
Selesai dengan antrean pengambilan vitamin yang di resepkan dokter kandungan, Dara beserta mbak Asih digiring Keenan masuk ke mobilnya. Sesuai dengan persetujuan Dara, mereka pulang bersama ke apartment. Keenan membukakan pintu mobil dan mempersilahkan Dara menduduki kursi di sampingnya.
Sepanjang jalan Keenan hampir tak mampu berkonsentrasi penuh dalam menyetir. Agaknya pilihan untuk menempatkan Dara di sebelahnya justru jadi petaka untuk batinnya yang terus berperang. Jantung nya berdegup kencang tak beraturan. Ia khawatir Dara akan mendengarnya jika dibiarkan terus menerus.
Keenan tak tahu pasti, dan tak ingin menyimpulkan bahwa rasa yang aneh ini adalah cinta. Berkali-kali logikanya meneriaki benaknya yang bebal, menegaskan bahwa Dara adalah adik iparnya. Bahkan sekarang dia sedang mengandung keponakannya.
Meski di samping itu, dia tak menampik bahwa Nathan sepertinya tidak mencintai Dara jika dilihat dari sikapnya yang dingin. Bahkan ketika Dara memerlukan kehadirannya di tengah sesi pemeriksaan kehamilan, Nathan tak juga sudi menyempatkan diri. Mungkin ada sedikit celah untuknya. Tapi, kakak mana yang tega merebut istri adiknya sendiri?
Pun kalau akhirnya mereka berpisah, apakah wanita bermartabat seperti Dara akan mau melanjutkan kisah yang terputus dengan orang yang masih terlibat hubungan darah dengan mantan nya? Seorang paman yang mendadak jadi ayah sambung untuk anaknya. Terdengar konyol, tapi Keenan amat menyukai Dara. Entah sudah berapa tinggi kadarnya, karena dia tak mencegah perasaan itu tumbuh dan mengakar tiap harinya.
Sikap manis Dara yang hanya memandangnya tak lebih dari seorang adik pada kakaknya, justru makin memupuk benih-benih di hati Keenan dengan subur. Membuat pria itu tidak memiliki kekuatan untuk membabat habis perasaan yang sudah jelas-jelas salah.
Keenan memutuskan untuk mengantar mbak Asih sampai rumahnya, karena memang urutannya adalah melewati rumah sang asisten terlebih dahulu. Baru setelah itu sampai di apartment.
"Dara.." Panggil Keenan setelah kembali memacu mobilnya.
Dara menoleh dengan raut angel face nya yang membuat nyali Keenan menciut. "Iya kak?" Suara lembut Dara seakan membelai lembut gendang telinga Keenan di sampingnya.
"Ehm.." Keenan berdehem pelan "Kakak dengar, pernikahan kamu dan Nathan itu dari hasil perjodohan ya?"
Dara mengangguk dengan senyumnya yang nampak tertahan.
"Kamu.. Kenapa bisa mau? Apa sebelumnya memang sempat mengenal Nathan?" Pertanyaan bernada interogasi meluncur sembarangan dari bibir Keenan tanpa jeda. Namun beberapa detik kemudian dia merasa bersalah sendiri karena kalimatnya barusan terdengar lancang untuk ukuran orang yang baru belum lama saling mengenal. Terlebih Dara juga tak langsung memberi jawabannya.
"Eh, maaf ya Dara kalau kakak lancang. Sebenarnya kakak hanya sedikit surprised dengan kabar pernikahan Nathan. Apalagi kakak ini kan berjauhan dengan keluarga, nggak banyak tahu tentang perkembangan mereka" Nada penyesalan terdengar jelas dari bibir Keenan. Saat ini, dia sangat ingin menjotos kepalanya sendiri.
"Nggak apa-apa kak. Hhmm.. Gimana ya, Dara cuma agak bingung aja jawabnya. Sedikit.. Rumit" Keenan dapat bernapas lega ketika mendengar pernyataan keluar dari bibir Dara.
"Iya Dara"
"Awalnya Dara bertemu bunda. Lalu kami menjalin silaturahmi dengan baik.. Dan tercetuslah ide bunda untuk menjodohkanku dengan Nathan" Ucap Dara, sementara Keenan memasang telinga baik-baik. Menyesapi kata demi kata yang diutarakan Dara dengan nada penuh keteraturan.
"Jujur, saat itu Dara juga kaget. Karena Dara dan bunda belum lama saling kenal. Setelah mempertimbangkan banyak hal, meminta restu dari ibu. Dara membiarkan semuanya berjalan apa adanya, se natural mungkin mengikuti arus yang ada. Hingga akhirnya sampailah kami, di gerbang pernikahan"
Keenan mengangguk perlahan dengan tanpa mengalihkan perhatian pada jalanan didepannya. Dia juga sesekali melirik ke arah Dara yang wajahnya berubah serius.
