
Hari sudah hampir larut ketika Nathan keluar dari basecamp, dia nampak terburu-buru menghampiri mobilnya yang terparkir di halaman. Hari ini, ia mulai menelepon balik Monica, namun ada yang aneh. Wanita itu tak bisa dihubungi sama sekali.
Berulang kali berusaha, tapi tetap sama. Semestinya Monica akan selalu mengaktifkan ponselnya sepanjang hari. Dimana akan selalu mudah untuk mengetahui kabarnya. Nathan dipenuhi rasa penasaran. Jadi ia memutuskan untuk bergegas menemui sang kekasih ke rumahnya. Mungkin saja dia ada disana sekarang.
Pria itu memacu kendaraannya cukup kencang, berharap dapat segera bertemu dengan Monica yang dirindukannya. Ia ingin meminta maaf karena tak menghiraukan belasan panggilan telepon yang dilakukan Monica kemarin. Jika tahu akan seperti ini, dia takkan mengabaikannya. Nathan sungguh menyesal.
Tak butuh waktu lama, Nathan akhirnya sampai di depan rumah Monica. Ia memarkir mobil di depan gerbang, dan melenggang masuk tanpa permisi ke halaman. Matanya mengedar ke sekeliling halaman yang tak nampak mobil merah milik Monica disana. Mungkinkah ia sedang pergi?
Setelah beberapa kali menekan bel, bi Nah sang asisten datang tergopoh-gopoh membukakan pintu untuknya.
"Malam bi.." Salam Nathan.
"Eh, mas Nathan. Ada apa ya?"
"Maaf mengganggu. Monica nya ada bi?"
"Non Monica nya kerja mas"
"Kerja?" Ulang Nathan.
"Iya mas. Sudah berangkat dari sebelum maghrib tadi. Memangnya si non ndak bilang toh mas?"
Nathan merespon dengan isyarat senyum ramahnya.
"Yasudah kalau begitu. Saya pamit ya bi. Makasih.."
"Nggih mas, hati-hati.." Ucap bi Nah seraya menutup kembali pintu dengan rapat. Sementara Nathan tentu langsung menyusul ke klub malam tempat Monica bekerja secepat yang ia mampu.
.
.
.
Menempuh waktu 35 menit perjalanan, Nathan sampai di klub tujuannya. Tanpa aba-aba ia segera turun dari mobil dan masuk ke dalam mencari dia yang dicintainya. Dalam hati, Nathan sedikit takut Monica mendadak hilang lagi seperti waktu itu. Meski sadar rencananya untuk menikahi wanita itu mungkin saja takkan berjalan mulus, namun ia tetap tak siap jika harus kehilangan Monica untuk yang kedua kalinya.
Wajahnya yang populer langsung dikenali banyak orang di dalam sana. Sambil sesekali menyapa beberapa orang yang memanggil namanya Nathan terus mengedarkan matanya ke berbagai arah. Nampak dari kejauhan DJ yang tengah memainkan musik bukanlah Monica.
Dia berjalan menuju bar, dan merasa baru saja mendapat angin segar tatkala raut wajah yang tertangkap sorot matanya adalah sosok yang dicari. Monica tengah duduk di bar bersama dua orang temannya. Entah siapa, Nathan tak mengenalinya. Wanita itu nampak sumringah sambil sesekali meneguk wine di tangannya.
Salah satu teman dari Monica memberi isyarat atas kedatangan Nathan. Pria itu berhenti tepat di sebelah Monica duduk, tapi dia nampak acuh.
"Hai Nath.." Sapa teman Monica.
"Hei.." Balas Nathan ramah.
"Yasudah, kita kesana dulu ya Mon.. See ya!"
"Oke.." Sahut Monica dengan malas sembari meneguk wine lagi.
"Hei.." Ucap Nathan.
Monica menjawab dengan senyumnya.
"Kamu.. Kemana saja? Aku hubungi dari pagi kenapa nggak aktif?"
"Oh.. Itu, ponsel ku rusak"
"Kok bisa?"
"Iyaa.. Jatuh, trus yaudah mati begitu aja"
Nathan duduk bergabung di kursi sebelah Monica yang raut wajahnya tampak dingin. Ya, sudah pasti dia marah karena kemarin ia tak sama sekali menjawab panggilan telepon darinya. Wanita mana yang akan merasa baik-baik saja ketika diabaikan kekasihnya? Mungkin ada, tapi perbandingannya hanya 1:1000.
"Nggak apa-apa kok" Potong Monica. Wanita itu meneguk wine hingga gelasnya kosong. Lalu memberi isyarat pada bartender untuk menambahkan lagi isinya. "Aku ngerti.." Sambungnya.
"Kamu.."
"Nggak, aku nggak marah. Seriously" Segaris senyum lebar tersungging di bibir seksinya, berusaha menutupi emosi yang sejujurnya ingin ditumpahkan pada Nathan yang terlihat begitu innocent.
