
Iya.. Oke.."
Bunda menelepon sembari berjalan menuju kamar. Entah sudah panggilan keberapa dan orang keberapa yang menghubunginya sejak tadi. Dia hanya meluangkan waktunya sebentar saat makan dan berbincang dengan Dara dan Nathan.
Namun meski begitu tentu bunda tak mengerjakan semuanya sendirian, dia juga memiliki seorang asisten yang ditugaskan untuk menggantikannya selagi berhalangan. Usia yang tak lagi muda dan penyakit jantung yang di derita membuat bunda harus ekstra menjaga kebugaran tubuh dengan rutin melakukan medical check up dan sedikit membatasi kegiatan yang sekiranya terlalu padat.
Bunda baru saja menginjakkan kaki di depan pintu kamar ketika samar-samar terdengar suara seseorang muntah. Dia menduga asalnya dari kamar Nathan yang jaraknya hanya beberapa langkah dari kamar tamu yang di tempatinya. Teringat Dara yang mengaku sedang kurang sehat, perasaannya tergerak untuk menghampiri ke asal suara tersebut.
Bunda melangkahkan kaki perlahan sembari mendorong pintu kamar yang sedari tadi sedikit terbuka dengan ragu.
"Dara..?" Tak nampak siapapun disana. Namun terdengar kembali suara erangan yang tadi di dengarnya. Kini, bunda amat yakin bahwa itu adalah Dara. Mungkin dia sedang di kamar mandi, dan bunda bersedia menunggunya hingga selesai.
Suasana kamar yang tak berubah sejak Nathan belum menikah. Tetap rapi, wangi dan nyaman. Bunda memperhatikan sekeliling ruangan, tak nampak ada foto pernikahan disana. Hanya ada foto Nathan yang berpose dengan gitarnya dalam pigura cukup besar.
"Ya ampun.." Bunda berdecak sambil menggelengkan kepala. Dia menempatkan diri di pinggir ranjang duduk tenang menunggu Dara yang masih di kamar mandi.
Disaat itulah dirinya baru menyadari ada sebuah frame kecil terletak di atas nakas samping ranjang berisikan foto pernikahan Nathan dan Dara yang amat sederhana di rumah sakit. Dengan mata berbinar bunda memandangi, sembari menyentuhnya lembut dan bersyukur berkali-kali lipat karena pada akhirnya memiliki menantu seperti Dara.
"Eh, apa itu?" Fokus bunda teralihkan ketika melihat benda kecil panjang di belakang frame foto tersebut. Rasa penasaran memancingnya untuk meraih benda tersebut. Entah kenapa dia curiga akan suatu hal.
"Hah..! Ini kan.." Bunda tersentak dan langsung berdiri, jantungnya berdegup kencang memandangi benda di atas tangannya, bersamaan dengan Dara yang baru keluar dari kamar mandi. Kedua mata mereka beradu, saling menatap tak percaya.
"B-bunda?" Dara sadar betul bunda sedang memegang testpack miliknya yang ia letakkan diatas nakas. Dia sama sekali tak menyangka bunda akan menemukannya. Sekarang, Dara tak punya satu ide pun untuk mengelak tentang apa yang sudah terjadi.
Tubuhnya gemetar, Dara takut bunda akan marah padanya. Dia menghampiri sang ibu mertua perlahan, sambil menyiapkan hati dan kalimat yang akan diutarakannya pada bunda yang masih mematung tanpa sepatah katapun.
"Uhm.. Bunda.."
"Dara.." Potong bunda. Dara mengalah.
"I-iya?"
"Ini punya kamu?"
Dara mengangguk ragu.
"Bunda.. Maaf, Dara.."
Diluar dugaannya, bunda justru langsung menghampiri dan memeluknya hangat sembari terisak. Ada dua perasaan yang dirasakan Dara saat ini, bersyukur dan lega. Bersyukur karena nampaknya bunda begitu bahagia, dan lega lantaran pikiran jeleknya tak terealisasikan.
Bunda melepaskan dekapannya dan memandangi wajah Dara yang nampak gugup sambil menggenggam kedua tangan menantu nya tersebut. Sementara Dara tak bereaksi sama sekali.
"Kenapa nak?" Isak bunda. Tangis haru mewarnai raut wajahnya yang masih terlihat kencang walau sudah berumur. "Kenapa kamu rahasiakan ini?"
Disaat yang bersamaan Nathan masuk ke dalam kamar dan menyaksikan bunda bersama Dara yang sedang saling memandang dengan tatapan haru. Dia mulai menduga-duga suatu hal dalam kepalanya. Perlahan pria itu melangkahkan kaki mendekat ke arah mereka, dan suara ketukan di lantai berhasil menyita perhatian bunda ke arahnya.
"Naath.."
Nathan menyadari wajah bunda telah dibasahi air mata. Wajahnya memerah, tapi tetap ada rona bahagia yang tersirat.
"Bunda.. Ada apa? Ada yang sakit? Atau apa?" Cecar Nathan yang mulai khawatir.
"Kenapa kalian rahasiakan ini?"
"Rahasiakan?" Nathan melirik ke arah Dara yang membisu. Wanita itu menundukkan kepala, dia tak punya nyali untuk membalas tatapan mata elang darinya.
