An Angel From Her

An Angel From Her
51# Cemburu?



"Dimanapun, dalam keadaan apapun, apa yang tercipta dari tangannya selalu terasa sempurna" Batin Nathan sembari melahap sandwich dalam genggamannya. Ia duduk bersebrangan dengan Dara yang nampak canggung.


Sebelumnya, Dara memang hendak sarapan setelah Nathan menyelesaikan makanannya. Tapi kali ini, Nathan meminta dirinya untuk ikut makan bersama dalam satu meja. Hal itu tentu membuat Dara bingung akan mood pria itu.


Di satu waktu, dia bersikap begitu ketus, cuek serta acuh padanya. Tapi tak lama berselang, Nathan kembali seperti orang yang peduli dan begitu perhatian dengannya. Entahlah, tapi yang pasti, Nathan agaknya memiliki kepribadian yang sulit di tebak.


"Selamat pagi.." Ucap seseorang yang baru datang dan langsung membaur dengan Nathan dan Dara di ruang makan.


"Pagi mas.." Jawab Nathan.


"Sarapan yuk mas.." Ajak Dara pada Vincent.


"Terimakasih kak.. Kebetulan saya sudah sarapan" Balas Vincent.


Dara menjawab dengan senyumannya.


"Maaf ya kak saya baru sempat menyediakan beberapa bahan makanan saja. Pasti banyak yang kurang ya?"


"Nggak mas. Terimakasih, ini sudah cukup" Jawab Dara.


"Syukurlah. Tapi nanti pasti akan saya tambah lagi kok. Oh iya, by the way kak Nathan dan kak Dara ingin pergi kemana? Saya akan antar kemanapun tujuannya"


"Ada.. Tempat wisata apa saja sih disini, mas?" Tanya Dara.


"Wah, ada banyak sekali kak.. Kita bisa ke pantai, ada water Sport seperti snorkeling, surfing.."


"Snorkeling boleh tuh.." Celetuk Nathan.


"Smart choice! Oke, hari ini kita snorkeling ya. Saya akan bawa kakak ke tempat snorkeling paling ciamiik.. Dijamin nagih"


"Ss-snorkeling itu.. Apa?" Tanya Dara polos.


"Ehmm.. Biar saya jelaskan ya kak. Snorkeling adalah kegiatan berenang dengan tubuh masih berada di permukaan laut, sementara kepala kita masuk ke dalam air untuk melihat pemandangan bawah laut yang sangat cantik.."


Dara terbelalak mendengar penjelasan Vincent. Sepanjang hidupnya, hingga hari ini dirinya memang tak pernah melakukan hal macam itu. Apalagi setelah kejadian tadi malam, mendengar kata laut saja membuatnya bergidik.


"Apa itu sama dengan menyelam?" Pertanyaan Dara terdengar takut, tapi penasaran.


"Ya.. Bisa dibilang begitu kak. Hanya saja bisa dilakukan tanpa harus masuk terlalu dalam"


"Nanti.. Bagaimana bernapas nya? Saya nggak kuat kalau harus tahan napas lama-lama"


"Kakak tenang saja. Para snorkeler, dibekali dengan masker menyelam, juga tabung oksigen kecil. Jadi kakak nggak perlu khawatir akan kehabisan napas" Jawab Vincent ramah.


"Tapi.. Tapi saya nggak bisa berenang"


"Kamu kan bisa tunggu di tepi pantai. Nggak perlu ikut kalau memang takut. Aku tahu kamu pasti takut" Serobot Nathan. Dara mengiyakan kata-kata itu dalam hati.


"Iya betul kak. Nanti kakak bisa tunggu kak Nathan di pantai. Akan saya temani" Ucap Vincent.


"Oke, jadi hari ini snorkeling ya. Tunggu sebentar disini, saya akan siap-siap" Tutur Nathan sembari menyelesaikan suapan terakhirnya, kemudian beranjak dari kursi dan melangkahkan kaki menuju kamar.


Sementara Dara baru menghabiskan setengah dari roti sandwich di depannya. Dan sekarang, ia merasa perutnya sudah cukup terisi.


...***...


Nathan, Dara beserta Vincent sampai di lokasi snorkeling yang dituju ketika hari mulai siang. Beruntung matahari siang ini tak begitu menyengat, sehingga Nathan akan dapat menikmati penyelaman dengan baik.


Sang instruktur yang akan memandu Nathan ber-snorkeling menghampiri dan memberi perbekalan yang akan digunakan nanti. Sesekali Dara mengalihkan pandangannya dari laut dan ombak yang membuatnya ngeri. Masih belum hilang betul ingatannya soal kejadian malam tadi.


"Semua sudah siap. Ayo" Ucap si instruktur pada Nathan.


"Hope you enjoy it kak" Ujar Vincent.


Nathan hendak melangkahkan kaki, tapi sedikit ragu. Ia menoleh pada Dara yang memusatkan arah matanya ke sembarang tempat, meski tak mencintai nya, ia merasa sedikit khawatir. Wanita ini, agaknya sedikit ceroboh dengan apa yang di lakukan.