"Oke.."
"Kamu nggak minum?" Tanya Monica.
Nathan menjawab dengan isyarat gelengan kepala.
"Sudah selesai perform?"
"Uhumm.." Sahut Monica sekenanya.
"Mau pulang? Aku antar ya" Tawar Nathan yang tengah berusaha mengambil hati Monica kembali.
"Boleh. Yuk"
Monica meninggalkan bar, melenggang pergi duluan dan Nathan menyusul di belakangnya. Wanita itu berjalan melenggak-lenggokkan tubuh eloknya di depan Nathan menuju area parkir tempat mobil jeep milik kekasihnya berada.
Nathan membukakan pintu mobil untuk Monica, mempersilahkan ratunya masuk. Dia menempati kursi di sebelah kursi yang Nathan tempati. Sejujurnya, berada dalam situasi seperti ini membuat Nathan amat canggung. Ia tak dapat merasakan perasaan yang selalu dirasakannya ketika sedang bersama Monica.
Wanita itu banyak diam, dan sepanjang perjalanan menuju rumah mereka hanya beberapa kali bertukar kata. Nathan melirik Monica yang lebih asyik memandangi jalanan lewat kaca di sampingnya ketimbang ngobrol dengannya.
...***...
Mobil jeep warna silver metallic yang dikendarai Nathan sampai di depan gerbang rumah Monica. Komplek perumahan itu juga nampak sudah sepi, tak banyak kendaraan yang berlalu lalang. Monica turun dan menutup sendiri pintu mobil, lalu membuka gerbang rumahnya.
Nathan turut serta masuk ke dalam, mengikuti Monica yang berjalan perlahan di depannya.
"Sayang.." Ucap Nathan yang langsung menyambar tubuh Monica dan memeluknya dari belakang. Ia juga menghadiahi kecupan mesra di salah satu bahunya.
"Aku rindu sekali" Ungkapnya yang tak dapat balasan.
Monica diam sembari mengatur napasnya dengan teratur. Ia mulai jengkel pada Nathan yang belum juga mau membicarakan soal kehamilan Dara. Bagaimana kejadiannya, apa motifnya sampai bisa-bisa nya menghamili wanita itu padahal juga sudah berjanji akan menceraikannya. Monica butuh klarifikasi, tapi tentu tak ingin to the point menyampaikannya pada Nathan. Dia hanya menunggu kesadaran dari Nathan sendiri.
Pelukan Nathan makin erat dan terus menghujani Monica dengan ciuman yang mulai panas. Sementara sang kekasih kian pasif. Monica sudah paham arah keinginan Nathan jika dilihat dari gelagatnya, namun tentu ia tak ingin memuaskan pria itu.
"Uhm.. Honey, sorry.. Aku lagi nggak mood" Monica melepaskan perlahan kedua lengan Nathan yang menjeratnya dengan pelukan menyebalkan. Ia berbalik arah, menatap kedua mata Nathan yang agaknya memiliki isyarat pertanyaan untuknya.
"Kamu pasti marah sama aku. Ya kan?" Tembak Nathan.
"Aku sudah bilang. Aku nggak marah. Come on, itu hanya masalah sepele"
"But.. Why?"
"Aku lelah Nath. Entah kenapa hari ini lelah sekali. I'm sorry.. Ya? Maybe next time.."
Nathan mendengus jengkel dengan alasan Monica yang terkesan dibuat-buat. Tapi ia tak punya kuasa untuk memaksa Monica melakukan hal yang sedang diinginkannya. Dia harus mau mengerti dan pura-pura menerima penolakannya.
"Aku istirahat dulu ya. Makasih udah antar aku pulang. Kamu hati-hati di jalan ya.. Maaf, nggak bisa antar sampai depan. Tutup saja gerbangnya, nanti biar bi Nah yang kunci"
Usai menyampaikan pesannya Monica langsung meninggalkan Nathan yang masih berdiri di tempatnya. Tak ada kecupan perpisahan, tak ada pesan manis yang disampaikannya. Dia juga tak mengantar Nathan sampai ke depan seperti biasa. Semua hilang, apa yang menjadi kebiasaan Monica mendadak hilang malam itu.
Nathan tak percaya dengan kata-kata Monica yang bilang bahwa tak ada kemarahan di hatinya. Semua perlakuannya sudah sangat jelas menggambarkan betapa dia telah kecewa. Meski benar adanya bahwa itu hanyalah hal sepele, tapi di sisi lain Monica juga sangat wajar jika bereaksi seperti sekarang.
Dia menyesal, dengan apa yang telah dilakukan. Menyesal karena mungkin telah melukai perasaan Monica lagi. Nathan pulang dengan tangan hampa, menyisakan sesak di dada.