
Degup jantung terasa kian kencang tak beraturan seiring berjalannya sang waktu. Dara menunggu kedatangan bunda dan Nathan yang akan melamarnya hari ini dengan harap-harap cemas. Apakah benar lamaran ini akhirnya akan terjadi? Mengingat reaksi Nathan waktu itu, bersikeras menolaknya dan melontarkan kata-kata bernada merendahkan padanya.
Bagaimana bisa secepat itu dia berubah pikiran dan memilih untuk menerima perjodohan ini? Apa karena paksaan dari bunda? Tapi waktu itu, Nathan juga bahkan berani melawan bunda. Pertanyaan-pertanyaan itu terus berkecamuk dalam kepalanya hingga sedikit membuatnya pusing.
"Dara.. Calonmu sudah datang nak. Ayo keluar" Panggil ibu yang tiba-tiba sudah berada di belakang Dara yang tengah duduk di depan meja rias kamarnya, memandangi pantulan dirinya dari cermin yang ada di depannya.
"Iya bu" Jawab Dara pelan. Ia berusaha berdiri dan menopang tubuhnya, namun lututnya terasa enggan mendukung. Entah mengapa tubuhnya mendadak lemas kala ibu menginfokan kedatangan bunda dan Nathan.
Terdengar samar dari luar suara seseorang menyambut kedatangan rombongan calon keluarga barunya, seiring dengan keluarnya Dara dari dalam kamar. Dia masih berdiri mematung di depan pintu, wajahnya tegang.
Ia menoleh ke arah teras rumah, nampak Nathan yang mengenakan blazer abu-abu muda tengah berdiri disana bersama bunda, dan perwakilan keluarga Dara yang sedang menyambutnya. Ibu juga menghampiri mereka dengan maksud untuk mempersilahkan Nathan dan yang lain masuk ke dalam.
"Akhirnya sampai juga, bu Erina" Sapa ibu dengan ramah sembari menyalami bunda yang baru saja tiba.
"Iya bu Reny. Maaf kalau lama ya" Ujar bunda.
"Tidak bu"
"Oh iya, perkenalkan. Ini Nathan, putra saya. Nathan, ini bu Reny. Ibunya Dara" Ucap bunda mengenalkan Nathan pada ibu.
"Saya Nathan" Ucap Nathan seraya mencium punggung tangan ibu.
"Iya nak" Jawab ibu.
"Wooaah... Inii.. Calon suaminya kak Dara??" Ucap Lisa histeris kala melihat Nathan untuk yang pertama kalinya. Ia baru saja membaur disana dan langsung menyelak begitu saja.
"Lisa.." Tegur ibu.
"Ganteng banget! Kak Dara benar-benar beruntung. Eh.. Tunggu dulu, tapi rasanya, aku kok kayak gak asing ya sama wajah kakak" Ucap Lisa mendekatkan tubuhnya, lalu mendongakkan wajahnya pada Nathan.
"Kak.. Kakak ini artis ya?" Lanjut Lisa bagai sedang menginterogasi. Nathan sedikit mundur ke belakang agar tak terlalu mepet dengan Lisa yang terus mendesaknya. Dia mulai merasa tidak nyaman.
"Lisa.. Uhm.. Maaf ya nak Nathan. Ini adik bungsunya Dara, dia ini memang kadang suka ceplas ceplos. Mari silahkan masuk nak Nathan, bu Erina" Ajak ibu.
Bunda, Nathan, mbak Asih dan pak Eko masuk secara bergiliran. Sementara ibu, menasehati Lisa terlebih dahulu sebelum akhirnya bergabung dengan yang lainnya di dalam.
Dara telah menunggu disana, sembari duduk bersimpuh di lantai yang beralaskan sebuah karpet besar dan lebar. Setelan kebaya yang dikenakannya membuatnya harus pintar menempatkan diri agar tetap terlihat anggun di depan calon suaminya.
Nathan mengambil tempat bersebrangan dengan Dara. Pria itu menatap Dara tanpa ekspresi, begitu pun Dara yang nampak ragu-ragu membalas tatapan dari Nathan di hadapannya. Wanita itu bahkan tak bisa menutupi rasa gugupnya yang semakin bertambah kala acara lamaran itu dimulai.
