An Angel From Her

An Angel From Her
15# Ingatan Dari Masa Lalu



Malam semakin larut, rasa kantuk yang tak kunjung datang memaksa bunda untuk memberdayakan dirinya. Ia memutuskan untuk


membereskan sisa acara makan malamnya bersama Dara. Jika siang hari mungkin mbak Asih akan turun tangan membantu, namun mengingat jam kerja asistennya yang hanya sampai sore membuat ia harus menyelesaikannya sendiri.


Bunda tak sampai hati jika meminta mbak Asih untuk tinggal di apartment, mengingat dia memiliki anak-anak balita yang masih sangat membutuhkan ibunya. Anak-anak itu dititipkan pada neneknya saat mbak Asih pergi bekerja dan akan dijemput sore harinya. Hal itu telah di lakukan mbak Asih selama kurang lebih lima tahun.


Dengan cekatan bunda membereskan piring dan gelas bekas pakai di atas meja. Punggung tangannya sesekali menyeka dahinya ketika peluh mulai membasahinya. Sisa-sisa makanan yang tersisa di atas piring disingkirkannya menggunakan sendok ke dalam tempat sampah, kemudian dibawanya ke wastafel untuk langsung di cuci.


Meski rasa lelah menyelimuti karena sedari pagi menyiapkan semua keperluan yang dibutuhkan untuk menjamu Dara, namun ada sedikit perasaan lega karena telah menyampaikan niat baiknya pada Nathan. Setidaknya anak itu telah mengetahui rencana perjodohan tersebut. Terserah bagaimana selanjutnya, ia sudah pasrah.


Bunda menyandarkan punggungnya pada kursi ruang makan yang meja nya telah rapi dan kinclong seperti semula. Ia menarik napas dalam-dalam melepas penatnya sejenak.


Terdengar samar-samar suara seseorang membuka pintu dengan perlahan. Sebelum menoleh, bunda sudah dapat menebaknya. Waktu menunjukkan pukul 01:30 ketika Nathan baru saja tiba di rumah.


Nathan menyadari bahwa bunda belum terlelap. Ia mengendap-endap berniat untuk langsung ke kamarnya tanpa di ketahui bunda, dengan hati-hati melangkahkan kaki kanan dan kirinya secara bergantian mencapai tangga menuju lantai dua.


"Melihat kelakuanmu sekarang, sungguh sangat mengingatkan bunda pada seseorang. Yang bisa membuat bunda sakit hati hanya dengan menyebut namanya" Ucap bunda melontarkan kata-kata pada Nathan tanpa membalikkan badannya satu senti pun.


Nampaknya usaha Nathan sia-sia, pendengaran bunda memang sangat tajam. Membuatnya mengurungkan niat untuk langsung pergi ke kamarnya.


"Mungkin kamu tidak ingat banyak, mengingat saat itu kamu masih sangat kecil. John, laki-laki yang sangat manis di awal pernikahan, bisa sekejap berubah jadi orang yang bengis karena terjerumus oleh tipu daya drugs" Lanjut bunda.


"Mengingat ketika awal mula dia tergoda, kecanduan, lalu mati akibat overdosis penggunaan obat-obatan terlarang. Meninggalkan kita, bunda dan kalian yang terombang-ambing hidup tanpa arah. Itu sangat menyakitkan Nath. Sungguh benar-benar menyakitkan"


Nathan yang awalnya tidak tertarik jadi menaruh perhatian lebih pada cerita bunda. Dan beruntung dirinya tak begitu mabuk, sehingga bisa menyimak dengan baik apa yang bunda ucapkan.


"Bunda tidak akan menceritakan lebih jauh hal apa saja yang laki-laki itu lakukan sebelum kematiannya. Tidak penting lagi" Sambung bunda. Ia beranjak dari kursi dan perlahan menghampiri Nathan yang tengah berdiri di depan anak tangga.


"Tapi satu yang perlu kamu ketahui. Bunda betul-betul tidak ingin, salah satu dari anak-anak bunda mengulang apa yang dulu di lakukan oleh papanya. Dan bunda juga tidak ingin, membuka kembali lembaran dari luka lama yang telah bunda kubur bertahun-tahun bersamaan dengan kepergiannya" Ucap bunda lirih. Nathan dapat melihat dengan jelas bulir air mata yang hendak keluar dari kedua sudut mata bunda.


