An Angel From Her

An Angel From Her
8# Keajaiban



Langit pagi mendung beserta hawa dingin menusuk kalbu mengawali hari Dara, yang saat ini tengah meringkuk di atas kursi panjang rumah sakit. Gadis itu tidak berpindah tempat sedikitpun sejak tadi malam.


Gurat di wajahnya yang sedang tertidur lelap tergambar penuh harapan-harapan tentang kesembuhan sang ibu yang hingga kini belum menunjukkan kemajuan signifikan.


Suara ketukan sepatu para perawat yang berjalan di sepanjang lorong menyadarkannya perlahan. Ia membuka matanya yang terasa berat sedikit demi sedikit dan langsung membangunkan tubuhnya ketika ingatannya kembali, bahwa kini ia masih berada di rumah sakit.


Gadis itu meraba ponselnya di saku celana lalu mengeceknya, 06:30 angka yang tertera pada halaman utama layar ponsel tersebut. Sekian detik kemudian, fikirannya kembali tertuju pada sang ibu yang ada di balik pintu ruang ICU di hadapannya. Ia beranjak dan mengintip dari kaca bagian atas pintu.


Disanalah sang ibu, masih terbujur lemah tak berdaya, tidak beda dari yang kemarin. Hatinya gelisah, ia sangat ingin masuk dan memeluk ibunya untuk memberi semangat agar ibu dapat berjuang mengalahkan rasa sakitnya.


"Permisi mbak" Seseorang menepuk ringan bahunya dari belakang. Ia menoleh dan mendapati seorang perawat beserta dokter yang hendak memeriksa keadaan ibunya berada tepat di balik badannya, ia segera menyingkir dari depan pintu.


"Emm.. Dokter, bolehkah saya masuk?" Tanya Dara ketika sang dokter melewatinya.


"Kami akan melakukan pengecekan terkait kondisi pasien saat ini. Jika memungkinkan, mbak bisa menjenguknya setelah selesai" Jawab dokter ramah.


"Baik dok" Ucap Dara. Ia mundur beberapa langkah tanpa mengindahkan pandangannya dari ruang ICU.


Terlihat dari kejauhan dokter dan perawat di sampingnya mencatat dan memeriksa kondisi ibu. Dara memastikan bahwa tidak ada raut wajah panik atau gurat keputus asaan dari dua orang tenaga kesehatan itu, yang artinya, mungkin saat ini ibu sudah baik-baik saja.


Pemeriksaan itu tidak berjalan lama, sampai akhirnya dokter memberi kabar bahwa ibu sudah bisa dipindah ke ruang perawatan biasa, dan tidak lagi memerlukan perawatan intensif. Dara bersyukur berjuta kali lipat dengan informasi barusan, air matanya berlinang tanpa permisi. Kali ini, air mata itu adalah kebahagiaan dan haru yang bercampur jadi satu.


Sembari menunggu persiapan kepindahan ibu ke ruang perawatan, Dara mencoba menghubungi adiknya dan menyampaikan kabar baik ini. Tentu ia tidak ingin bahagia sendirian. Gadis itu juga meminta adik-adiknya untuk datang.


Walau langit masih kelabu, namun cahaya cerah penuh keceriaan datang bertubi-tubi dan menerangi hati serta perasaan Dara saat ini.


***


Nathan berjalan tergopoh-gopoh memasuki apartment nya. Wajahnya terlihat kusut dengan mata panda yang membingkai, pria itu baru saja tiba di apartment pagi ini setelah menghabiskan waktu di rumah Monica malam tadi.


"Mas Nathan, mau dibuatin sarapan?" Sapa mbak Asih datang menghampiri Nathan yang hendak menuju kamarnya di lantai dua.


"Nggak. Saya gak selera" Jawabnya singkat seraya meneruskan niatnya yang tertunda untuk menaiki anak tangga.


Ia baru sempat menaiki setengah dari tangga tersebut ketika berpapasan dengan bunda yang sedang berjalan setapak demi setapak menuruni tangga tepat di hadapannya.


"B-bunda?" Ucap Nathan terkejut.


"Kenapa? Kaget?" Tanya bunda yang nada bicaranya mulai terdengar ketus. Nathan diam tak menjawab.


