
"Pelan-pelan sayang.."
Nathan membantu Dara dengan mentitah nya bagai anak kecil, memasuki apartment. Setelah hampir satu minggu menghabiskan waktu di rumah sakit akhirnya ia sudah diperbolehkan pulang dengan catatan tetap harus mengkonsumsi obat penguat kandungan serta lebih sering melakukan check up.
Tujuan mereka adalah kamar, dokter juga berpesan pada Nathan agar selalu memperhatikan keadaan istrinya. Juga memastikan agar ia tidak melakukan terlalu banyak aktifitas, menjaga pola makan dan dapat mengelola stress dengan baik.
Karena bukan tidak mungkin tensi darah nya yang cenderung tinggi dapat membahayakan bagi kesehatan ibu dan calon bayi mereka.
"Sampai juga. Padahal kalau di gendong akan lebih cepat sampai" Keluh Nathan setelah membantu Dara hingga ia merebahkan diri di atas ranjang.
"Aku sudah sehat Nath, percayalah"
"Iya, kamu memang selalu sehat!" Kelakar Nathan sambil mencubit pucuk hidung Dara.
Pria itu baru akan ikut duduk di pinggir ranjang ketika merasakan getaran dari ponselnya di dalam saku celana. Ada panggilan masuk disana.
Nathan merogoh, dan menatap layar ponsel. Nama Regy yang muncul. Membuatnya enggan menerima panggilan itu.
"Kenapa Nath? Siapa yang telepon?"
"Regy"
"Kok nggak di angkat?"
"Aku.. Malas sekali menjawabnya"
"Coba di terima dulu. Barangkali penting"
Nathan tampak menimbang sebelum mengambil keputusan.
"Nggak apa-apa kalau aku angkat teleponnya?"
"Iya, Nath" Dara mengukir senyum.
Pria itu menuruti ucapan istrinya. Dan beranjak dari sana, menerima panggilan diluar kamar agar tak mengganggu Dara yang hendak istirahat.
"Halo.."
"Nath, lagi dimana?"
"Apartment"
"Gimana Dara? Apa sudah membaik?"
"Ini baru aja sampai. Ada apa gy?"
"Syukurlah kalau gitu. Gini Nath, lo bisa datang hari ini? Ada job"
"Duh.. Gy lo ngerti kan gimana rasanya kalau istri lagi sakit? Sorry banget nih, kalau sekarang kayaknya gue belum bisa. Coba pakai backingan dulu deh"
"Hhm.. Nggak bisa ya"
"Iya. Gue tau, memang sudah kelamaan izin. Tapi mau gimana lagi ya gy"
"Iya Nath, gue ngerti. Yasudah kalau gitu, gue pakai saran lo dulu untuk sementara. Kabarin kalau lo sudah sempat ya. Oh iya, salam untuk Dara Nath!"
"Oke gy, nanti gue sampaikan. Sorry ya sekali lagi. Thanks.."
Nathan mengakhiri panggilan teleponnya lalu masuk ke kamar lagi untuk menemani Dara yang sudah memposisikan dirinya duduk dan menyandarkan bahu nya pada dipan.
"Sayang, kenapa duduk?"
"Aku bosan berbaring terus"
"Oke" Nathan mengalah. "Kamu mau makan nggak?"
Dara menggeleng lemah.
"Hei, sweetheart. Ada apa? Kok murung?" Dengan lembut pria itu meraih ujung dagu Dara dan mengangkatnya sedikit agar ia bisa leluasa memandangi wajah cantiknya.
"Nggak apa Nath. Oh iya, kalau boleh tau, ada keperluan apa mas Regy telepon kamu?"
"Biasalah, minta untuk datang. Ada job katanya"
"Terus?"
"Aku nggak mau"
"Lho, kenapa?"
Nathan menggenggam tangan Dara dengan mesra.
"Aku nggak mau jauh-jauh dari kamu" Nada bicaranya dibuat manja.
"Kamu sudah cukup merawatku Nath, dan meluangkan waktu selama hampir satu minggu. Aku sangat berterima kasih padamu"
"Yang sepantasnya berterima kasih itu aku sayang. Karena kamu masih sudi tinggal disini bersamaku"
Dara merasakan kehangatan yang menjalari relung hatinya. Menyebar hingga ke tulang-tulang, membanjiri seluruh tubuhnya dengan cinta yang dipancarkan dari Nathan.
"Karena kamu belum memintaku untuk pergi, jadi aku tetap disini Nath" Ujar Dara.
Nathan menyibak helaian rambut Dara yang menjulur ke depan menutupi sebagian rahangnya. Seraya memandangi wajah dan mata teduh menenangkan itu dalam-dalam.
Ia menggeser sedikit posisi duduknya, mendekat ke arah Dara yang ekspresinya mendadak tegang. Situasi ini, mengingatkan wanita itu pada momen dimana ia menerima serangan beringas dari Nathan.
Entah mengapa, walaupun ia mencintainya namun jika dihadapkan dengan situasi seperti ini nyali Dara seketika menciut. Dia masih merasa takut jika di sentuh oleh laki-laki, terlebih jika mengingat ciuman menjijikkan yang dilakukan Keenan. Dara sangat ingin menenggelamkan diri sendiri ke dalam lautan bebas seandainya hal itu terjadi lagi secara tak sengaja.
Apa yang dilakukan Nathan menciptakan gelombang kepanikan dalam dirinya. Gerak gerik yang ditunjukkan suaminya itu sudah dapat ditebak dengan mudah.
Dara menarik napas, memejamkan mata, sambil berusaha berpikir bagaimana caranya agar Nathan tak jadi meluncurkan niatnya.
