
Dara terbangun tiba-tiba dari tidur lelapnya. Ia menggeliat di atas tempat tidur. Beberapa detik kemudian ia menyadari bahwa sekarang dirinya bukan sedang berada di kamarnya. Wanita itu membangunkan tubuh dengan cepat dan mengamati keadaan sekitar.
Ia baru teringat bahwa kini, dirinya tak lagi tinggal di kamar yang telah menemaninya selama dua puluh tujuh tahun itu. Dia telah menikah, dan harus tinggal bersama dengan suaminya yang sekarang tak nampak batang hidungnya.
Dara melirik arloji nya. Pukul 04:00 pagi. Dan Nathan masih belum pulang. Kemana sebenarnya lelaki itu pergi? Apa dia tak memikirkan istrinya barang sedikit saja?
"Cklek.."
Suara pintu kamar yang dibuka oleh seseorang dari luar. Dara memasang mata baik-baik, ia mengamati siapa yang membuka pintu tersebut. Perasaannya langsung plong kala mendapati ternyata Nathan yang datang dan masuk ke dalam kamar.
Pria itu mengacuhkannya, ia membuka kemeja putih berlengan panjang yang belum diganti nya sejak acara akad kemarin pagi. Wajahnya nampak sangat kusut, sepertinya ia belum tidur sama sekali.
"Hahh.." Teriak Dara ketika menyadari Nathan telah membuka baju nya dan memperlihatkan dada bidang serta perut yang hampir berbentuk kotak-kotak di depan matanya. Ia segera mengalihkan pandangannya sambil menutup kedua mata dengan telapak tangan.
Nathan melirik sinis Dara yang terkejut. Berlebihan sekali, pikirnya.
"Kenapa sih? Lihat hantu?" Ucap Nathan yang telah bertelanjang dada sambil memasukkan baju kotornya ke dalam tempat penyimpanan pakaian bekas pakai di sudut ruangan.
Ia berjalan menuju kamar mandi yang terdapat di dalam kamarnya dengan handuk yang dilingkarkan pada lehernya. Dara menutup rapat kedua mata kala Nathan melewatinya. Ia begitu salah tingkah.
Berada dalam kamar hanya berdua dengan seorang lelaki saja sudah membuatnya gugup setengah mati, ditambah lagi harus melihat pemandangan sosok maskulin bertelanjang dada yang terpampang nyata didepannya. Jika Nathan tak kunjung masuk ke kamar mandi, bukan tidak mungkin Dara akan jatuh pingsan saat itu juga.
Dara berusaha menetralisir perasaannya. Jantung yang berdetak begitu kencang bagai nyaris jatuh dari tempatnya, disertai dengan bulu roma yang mendadak berdiri. Perasaan apa ini? Mengapa seperti sedang berada dalam situasi horor hanya karena melihat Nathan membuka bajunya?
Ia mendekap erat dadanya, sembari menarik napas dalam-dalam. Detak jantungnya masih belum se-normal tadi, beberapa menit sebelum kedatangan Nathan. Ia duduk di tepi ranjang, menoleh ke arah cermin besar yang terpasang di seberang tempat tidur. Dia baru sadar bahwa dirinya masih mengenakan baju pengantin.
"Ya ampun.." Gumam Dara sembari menepuk dahinya.
Tak lama setelah itu, Nathan keluar dari kamar mandi. Kali ini ia mengenakan kaos tanpa lengan dan celana pendek, membuat Dara berani untuk melihat ke arahnya. Tattoo yang menghias kedua lengan dan sebagian punggungnya cukup menyita perhatian Dara.
Selama mengenal Nathan, ia memang belum mengetahui bahwa pria itu ternyata memiliki tattoo dengan jumlah yang cukup banyak. Tentu hal itu sedikit membuatnya risih. Bagi sebagian orang, tattoo memang sebuah karya seni. Tapi di mata Dara, tattoo hanya memperburuk penampilan seseorang.
