An Angel From Her

An Angel From Her
109# Cemburu Buta



BRAAKK!!


Suara pintu yang ditutup kasar membangunkan Dara dari tidur lelapnya. Ia membangunkan tubuh, mengucek mata beberapa kali untuk memastikan siapa orang yang baru saja membanting pintu kamar.


Nampak Nathan yang berjalan terburu-buru menuju kamar mandi. Sekilas wajahnya terlihat menyeramkan, tak ada senyum yang tercetak di bibirnya. Dia juga menutup pintu kamar mandi dengan kasar. Dalam benaknya, Dara bertanya. Ada apa dengan suaminya?


Pria itu tak berlama-lama di dalam sana. Sepertinya hanya sedikit bersih-bersih dan mengganti pakaian. Ia juga tak menyapa Dara sama sekali, Nathan langsung merebahkan tubuh di atas ranjang, tepat di sebelah Dara. Dengan posisi membelakangi sang istri yang dibuat keheranan.


"Nath? Kamu kenapa?." Sapa Dara.


Hening, tak ada jawaban darinya.


"Nathan, ada apa? Ada masalah?."


Nathan masih enggan menjawab. Dara memberanikan diri untuk menyentuh suaminya, mencari tahu apa penyebab dari keanehan yang ditunjukkannya.


"Nath.."


"Jangan ganggu! Aku mau tidur!." Sahutnya ketus.


Dara tertegun dan merasakan nyeri di hatinya. Nathan berubah lagi, ada apa? Ia tidak mengerti sama sekali. Padahal kemarin malam, mereka baru saja melewati momen bercinta yang begitu indah. Dengan Nathan yang berkali-kali melontarkan perasaannya.


Rasa-rasanya tak mungkin jika ia kembali mendua, ungkapan itu terdengar amat tulus berasal dari relung hatinya. Namun sekarang, Nathan mirip sekali seperti yang dulu. Ketus, dingin dan cuek. Mengabaikannya sebegitu mudahnya.


Dara mengalah dan memilih bungkam, membiarkan Nathan mendapat istirahatnya terlebih dahulu. Bersabar hingga fajar tiba sekitar lima jam lagi untuk menanyakan hal yang terjadi dengannya.


...***...


Dara nyaris tak bisa mendapat tidur nyenyak setelah terbangun dan mendapati keanehan dalam diri suaminya. Hingga pagi menyapa, ia hanya bolak balik mengubah posisi tidur di ranjang tanpa benar-benar terlelap.


Nathan masih di sebelahnya, tak merubah posisi sama sekali sejak tadi malam. Dara memandangnya nanar, perlakuan Nathan seketika mengacak-acak suasana hatinya. Dia masih butuh jawaban namun enggan mengusik ketenangan suaminya.


Dara hendak beranjak dari ranjang, berpikir untuk membuat sebuah hidangan di dapur. Namun sesuatu menahannya, seseorang yang ditunggu nya sejak tadi tiba-tiba terbangun.


Nathan telah duduk di pinggir ranjang, masih membelakanginya. Ia merenggangkan tubuh lalu bangkit dari sana. Langkahnya mengarah ke kamar mandi.


Dara menunggu nya dengan sabar, setidaknya begitu sejak tadi malam. Meski berbagai macam pertanyaan bergumul memenuhi pikirannya, ia menahannya sejenak sampai pria itu keluar.


Hampir setengah jam berlalu, Nathan membuka pintu kamar mandi dan lagi-lagi menutupnya dengan kasar. Ia keluar dari sana hanya menutupi setengah tubuhnya dengan celana panjang. Kali ini Dara takkan melewatkannya, ia bergegas menghampiri sang suami yang nampak acuh sembari mencari-cari pakaian di lemari.


"Nath.. Aku ingin bicara." Ucap Dara. Ia berbicara tanpa kontak mata dengan Nathan yang membelakanginya.


Pria itu masih bungkam, tak menjawab satu katapun.


"Nath, ada apa sih? Katakanlah!."


"Nggak ada apa-apa. Memang kamu pikir ada apa?."


"Nggak mungkin kalau nggak ada apa-apa. Kamu aneh sejak tadi malam."


Nathan mengenakan kaos putih polosnya sambil berlalu dari Dara yang masih penasaran.


"Nath, bicaralah. Apa aku ada salah denganmu?."


"Mungkin saja." Pria itu merapikan rambutnya di depan cermin.


"Apa salahku Nath?."


Nathan berbalik dan menatap tajam wajah istrinya.