"kemana saja kamu sampai gak pulang semalaman?" Lanjut bunda.


"Menginap di rumah teman" Jawab Nathan singkat. Ia bahkan tak berani menatap bunda.


"Monica?" Tanya bunda, kali ini Nathan langsung menatap kedua mata bunda yang terlihat berapi-api baginya.


"Bukan" Jawabnya ragu.


Ia berani bertaruh dengan siapapun bahwa bunda adalah manusia yang diciptakan dengan intuisi yang tajam, karena memang tebakannya jarang sekali meleset.


"Bunda tidak ingin berdebat soal kamu menginap dimana. Tapi ada satu hal yang ingin bunda tanya" Ucap bunda, kata-katanya terhenti.


Nathan berusaha keras menyembunyikan matanya yang mungkin saja terlihat teler. Dari arah pembicaraannya, ia dapat membaca hal apa yang akan bunda tanyakan. Namun ia memilih diam agar bunda kembali melanjutkan.


"Kamu masih 'pake'?"


Nathan diam. Ia menarik nafas dalam-dalam.


"Nggak bun" Jawabnya singkat.


"Yakin?"


"Bun, apa sih? Memangnya aku anak kecil yang harus selalu bunda kontrol kegiatannya? Kalau aku bilang nggak ya berarti nggak. Bunda gak percaya aku? It's oke gapapa" Kilah Nathan.


"Bunda membebaskan kamu bukan tanpa syarat Nath! Apa kamu lupa?"


"Aku akan kembalikan uang bunda!" Hardik Nathan. Biasanya, Nathan tak pernah berani berbicara lantang kepada sang bunda. Berbeda dengan hari ini yang fikirannya telah terpengaruh oleh alkohol serta barang haram yang dinikmatinya tadi malam.


"Ini bukan masalah uang Nathan!" Bentak bunda, matanya berkaca-kaca. Nathan sedikit tersadar ketika melihat tatapan nanar dari mata sang bunda.


"Lalu apa?" Tanya Nathan, nada bicaranya direndahkan.


"Papa mu.." Ucap bunda terbata. Ia menghalau air mata yang hampir tumpah di pipi dengan jemarinya.


Nathan diam, menunggu kata-kata bunda yang terhenti. Ia memperhatikan perubahan ekspresi wajah ibunya, kedua matanya bagai mengisyaratkan kepedihan serta rasa sakit yang di alami. Entah apa itu, dirinya sedikit tidak mengerti.


Ingatan bunda kini memang tengah flashback pada masa lalunya, ketika menemukan sang suami yang terkapar tak bernyawa akibat overdosis penggunaan obat-obatan terlarang.


Nathan yang kala itu masih belum genap berusia 5 tahun memang tak mengerti tentang apa yang terjadi pada ayah nya. Ia hanya tahu, sang ayah pergi untuk selama-lamanya menemui Tuhan sang pencipta.


Melihat kelakuan Nathan saat ini, begitu mengingatkannya pada John, almarhum suaminya. John adalah seorang penjudi dan pecandu narkoba. Uang yang dimiliki selalu habis ia gunakan untuk kepentingan tak bermoralnya.


Berulang kali keluar masuk penjara tak jua membuatnya kapok, tapi justru makin gencar mengedar dan memakai barang haram tersebut.


Hingga puncaknya, ia harus kehilangan nyawa dengan cara yang tragis. Juga menjadi beban bagi istri serta anak-anaknya dengan menitipkan hutang senilai ratusan juta dan membuat perusahaan di bidang property yang dirintis bersama sang istri gulung tikar.


Semua disimpan dan dipikul sendirian di atas bahu oleh bunda, berjuang membesarkan dua orang anak laki-laki yang menjadi harapannya. Dari rentetan kejadian yang dialami, bunda sangat tidak ingin salah satu dari anaknya mengikuti jejak kelam sang suami.


Namun nampaknya, keinginan tak berjalan lurus dengan kenyataan yang ada. Kini, Nathan sedang terjebak di dalam lingkaran setan. Entah bagaimana cara menyelamatkannya dari kesesatan itu. Terasa sangat mengerikan jika harus membayangkan putra yang dikasihinya mendapat takdir serupa seperti ayahnya.