Di pertengahan acara, paman Surya, adik kandung dari ibu yang menjadi perwakilan keluarga menyerahkan mic pada Dara dan meminta kepastian dari keponakannya.
"Dara.. Bagaimana nak, apa kamu menerima lamaran dari Nathan?"
Dara berdiri, kakinya gemetar, lidahnya kelu. Dia ingin menjawab pertanyaan itu, namun entah terasa sulit mengatakannya.
"Aku jawab apa ya" Gumamnya. Keringat sedikit meluncur melewati setiap lekuk di wajahnya. Tangannya masih menggenggam mic yang menyala itu tanpa ia dekatkan ke bibirnya yang mendadak tak bisa berucap. Nathan memperhatikan Dara tanpa dia sadari bahwa apa yang dilakukannya hanya memperparah rasa gugup yang tengah menyerang Dara.
"Dara?" Gubris paman Surya.
Dara tersadar dari lamunannya, ia harus segera menjawab dan memberi kepastian yang telah ditunggu-tunggu semua orang itu. Hembusan nafas berat di hembuskan dari kedua lubang hidungnya.
"Ss.. Saya.. Sa.. Saya.." Ucap Dara terbata. Matanya melirik ke arah bunda yang tersenyum dengan memberi isyarat anggukan padanya, sedangkan Nathan di sebelahnya hanya menatapnya dengan dingin. Dara menelan ludah dan berusaha mengeluarkan suaranya. Kali ini, dia akan menjawab.
"Saya.. Saya menerima, lamaran dari Nathan. Dan bersedia, jadi istrinya" Ucap Dara dengan mantap.
"Alhamdulillah.." Seru yang lainnya.
Nathan tertunduk lesu mendengar jawaban Dara. Awalnya dia berharap Dara akan mundur, itu sebabnya dia terus menatap benci pada Dara selama acara berlangsung. Namun rupanya wanita itu ingin mengadu nasib dengan bersedia menjadi istrinya. Baiklah, lihat saja nanti. Batinnya.
Dara memberikan tangannya pada Nathan dan meletakkannya di atas telapak tangan pria itu. Nathan dapat merasakan dinginnya telapak tangan Dara kala ia menyentuhnya. Wanita itu terlihat sangat gugup berhadapan dengannya. Tanpa berlama-lama Nathan segera melingkarkan cincin tersebut di jari manis sebelah kiri Dara.
Seorang fotografer maju dan mengabadikan momen itu. Memotret sepasang muda mudi yang telah resmi terikat tali pertunangan, walau tak ada sedikitpun gurat kebahagiaan dari keduanya. Terutama Nathan yang tak hentinya menatap sinis ke arah Dara.
Nathan mulai merasa muak dengan semuanya. Ingin rasanya ia kabur meninggalkan acara menyebalkan ini sekarang juga. Ia mengusap wajahnya menahan rasa benci dan menolehkan kepalanya ke luar rumah. Betapa terkejutnya dia ketika menyadari ada sepasang mata yang tengah memperhatikannya dari kejauhan, mengintip dari balik mobil yang terparkir.
Sepintas ia menyimpulkan bahwa orang itu adalah Monica jika dilihat dari bentuk wajahnya. Namun sayangnya dia langsung pergi dari sana ketika akhirnya Nathan menyadari keberadaannya. Tak tinggal diam, Nathan pun berusaha mengejar setelah sebelumnya berpamitan sebentar dengan keluarga yang tengah menyalami dan memberi selamat atas pertunangannya dengan Dara.
Dia mendapati orang itu tengah berlari menuju sebuah mobil. Nathan semakin yakin bahwa dia adalah Monica setelah melihat seluruh tubuhnya dengan jelas, serta mobil yang sedang ditujunya. Secepat apapun berlari, kecepatan wanita tentu akan kalah dengan pria. Nathan segera meraih lengan Monica yang jaraknya hanya tinggal beberapa meter darinya.
"Tunggu!" Ucap Nathan.