"Mmm.. Nathan, kamu darimana? Kok jam segini baru pulang?"
Nathan diam tak menggubris. Pria itu merebahkan tubuhnya di atas sofa dalam kamar yang panjangnya kalah dengan kakinya.
"Kenapa kamu tidur disitu? Kasurnya kan.. Disini"
Lagi-lagi tak ada jawaban dari sang suami.
"Nath, aku bicara denganmu" Panggil Dara.
"Ada apa sih, hah? Kamu kan lihat aku baru saja sampai. Aku lelah, nggak usah banyak tanya bisa kan?" Sahut Nathan. Ia membangunkan tubuhnya dan berbicara sembari duduk pada Dara yang berdiri terpaku di sebelah ranjang.
"A-aku.. Hanya ingin tahu kamu kemana tadi, bukankah hal itu wajar. Seorang istri ingin tahu kemana suaminya pergi?"
"Aku ada urusan. Sebelum pergi tadi kan sudah bilang. Nggak perlu lagi tanya ini itu. Bikin pusing"
"Mmm.. Lalu, kenapa kamu tidur disitu? Ranjang ini... muat kok untuk dua orang" Tanya Dara ragu-ragu.
"Harusnya kamu bersyukur karena aku mau mengalah dengan tidur di sofa, dan kamu tidur disana. Sudahlah, urusanku mau tidur dimana" Sahut Nathan ketus.
"Ada lagi yang mau dibicarakan?" Sambungnya.
Dara menggeleng sembari tersenyum tipis pada Nathan yang nampak teler. Pria itu kembali merebahkan tubuhnya dan terlelap seketika, hari hampir pagi, dan dia baru memejamkan mata. Sementara Dara memutuskan untuk membersihkan diri karena tubuhnya terasa sangat lengket.
...***...
"Ya ampun non.. Sudah biar saja saya yang masak. Non Dara istirahat saja.." Ucap mbak Asih tak enak hati dengan Dara yang nampak sibuk memasak di dapur.
"Tidak apa-apa mbak Asih. Saya sudah cukup istirahat, lagipula kalau diam saja dan tidak ada yang dikerjakan rasanya bosan mbak.." Sahut Dara sembari mengaduk masakan dalam wajan.
"Tapi kan seharusnya pengantin baru itu menghabiskan waktu bersama non.."
"Iya mbak. Sudah bersama kok, Nathan nya juga masih tidur. Jadi saya memutuskan untuk masak. Nanti kalau dia bangun kan bisa langsung makan" Jawab Dara ramah.
"Oh, begitu non.. Hi..hi.. Mas Nathan kecapekan ya.." Guyon mbak Asih.
"Sepertinya begitu mbak" Sahut Dara sembari mencicipi rasa dengan sendok masakan yang tengah di olahnya.
"Maklum, 'pertempuran' malam pertama kadang memang melelahkan ya non.."
"Ya ampun non.. Non Dara tidak apa-apa? Maaf kalau kata-kata saya salah ya non.. Sampai tersedak begini" Ucap mbak Asih sembari mengusap-usap punggung Dara.
"Bukan salah mbak Asih kok. Saya hanya tersedak mbak.. Uhuk.. Uhuk.. Mungkin karena rasa pedasnya"
"Mau saya ambilkan minum lagi non?"
"Cukup mbak, terimakasih" Sahut Dara sembari melanjutkan tahapan masaknya.
"Ya sudah kalau begitu, saya permisi mau cuci pakaian dulu ya non. Kalau.. Non Dara perlu sesuatu, jangan sungkan bilang ke saya ya non" Pamit mbak Asih.
"Iya mbak.." Jawab Dara tak lupa dengan senyum manisnya.
Mbak Asih bergegas ke ruang cuci untuk menyelesaikan pekerjaannya membersihkan semua pakaian kotor milik majikannya. Sementara Dara masih sibuk berkutat dengan masakan di dapur.
