An Angel From Her

An Angel From Her
61# Party



"Cheers.. Ha.. Ha.. Ha.."


"Mantaapp..."


"Ambilin lagi Nic!"


Mike dan Adly hanya diam terpaku di sofa tempat mereka duduk, menyaksikan Nathan dan Nico yang terus meracau karena sudah mabuk berat dengan minuman beralkohol yang telah ditenggaknya hampir tiga botol. Begitupula Regy yang juga nampak teler setelah di cekoki oleh dua pria sinting itu.


Suasana club malam begitu ramai di sesaki banyak pengunjung. Kebetulan malam itu juga hadir seorang DJ internasional yang cukup terkenal mengisi acara disana. Beruntung sebelumnya Regy telah memesan ruangan VIP itu terlebih dahulu, lengkap dengan dua orang wanita penghiburnya. Karena bukan tidak mungkin mereka takkan kebagian tempat jika kalah cepat.


Mike sesekali mengusap wajahnya, ia merasa gerah dengan tingkah kawannya itu. Dia bahkan juga menolak minuman yang di sodorkan salah satu wanita yang duduk tak jauh darinya tersebut. Sudah cukup lama Mike memang berkomitmen untuk tidak akan minum sampai mabuk lagi.


Pria itu mampu menjaga komitmen dengan baik, lain halnya dengan sang manager yang justru termakan ucapannya sendiri. Dia melarang anak-anak asuhnya mabuk, tapi yang ada sekarang hanya dirinya yang sudah tak mampu lagi untuk bangun karena terlalu banyak minum.


"Orang gila semua" Ucap Mike.


"Biarin lah Mike, mungkin dengan begini mereka senang" Ujar Adly sambil meneguk cocktail di tangannya.


"Lo nggak mau ikutan ly?"


"Nggak ah. Udah nggak minat"


"Baguslah" Sahut Mike lega.


"Nic.. Ayo Nic.."


Tiba-tiba Nathan beranjak dari tempat duduknya. Sembari memberikan isyarat pada Nico agar ia mengikuti ajakannya. Wajah Nathan merah padam, eyeliner hitam yang membingkai garis matanya tampak luntur. Sedikit mengotori bagian bawahnya. Tampilan pria blasteran itu berantakan.


"Heh.. Mau kemana lo" Panggil Mike.


"Ayo Mike kita kebawah lah.. Boring disini" Ucap Nathan sambil menenggak minumannya lagi.


"Nggak usah lah Nath! Lo mabuk begitu"


"Gue nggak mabuk Mike. Lo yang mabuk. Haahh.." Celoteh Nathan dengan sorot matanya yang beler.


"Ayo Nath. Kalau si Mike nggak mau sama gue aja" Ajak Nico sembari merangkul Nathan dan menggiring pria itu berjalan keluar dari ruangan.


"Eh, Nic!"


"Mike.. Udahlah.." Cegah Adly.


"Gue cuma nggak mau ada keributan ly.. Lo kan tahu sendiri si Nathan kalau mabuk kayak apa. Suka rusuh"


"Ya biarin aja. Mereka udah pada dewasa, nggak perlu di suruh begini begitu. Kalau nanti beneran rusuh baru kita bawa keluar" Usul Adly yang tentu tak semudah itu disetujui Mike.


"Huft.."


"Santaii.. Ya nggak, cantik?" Ucap Adly sambil mengerlingkan matanya pada salah satu wanita di sebelahnya. Sementara Mike semakin gusar kala melihat Regy yang hanya tidur nyenyak tanpa mengetahui tingkah sinting dua orang anak asuhnya itu.


...***...


"Wohoooo..." Teriak Nathan di tengah kerumunan orang-orang yang sedang asyik menari, berjoget dan bersenang-senang menikmati alunan musik yang di bawakan DJ. Ia sudah tak menghiraukan apa-apa lagi saat ini. Bahkan janjinya dengan Monica pun dapat dengan mudah dilupakan.