Kalimat terakhir yang terucap juga terdengar sedikit bergetar. Walau ia tak mengingat apa-apa soal masa lalu tentang papanya, tapi melalui bunda, rasa sakit, kekecewaan yang amat mendalam sedikit banyak nya dapat tersampaikan padanya.


Bunda adalah wanita yang selalu energik, ceria dan bersemangat serta penuh dengan harapan-harapan yang besar. Jadi jika seperti ini reaksi nya, dapat dipastikan hatinya telah disakiti, di cabik-cabik hingga hancur berkeping-keping oleh orang yang penting dalam hidupnya. Pasangan yang sangat dicintainya.


Usai berbicara dengan Nathan yang sedari tadi hanya diam seribu bahasa, bunda angkat kaki dari lantai satu menuju lantai dua, dan masuk dalam kamar tamu yang berdekatan dengan kamar Nathan. Ia menutup pintu dan menguncinya.


Isak tangisnya pecah disana. Membungkam sunyi nya dini hari. Goresan di hatinya yang hampir pulih terasa kembali perih. Dengan kembalinya memori-memori yang berusaha di pendam dalam-dalam selama bertahun-tahun lamanya.


Ia merasa tak kuat jika berlama-lama singgah di apartment dan bertemu dengan Nathan sang putra yang sebelas dua belas kelakuannya seperti almarhum suaminya. Paginya, ba'da subuh bunda memutuskan untuk kembali ke Bandung, setelah sebelumnya hanya mampu mengisitrahatkan matanya selama kurang lebih dua jam.


\*\*\*


Pagi hari, seperti biasa Dara telah sibuk membantu ibu memasak untuk dagangan. Memilih, membersihkan sayur dan bahan lainnya. Juga mengolah lalu meracik bumbu yang di perlukan. Mereka biasa memasak langsung di warung, agar lebih praktis. Karena memang tersedia area dapur juga disana.


"Bagaimana acara makan malamnya nak? Semalam ibu sudah tidur. Kamu pulang saja sudah tidak dengar" Tanya ibu pada Dara yang tengah sibuk menumis bumbu di wajan.


"Lancar bu" Jawab Dara.


"Alhamdulillah.." Sahut ibu seraya menyerahkan wadah berisi ayam pada Dara agar segera dimasak sampai matang.


"Apa anak bu Erina bersikap baik denganmu?" Tanya ibu lagi.


Dara mengambil jeda untuk menjawab pertanyaan ibu barusan. Memorinya teringat dengan kejadian malam tadi, ketika Nathan bersikeras menolak bahkan mengeluarkan kalimat bernada merendahkan yang ditujukan padanya.


Sekeras apapun ia berusaha melupakan, namun tetap saja rentetan peristiwa yang dialaminya tersimpan rapi di dalam otaknya. Bagai enggan disingkirkan dari ingatannya.


"Baik bu. Dia bersikap baik dengan Dara" Sahut Dara.


"Syukurlah. Ibu ikut senang mendengarnya" Ujar ibu.


"Wah.. Kak Dara bentar lagi mau nikah ya. Berarti gak tinggal di rumah lagi dong" Lisa yang saat itu juga berada di warung ikut menimbrung pembicaraan ibu dan kakak nya.


"Aku bawa seragam bu. Nanti tinggal ganti baju aja" Sahut Lisa.


"Kak.. Calonnya kakak gimana orangnya? Ganteng gak? Tapi kayak nya sih pasti ganteng ya. Orang bu Erina aja cantik gitu walaupun udah tua" Ucap Lisa.


"Memangnya kenapa kamu tanya gitu?" Sahut Dara tanpa mengindahkan pandangannya dari wajan.


"Ya gapapa. Aku mau tahu aja, kan asik kalau nanti kakak iparku ganteng" Celoteh Lisa.


"Mau ganteng atau tidak, yang penting bertanggung jawab dan sayang sama kakakmu nak" Jawab ibu.


Dara merasa bahwa pernikahan itu tidak akan terjadi. Ia tak ingin berharap banyak dan tak berminat di kecewakan. Respon dari Nathan sudah sangat jelas akan dibawa ke arah mana kelanjutan perjodohan itu.


