An Angel From Her

An Angel From Her
98# Turut Serta



"Gimana rasanya ikut konser?" Nathan melempar pertanyaan pada Dara yang duduk di sebelahnya. Konser telah selesai, dan semua pengisi acara nampak mulai memenuhi ruang di belakang panggung.


"Seru. Tapi.. Sedikit pusing" Kata Dara.


"Ha.. Ha.. Ha.. Mungkin belum terbiasa Dara, sering-sering ikut aja" Timpal Mike yang juga duduk tak jauh dari pasutri tersebut.


"Iya" Sahut Dara ramah. "Musiknya juga terasa kurang pas di telinga, terlalu rame"


"Ya itulah namanya musik ber-genre rock sayang" Nathan mengusap gemas puncak kepala Dara.


Terdengar samar-samar suara riuh dari luar ruangan, Nathan menebak mungkin itu adalah para penggemar dari salah satu bintang tamu yang ada disana. Tak lama setelah itu, gerombolan yang lebih banyak perempuan ketimbang lelaki masuk satu per satu secara berurutan. Dan yang mereka cari ternyata adalah Nathan.


"Kak Nathan! Tolong tanda tangani kaos ku ya!" Ucap salah seorang gadis, kira-kira berumur di bawah dua puluh tahun. Dia menyodorkan kaos yang dikenakannya, beserta spidol ke tangan Nathan. Pria itu langsung memenuhi permintaan fans nya tersebut dengan membubuhkan tanda tangannya.


"Aaakk.. Terimakasih kak!" Gadis itu amat gembira ketika berhasil mendapat oretan dari Nathan.


"Kak.. Minta foto boleh ya!"


"Aku juga mau dong tanda tangan kakak di albumku"


Nathan tampak kewalahan melayani serbuan gadis-gadis dan beberapa remaja lelaki lainnya. Kepopuleran memang kadang melelahkan, tapi sebanding dengan benefit yang di dapat.


Dara di sebelahnya hanya bisa memandang takjub ketika baru sadar bahwa suaminya memiliki banyak sekali penggemar. Dia teringat, dulu pria itu pernah menuduhnya, bahwa ia mau menerima perjodohan karena sudah mengetahui siapa dirinya.


Tak aneh, jika memang seperti ini kenyataannya. Bahwa dia adalah seorang pria populer yang di gandrungi banyak orang.


"Kakak cantik ini siapa ya?" Tanya salah seorang gadis menunjuk pada Dara yang masih duduk di tempat nya tanpa bergeser. Wanita itu terperanjat, namun belum membuka mulut untuk menjelaskan siapa dirinya.


Nathan menyadari itu, usai ber swafoto dengan salah satu remaja lelaki, ia langsung mengambil alih dengan menjawab pertanyaan gadis tersebut.


"Oh iya, sampai lupa memperkenalkan dia" Pria itu meraih lengan Dara dengan maksud mengajak sang istri untuk berdiri dan mensejajari nya.


"Wanita cantik yang sedang hamil ini, adalah istriku" Ucap Nathan dengan sangat yakin memperkenalkan Dara, ia merangkul wanita itu bahkan begitu mesra.


Fakta yang baru di beberkan sontak membuat hampir semua yang ada di sana terkejut. Beberapa dari gadis itu menunjukkan gurat penuh ketidakpercayaan di wajahnya. Sementara sebagian lagi nampak tak terlalu terguncang.


"Istri?"


"Jadi rumor itu benar kak? Tentang kak Nathan yang diam-diam sudah menikah?"


"Ya" Sambar Nathan. "Bukan cuma sekadar rumor, atau gossip belaka. Aku memang sudah menikah, dan sebentar lagi anakku akan lahir"


"Wah.. Nggak nyangka" Ucap salah seorang remaja lelaki.


"Huhu.. Kak Nathan tega sekali, mematahkan hatiku" Sedangkan salah satu gadis menangis tersedu, dan kawannya dengan setia merangkul serta menguatkan hatinya.


"Selamat ya kak.. Ini adalah kabar yang mengejutkan sekaligus menggembirakan! Kalian berdua memang cocok, walau kak Nathan sudah menikah, nggak akan merubah apapun! Kami tetap mengidolakan kakak" Kata seorang gadis yang sepertinya adalah pimpinan kelompok fans club. Dia mengucapkan kalimat dengan lantang penuh keyakinan.


Nathan merasa lega, saat mengetahui para penggemarnya begitu welcome dengan kehadiran Dara, dan status sebagai istri yang di sandangnya. Ketakutan yang dulu pernah membayanginya, kini setidaknya takkan jadi kenyataan.


Mereka mungkin baru sebagian kecil dari club penggemarnya. Masih ada banyak lagi yang lainnya. Namun jika ternyata mereka kecewa dan memilih untuk meninggalkannya, kini Nathan benar-benar tidak peduli. Karena hanya Dara yang penting di hidupnya.


...***...


Malam hari yang cerah bertabur bintang datang terasa lebih cepat dari biasanya. Nathan dan Dara sedang menempuh perjalanan menuju rumah bunda yang memakan waktu kurang lebih empat puluh menit dari Bandung kota.


Seharian berada di luar apartment membuat Dara kelelahan, dengan membawa perut yang membesar tenaga nya sungguh sangat mudah terkuras habis. Dia menyandarkan punggung di jok mobil, dengan seat belt yang melintang di bagian depan tubuhnya.