Tubuhnya terasa rileks dan ringan, seakan tak ada lagi beban di pundaknya. Tangannya diangkat tinggi-tinggi, kedua kakinya di sentak-sentakkan senada dengan musik yang kian nikmat dibawakan oleh tangan terampil DJ itu.


Jika diingat-ingat memang sudah cukup lama Nathan tak datang ke club malam seperti ini, karena kesibukannya di black romance yang cukup padat. Dan sekarang adalah waktu yang sangat tepat untuk melepaskan penatnya, serta melupakan sejenak perdebatan dalam hatinya tentang siapa--yang sebenarnya--ia cintai.


BRUKKK...


Tubuh Nathan terhempas ke depan cukup keras akibat sebuah dorongan yang dilayangkan seseorang padanya. Ia mengerjap, berusaha membangunkan tubuhnya sendiri tanpa bantuan.


"Nath.. Lo kenapa?" Tanya Nico yang langsung membantu Nathan bangkit.


"B*ngs*t!" Umpat nya. Ia melepas pegangan Nico dan segera membalas apa yang dilakukan orang tadi padanya dengan mendorong kuat-kuat tubuh orang tersebut.


"B*j*ng*n!!" Balas orang asing itu. Ia melayangkan tinju tepat di wajah Nathan. Untuk yang kedua kalinya Nathan tersungkur ke lantai, diliputi dengan darah segar mengalir dari bibirnya yang luka.


Seperti apa yang dibilang Mike, ketika mabuk Nathan seringkali membuat keributan. Akal sehatnya seakan hilang, ia bukan lagi Nathan yang ramah. Tentu dia akan membalas apa yang dilakukan orang itu padanya. Sekuat tenaga ia bangkit kembali dan menubruk orang tadi.


Tak mau kalah, orang asing tersebut meninju wajah Nathan lagi. Sekali, dua kali, hingga tiga kali sampai Nathan tak punya kesempatan lagi untuk melawan. Dia terkapar, dan kondisinya dimanfaatkan oleh lawannya untuk lebih leluasa menghabisi Nathan yang tak berdaya.


Nathan di bawahnya, dan tinjuan itu terus menghujani wajah pria itu tanpa ampun. Semua bagian wajahnya tak luput dari hantaman kepalan tangannya.


"Rasakan ini! Mati kau gitaris murahan! Sialan!" Hardik orang itu.


Menyaksikan kawannya yang tengah di hajar habis-habisan tentu menggerakkan Nico untuk berusaha membantunya. Dia menarik kerah baju orang tersebut dan mendaratkan tinju tepat di hidungnya.


Nathan cepat-cepat memanfaatkan kesempatan dengan langsung menghajar balik lawannya ketika dia lengah. Memukuli wajah serta bagian perutnya terus menerus. Dia bagai mendapatkan seluruh tenaganya kembali. Perlawanan dari Nathan cukup melumpuhkan orang itu dalam sekejap.


"Nath! Nath! Cukup Nath!" Mike yang dari kejauhan menyadari bahwa ada keributan di bawah, segera menghampirinya. Ia sudah menduga bahwa Nathan lah penyebabnya. Dan ketika sampai disana, ia bersyukur jadi salah satu orang yang tak ikut terbawa mabuk.


Dengan sekuat tenaga dia melerai dan menarik tubuh Nathan yang masih terus memukuli lawannya yang hampir pingsan.


"Nath! Cukup!"


"Hah.. Hah.. Hahh.." Nafas Nathan tersengal-sengal. Mike dapat dengan jelas melihat wajahnya yang lebam, dan darah yang keluar dari hidung serta mulut.


"Ngapain sih ribut begini?! Gue kan sudah bilang nggak perlu kebawah!"


"Bukan gue yang mulai Mike"


"Gitaris murahan! Cuih.." Hardik lawan tarung Nathan yang sudah mampu berdiri tegap. Mike terbelalak dengan mulutnya yang menganga ketika menatap orang di depannya.


"Lo..?"


Usai melemparkan kalimat umpatan pada Nathan, orang itu langsung melenggang pergi dari hadapan Nathan, Mike dan Nico tanpa permisi.


