An Angel From Her

An Angel From Her
29# Menetapkan Hari H



"Dimana Dara nak?" Tanya bunda dengan suaranya yang masih lemah. Saat ini, dirinya tengah makan siang, dibantu oleh Nathan yang menyuapinya dengan telaten sembari duduk di kursi yang diletakkan pada sebelah ranjang.


"Sudah pulang sejak kemarin sore" Sahut Nathan sambil mengaduk makanan dalam mangkuk dan bersiap menyuapi bunda lagi.


"Anak itu.. Dia benar-benar sangat baik"


Nathan diam tak menanggapi.


"Tidak ada dendam ataupun rasa marah sedikitpun darinya. Meskipun kita telah mempermalukannya"


"Lagi bunda" Ucap Nathan menyodorkan sendok pada bunda.


"Apa kamu sudah minta maaf dengannya?"


Nathan menghela nafas dan menyandarkan sendok pada bagian pinggir mangkuk tersebut, mengambil jeda sejenak dari aktifitasnya menyuapi sang ibu.


"Aku belum sempat"


"Temui dia nanti ya nak"


Nathan menjawab dengan anggukan dan segaris senyum tipis. Sebenarnya, dia terasa malas membahas soal wanita manapun usai ditipu oleh Monica.


"Nak.. Sejujurnya, bunda masih berharap bahwa semua yang terjadi sekarang ini adalah mimpi. Hari itu, pernikahan kalian jadi dilaksanakan, kamu dan Dara resmi menjadi suami istri. Dan.. Kalian memberikan bunda seorang cucu" Gurau bunda.


"Tapi.. Kalau pernikahan itu malah mengganggumu, bunda tidak bisa berbuat apa-apa" Sambung bunda.


"Aku minta maaf bunda. Seharusnya dari awal aku meneguhkan keputusanku. Aku sudah membuat bunda malu. Tolong maafkan aku" Ucap Nathan mengiba.


"Bunda sudah memaafkanmu. Yang penting kamu kembali pada bunda, dan kamu bahagia" Balas bunda seraya membelai lembut wajah putra kesayangannya.


"Tapi sekarang.. Aku sudah memutuskan" Ucap Nathan serius.


"Memutuskan apa?"


"Aku.. Aku akan menikahi Dara. Besok.. Lusa"


Bunda tertegun sekian detik, mencoba menelaah ucapan Nathan barusan yang mengatakan bahwa dirinya bersedia menikah. Ya, menikah dengan Dara.


"Kamu, mau menikah dengan Dara?" Ulang bunda.


"Iya" Sahut Nathan singkat.


"Apa bunda tidak salah dengar?"


"Bunda mendengarnya dengan benar" Ucap Nathan sembari menggenggam punggung tangan bunda.


Nathan dapat melihat dengan jelas binar-binar di kedua mata bunda. Senyum kebahagiaan terpancar dari bibirnya yang masih nampak pucat.


"Terimakasih nak.." Ucap bunda lirih.


Nathan beranjak dari kursi dan langsung memeluk erat tubuh bunda yang menyandarkan punggungnya pada ranjang yang di setel setengah duduk itu.


"Aku akan membahagiakan bunda, walau harus dengan cara seperti ini. Meskipun aku sendiri tak yakin, apakah pernikahan itu akan berjalan dengan baik nantinya?" Batin Nathan. Ia merasakan kehangatan pada tubuh dan hatinya kala bunda juga membalas pelukannya.


...***...


DARA POV


Setelah hampir dua minggu menghabiskan waktu di rumah sakit untuk menemani bunda, akhirnya kini aku kembali beraktifitas di warung ibu lagi. Memasak, menyajikan, dan melayani setiap pesanan orang-orang yang bertandang kemari.


Siang yang terasa cukup terik, udara dalam warung pun panas. Namun tak menyurutkan niat orang-orang yang datang dan membeli nasi serta lauk pauknya disini. Memang katanya sih, masakan di warung ibu ini enak, enak banget malah. Entahlah.