"Jadi, jika mungkin ada yang bilang Dara memanfaatkan Nathan yang saat itu sedang naik daun, itu salah kak. Dara bahkan baru tahu tentang Nathan ketika sudah beberapa waktu menikah dengannya" Ucap Dara dengan nada penegasan di ujung kalimat.
"Ehm.. Maaf Dara, kakak nggak bermaksud menuding kamu mau menikah dengan Nathan karena karirnya yang sedang bagus. Tolong kamu jangan salah paham ya?" Ucapan Keenan terdengar mengiba.
"Bukan begitu kak. Dara ngerti kok. Hanya ingin meluruskan saja, sekadar agar kak Keenan tau. Bagaimana kami akhirnya bisa menikah" Tukas Dara bernada menenangkan.
"Iya Dara.. Yah.. Memang begitulah jodoh. Datangnya disaat yang tidak terduga"
Jawaban Dara cukup menohok, sukses membuat Keenan merasa tersindir. Pria itu dan wanita di sebelahnya terlalu hanyut dalam obrolan hingga tak sadar mereka sudah sampai di basement area parkir apartment.
"Kamu benar Dara. Cinta itu memang unik. Tidak ada alasan konkret yang bisa menjelaskan bagaimana dia bisa datang" Keenan menatap dalam kedua mata Dara yang terkunci di sorot matanya.
Atmosfer yang memenuhi kabin mobil membuat Dara bergidik. Tatapan Keenan nampak memiliki arti, meski ia tak tahu pasti apa maknanya. Tatapan Dara melemah, kalah oleh Keenan yang enggan mengalihkan kedua bola mata darinya. Di detik ini akhirnya ia baru sadar bahwa mobil yang ditumpanginya sudah berhenti tepat di area parkir apartment.
"Kak.." Panggil Dara hati-hati. "Kita.. Sudah sampai" Sambung nya.
Keenan mengerjap, matanya mengedar ke sekitar. Dia sendiri juga tak menyadari sudah berapa lama mobilnya terparkir disana. Dia merasa malu, karena lagi-lagi sembarangan memandangi wajah adik iparnya tersebut.
"Ah.. Iya ya. Sejak kapan kita sampai" Ujar Keenan salah tingkah.
Dara membuka pintu sendiri dan langsung keluar dari mobil. Udara di luar justru melegakan, membebaskannya dari cengkraman energy Keenan yang membuat bulu roma nya meremang.
...***...
Dara masih meresapi baik-baik ekspresi Keenan yang berada diluar dugaannya. Benaknya bertanya lebih dari satu kali tentang apa makna tatapan pria itu? Kenapa rasanya berbeda dengan cara ia menatap padanya? Dara terlalu menganggap Keenan adalah kakaknya sendiri, jadi rasanya sangat tidak nyaman ketika tatapan itu mengikatnya.
Tak sama sekali terlintas dalam pikirannya bahwa Keenan menyukainya. Mungkin bisa dibilang begitu, tapi pasti hanya dalam ruang lingkup perasaan antar saudara. Tidak ada yang lebih.
Dara mengusap wajahnya dan menghembuskan napas pelan-pelan. Dia mulai memikirkan Nathan yang belum juga pulang. Sudah satu jam sejak ia sampai di apartment, dan waktu sudah menunjukkan pukul 21:00.
"Eh, siapa yang telepon?" Ponsel dalam genggaman Dara tiba-tiba bergetar menunjukkan seseorang melakukan panggilan kepadanya. Nama Nathan tertera disana, cepat-cepat Dara menekan ikon berwarna hijau pada layar ponselnya untuk menerima panggilan tersebut.
"Halo.. Nath?"
Wajah Dara yang cerah seketika berubah gelap, ketika menyadari bahwa yang berbicara padanya bukanlah Nathan. Sejumlah informasi di terima telinga nya dengan baik, berita yang sangat mengejutkan. Mengguncang pikirannya dalam sekejap.
Kedua matanya terasa panas, diikuti bulir-bulir air yang perlahan menyembul dari ujungnya. Dara tak mampu berkata, bibirnya terkatup, lidahnya kelu. Tangannya bergetar dan genggamannya pada ponsel pun melemah.
Dara bangkit dari tempatnya duduk, keluar dari kamar yang sedari tadi jadi tempat bernaungnya. Ia sedikit berlari dan tak sengaja berpapasan dengan Keenan usai menuruni anak tangga menuju lantai satu. Ekspresi Dara seketika memancing rasa ingin tahu Keenan.
"Hei.. Hei.. Dara.. Ada apa?" Keenan menghentikan Dara, agaknya ia lupa bahwa saat ini sedang mengandung.
"Nathan kak.." Suaranya bergetar.
"Nathan kenapa?"
"Nathan sekarang ada di kantor polisi!" Seru Dara.