Sesekali mereka saling mengobrol, hening beberapa menit, kemudian berbincang lagi membahas topik apapun yang lewat dalam pikiran masing-masing.


Ketika jarak tempuh sudah kira-kira hanya berjarak dua ratus meter lagi, Dara malah tertidur dengan pulasnya hanya dalam hitungan detik. Mirip seseorang yang baru saja dibius. Nathan memandangnya sambil terkekeh, tingkah Dara yang satu ini memang jadi salah satu hiburannya. Melihat betapa cepatnya dia tidur lelap bahkan dalam posisi duduk di jok mobil. Benar-benar *****.


Mobil Jeep itu berhenti tepat di halaman sebuah rumah. Mereka telah sampai di tempat tinggal bunda. Nathan mematikan mesin mobilnya, dan Dara masih nampak begitu nyenyak. Mungkin sedang dibuai mimpi indah di alam sana.


Jemari panjang dan putih nya membelai lembut puncak kepala istrinya. Mencoba untuk membangunkannya perlahan.


"Sayang, kita sudah sampai. Apa kamu ingin tidur di mobil?"


Tak ada jawaban. Dara tidak terganggu sedikitpun.


Pria itu mencoba lagi dengan mengecup keningnya, barangkali Dara akan bisa mencapai kesadarannya karena kaget.


"Sayang.."


Beberapa menit berlalu, dan semua yang dilakukan sia-sia. Dara tak menunjukkan tanda akan bangun dari tidurnya. Justru ia tampak makin nyenyak. Nathan menggeleng dengan segenap rasa takjubnya.


Pada akhirnya pria itu turun lebih dulu, membuka pintu tempat Dara duduk, membuka seat belt nya perlahan lalu menggendong nya keluar dari mobil. Karena jika tidak, mungkin mereka akan tidur di mobil malam ini.


Nathan merasakan tubuh Dara yang cukup berat, mungkin karena ditambah beban bayi yang di kandungnya. Sembari berjalan memasuki rumah dia berpikir jahil, akankah Dara marah jika nanti ia mengatakan bahwa tubuhnya terasa sedemikian berat?


Karena kebanyakan wanita akan jengkel jika dibilang gemuk, berat dan bulat.


"Huuffhh..." Nathan membaringkan Dara di atas ranjang dalam kamar lamanya. Saat ia mengetuk pintu beberapa kali, bunda yang sudah mengetahui rencananya untuk menginap dirumah nya langsung bersiap, bahkan menunggu hingga anak dan menantu nya sampai.


"Nath, biarkan Dara istirahat. Dia pasti sangat lelah" Ucap bunda dengan suara yang dibuat sekecil mungkin. Khawatir akan membangunkan menantu kesayangannya jika terlalu keras.


Nathan menuruti ucapan bunda dengan patuh. Ia mengurungkan niat untuk sekali lagi membangunkan Dara, dan membiarkan ibu hamil tersebut meneruskan mimpi indahnya sementara ia keluar dari kamar, hendak berbincang sedikit dengan bunda yang juga dirindukan nya.


...***...


Dara bangun dari tidurnya sekitar pukul tujuh pagi. Mendapati dirinya sedang berbaring miring berhadapan dengan Nathan yang masih terlelap. Lengan kiri pria itu digunakan untuk menyangga kepalanya, sedangkan lengan yang satunya mendarat di area pinggulnya.


Dia bahkan tak tahu bagaimana bisa berada dalam posisi ini, dan kamar siapa yang di tempati sekarang. Dara hanya ingat semalam ia masih dalam perjalanan menuju rumah bunda, duduk manis di mobil sambil mengobrol dengan Nathan sepanjang jalan.


Perlahan ia merenggangkan pelukan Nathan di tubuhnya. Mengangkat dan menyingsingkan lengan panjang itu, meletakkan kembali di atas ranjang dengan hati-hati. Kemudian bangkit dan duduk tegak sembari merapikan sedikit rambut panjangnya yang berantakan.


Dara memperhatikan keadaan sekitar. Kamar itu bernuansa ghotic dengan pemilihan warna cat abu-abu dan beberapa poster menempel di permukaan dinding. Ada sebuah rak berisi buku-buku yang berderetan di setiap tingkatnya.


Pada bagian atasnya diletakkan beberapa pajangan berupa miniatur gitar, piala penghargaan dan satu frame dengan foto seseorang didalamnya. Dara tak dapat melihat dengan jelas siapa karena ia melihatnya dari kejauhan.


Lemari pakaian berukuran cukup besar terletak tepat di depan ranjang, dan disampingnya berdiri sebuah gitar akustik. Jika dilihat dari furniture yang terkesan maskulin, dapat dipastikan ini adalah kamar milik Nathan.


Dara beranjak dari ranjang, berjalan perlahan mengamati kamar tersebut. Dia juga penasaran dengan foto di atas rak buku yang menyita perhatiannya.


"Apa ini Nathan?" Matanya terfokus pada seorang anak kecil dalam gendongan lelaki bertubuh tinggi agak besar. Dari perawakannya nampak jelas dia adalah keturunan orang barat. Di sampingnya juga berdiri satu orang anak lelaki berumur sekitar lima tahunan.


Dara langsung mengenali bocah itu, wajahnya tak banyak berubah. Dia, pasti adalah Keenan. Dan lelaki dewasa itu, Dara menduga ialah papa mertuanya yang telah berpulang.