Dara termenung hingga tak menyadari masakan di depannya telah mengering, nyaris gosong. Ia cepat-cepat mematikan kompor dan segera mengangkatnya dari wajan.


"Aduh, bu.. Maaf Dara kurang fokus tadi" Ucap Dara sembari menunjukkan ayam goreng mentega yang hampir dibuat gosong olehnya ke hadapan ibu.


"Masih selamat ini nak. Tidak apa-apa" Ucap ibu.


Dara menghela nafas lega.


"Lagi memikirkan apa nak sampai hilang fokus begitu?" Tanya ibu.


"Bukan apa-apa bu. Mana lagi yang mau di olah bu?" Jawab Dara mengalihkan pembicaraan.


Ibu memberi instruksi pada Dara yang diterima dengan baik olehnya. Ia lalu berkomitmen agar tak lagi mengacau masakan yang akan digunakan untuk menggerakkan roda perekonomian di keluarganya.


\*\*\*


Nathan tengah bersiap-siap di kamarnya selepas membersihkan diri. Ia memilah milih baju yang tertata rapi di dalam lemari. Pilihannya jatuh pada kaos turtle neck berlengan pendek dan dipadu padankan dengan celana jeans skinny berwarna abu muda.


Tak lupa sepatu berjenis boots favoritnya. Rambutnya di tata lebih rapi, karena hari ini kegiatannya hanya jamming bersama rekan dan beberapa musisi lainnya. Nathan memang rutin melakukannya saat senggang serta tak ada jadwal di band nya.


Ia memandangi pantulan dirinya lewat cermin. Wajah blasterannya yang selalu dipuja puji orang lain, tubuh yang tinggi dan sixpack. Body goals yang dimilikinya, semua pencapaian dan prestasi sudah terasa sempurna baginya. Memiliki kekasih yang dicintai dan mencintainya semakin menambah gairah hidupnya.


Apa semua harus digadaikan seandainya ia mau menerima pernikahan itu? Menikahi gadis yang tak sepadan dengannya. Bisa jadi semua fans fanatiknya langsung membenci dan meninggalkannya begitu mereka tahu idolanya telah menikah.


Saat banyak yang mengetahui soal hubungannya dengan Monica saja sudah cukup heboh, karena banyak dari fans club wanita yang cemburu. Namun masih dapat diterima sebab itu hanya 'pacar'. Tapi jika istri? Dia sama sekali tidak yakin itu akan berdampak baik pada karirnya.


Sedangkan di sisi lain, haruskah ia terus menerus jadi anak yang hanya bisa menyakiti perasaan ibunya? Mengingat semua pengorbanan yang telah dilakukan bunda untuknya pasti takkan bisa terbalas olehnya.


Tok.. Tok.. Tok..


Ketukan pintu dari seseorang dibaliknya memecah lamunan Nathan seketika. Ia segera memeriksa siapa yang datang.


"Permisi mas Nathan, boleh saya ambil pakaian kotornya?" Ucap mbak Asih. Pria itu lupa bahwa hari ini adalah jadwal mbak Asih mencuci pakaian.


"Iya mbak. Masuklah" Sahut Nathan mempersilahkan mbak Asih masuk ke kamarnya.


"Saya sudah siapkan roti sandwich isi daging slice di meja mas" Ucap mbak Asih.


"Iya mbak. Makasih" Jawab Nathan yang langsung turun menuju dapur. Untuk pertama kalinya, hari ini ia merasa sangat lapar.


Efek narkoba jenis sabu yang dipakainya memang membuat para penggunanya kehilangan nafsu makan. Bahkan seringkali Nathan merasa mual jika melihat makanan sekalipun itu adalah makanan favoritnya. Nathan memang belum lama kembali menggunakan barang haram itu setelah sebelumnya berhasil lepas total dari nya.


Ia baru teringat sekitar tiga hari berlalu sejak pemakaian terakhirnya, apa mungkin ini salah satu gejala sakaw? Atau mungkin ia bisa kembali berhenti dengan tanpa efek menyakitkan apa-apa? Yang jelas sekarang dirinya merasa lapar. Sangat lapar.


Entah efek dari si haram, atau karena sudah beberapa hari ia tak mengkonsumsi makanan berat dirinya tak peduli.