"Kamu sudah nggak bisa ku percaya."


"Maksudnya?."


Pria itu tak menjawab lagi, hanya memandang Dara penuh kemarahan tatkala ingatannya melayang pada kejadian kemarin sore. Saat ia memergoki Dara yang berjalan beriringan hanya berdua dengan Keenan.


Nathan yang saat itu sangat bersuka cita karena baru saja mendapat reward atas pencapaiannya menjadi seorang gitaris berbakat mendadak harus menelan kekecewaan dalam sekejap mata.


Diam-diam ia membuntuti Dara dan Keenan yang hendak menaiki lift. Menyusul lewat tangga darurat, berlari secepat seekor cheetah mengejar mangsa.


Hatinya makin sakit ketika menyaksikan sendiri Keenan yang dengan begitu perhatiannya membentangkan sebelah lengan di punggung Dara, sementara tak ada sedikitpun perlawanan dari Dara yang justru nampak nyaman.


Mereka benar-benar berdua, masuk ke apartment dan menutup pintunya. Nathan tidak mengira Dara akan mampu mengkhianatinya. Rangkaian bunga mawar putih cantik dalam genggamannya yang akan dipersembahkan untuk sang istri pun dilupakannya.


Ia membantingnya ke lantai dan langsung angkat kaki dari sana. Tak sanggup lagi jika harus terus berdiam diri. Nathan pergi, mencari ketenangan dengan meminum banyak minuman beralkohol hingga mabuk. Dan baru kembali ke apartment ketika hari sudah larut.


"Nath, tolong jelaskan dimana letak kesalahanku?." Ucapan Dara menggubris lamunan Nathan.


"Aku tau kamu juga suka dengannya."


"Suka? Sama siapa?." Dara makin tak mengerti arah pembicaraan suaminya.


"Mencium?." Dara mengernyitkan dahi. "Maksud kamu, kak Keenan?."


"Kamu mencintai nya diam-diam. Iya kan?."


Dara merangkai sendiri kejadian-kejadian sebelum ini dengan ingatannya yang kembali mengulang. Ia sedikit sadar, sepertinya Nathan sedang membahas Keenan.


"Nath, kamu bicara apa sih?."


"Jujur padaku Dara, kamu suka juga kan sama dia? Keenan adalah seorang dokter, yang mana itu adalah profesi impianmu. Cukup masuk akal jika kamu jatuh cinta padanya. Karena yang aku tau, kamu sangat mengaguminya."


"Ngawur sekali pikiranmu. Nath, sepertinya aku tau. Kamu baru saja salah paham."


"Salah paham atau bukan, aku hanya nggak bisa menemukan alasan kenapa kamu selalu sulit menolak ajakannya! Dia orang yang sudah berani melecehkanmu! Dan kamu juga sudah janji untuk tidak lagi berhubungan dengannya! Tapi apa sekarang Ra? Kamu justru mau disentuh olehnya! Di depan mataku!." Nada bicara Nathan naik setengah oktaf, baru kali ini Dara mendengar suara menggelegar itu ditujukan padanya.


Nathan nampak sangat marah, begitu menyeramkan dengan sorot matanya yang berapi. Dara mengatupkan bibir berusaha menahan bulir air mata yang hendak keluar dari kedua matanya. Bentakan Nathan meremukkan perasannya tanpa bisa dihindari.


"Aku bisa menjelaskannya Nath, kamu benar-benar salah paham."


"Nggak perlu Dara, yang akan kamu katakan hanya pembelaan. Sedangkan yang kulihat adalah faktanya, untuk apa lagi penjelasan?."


"Kamu benar-benar nggak mempercayai ku lagi Nath?." Derai air mata mengaliri setiap lekuk wajahnya, Dara tak mampu lagi membendung luka baru yang di goreskan oleh Nathan sebab telah menuduhnya sembarangan.


"Aku mempercayai apa yang ku lihat." Nathan berlalu usai mengatakan kalimat terakhirnya.


"Aku hanya mencintaimu Nath." Ucap Dara lirih. Nathan bergeming, ungkapan perasaan Dara terdengar tulus namun ia seakan tak ingin semudah itu mempercayainya. Setelah apa yang di saksikan nya kemarin, Nathan lebih percaya bahwa Dara diam-diam menyimpan rasa pada Keenan kakak kandungnya.


Pria itu melanjutkan lagi langkahnya yang terhenti sejenak, meninggalkan Dara yang kian diliputi kesedihan. Disaat-saat yang berat seperti sekarang, dimana kehamilannya mengalami komplikasi yang cukup serius, wanita manapun tentu membutuhkan dukungan dari orang terdekat terutama dari seorang suami.