"Ada apa dengan papa?" Tanya Nathan yang ucapannya seketika menggubris lamunan bunda.


"Sudahlah, lupakan" Lanjut bunda sedikit terisak dikarenakan kenangan yang tiba-tiba saja datang menyerbu.


Bunda melanjutkan langkah menuruni anak tangga, dan memperlambat pijakannya ketika melewati Nathan. Ia melirik putranya yang tertunduk dan menatapnya sekian detik. Kemudian melanjutkan langkahnya menuju ruang dapur untuk mendapatkan segelas air agar dapat membasahi kerongkongannya.


"Saya pergi dulu mbak" Ucap bunda pada mbak Asih seusai meminum secangkir teh hangat yang tersaji.


"Baik bu. Hati-hati dijalan. Apa malam ini ibu menginap lagi? Jika iya, saya akan ganti spreinya dengan yang baru" Tanya mbak Asih.


"Iya bu"


Mbak Asih mengantar bunda sampai ke depan. Menutup kembali pintu, lalu melanjutkan pekerjaannya yang saling menunggu giliran.


***


"Syukurlah keadaan ibu sudah membaik, aku lega banget kak" Ucap Lisa yang sedang berada di ruang perawatan ibu. Gadis itu baru saja tiba bersama Rangga, adik laki-laki Dara nomor dua.


"Kakak juga senang sekali sa, bersyukur sekali" Jawab Dara sembari merangkul adik perempuannya.


"Tapi ibu masih belum sadar" Ujar Rangga.


"Dokter bilang mungkin tidak lama lagi Rangga. Bantu do'a saja ya" Tanggap Dara, yang diikuti anggukan dari Rangga.


"Kak Dara, kakak pulang dulu saja untuk bersih-bersih dan istirahat sebentar. Biar ibu kami yang jaga disini" Ucap Lisa.


"Tidak usah Lisa, kakak ingin disini sampai ibu sehat dan bisa pulang"


"Tapi kak, semalam bahkan kakak gak pulang kerumah, kakak tidur dimana? Pasti bukan di tempat yang nyaman kan. Kakak juga perlu membersihkan diri. Tidak mungkin kakak seperti ini berhari-hari" Sanggah Rangga.


Dara menimbang-nimbang perkataan adiknya barusan. Ia mungkin merasa tidak tenang apabila pergi meninggalkan ibunya yang masih belum sadar saat ini, namun dirinya juga tak menampik bahwa ia memang perlu istirahat dan membersihkan diri serta mengganti pakaian yang dikenakannya sejak kemarin.


"Emm.."


"Permisi.." Ucap seseorang yang hendak masuk dari balik pintu. Ketiga kakak beradik itu menoleh bersamaan, dan mendapati orang tersebut ternyata adalah bunda. Ia menepati janjinya untuk datang kembali.


"Bunda?" Sapa Dara.


"Selamat pagi" Ucap bunda seraya menyerahkan parcel berisi aneka buah-buahan segar di dalamnya ke tangan Dara.


"Ya ampun bunda, tidak perlu repot-repot sampai bawa parcel segala" Ujar Dara.


"Tidak repot nak.." Ucap bunda.


"Maaf Dara belum sempat mengabari bunda soal kepindahan ibu dari ICU ke ruang perawatan. Eh ternyata bunda sudah sampai disini duluan" Tutur Dara.


"Iya nak. Tidak apa-apa"


"Oh iya, ini adik-adik Dara bunda, Rangga dan Lisa" Ucap Dara memperkenalkan adik-adiknya kepada bunda.


"Oh ini Lisa yang kemarin ya"


"Iya bu" Jawab Lisa sembari menyalami bunda. Kemudian diikuti pula oleh Rangga.


"Jadi.. Bagaimana kondisi ibu, Dara? Apa sudah dapat merespon?" Tanya bunda.


"Kalau untuk respon masih belum. Tapi dari hasil pemeriksaan sudah banyak kemajuan bunda. Makanya sudah bisa dipindahkan kesini" Ucap Dara menjelaskan kondisi ibunya pada bunda.


"Syukurlah kalau begitu, bunda ikut senang mendengar kabar baik ini" Ucap bunda.