"Kamu.. Yakin nggak mau ikut?" Tanya Nathan sambil meraih lengan sebelah kiri Dara.


"Hmm? Aku?" Dara bertanya balik, ia sedikit terkejut saat Nathan tiba-tiba menggenggam lengannya.


"A.. Aku.. Aku nggak apa-apa. Disini saja. Aku akan tunggu kamu disini. Bersenang-senanglah!" Ucapnya lagi.


Kedua bola mata cokelat Nathan menatap serius wajah Dara di depannya. Pria itu bahkan tak mengerti dengan perasaannya sendiri. Kalau tidak cinta, kenapa harus khawatir dan merasa tak tenang? Batinnya.


"Oke.." Nathan melepaskan genggamannya dan berlalu dari Dara.


Ia masih berdiri di tempatnya, sembari memandangi Nathan yang perlahan menjauh dengan sebuah speed boat yang ditumpanginya. Dara terkesima dengan sentuhan Nathan barusan.


Lewat tangan yang bersentuhan, Dara bagai dapat merasakan apa yang Nathan rasakan tadi. Tatapan matanya yang begitu dalam juga seakan ingin memberi tahu Dara apa yang ada di isi kepalanya.


"Kak Dara.." Panggil Vincent.


Dara tak menyahut sepatah katapun. Ia masih hanyut dalam lamunannya tentang Nathan. Pria itu dan segenap pesona yang di milikinya perlahan membuat dia jatuh dalam cinta, yang mungkin saja akan bertepuk sebelah tangan.


"Kak.. Kak Dara?" Panggil Vincent sekali lagi.


Dara mengerjap.


"Eh? Iya mas Vincent.. Maaf, tadi saya.."


"Lagi mikirin kak Nathan ya? Hi..hi.." Goda Vincent.


Kedua pipi Dara seketika merah padam.


"Ayo kak.. Kita cari tempat duduk-duduk dan membeli minuman.." Ajak Vincent.


Dara mengangguk dan mengikuti Vincent yang melangkah lebih dulu di depannya.


"Ehm.. Mas.. Boleh saya tanya?"


"Boleh, mau tanya apa?"


Dara mengambil napas sejenak sembari menyiapkan pertanyaannya dan men-sejajari posisinya dengan Vincent.


"Mas Vincent, tahu saya ini.. Istrinya Nathan?" Tanya Dara ragu-ragu.


"Tahu.."


"Darimana?"


"Saya kenal dekat dengan tante Erina.. Hari itu, beliau tiba-tiba telepon dan minta saya menemani kak Nathan beserta istrinya berlibur disini. Tadinya saya kaget, karena sama sekali nggak tahu kalau kak Nathan sudah menikah. Beritanya pun nggak ada di media manapun.. Tapi setelah tante Erina cerita tentang semuanya, saya merasa sudah dapat jawaban atas semua pertanyaan saya" Jelas Vincent panjang lebar.


"Oh, begitu.." Respon Dara.


"Kak Dara ini cantik lho. Kenapa kak Nathan nikahin kakak sembunyi-sembunyi ya"


Dara diam sejenak.


"Nggak apa-apa kok mas.."


Vincent menggaruk-garuk kepalanya meski tak merasa gatal sama sekali. Ia melakukan itu hanya untuk menghilangkan rasa canggungnya.


"Kita ke cafe yang disana yuk kak.. Ada bean bag nya untuk duduk-duduk dan tempat untuk pesan makanan serta minuman" Ajak Vincent.


Dara menyahut dengan anggukan dan segaris senyum manis yang memperlihatkan kedua lesung pipinya.


.


.


.


Hampir dua jam Dara menunggu, Nathan belum juga nampak batang hidungnya. Sepertinya dia begitu menikmati aktifitas menyelamnya. Memang sekali-sekali, seseorang perlu meluangkan waktu di tengah kesibukan untuk sekedar me-recharge mood dan pikiran.


Semilir angin di pantai membuat Dara sedikit mengantuk. Menunggu memang salah satu hal paling membosankan. Sudah banyak topik yang Dara dan Vincent bahas selagi menunggu Nathan. Minuman yang mereka pesan juga telah habis.


"Emm.. Kak Dara.." Panggil Vincent pada Dara yang duduk dengan beralaskan bean bag di sebelahnya.


"Iya mas?" Sahut Dara sembari mengedip-ngedipkan matanya, berusaha menghilangkan rasa kantuk yang menyerang. Sangat tidak mungkin tertidur di area seperti ini.


"Maaf, saya izin ke toilet sebentar ya. Kebelet ini.." Ucap Vincent.


"Oh.. Iya mas, silahkan"


Usai mendapat izin dari Dara pria yang memiliki tinggi badan tak berbeda jauh darinya itu langsung lari tunggang langgang. Tampak jelas sekali dia telah menahan gejolak dalam perutnya sedari tadi.


Dara mengecek ponsel yang diselipkan dalam tas kecil bertali panjang yang di bawanya. Ia hendak melihat sudah pukul berapa siang ini.