"Tentang kehamilan Dara.." Ucap bunda lantang dengan isyarat kebahagiaan yang disisipkan dalam kalimatnya.
Nathan tercengang, dan merasakan kekacauan dalam sekejap.
...***...
"Bagaimana ceritanya?" Hanya satu pertanyaan tapi mampu membuat Dara semakin gugup.
"Uhm.. Jadi.. Tadi.. Aku kan.."
"Berikan jawaban yang jelas" Tegas Nathan.
Dara berusaha mengatur napas yang mendadak mengalami peningkatan. Ia tak ingin membuat suaminya makin jengkel. Saat ini, Dara merasa seperti seorang penjahat yang tengah di selidiki oleh polisi galak tak berperasaan.
"Maaf, jadi.. Iya.. Ini memang salahku. Karena kurang perhitungan dalam menyembunyikan testpack itu. Tapi.. Sungguh, aku nggak berniat kasih tau bunda soal ini Nath"
"Kenapa nggak langsung kamu buang saja sih?"
"Buang?"
"Iya! Untuk apa lagi di simpan? Sekarang bunda sudah tau. Ck.." Nathan berdecak kesal.
"Ada apa sih Nath? Kok kayaknya kamu nggak suka banget kalau bunda tau? Maksudku, kenapa sampai sebegini marahnya?"
Nathan memusatkan pandangannya pada Dara dan menatapnya lekat-lekat dengan sorot matanya yang tajam.
"Alasanku marah karena kamu nggak bisa menepati ucapanmu sendiri! Bagaimana bisa aku memercayaimu lagi?"
"Aku nggak sengaja Nathan. Kan sudah ku bilang kalau aku nggak berniat memberi tau bunda, apa kamu nggak dengar?"
"Aku dengar!" Sambar Nathan. Emosinya mulai terpancing. Ia bangkit dari tempat duduknya dan berdiri menyamai posisinya dengan Dara. "Tapi seandainya kamu memang bisa memegang ucapanmu dengan baik tentang perjanjiannya, pasti kamu akan melakukan segala cara agar tidak merusaknya"
Dara diam tak berkutik, nyalinya makin ciut mendengar suara Nathan yang menggelegar. Ia kembali tertunduk lesu, menyesali kecerobohan yang dilakukannya. Sementara Nathan memilih untuk mengabaikan Dara dan melenggang dari hadapannya.
Pria itu tak mampu lagi berpikir jernih tentang rencana apa yang akan ditempuh selanjutnya. Perceraian, Monica, hidup bahagia bersama wanita yang dicintai apakah semua akan terjadi? Di titik ini, ia tak mampu menjamin masa depannya sendiri.
Nathan tak punya nyali bahkan untuk sekedar menerima panggilan telepon dari Monica, dia merasa kembali menoreh luka di hubungannya, mengkhianati Monica untuk kesekian kali. Lagi-lagi gagal dan tak mampu menepati janjinya pada sang kekasih.
Semesta tak berpihak padanya. Semua rentetan peristiwa yang terjadi dalam hidupnya berjalan diluar kendali. Tak sejalan dengan apa yang diimpikannya.
...*****...
Hari baru saja dimulai kembali, dan rutinitas bunda masih sama seperti yang kemarin. Usai menerima dua panggilan, banyak pesan yang berdatangan ke ponsel dan hampir memenuhi ruang penyimpanannya. Sembari berjalan perlahan menuruni tangga, bunda membaca beberapa pesan yang ada di ponselnya.
Ia menapakkan kaki dengan hati-hati, khawatir kalau-kalau salah langkah, maka akan membahayakan dirinya sendiri.
"Pagi bu, mau dibuatkan teh hangat?" Sapa mbak Asih yang berpapasan dengan bunda ketika ia sampai di lantai satu. Asisten rumah tangga itu memang selalu bertanya lebih dahulu pada majikannya mengenai apa yang diinginkan mereka, lalu membuatkannya sesuai perintah.
"Boleh mbak, teh chamomile ya" Pesan bunda dengan nada ramah. Dalam point ini, Nathan mewarisi sikap ramah dan hangatnya dari bunda. Meski sekali waktu dia bisa berubah jadi monster tak berperasaan seperti mendiang ayahnya. Dan itu adalah hal yang tak disukai bunda dari putranya.
"Baik bu.."
Suara bel di tekan seseorang dari luar, sontak menginterupsi obrolan singkat antara bunda dan mbak Asih.
"Siapa ya, pagi-pagi begini bertamu" Ucap bunda.
"Sebentar ya bu, saya bukakan pintunya dulu"
"Nggak usah mbak, biar saya saja. Mbak Asih lanjutkan saja pekerjaannya" Halau bunda, dan mbak Asih tak memiliki pilihan lagi selain menuruti ucapan majikannya.
Bunda menonaktifkan layar ponselnya sementara ia bersiap menyambut tamu yang baru saja menekan bel apartment. Sebenarnya, sangat jarang sekali ada seseorang yang datang pagi-pagi seperti ini. Dan hal ini tentu membuatnya penasaran.
Cklek..
Pintu utama terbuka lebar dan bunda mendapat kejutan sekaligus jawaban atas pertanyaannya. Mendapati seseorang yang paling tidak ingin ditemuinya. Orang yang sangat tak disukainya. Dan dia kini sedang berdiri dengan kaki yang kokoh di depan matanya.