Ku dengar suara getaran yang berasal dari ponselku. Nampaknya ada yang menelepon disana, entah siapa, aku tak dapat melihat dengan jelas nama pada layar ponsel itu. Aku tengah sibuk membungkus beberapa pesanan orang yang rela mengantre di depanku.


Beberapa kali berhenti, lalu bergetar lagi. Mungkin ada hal penting yang ingin disampaikan seseorang disana padaku. Baiklah, aku berjanji setelah ini aku akan segera menjawabnya.


Usai semua pelanggan mendapatkan pesanannya masing-masing dan satu per satu meninggalkan warung, aku langsung meraih ponsel itu. Ada lima panggilan tak terjawab disana. Dan yang membuatku sedikit terkejut adalah ketika mengetahui bahwa yang menelepon adalah bunda. Syukurlah, pikirku. Bunda sudah membaik nampaknya.


Sekitar lima menit menunggu sembari memperhatikan layar ponsel, akhirnya bunda menelepon kembali. Aku cepat-cepat menggeser ikon telepon warna hijau untuk menerima panggilan disana. Aku sangat ingin mendengar bagaimana kabar bunda sekarang.


"Halo.. Bunda, gimana kabar bunda sekarang? Sudah membaik kah?" Sapaku sebelum mendengar suara siapapun dari sana.


"Dara, ini aku.." Balas seseorang yang suaranya sangat familiar bagiku.


"Nathan?"


"Ya"


Aku terdiam sejenak. Benar-benar tak menyangka bahwa sekarang aku tengah berbicara dengan Nathan. Tapi, kenapa dia meneleponku dengan menggunakan nomor bunda?


"Sedang apa? Kamu ada waktu?"


Sedang apa katanya? Mau apa orang ini? Bertemu denganku kah? Kenapa tak langsung ku tanyakan saja padanya. Tapi, rasanya lidahku mendadak kelu. Kenapa tiap berhubungan dengannya aku selalu merasa gugup. Padahal menyukainya saja tidak.


"Dara?" Panggil Nathan lagi, membuatku sedikit tersadar dari lamunanku.


"Ya Nath? Emm.. Aku sedang di warung. Memangnya ada apa?" Tanyaku dengan berani.


"Aku ingin bertemu. Ada yang harus kubicarakan denganmu. Bisa aku minta waktumu sebentar? Aku akan datang kesana"


"Mmm.. Mau bertemu ya? Aku.. Mungkin bisa" Sahutku.


"Baiklah. Aku akan ke tempatmu sekarang. Tolong share lokasinya ya. Aku belum tahu dimana warung ibumu" Pinta Nathan.


"Ya.. Nanti akan aku share ke kamu" Jawabku.


"Oke. Thanks" Ucap Nathan yang langsung mengakhiri panggilan teleponnya.


Isi fikiranku berkecamuk. Bertanya-tanya apa yang ingin dibicarakan lelaki itu padaku, mungkinkah dia akan meminta maaf atas kejadian di hari pernikahan itu? Entahlah, aku tak ingin lagi berharap banyak darinya. Ku tunggu saja hingga dia sampai disini.


Aku langsung membagikan posisiku saat ini melalui ponsel. Tak berapa lama kemudian kulihat notifikasi dari Nathan yang telah membaca pesanku, ya.. Tenanglah Dara, cukup diam dan tunggu kedatangan Nathan yang mengatakan akan sampai sekitar satu jam lagi.


.


.


.


Satu jam setengah menunggu, nampak sebuah mobil Jeep warna silver metallic berhenti disana, memakan seluruh lahan parkir yang cukup sempit di depan warung. Mobil itu punya body yang cukup besar. Nampaknya jika ada pelanggan lain datang kendaraan mereka takkan muat ikut parkir disana.


Ku perhatikan dari balik etalase, lelaki itu turun dari mobil. Dia mengenakan kacamata hitam serta sweater jenis hoodie yang kupluknya digunakan untuk menutupi sebagian kepalanya. Di siang yang panas dalam lingkungan ibu kota seperti ini, entah apa maksudnya memakai pakaian setebal itu keluar rumah.


"Permisi" Ucap lelaki itu saat memasuki warung. Aku bergegas menghampirinya.