"Itu..? Erick?" Gumam Mike sambil terus menatap orang tadi dari arah belakangnya. Wajahnya pucat, dengan tatapan mata yang seakan tak percaya pada apa yang baru saja dilihat. Sembari memegangi tubuh Nathan yang oleng, otaknya memutar ingatan tentang identitas pria tadi. Ia merasa mengenalnya.


"Uhukk.. Uhukk.." Nathan terbatuk beberapa kali usai melewati pertarungan dengan seseorang yang bahkan tak dikenalnya. Hal ini juga membantu menyadarkan Mike dari lamunannya.


"Nic, ayo bantu bawa Nathan. Kita balik sekarang" Perintah Mike pada Nico yang nampak masih bisa membantunya.


Semua mata di tujukan pada mereka yang tertatih membopong tubuh Nathan menuju area parkir mobil. Sudah pasti semua yang ada di sana mengenal siapa orang-orang yang baru saja membuat keributan itu. Dan Mike berani bersumpah sebentar lagi berita tentang malam ini akan tersebar di mana-mana.


Nathan, jika dia bukan sahabatnya, Mike sangat ingin menendang bokongnya sekuat mungkin untuk menyadarkannya bahwa ia baru saja membuat kekacauan yang bukan tidak mungkin akan kembali mencoreng nama band nya. Tapi jika itu hanya akan berimbas pada pribadi Nathan, ia sama sekali tak peduli.


Sekitar lima belas menit berlalu, mereka semua sudah berada dalam mobil, termasuk Regy yang mulai nampak sadar dari tidur panjangnya. Mike mengambil alih kendaraan, ia cepat-cepat memacu mobil. Meninggalkan area club malam, sebelum kabar ini sempat terdengar oleh telinga para wartawan yang haus berita.


"Mike.. Kenapa si Nathan?" Tanya Regy sembari mengucek mata beberapa kali.


"Adu jotos"


"Astaga.. Sama siapa? Duh.. Sakit banget kepala gue" Desis Regy. Ia berusaha menghilangkan nyeri di kepalanya dengan memijit-mijit bagian dahinya perlahan.


"Lo mau tau, siapa yang baru saja gue lihat?"


Regy menoleh tanpa jawaban, ia hanya memberi isyarat dengan anggukkan kepalanya.


"Erick"


"Apa?!" Ulang Regy yang nampak kaget.


"Erick, siapa?" Tanya Nathan yang duduk di jok belakang dengan intonasi yang terbata. Meski hampir pingsan, tapi rasa ingin tahunya masih saja besar.


"Mantan gitaris kita" Sahut Mike tanpa mengalihkan pandangan dari jalanan di depannya.


"Gitaris? Hahh.. Gitaris apaa"


Mike tak menjawab lebih lanjut, ia sadar Nathan hanya meracau karena pengaruh alkohol. Sesekali ia melirik kawannya lewat center mirror di depannya, nampak Nathan dengan wajah yang babak belur itu memejamkan matanya sembari meringis. Mungkin kesakitan.


Dia memikirkan bagaimana perasaan Dara jika nanti Nathan sampai di apartment dengan keadaan seperti ini. Wanita baik hati itu mungkin saja akan terpukul, menyaksikan suaminya pulang dalam keadaan mabuk dan wajah penuh luka lebam.


Mike sempat berencana untuk membawa Nathan pulang ke rumahnya, membantu membersihkan luka dan merapikan tampilannya terlebih dahulu, agar lelaki itu pulang dalam keadaan normal. Tapi nyatanya hal itu urung dilakukannya. Dia merasa tak perlu terlalu mencampuri urusan rumah tangga Nathan dan Dara. Dia juga tak punya hak untuk terlalu memperhitungkan perasaan Dara yang notabene bukan siapa-siapa baginya.


Dan pada akhirnya, mobil yang dikendarai Mike berhenti. Mereka telah sampai di depan lobby apartment tempat Nathan tinggal.