An Angel From Her

An Angel From Her
89# Toxic



Keenan keluar kamar lengkap dengan sebuah koper dan satu tas jinjing yang berukuran lumayan besar. Tidak butuh waktu lama baginya untuk membereskan semua barang-barang. Dia belum punya tujuan, belum tahu akan tinggal dimana.


Tidak apa pikirnya, yang penting pergi saja dulu dari apartment ini.


Ia juga sudah membersihkan wajahnya dari sisa darah yang menempel, dan mengobati beberapa luka. Yang tersisa hanya rona biru dan ungu pada bagian pipi.


"Pergilah! Dan jangan pernah menampakkan batang hidungmu disini!" Umpat Nathan ketika melihat Keenan yang hendak turun ke lantai satu membawa barang-barangnya. Dia juga baru keluar kamar, hendak memastikan apakah kakaknya sudah pergi atau masih diam di tempat.


"Gue nggak bisa bayangin, apakah bunda masih akan selalu membanggakan lo setelah mengetahui hal ini. Anak emasnya, melakukan pelecehan menjijikkan pada seorang wanita hamil. Parahnya lagi, dia adalah istri dari adiknya!" Sindir Nathan dengan nada yang terdengar bengis.


Keenan menghentikan langkah, berdiri gamang menoleh ke arahnya. Dia belum memijaki satu anak tangga pun.


"Kakak memang bersalah karena telah membiarkan perasaan ini tumbuh untuknya. Tapi satu-satunya yang memicu ini adalah dari sikap kamu sendiri Nath. Kamu selalu mengabaikannya, menyakitinya. Bahkan lebih memilih pergi dengan pacarmu itu!" Tembak Keenan, membungkam Nathan seketika.


"Tanpa membenarkan apa yang telah kakak perbuat, perasaan itu memang muncul dengan sendirinya. Kakak terlalu larut hingga lupa dengan posisi Dara disini. Dan ciuman itu, memang dilakukan dalam keadaan sadar sepenuhnya. Maafkan kakak, Nath. Atas semua kekacauan ini"


Nathan terus memandang Keenan tanpa belas kasih. Menyadari bahwa dia sudah sangat brutal memukulinya hingga meninggalkan jejak memar di wajahnya mulusnya.


"Dan.. perlu kamu tau Nath. Dara itu sangat mencintaimu. Dia yang paling terluka atas kejadian yang menimpamu kemarin, dan dia juga yang paling bersemangat untuk bantu kamu keluar dari penjara" Keenan tampak menghela napas.


"Pesan kakak cuma satu. Tolong jangan menyia-nyiakan dia lagi. Jangan sampai kamu menyesali perbuatanmu sendiri. Kakak pamit, jaga diri ya Nath.."


Senyum getir terpahat di bibir Keenan, sembari menarik koper menuruni tangga. Sedangkan Nathan masih terpaku di depan pintu kamarnya, dengan kedua tangan yang di silangkan di depan dada.


Meresapi kalimat Keenan barusan, tentang dia, Dara.


...***...


Beberapa hari berlalu setelah saling mengungkapkan cinta, hidup Dara berubah jadi lebih berwarna. Mereka tinggal hanya berdua sekarang, tentu masih dibantu mbak Asih yang akan pulang setelah Nathan sampai di apartment.


Nathan meminta mbak Asih menemani Dara hingga dia kembali, tak tega jika harus membiarkan istri nya yang tengah hamil itu sendirian di sana. Sebisa mungkin Nathan juga mengatur waktu agar bisa pulang lebih awal.


Jika dulu dia lebih senang menghabiskan waktu diluar, sekarang momen pulang ke apartment adalah yang paling di tunggu-tunggu. Selalu tak sabar bertemu dan memandangi wajah cantik Dara.


Jangan tanya bagaimana hubungannya dengan Monica. Dia sudah mengabaikan wanita itu berhari-hari. Tidak berminat lagi untuk menemuinya. Selain itu, Monica juga mendadak berhenti mengejarnya, Nathan tidak tahu pasti alasannya. Tapi yang jelas, dia merasakan bahwa cinta untuknya sudah mulai pudar.


Siang ini, Dara sedang asyik merajut, sambil duduk santai di atas sofa ruang keluarga. Dia membuat sebuah baju hangat untuk bayi. Dengan sabar dan telaten jemarinya menari-nari, membentuk pakaian dengan jarum jahit dan benang rajut di tangannya.


Fokusnya sedikit teralihkan kala mendengar suara bel yang di tekan seseorang dari luar. Pekerjaannya belum selesai, tapi dia harus membuka pintu nya.


"Mbak..?" Panggil Dara, mencoba meminta pertolongan mbak Asih untuk membantunya.


Tak ada jawaban.