Niat Dara yang awalnya hanya tak ingin membuat Nathan khawatir justru bagai jadi boomerang untuknya. Memicu sebuah kesalahpahaman di antara ia dan Nathan. Mengundang masalah baru dalam rumah tangganya.


Kini Dara tidak tahu apakah akan melanjutkan, atau merubah niatnya. Ia belum mampu memutuskan mana yang lebih baik. Hatinya dirundung kelabu, air matanya tumpah hingga membuat perasaannya begitu sakit. Tuduhan Nathan kejam, sangat menyakitkan.


...***...


Tiga hari berlalu setelahnya, Nathan dan Dara masih saling diam. Sejujurnya hal ini cukup menyiksa batin untuk Dara. Namun melihat gelagat Nathan yang justru kian cuek, ia memilih untuk mengikuti arus yang ada.


Pria itu selalu pergi lebih awal, dan kembali larut malam. Ia juga tak lagi menyantap hidangan yang di buatkan Dara untuk nya. Nathan terkesan terus membesar-besarkan masalah yang sebenarnya bisa di selesaikan tanpa berlarut.


Hal ini tentu memancing kontraksi datang kembali. Dara merasakan perutnya yang kram seperti beberapa hari yang lalu sejak pagi, tapi ia menahannya dan berusaha agar tampak baik-baik saja.


Seperti biasanya, ia hanya berdua dengan mbak Asih. Dara tidak ingin lagi merepotkan asisten rumah tangganya yang selalu siap siaga itu. Hingga sore datang, entah bagaimana kram perutnya masih saja terasa. Padahal ia sudah meminum obat-obatan yang diresepkan dokter untuknya.


Dara duduk dengan tenang sambil menyandarkan punggung pada dipan di atas ranjang. Sembari mengusap lembut perutnya dan mengajak bayinya berbicara.


Tok.. Tok.. Tok..


Suara ketukan pintu dari luar kamar menginterupsi nya. Dara menebak itu adalah mbak Asih.


"Non.. Maaf. Boleh saya masuk?." Suara mbak Asih terdengar samar-samar dari luar.


"Masuk mbak." Sahut Dara setengah teriak.


Asisten rumah tangga itu masuk, wajahnya nampak muram. Ia menghampiri Dara, berdiri dengan setengah membungkuk.


"Ada apa mbak?." Ucap Dara memulai.


"Non Dara, boleh saya izin pulang sebentar? Barusan dapat kabar anak saya sakit non. Demam tinggi, saya hanya ingin memastikan keadaannya. Setelah itu saya akan kembali secepatnya kesini." Mbak Asih menatap nanar wajah majikannya, mengharapkan belas kasih Dara agar mengizinkannya pulang sejenak.


"Iya mbak Asih, pulanglah.. Pastikan saja dulu bahwa anak mbak baik-baik saja." Ucap Dara ramah.


"Tapi non ndak apa-apa saya tinggal?."


"Saya nggak apa-apa mbak." Senyum manis terulas di bibirnya yang sedikit pucat.


"Baik kalau begitu, saya permisi sebentar ya non." Ucap mbak Asih seraya berlalu dari hadapan Dara dan menutup lagi pintu kamar yang terbuka.


Dara mengatur napas saat merasakan kontraksi yang mendadak datang lagi. Ia bangkit dari ranjang dan mencoba berjalan pelan-pelan untuk meredakan nyeri nya.


"Huuffhh.. Sayang.. Sabarlah sebentar lagi ya nak. Ibu juga sudah tak sabar ingin bertemu denganmu. Tapi akan lebih baik jika kamu lahir di waktu yang tepat."


Sekitar lima belas menit ia berjuang menahan sakit seorang diri, Nathan tiba-tiba masuk ke kamar dengan masih mengacuhkannya. Ia meraih koper besar yang di letakkan dalam lemari penyimpanan, membukanya, kemudian memasukkan beberapa pakaian ke dalamnya.


"Kamu mau kemana Nath?." Dara mengamati, dan tergerak untuk bertanya. Tapi Nathan tak menggubris nya.


Pria itu hampir selesai berkemas, ketika Dara menghampiri dan memperjelas pertanyaannya.


"Nath, kamu mau pergi kemana?." Ia berdiri susah payah sambil menahan tekanan yang lumayan kuat dari perutnya.


"Konser. Di tiga kota."