"Kak.. Maaf, aku sama Lisa permisi keluar sebentar ya. Mau cari makanan" Pamit Rangga pada kakak nya yang sedang asyik mengobrol. Rencana Dara untuk pulang harus tertunda karena kedatangan bunda yang tak mungkin ditinggalkan.


"Iya, hati-hati ya" Jawab Dara.


"Bunda silahkan duduk" Ucap Dara mempersilahkan bunda untuk duduk di kursi yang di sediakannya.


"Terimakasih nak"


Dara dan bunda melanjutkan perbincangan mereka, disamping ranjang yang ditempati ibu. Hingga pada akhirnya Dara menyadari suatu hal yang membuatnya sedikit terperanjak.


Sang ibu yang masih terbaring lemah, tiba-tiba saja sedikit menggerakkan tangannya dan mendesis perlahan. Dara cepat-cepat memanggil dokter untuk memastikan apakah ibu benar-benar telah mendapatkan kesadarannya kembali, ia begitu bersemangat.


Tak lama waktu berselang dokter pun datang dan memeriksa ibu, Dara tak ingin jauh-jauh dan terus memanggil-manggil nama ibunya agar secepatnya sang ibu mencapai kesadaran.


"Ibu.. Ini Dara bu, sadarlah.. Dara disini" Ucap Dara parau. Ia menggenggam erat tangan sang ibu yang masih begitu lemah, namun perlahan tapi pasti mata ibu mulai terbuka sedikit demi sedikit.


"Ibu.. Bu.. Ini Dara.. Ibu lihat Dara kan" Panggil Dara lagi saat sorot mata ibu memandang ke arahnya. Gadis itu merasakan jemari ibu bergerak perlahan membalas genggaman tangannya. Senyum bahagia tersungging di bibirnya seketika.


"Ibu.. Syukurlah.."


Derai air mata mengalir dari pelupuk mata Dara kala mendapati ibu yang dicintainya telah berhasil sadar sepenuhnya meski belum bisa mengatakan sepatah katapun. Dokter bilang, ini adalah sebuah keajaiban.


Ia bersyukur pada Tuhan telah diberi kesempatan untuk terus bisa berbakti kepada sang ibu, satu-satunya orang tua yang di milikinya. Tak terbayang jika ibu harus pergi meninggalkannya sekarang, ia belum siap, dan memang takkan pernah siap.


***


Nathan termenung, disuatu tempat cukup asing baginya. Tempat itu terlihat seperti sebuah rumah, dengan halaman yang ditumbuhi rumput-rumput hijau segar dan pohon cemara di sekelilingnya.


Rumah itu seperti terletak di kawasan pedesaan yang asri namun terasa hampa. Tanpa suara decitan burung, sinar mentari yang menerangi, juga tak ada siapapun disana. Hanya dirinya, satu-satunya makhluk hidup.


Ia beranjak dan mencoba mencari tahu tempat apa sebenarnya ini dan bagaimana ia bisa ada disana. Mungkinkah ini mimpi? Tapi suasananya terlalu indah, meski terasa gelap karena matahari tak memberikan pancaran cahayanya.


"Nathan.." Samar-samar ia mendengar seseorang memanggil-manggil namanya. Ia tidak tahu pasti, tapi yang jelas, suara ini terdengar tidak asing baginya.


"Nathan.."


Ia semakin penasaran dengan sumber suara tersebut, karena sejauh matanya memandang, tak ditemukan sama sekali manusia selain dirinya disana.


Nathan berlari, mencoba menggapai suara yang terus memanggilnya. Karena semakin ia menghampiri, semakin jauh pula suara itu terdengar. Hingga tak terasa kakinya terantuk batu dan membuatnya jatuh tersungkur.


Ia mencoba untuk bangkit namun gagal, tubuhnya terasa berat dan semakin berat. Tiba-tiba ia merasakan seseorang hadir di belakangnya, membuatnya sedikit terkejut.


"Nathan.." Panggil orang itu lagi. Nathan memberanikan diri untuk menoleh, ia mendapati seorang laki-laki bertubuh tinggi besar yang sudah puluhan tahun tak pernah dilihatnya lagi. Ya, laki-laki itu adalah ayah kandungnya.


"Pp-pa.. Pa.. Papa?"