"Ah, mari.. Silahkan duduk. Biar aku siapkan minuman untukmu" Pamit ku.


Kakiku melangkah secepat kilat meninggalkannya yang nampak memilih tempat duduk agak ke dalam. Dari gelagatnya, dia seperti sedang menghindari sesuatu.


"Bu, ada Nathan" Ucapku pada ibu yang sedang duduk santai usai membereskan beberapa perabotan yang sudah selesai dicuci.


"Nathan?"


"Iya. Itu, ada di depan" Sahutku sembari membuatkan minuman dingin untuk tamu yang membuatku selalu gugup itu.


Ku lihat ibu langsung berjalan ke depan, sudah pasti ingin menemui Nathan disana. Biarlah, fikirku.


"Silahkan" Ucapku sembari menyuguhkan segelas es jeruk untuk Nathan yang telah membuka kacamatanya. Nampaknya dia sudah sedikit berbincang dengan ibu.


"Terimakasih" Sahutnya.


Aku menarik kursi plastik dari meja di sebrang, dan menempatkannya di sebelah ibu. Posisi ini, berhadapan langsung dengan Nathan.


"Bagaimana keadaan bunda Nath? Apa sudah membaik?" Tanyaku yang masih mengkhawatirkan bunda.


"Sudah, tapi masih perlu dirawat sampai beberapa hari ke depan"


"Oh, syukurlah" Jawabku.


"Ah, mumpung disini juga ada ibu. Saya ingin menyampaikan permintaan maaf kepada ibu, dan juga Dara. Atas semua kekacauan yang telah saya perbuat. Kiranya ibu dan Dara sudi memaafkan, saya mengucapkan banyak terimakasih"


"Ibu sudah memaafkanmu nak, ibu juga sudah melupakan kejadian itu" Jawab ibu. Begitulah ibu, memang selalu mudah memaafkan siapapun yang berbuat salah padanya.


"Kalau Dara?" Ucap lelaki itu, melemparkan pertanyaannya padaku.


"Ah.. A.. Aku.. Aku juga sudah memaafkanmu" Sahutku sekenanya.


Nathan nampak sumringah, mungkin perasaannya lega karena telah mendapatkan maaf dari kami. Baiklah, selesai sudah urusan kami, fikirku.


"Maksud kedatangan saya kesini, selain untuk meminta maaf dengan ibu dan Dara, juga ingin meminta izin pada pada ibu, untuk.. Melanjutkan pernikahan yang tertunda kemarin"


Apa aku tidak salah dengar? Melanjutkan pernikahan dia bilang?


"Apa nak Nathan sudah yakin dengan keputusan ini? Ibu mengerti, tidak mudah bagi anak-anak jaman sekarang untuk dengan mudahnya menerima perjodohan. Jadi wajar jika nak Nathan merasa keberatan"


"Saya sudah yakin bu. Saya akan menikahi Dara, lusa"


"Hah? Lusa?!" Ucapku setengah teriak. Aku benar-benar kaget dengan apa yang keluar dari mulut Nathan barusan.


"Iya, saya sudah mengurus kembali semua persyaratan untuk menikah.. Jadi semuanya tinggal dilaksanakan saja. Tapi, mungkin kita hanya melaksanakan akad saja. Dan karena bunda masih belum bisa keluar dari rumah sakit, prosesnya akan kita lakukan disana"


"Apa?! Menikah dirumah sakit?" Tegasku.


"Iya"


"Kenapa tidak menunggu sampai bunda bisa pulang saja?" Protesku.


"Aku sudah terlanjur mengaturnya. Dan karena aku sudah merasa yakin, jadi tak perlu ditunda-tunda lagi. Bunda juga sudah meyetujuinya"


"Aku rasa kamu tidak benar-benar yakin. Kamu tergesa-gesa melakukannya karena takut tiba-tiba berubah fikiran dan membatalkannya lagi, iya kan?" Tembakku. Jelas sekali Nathan nampak kalah dariku.


"Dara.." Panggil ibu mencoba mendinginkanku.


"Ibu menyetujuinya nak. Tidak masalah jika harus dilaksanakan di rumah sakit, asal tidak mengganggu kenyamanan yang lain" Lanjut ibu. Kali ini, aku kurang sependapat dengan beliau.


