pernikahan ini. Biar bunda perintah asisten bunda untuk menyelesaikan semuanya. Tapi setidaknya luangkanlah satu waktu untuk fitting pakaian pengantin nanti. Bunda akan mengabarimu jika tiba waktunya" Ucap bunda.


Nathan diam sembari menyimak instruksi dari sang bunda dengan serius.


"Merelakan memang butuh waktu. Tapi bukan berarti tidak akan mampu. Kamu pasti bisa bangkit, dia yang akan menyelamatkan kamu dari keterpurukan ini. Dia.. Dara" Tukas bunda.


Nathan tersenyum sinis dengan ujung bibirnya yang naik sebelah.


"Aku tidak jamin" Ucap Nathan yang langsung beranjak meninggalkan bunda. Dirinya tak ingin berlama-lama adu argumen dengan bunda, demi menghindari konflik berkepanjangan yang bisa saja terjadi.


...***...


Hari demi hari di lewati, tak terasa sudah setengah jalan lagi menuju hari H pernikahan. Siang ini, sekitar pukul 11:00 Nathan diminta bunda untuk menjemput Dara dirumahnya. Ada jadwal fitting pakaian pengantin hari ini. Nathan yang awalnya menolak, pada akhirnya mengalah dan berdamai dengan diri sendiri.


Dengan perasaan malas dia datang menjemput calon pengantin wanitanya. Setelah pertemuan terakhir saat lamaran tempo hari, ini adalah kali pertama bagi Dara, pergi berdua dengan pria yang akan jadi suaminya itu.


Mereka berangkat dengan menaiki Jeep milik Nathan setelah sebelumnya meminta izin dan berpamitan dengan ibu dari Dara. Beliau menitipkan putrinya, agar dijaga dengan baik oleh Nathan.


Di perjalanan, tentu mereka tak saling bicara. Nathan fokus menyetir, sedangkan Dara hanya memperhatikan jalanan dengan mulutnya yang terkatup rapat. Sesekali Nathan melirik Dara di sebelahnya. Tampilan wanita itu memang sangat sederhana, tidak ada yang menonjol dari dirinya sama sekali.


Namun dia memang memiliki rambut panjang yang indah, mungkin itu jadi salah satu daya tariknya bagi orang-orang meskipun bagi Nathan dia sama sekali tidak menarik. Tiba-tiba seorang pemotor yang berada di depannya menyalib sembarangan tanpa memberi tanda, membuat Nathan menginjak pedal rem mobilnya mendadak.


"Belum pernah naik mobil ya? Pasang sabuk pengamannya!" Ucap Nathan ketus.


Dara gelagapan sembari mencari-cari tali seat belt yang di dudukinya. Ia berusaha memasangnya sendiri tanpa dibantu sedikit pun oleh Nathan. Pria itu hanya melihatnya dengan tatapan dingin.


"Aku tidak ingin dituduh ibumu melakukan kekerasan, jika sampai dahimu membiru karena terbentur" Tukas Nathan. Ia kembali memacu kendaraannya setelah Dara berhasil menyelempangkan sabuk pengaman ke tubuhnya.


Dara semakin salah tingkah karena Nathan yang begitu ketus padanya. Ini baru tahap awal, tapi sudah sebegitu dinginnya sikap Nathan padanya. Namun Dara terus menyanggahnya, ia yakin perlahan Nathan akan berubah seiring bertambah seringnya intensitas pertemuannya.


Tiga puluh menit berselang, mereka tiba di boutique tempat fitting hari ini. Nathan membuka pintu mobil dan menghambur begitu saja meninggalkan Dara yang sedikit kesulitan membuka seat belt. Pria itu masuk ke dalam boutique tanpa menggandeng calon pengantinnya.


"Selamat datang Nathan, bagaimana perjalanannya? Agak jauh kesini ya?" Sapa tante Anne pemilik boutique itu. Tante Anne adalah teman baik bunda, dia seorang designer ternama yang sangat terkenal disana. Dirinya biasa menerima pesanan dari kalangan artis hingga pejabat-pejabat, memberikan hasil mahakarya nya yang indah nan mewah, dan di rupiahkan dalam angka yang cukup fantatis.