"Hooaamm... Ngantuk banget ya" Gumam Dara sambil menguap dan menutup mulut dengan salah satu punggung tangannya.


"Ehm.. Excuse me?" Ucap seseorang yang logatnya terdengar seperti orang barat.


Dara menoleh ke arah sumber suara itu. Seorang pria yang di duga turis asing berdiri tepat di sebelahnya. Perawakannya hampir mirip dengan Nathan yang notabene juga keturunan seorang warga Amerika Serikat. Ada keperluan apa turis ini mendatanginya? Pertanyaan itu terlintas di kepala Dara.


"May I join here?" Ucap pria itu.


Dara tak menjawab, ia hanya tersenyum dengan tatapan bingung.


"Oh, i'm sorry. Kita bicara dengan bahasa saja ya?" Ucap pria itu lagi dengan logat yang berantakan. Ia duduk di bean bag yang sebelumnya di tempati Vincent.


"Perkenalkan, my name is Michael.. And, siapa nama kamu?"


Michael menjulurkan tangannya dengan maksud ingin bersalaman dengan Dara.


"Saya Dara" Jawab Dara sopan. Ia tak menyambut tangan Michael.


Menyadari hal tersebut, Michael langsung menurunkan tangannya kembali.


"Kamu, apa cuma sendiri disini? Where's your friend?"


"Uhmm.." Dara tampak ragu menjawab pertanyaan pria asing di sebelahnya. Lebih tepatnya, dia merasa amat risih dengan kedatangan pria bule itu. Namun ia juga tak enak hati jika harus mengusirnya.


"I've just seen wanita secantik kamu disini. You are very beautiful" Ujar pria itu lagi.


Dara kian canggung. Ia ingin lari, tapi rasanya sangat tidak etis meninggalkan seseorang yang tengah mengajaknya bicara dengan ramah disana. Namun jika terus berada di samping Michael, dia pasti akan semakin gencar menggodanya.


"Ak-aku.."


"Dara.." Panggil Nathan yang tiba-tiba berada tepat di depannya. Perasaan Dara langsung lega, ia berterimakasih untuk yang kesekian kalinya pada Nathan karena telah datang di saat yang tepat.


"Oh, hey man! Are you her friend?" Michael berdiri dan menyapa Nathan di hadapannya.


"Her friend?" Sahut Nathan dengan wajah bingung.


"Yeah! She is prettiest women that i ever seen. I'm falling in love with her" Tutur Michael yang langsung membuat Nathan bereaksi.


"Oh, but I'm sorry.." Nathan maju dua langkah hingga hampir menyentuh wajah Michael.


"She is my wife.." Sambungnya.


Michael tercengang sepersekian detik mendengar ucapan lawan bicaranya itu. Dan tak menyangka, wanita yang di taksirnya ternyata sudah memiliki suami.


"Wife?"


"Uhumm.." Sahut Nathan.


Michael menatap Dara yang masih duduk di tempatnya tanpa berpindah satu centi pun. Sementara Dara hanya terdiam dengan wajah polosnya.


"Ah.. I'm sorry. I really sorry. I didn't know that.. Ahh.. Sorry man.. Forget it! Bye.." Dengan rasa malu yang teramat sangat Michael cepat-cepat berlalu dari hadapan pasutri tersebut.


"Bisa-bisanya jatuh cinta sama istri orang" Gerutu Nathan yang merasa kesal.


"Kamu sudah selesai Nath?" Tanya Dara.


"Kamu kenapa sendirian disini?" Nathan bertanya balik, ia tak berminat menjawab pertanyaan Dara barusan.


"Tadi aku sama mas Vincent, tapi dia izin ke toilet"


"Trus gimana ceritanya bisa ada si turis itu disini? Ngobrol berdua pula sama kamu"


"Aku nggak ngobrol banyak sama dia. Michael baru belum lama bergabung disini, dan.."


"Michael?" Potong Nathan.


Dara mengangguk ragu.


"Kamu bahkan kenalan sama dia?"


"Dia memperkenalkan namanya padaku. Maka dari itu aku tahu namanya"


"Kenapa kamu mau di ajak kenalan sama dia?"


Dara bungkam. Ia merasa harus diam karena Nathan tampak murka. Jika dia terus menjawab, maka hanya akan membuat keadaan semakin memanas.


"Kamu sudah punya 'bule'. Untuk apa cari 'bule' yang lain?!"


Usai mengucapkan kalimat terakhir, Nathan melangkahkan kakinya menjauh dari Dara. Raut mukanya cukup mengerikan, tak ada sedikitpun rona wajah ramah seperti biasanya. Dia berpapasan dengan Vincent yang baru selesai dari toilet.


Pria itu bahkan tak membalas sapaan Vincent di depannya. Ia hanya terus melangkah meninggalkan Dara yang masih termenung di atas bean bag dan sang guide yang kebingungan dengan situasi yang tak ia mengerti.


"Kenapa Nathan se marah itu? Apa dia.. Cemburu?" Batin Dara.