"Nath.. Aku lapar!" Selak Dara ketika bibir mereka hampir bersentuhan. Pria itu langsung membuka mata dan memandangi Dara meski wajahnya terlihat bagai menyatu karena jarak pandang yang terlalu dekat.
"Tiba-tiba?"
Dara menganggukkan kepala cepat-cepat. Walau merasa sedikit aneh, tapi Nathan berusaha untuk mengiyakan permintaan sang istri dan menahan hasratnya sementara.
"Mau ku belikan apa?" Dara dapat kembali bernapas lega saat Nathan mulai menjauhkan tubuh darinya.
"Uhmm.. Maunya dibuatin kamu"
"Hah. Dibuatin aku?!" Nathan tampak sangat kaget.
"Iya. Aku ingin roti sandwich!" Tantang Dara.
"Tapi, aku nggak bisa masak Ra. Selama ini selalu mbak Asih yang menyiapkan, lalu kamu. Setelah kita menikah"
"Sebenarnya, ini permintaan dia" Dara memberi isyarat sambil mengelus lembut perutnya yang membesar.
"Apa?! Yang benar saja"
"Kamu nggak percaya?"
"Ya memangnya dia bisa bilang padamu?"
"Bisa. Kami berdua bisa saling merasakan perasaan satu sama lain Nath.." Dara beralasan.
Nathan mendengus jengkel dengan permintaan istrinya yang terkesan mengada-ada, terutama karena Dara telah seenaknya mencegah keinginannya untuk mencium bibir menggemaskan itu.
"Ayolah Nath.. Boleh ya" Dara mengiba, dan memelas pada Nathan yang masih bergeming. Dia juga menghadiahkan Nathan sebuah angel face yang seketika mampu meruntuhkan keteguhan hati pria yang menolak keras permintaan nya.
"Oke. Oke. Aku akan membuatkannya untukmu. Sudah, jangan mengemis lagi!" Nathan bangkit dan berjalan gontai keluar dari kamar.
Dara sedikit merasa bersalah karena telah mengerjai Nathan dengan permintaannya. Dia tahu, pria itu tak pandai memasak. Namun apa boleh buat, ia tidak punya pilihan lagi selain membohongi suaminya agar ia mengurungkan niat untuk menciumnya.
Bukan tidak mau. Dara hanya belum siap, dan tidak memiliki alasan yang logis untuk menolaknya secara terang-terangan.
...***...
Nathan kembali ke kamar setelah hampir satu jam mengoprek bahan untuk membuat sandwich. Berbekal resep yang dicarinya lewat internet, jadilah satu tumpuk sandwich berantakan di atas piring yang dibawanya. Roti lapis itu berisikan telur, dan smoked beef. Serta saus mustard dan mayonaise yang meluber ke mana-mana.
Pria itu tak tahu seberapa buruk rasa makanan tersebut. Tapi jika dilihat dari bentuknya yang jauh dari kata perfect, ia jelas tidak ingin menganggapnya adalah sebuah mahakarya.
"Astaga" Nathan menepuk kening nya sendiri saat melihat Dara yang sudah tertidur nyenyak di atas ranjang. Dia pasti sudah terlalu lama menyiapkan sandwich gagal itu, hingga membuatnya lelah menunggu.
Nathan meletakkan piring di atas nakas, lalu menduduki lagi tempatnya semula. Tepat di samping Dara yang sudah terbuai mimpi.
Sorot matanya melembut, seraya membelai puncak kepala sang istri penuh cinta.
"Mmhh.." Dara menggeliat, merasakan sentuhan di wajahnya karena jemari panjang itu tak dapat berhenti menyentuhnya. Saat ia membuka mata, wajah tampan itu sudah terpampang nyata di depannya.
Sebenarnya bukan hanya tampan. Tapi sangat amat tampan, dengan keseluruhan proporsi wajahnya yang nampak sempurna.
"Maaf ya, kalau aku masaknya terlalu lama"
"Nggak apa, Nath" Dara mengulas senyum. "Boleh ku coba?"
Nathan meraih piring sandwich nya, ragu-ragu menyerahkan pada Dara.
"Aku nggak jamin rasanya akan bagus"
"Aku akan makan apapun yang kamu buatkan"
Tanpa aba-aba, Dara segera meraih potongan sandwich tersebut. Melahap, dan mengecap rasa yang ternyata tidak seburuk tampilannya.
"Mmmm..." Wanita itu mengunyah dengan semangat.
"Pasti aneh ya?"
Dara buru-buru menyergahnya.
"Nggak! Ini enak!" Ia nampak antusias. "Cobalah!" Ucapnya sambil membuat potongan kecil dan menyodorkan pada Nathan.
"Aku nggak yakin ini.."
"Kamu pasti suka"
Nathan membuka mulut dengan ragu, dan membiarkan potongan sandwich itu masuk ke mulutnya.
Ketika akhirnya ia mengecap sendiri hasil kreasinya, barulah Nathan menyadari bahwa sebenarnya ia tak terlalu payah dalam urusan masak memasak. Ini adalah kali pertama baginya memegang pisau, bergulat dengan bahan masakan sepanjang ia hidup jadi seorang manusia.
Tak pernah disangka, sandwich buatannya memiliki rasa yang lumayan enak.
"Enak kan?"
Nathan menjawab dengan anggukan.
"Lumayan. Tapi, ini cuma roti lapis. Ku rasa anak balita pun bisa membuatnya"
"Tak peduli apapun namanya. Asalkan itu hasil karyamu, aku selalu menyukainya" Tandas Dara.
Ungkapan penuh rasa takjub yang meluncur dari bibirnya, sukses membuat pria itu tersipu habis-habisan. Dikagumi oleh wanita se-Indonesia sudah biasa, namun jika dikagumi oleh orang yang dicintainya, hal tersebut sungguh amat berarti.