An Angel From Her

An Angel From Her
30# Good Bye



NATHAN POV


Hari ini, akhirnya datang juga. Aku benar-benar akan menikahinya, dan menyudahi hubunganku dengan dia yang ku cintai. Ya, cinta pertama tapi gagal jadi yang terakhir, Monica. Sejujurnya, aku masih begitu mencintainya.


Meski beberapa hari yang lalu aku sangat membenci perbuatannya tapi perasaan ini terus melekat dengan kuat, hingga membuatku terasa sesak. Memang benar kata orang, cinta pertama takkan mudah untuk dilupakan.


Sejak remaja, aku memang kurang tertarik dengan perempuan manapun. Entah mengapa, aku lebih senang menghabiskan waktuku dengan musik. Di saat teman sebayaku sibuk bergonta-ganti pasangan, aku malah sibuk dengan gitarku.


Tapi ketika aku menemukannya, Monica, dia sangat berbeda dengan perempuan lain. Orang-orang berkata aku menyukainya karena wajahnya yang sensual dan tubuh yang sungguh sangat seksi, oke.. Mungkin itu bonusnya, tapi aku mencintainya karena merasa 'klik' sejak pertama bertemu.


Ah, kenapa aku terus saja mengingat dirinya. Bisa-bisa aku nekat kabur lagi dan menemuinya seperti kemarin. Sudahlah Nath, ayo move on. Aku harus mau dan menerima takdir yang digariskan untukku. Aku harus belajar melawan ego ku. Demi bundaku tersayang.


Aku telah bersiap sejak pukul 06:00, mandi, kemudian merapikan sedikit rambutku agar enak dilihat. Mengenakan setelan jas warna hitam formal, serta sepatu jenis boots favorit ku. Jika di perhatikan, memang hampir semua sepatuku berjenis boots. Hanya ada beberapa yang bukan.


"Tok..tok..tok.."


Ku dengar suara seseorang mengetuk pintu kamarku dari luar, mungkin pak Eko atau mbak Asih disana.


"Mas Nathan? Sudah selesai belum ya?"


Aku langsung menghampiri dan membukakan pintu. Ternyata pak Eko disana. Dia sudah rapi rupanya, baju batik tangan panjang yang digunakan nampak cocok menempel ditubuhnya.


"Saya sudah selesai pak.. Mau jalan sekarang?" Tanyaku.


"Iya mas.. Saya sudah siapkan mobilnya. Kita.. Akan menjemput mbak Dara dulu kan ya mas?"


"Betul. Ayo, kita berangkat sekarang" Ajakku sambil menarik gagang pintu dan menutupnya rapat-rapat. Aku berjalan duluan, sementara pak Eko mengikutiku dari belakang.


Mbak Asih juga turut serta untuk jadi saksi saat pernikahanku dilaksanakan. Dia mengenakan setelan kebaya lengkap dengan rok model span panjang motif batik. Kenapa mereka begitu niat dengan tampil serapi itu, pikirku.


Aku membuka pintu depan lebar-lebar dan langsung mendapat surprise disana. Kau tahu siapa yang berdiri didepanku? Ya, dia.. Monica!


"Hai Nath, senang melihatmu lagi" Ucapnya santai. Sedangkan aku terkejut setengah mati.


"Monica?"


"Kenapa kaget gitu? Ini aku lho bukan hantu"


Aku diam tak menanggapi. Pak Eko dan mbak Asih di belakangku saling melemparkan pandangan satu sama lain, nampaknya mereka juga sama terkejutnya denganku.


"Mm.. Mbak Asih dan pak Eko duluan saja ke mobil. Saya akan menyusul" Perintahku.


Mbak Asih dan pak Eko memilih untuk mengikuti apa kataku. Mereka keluar dari apartment satu persatu, meninggalkanku berdua dengan Monica.


"Aku kesini cuma mau mengembalikan ini. Mungkin saja kamu akan butuh" Ucapnya sembari menyodorkan ponselku yang di sembunyikannya. Tanganku segera meraihnya dari Monica. Ah.. Ponselku, akhirnya kembali.


"Terimakasih" Jawabku.


Monica nampak memperhatikan penampilanku dari ujung rambut hingga ujung kaki. Ia mengerutkan dahinya, dari ekspresinya sangat jelas dia sedang bertanya-tanya dalam hati.


"Kamu, mau kemana dengan pakaian seperti ini?" Akhirnya dia mulai buka suara, batinku.


"Aku.. Aku ada acara"


"Acara apa?" Tanya Monica, nada bicaranya makin terdengar seperti seorang polisi yang sedang menginterogasi penjahat.


"Acara.." Tiba-tiba saja aku bagai kehilangan banyak kosa kata. Haruskah aku katakan yang sebenarnya?


"Acara apa Nath?" Cecar Monica. Dia takkan puas sebelum mendengar apa yang ingin diketahuinya.


"Oh? Apa.. Jangan-jangan kamu.. Kamu mau menikah? Ya kan Nath? Kamu mau menikah dengan perempuan itu?!"


Ah, akhirnya dia menebaknya dengan tepat. Aku makin bingung harus bereaksi seperti apa.


"Jawab aku Nath!" Ucap Monica, ia mencengkram kedua lenganku dan sedikit menggoyangkan tubuhku.


"Iya.. Aku.. Akan menikah"


Cengkraman Monica melemah seiring dengan sampainya ucapanku ke dalam telinganya. Ia memandangi wajahku dengan tatapan penuh kekecewaan. Rasanya tak sampai hati untuk membalas tatapannya. Aku menunduk, menahan pedih yang menyerang hatiku tiba-tiba.