Monica berbalik arah, berhadapan dengan Nathan yang terengah-engah. Dia berusaha melepaskan genggaman tangan Nathan pada lengannya. Namun Nathan semakin memperkuat genggamannya.
PLAAKKK!!
Monica menampar pipi sebelah kiri Nathan dengan tangannya yang lain.
"Lepaskan aku!" Hardik Monica.
"Tidak!" Tolak Nathan.
"Lepaskan atau aku teriak" Ancam Monica.
"Silahkan.." Ucap Nathan menantang balik.
"Lepaskan sekarang juga Nath!"
"Bagaimana kamu ada disini?" Tanya Nathan.
"Kenapa? Kamu takut aku akan merusak acara pertunangan kamu? Dasar laki-laki b*j*ng*n!" Hardik Monica.
"Sayang tolong dengarkan aku dulu"
"Hah! Bisa-bisanya kamu masih panggil sayang setelah sekarang resmi jadi tunangan orang lain?! Kamu itu benar-benar br*ngs*k ya Nath! Kamu sama saja dengan yang lain" Ucap Monica yang semakin berapi-api.
"Aku sangat mencintai kamu Monica. Aku terpaksa. Aku benar-benar terpaksa melakukan ini. Tolong izinkan aku untuk menjelaskannya padamu" Pinta Nathan.
"Mau menjelaskan apa lagi Nath? Aku sudah menyaksikannya sejak tadi, sejak kamu keluar dari gerbang apartment. Aku mengikutimu sampai kesini. Jadi ini penyebab dari perubahan kamu. Penyebab kenapa kamu selalu menolak ketika aku meminta untuk dinikahi. Karena kamu telah memiliki wanita lain untuk dijadikan istri. Lalu aku ini apa bagimu selama ini, hah?! Pemuas *****?!!" Bentak Monica sembari menyentakkan tangannya dan berhasil melepaskannya dari genggaman Nathan yang melemah.
"Tidak sayang, bukan begitu. Tolong beri aku waktu untuk menjelaskan. Please, hanya lima menit saja"
"Aku tidak ingin mendengar apapun yang keluar dari mulut pembohong seperti kamu. Selamat ya! Semoga bahagia" Ucap Monica, ia melanjutkan langkah, mencapai mobil di depan matanya.
"Tunggu Mon!" Panggil Nathan. Kali ini ia kalah cepat dari Monica yang langsung tancap gas memacu mobilnya dan meninggalkan Nathan yang tengah berdiri lemah disana.
Wanita itu diselimuti emosi yang meluap-luap. Dia memacu kendaraannya dalam kecepatan tinggi, mengabaikan pengendara lain yang ada di sekitarnya. Menerobos lampu lalu lintas yang menyala merah, dan menyalib sembarangan kendaraan di depannya.
Air matanya turun tanpa henti, kekecewaannya amat dalam. Hatinya begitu perih menerima kenyataan bahwa Nathan mengkhianatinya. Pria itu akan segera menikah dengan wanita lain. Nathan menghancurkan perasaannya menjadi kepingan yang teramat kecil. Hingga mungkin saja tak dapat disatukan kembali.
"Aku percaya kamu. Selama ini aku kira kamulah laki-laki terakhir dalam hidupku. Setelah mereka para br*ngs*k itu membuangku seenaknya. Kamu datang menyelamatkanku, memberiku harapan. Tapi ternyata kamu sama saja dengan mereka! Aaaarrggh...." Monica meracau seiring dengan makin tingginya kecepatan laju mobil yang di kendarainya.
Dia bahkan tak memedulikan keselamatannya sendiri, hingga tiba lah dirinya di sebuah persimpangan tiga arah. Monica tak menghiraukannya dan terus menginjak pedal gas tanpa ada rem sedikitpun. Namun dari arah berlawanan muncul sebuah truk yang membuatnya terkejut dan langsung banting stir ke kanan. Mobilnya sempat berputar beberapa kali sebelum akhirnya terhenti karena menabrak pembatas jalan.
BRAAAAKKK...
"Hah.. Hah.. Hah.." Nafas Monica tersengal-sengal kala menyadari bahwa dirinya baru saja lolos dari kecelakaan.