Memasak adalah hobi Dara sejak kecil, ditambah ketika beranjak remaja ia semakin sering memasak di warung demi membantu sang ibu mencari nafkah. Meski bukan hal baru, namun kali ini kegiatan masaknya terasa berbeda karena yang dilakukannya untuk dipersembahkan pada seseorang yang spesial. Seseorang yang memiliki status suami baginya.
.
.
.
Jelang siang hari, Nathan telah bersiap untuk pergi. Kegiatan di band kembali menyibukkan dirinya usai vakum beberapa minggu. Ia mengenakan kaos lengan pendek berwarna hitam, celana blue jeans belel dan sepatu sneakers hitam kombinasi putih. Serta topi beanie yang membungkus sebagian rambutnya.
Pria itu turun dari lantai dua menyusuri setapak demi setapak anak tangga disana. Ia merasa kelaparan sejak bangun tidur. Nampak mbak Asih tengah berada di dapur ketika ia sampai di ruang makan yang merangkap jadi satu dengan dapur tersebut.
"Sudah ada makan siang mbak?" Sapa Nathan sembari menarik kursi untuk di dudukinya.
"Eh? Iya sudah ada mas. Sebentar yo mas, saya siapkan" Sahut mbak Asih yang dengan sigap menyiapkan keperluan majikannya.
Ia menyuguhkan makanan yang telah di masak Dara sedari pagi, beserta nasi dan alat makan untuk dua orang. Nathan segera meraih salah satunya dan melirik pada salah satu alat makan kosong di sebelahnya.
"Satu lagi untuk siapa? Mbak Asih mau ikut makan bareng dengan saya?"
"Eh.. Bukan mas. Saya sudah makan. Itu.. Untuk non Dara mas" Jawab mbak Asih.
Nathan diam tak menjawab. Ia memulai makan siangnya tanpa menunggu sang istri terlebih dahulu.
"Kamu sudah bangun Nath.." Sapa Dara yang baru bergabung di ruang makan. Ia baru saja selesai beres-beres beberapa ruangan di lantai dua.
"Mau kemana? Sudah rapi sekali" Ucapnya lagi sambil menarik kursi yang posisinya berada di seberang Nathan.
"Lebih baik kamu makan setelah ku ya"
"Apa?"
"Kamu makan, setelah aku selesai dan pergi" Ucap Nathan ketus.
Melihat Dara duduk bersebrangan dengannya membuat ingatannya kembali pada kenangannya bersama Monica. Itu adalah tempat yang selalu di pijaki Monica ketika dulu, mereka sering makan bersama dalam satu meja sembari bercengkrama dan tertawa menghabiskan waktu berdua.
Ia merasa tak rela jika harus menggantikan sosok Monica dengan Dara meskipun hanya dengan sebatas menduduki tempat yang biasa di tempati oleh wanita yang sangat dicintainya itu.
Nyut..
Ada setitik rasa sakit di hati Dara atas perintah Nathan barusan. Namun ia memilih untuk memendamnya dan mengikuti apa yang dikatakan oleh sang suami.
"Iya Nath.." Ucap Dara, ia beranjak dari kursi, mengurungkan niat nya untuk makan siang bersama. Lalu berjalan perlahan meninggalkan ruang makan.
"Hari ini, rasanya masakan mbak Asih agak lain ya" Ucap Nathan pada mbak Asih yang tengah sibuk menyapu lantai.
"Lain ya mas?"
"Iya.. Terasa lebih enak dari sebelumnya. Habis berguru dimana mbak?" Guyon Nathan.
"Itu memang bukan masakan saya mas.. Tadi non Dara yang masak" Sahut mbak Asih.
Nathan menghentikan suapannya. Ia terdiam sembari menghabiskan yang tersisa di mulut. Ternyata, makanan seenak ini, tercipta dari tangan yang tak diharapkannya. Dari kejauhan, Dara nampak merasa puas dengan apa yang dikatakan Nathan.
Suaminya, menyukai masakannya. Itu sudahlah cukup baginya.