"Lumayan tante" Jawab Nathan.


"Eh? Mana calon istrimu? Kamu tidak datang sendiri kan?" Tanya tante Anne.


"Permisi.." Ucap Dara yang baru saja tiba, ia nampak terengah-engah. Tampilannya sedikit acak-acakan.


"Wah.. Ini ya, calonnya Nathan?" Sapa tante Anne.


"Iya bu" Jawab Dara sembari membungkukkan badannya.


"Saya Anne, kamu bisa panggil tante Anne" Ucap tante Anne seraya mengusap bahu Dara.


"Iya tante"


"Wah.. Kamu cantik sekali. Oh iya, sampai lupa. Siapa namamu?" Tanya tante Anne.


"Saya Dara, tante" Jawab Dara.


"Dara.. Nama yang cantik, menggambarkan orangnya yang juga cantik. Kamu memang tidak salah pilih Nathan! Fans kamu nanti bisa pada kebakaran jenggot nih saking cemburunya. Hihi.." Ujar tante Anne.


"Jangan sampai ketahuan tante. Aku tidak ingin mereka, dan seluruh dunia tahu" Ucap Nathan.


Dara melirik Nathan di sebelahnya dengan nanar. Apa yang di dengarnya barusan cukup menyakitkan. Nathan tak ingin pernikahan ini di publikasikan? Mengapa? Apa dia malu?


"Lho kenapa begitu? Kamu seharusnya bangga lho memamerkan istri yang sangat cantik ini. Siapapun pasti akan iri denganmu" Ucap tante Anne.


"Hhmm.. Tidak apa-apa tante, bisa kita mulai?" Potong Nathan.


"Sure.. Ayo kita naik ke lantai dua. Tante sudah mempersiapkannya khusus untuk kalian" Ajak tante Anne sembari merangkul Dara, sementara Nathan melangkahkan kakinya cepat-cepat menuju lantai dua.


Sesampainya disana, sepasang baju pengantin yang terlihat mewah menyambut dan memanjakan mata mereka. Setelan jas warna broken white dengan design simple namun mewah diperuntukkan bagi Nathan sang calon mempelai pria sedangkan satu set kebaya untuk Dara berwarna senada dengan setelan jas disampingnya, terlihat begitu memukau. Kebaya panjang itu bertabur payet dan kristal di sepanjang lekukannya.


Dara terpana dengan baju yang ada di depan matanya. Benarkah ini ditujukan untuknya? Seorang gadis biasa seperti dirinya terasa tak pantas memakai pakaian semewah itu.


Tante Anne mengarahkan Dara ke kamar pas agar wanita itu segera mengenakan baju pengantin tersebut, sehingga dirinya dapat mengoreksi beberapa bagian yang mungkin perlu perbaikan. Begitupun Nathan yang menyusul setelahnya.


Dara tampak begitu anggun mengenakan kebaya itu. Dengan malu-malu ia keluar dari kamar pas.


"Whooa.. Luar biasa. Kamu seperti princess! Sangat cocok bersanding dengan Nathan. Empat jempol untukmu Dara" Ucap tante Anne yang tak hentinya berdecak kagum kala melihat Dara. Baju kebaya itu tampak tak memiliki cacat sedikitpun menempel sempurna di tubuh ramping Dara.


"Terimakasih tante" Ujar Dara tersipu malu. Ia melirik Nathan yang tampak tak tertarik dengannya. Pria itu hanya memandangi dirinya sendiri lewat pantulan cermin.


"Benar-benar pas sekali. Tidak ada yang perlu dikoreksi. Duuh.. Bagaimana bisa ibumu melahirkan seorang putri secantik kamu sih Dara" Puji tante Anne lagi.


Dara tersenyum tipis. Dia merasa malu sendiri dengan pujian yang membanjirinya.


Tiba-tiba ponsel yang di genggam Nathan berdering begitu kencang hingga menyita perhatian Dara dan tante Anne. Dia memeriksanya, disana ada panggilan dari seseorang yang dirindukannya. Monica.