"Aku gak masalah jika memang hanya akan ada akad saja tanpa resepsi sama sekali. Tapi kalau di rumah sakit, rasanya seperti kurang etis Nath" Protesku lagi.


"Aku tidak punya pilihan. Tolong pikirkan lagi jika kamu mau melanjutkan pernikahannya. Oh iya, baju pernikahan kamu masih ada kan? Pakai itu nanti ya.. Aku akan menjemputmu lusa" Ucap Nathan bagai tak ingin memberiku celah untuk mengutarakan pendapatku lagi.


Apa kepala lelaki itu baru saja terbentur tiang listrik di jalan atau bagaimana aku tak paham, kenapa dia begitu tergesa-gesa ingin menikah denganku setelah sebelumnya justru menghilang dan membuat semuanya berantakan.


Dan lagi, menikah di rumah sakit? Tak pernah terpikirkan olehku, bahwa harus menjalani pernikahan yang seperti ini.


"Saya pamit ya bu" Ucap Nathan sembari mencium punggung tangan ibu.


"Iya nak.. Hati-hati di jalan ya"


Usai berpamitan dengan ibu, sepertinya dia juga hendak menyapaku. Namun tak ku gubris sedikitpun, hingga membuatnya mengurungkan niatnya. Aku masih duduk, dengan rasa kesal di dada.


Ibu mengantar Nathan hingga ia mencapai mobilnya dan pergi meninggalkan warung kami. Sedangkan aku, meliriknya saja malas.


"Nak.. Kenapa manyun terus?" Tanya ibu yang baru saja tiba di sebelahku.


"Gak kenapa-kenapa bu"


"Kamu kesal dengan Nathan?"


"Hhh.. Gimana gak kesal bu? Yang benar saja, masa harus menikah di rumah sakit sih" Protesku lagi dengan bibir yang masih maju beberapa centi.


"Itu kan hanya masalah tempat nak.. Yang penting kalian sah jadi suami istri"


"Tapi bu, ini momen sekali seumur hidupku. Walau aku juga tidak menginginkan pesta pernikahan yang mewah, ya setidaknya dilakukan di tempat yang pas gitu lho.."


Ibu ikut duduk di sebelahku sembari mengelus dengan lembut rambut panjangku yang tergerai lurus.


"Kamu dengar kan Nathan bilang apa tadi? Bu Erina belum bisa keluar dari rumah sakit. Sedangkan tanggalnya sudah ditentukan. Yang pasti, bu Erina juga ingin jadi saksi pernikahan putranya, jadi mau tidak mau harus dilaksanakan disana nak" Ucap ibu.


Aku memilih diam dan membiarkan ibu yang berbicara.


"Jadi, bagaimana? Apa kamu tetap mau menikah dengan Nathan nak?" Tanya ibu.


Otakku dipaksa untuk berpikir cepat, pilihan yang sungguh menyebalkan. Ingin ku berkata tidak, tapi pernikahan itu mungkin saja akan batal untuk yang kedua kalinya. Dan bunda, ah rasanya sangat tidak tega membiarkan dia sedih terus menerus.


Aku adalah calon menantu yang sangat diinginkannya. Meski jika dipikir-pikir, aku ini akan menikah dengan anaknya, bukan ibunya. Jadi aku juga tak bisa hanya memikirkan bunda, aku juga harus mempertimbangkan Nathan.


Kami belum saling menyukai, tak perlu dulu memikirkan rasa cinta. Dengan kondisi seperti ini, ya Tuhan.. Apakah benar aku akan menikah dengan lelaki itu.


"Aku bingung bu" Sahutku singkat.


"Baiklah. Kamu masih punya waktu untuk menetapkan pilihanmu nak.. Putuskan dengan baik dan bijak ya" Ucap ibu seraya beranjak dari kursi, hendak melayani pelanggan yang baru saja datang.


Aku mengatupkan kedua telapak tangan pada wajahku. Menarik nafas berat dan tenggelam dalam duniaku yang membingungkan.


DARA POV END