"Mbak Asih?" Panggilnya sekali lagi. Tapi sampai beberapa detik kemudian mbak Asih tak juga muncul. Mungkin dia sedang sibuk di lantai dua dan tidak mendengar panggilannya.


Dara meletakkan sejenak peralatan merajutnya, bangkit dari sofa kemudian berjalan perlahan menuju pintu utama.


Cklek..


"Hai kak.. Selamat siang!"


Seseorang dengan pakaian seperti seragam berdiri di hadapannya. Membawa sebuah kotak persegi panjang di tangannya. Dia menyapa Dara dengan ramah, namun wajahnya tidak terlihat dengan jelas karena tertutup masker. Namun satu yang pasti, orang ini adalah wanita jika dilihat dari perawakannya.


"Selamat siang.." Sahut Dara.


"Dengan kak Dara?"


"Iya. Ada apa ya?"


Wanita itu menyodorkan kotak tersebut pada Dara.


"Ada kiriman brownies untuk kak Dara. Dari kak Nathan"


Dara mengulas senyum dan meraih kotak itu dengan sukarela.


"Begitu ya?" Dara tak bisa menyembunyikan rasa bahagianya. Wajahnya merona. "Sweet sekali" Batinnya.


"Kalau begitu saya permisi kak. Enjoy!"


Dara mengerjap, tiba-tiba seperti merasa tidak asing dengan suara wanita itu. Meski belum ingat pasti siapa orangnya. Namun beberapa detik kemudian ia memutuskan untuk mengabaikannya dan masuk ke dalam untuk segera mencicipi brownies kiriman suaminya.


Dara duduk kembali di tempatnya semula, senyumnya mekar tampak memesona. Perlakuan Nathan sungguh sangat manis. Dia mensyukuri setiap detik di dihidupnya bersama laki-laki itu.


Dengan semangat ia mulai membuka kotak pembungkus makanan favoritnya, dan tanpa ragu-ragu langsung mencicipi brownies yang nampak lezat.


"Mmmm... Enak!" Dara berdecak kagum atas kenikmatan rasa yang berada di mulutnya. Ia menyuap satu, dua, hingga tiga potong brownies itu bagai tak ingin menyia-nyiakan nya.


"Ehm.. Haus juga lama-lama"


Dara bangkit dari sofa, berjalan menuju dapur untuk mendapatkan segelas air mineral lantaran kerongkongannya yang mendadak kering. Langkahnya sedikit melambat, perutnya yang mulai membesar belakangan ini memang sedikit menghambat aktifitasnya.


Segarnya air mineral menghilangkan dahaga seketika. Sedikit teringat dengan pesan Keenan malam itu, Dara sudah mulai menambah volume air yang masuk ke tubuhnya. Semua dia lakukan demi menjaga calon buah hatinya dengan Nathan yang selalu di tunggu-tunggu kehadirannya.


Hari ini menjadi salah satu hari yang disukainya karena hadiah kejutan yang diberi Nathan. Untuk sebagian orang mungkin saja ini hal yang biasa, tapi untuknya, ini istimewa.


Dara baru akan menuju sofa lagi ketika merasakan perutnya yang mendadak kram.


"Ah.. Aww.. Kok.. Tiba-tiba begini ya" Dia memegangi perutnya yang mengalami kram secara bertahap. Ringan, sedang, lama kelamaan cukup kencang.


"Aah.. Aduh.. Huffh.. Huffh.."


Wanita itu mencoba berjalan perlahan, dia sangat ingin duduk barangkali bisa menghilangkan kram perutnya yang semakin intens.


"Huuffhh.. Huuffhh.." Napasnya terengah-engah menahan sakit yang makin menekan. Wajahnya memerah, dengan peluh yang mulai berjatuhan.


"Ya Allah non Dara.. Kenapa non?" Mbak Asih datang terburu-buru saat melihat Dara nampak kesakitan sambil sedikit membungkukkan badannya. Hal yang paling menyita perhatiannya karena Dara juga terus memegangi perutnya.


"Mbak Asih.. Perut saya sakit sekali mbak.."


"Aduh non.. Gimana ini, kita ke rumah sakit saja ya non.."


Dara menjawab usul mbak Asih dengan anggukan kepalanya. Mereka berjalan perlahan, Dara tidak sanggup lagi mengatasi rasa sakit yang mendadak menyerangnya.


"Mbak.. Apa ini yang namanya.. Kontraksi ya?"


.


.


.


.


.


.


.


Haiii... adakah yang kecarian? *geer 🤭


maafkan saya baru sempat update krn beberapa hari kemarin keadaan sedang tidak memungkinkan.


jangan lupa like, dukungan dan masukkan novel ini ke favorit kalian ya. Boleh komentar, kasih masukan, saran dan kritik yg sopan 🙏 saling menghargai itu baik kan 🤗


semoga harimu menyenangkan!


terimakasih krn sdh setia dengan karya saya 💕