"Bukan.. Awalnya. Aku marah denganmu. Kamu pasti tahu itu. Lalu, aku juga ingin mengetahui keadaan bunda. Karena kamu melarangku menghubunginya, aku sampai tidak tahu bahwa bunda sakit dan harus di opname" Jelasku.


"Lalu kenapa tiba-tiba kamu mau menikah Nathaan?! Sudah kuduga, kamu memang jatuh cinta kan dengan dia! Pengkhianat!" Hardik Monica.


"Tidak Monica, aku tidak jatuh cinta dengannya. Kamu.. Kamu orang yang masih dan selalu kucintai"


"Pembohong!"


"Aku berani sumpah" Tantangku, sembari menatap kedua mata Monica dengan serius dan memegangi kedua lengannya.


"Setelah kamu menghardikku, dan mencampakkanku begitu saja kemarin. Lalu sekarang memilih untuk menikah dengan orang lain. Apa kamu fikir kamu masih pantas untuk ku percaya?" Sahut Monica sembari menghalau tanganku. Aku tak mampu lagi berkata-kata.


"Aku datang kesini juga dengan maksud untuk memperbaiki semua kesalahan, aku ingin meminta restu dari ibumu agar kita bisa menikah dengan cara yang benar. Ku tarik kembali ucapanku yang mengatakan bahwa jika kamu pergi dari villa maka kamu takkan lagi melihatku.." Lanjut Monica.


"Aku telah menjilat ludahku sendiri. Tapi ini yang ku dapatkan darimu?"


"Monica.."


"Jika itu memang keputusanmu. Aku mengerti, kali ini aku akan pergi. Jauh dari kehidupanmu. Jangan cari aku lagi!! Semoga kamu bahagia"


Usai mengatakan semua hal itu padaku, Monica langsung pergi begitu saja dari hadapanku. Lututku mendadak lemas, separuh hatiku pergi. Mungkin sekarang aku benar-benar takkan pernah lagi melihatnya.


Aku mengejarnya yang berjalan sangat cepat. Ia menuju lift, sebelum pintu lift terbuka aku sudah lebih dulu menggenggam lengannya. Monica berbalik ke arahku.


"Lepasin!"


"Tolong beri aku kesempatan, aku akan memikirkan bagaimana cara agar bisa bercerai darinya secepat mungkin lalu menikahimu.."


"Apa?! Ha..ha.. Dasar aneh! Kenapa mesti bercerai? Batalkan saja sekarang, lalu gantikan posisi dia denganku"


"Tidak bisa begitu Monica. Aku tidak mungkin melakukan itu sekarang. Nyawa bunda jadi taruhannya"


"Yasudah. Teruskanlah! Aku yang mengalah"


Monica melepaskan dengan paksa genggamanku. Tenaga nya kuat sekali, ia benar-benar dipenuhi emosi. Pintu lift terbuka, wanitaku itu langsung menghambur kedalamnya dan cepat-cepat menekan tombol untuk menutup pintunya.


Langkahku kalah cepat darinya, hingga tak bisa ku tahan lagi. Aku mencoba mengejarnya lewat tangga darurat, berlari secepat mungkin berharap dapat bertemu lagi dengannya di bawah. Tapi aku ada di lantai 15, agaknya cukup sulit untuk dapat mengejar.


Nafasku tersengal-sengal, kakiku sungguh lemas. Bulir-bulir keringat mulai bercucuran, pakaianku yang tadinya rapi, seketika berantakan. Aku telah sampai di lobby, mencoba untuk menunggunya keluar dari lift.


Cukup lama aku berdiri disini, namun setiap kali lift terbuka, bukan Monica yang keluar. Aku tak dapat menemukannya. Monica ku, kau pergi.. Benar-benar pergi dariku..


Aku merogoh saku dalam jas yang kukenakan, mengambil ponsel yang telah kembali ke tanganku. Berkali-kali ku mencoba menelepon Monica namun sia-sia. Tak sekalipun dia menjawabnya. Aku mulai frustasi.


"Mas Nathan!" Panggil seseorang di belakangku.


Aku menoleh, ternyata pak Eko disana. Dia menghampiriku dengan tergopoh-gopoh.


"Sudah hampir telat mas. Penghulunya sudah ada di rumah sakit" Ucap pak Eko.


"Begitu?"


"Iya mas. Kita harus cepat-cepat berangkat jemput mbak Dara sekarang. Pamannya mas Nathan dari Padang juga sudah sampai di rumah sakit" Lanjut pak Eko lagi.


Waktu sudah begitu mepet, namun aku masih belum bisa menemukan Monica. Apa ini akhir dari kisah ku dengannya? Jika iya, tadinya


aku sangat ingin memberi kesan terakhir paling indah untuknya, bukan yang seperti ini. Bukan rasa sakit ini yang harus di dapatkannya.


"Mas?" Panggil pak Eko menggubris lamunanku.


Aku tak punya banyak pilihan selain menyerah dan membiarkan Monica pergi. Karena benar-benar hampir kehabisan waktu. Monica, dan semua kenangan kami, semuanya berakhir. Aku melangkahkan kaki dengan gontai menuju mobil yang terparkir di basement.


Pak Eko memacu laju mobil dengan cepat. Tujuan kami adalah ke rumah Dara terlebih dahulu. Menjemputnya untuk ku jadikan istriku.


NATHAN POV END