An Angel From Her

An Angel From Her
46# Bulan Madu?



Ini.." Ucap Nathan seraya menyerahkan sebuah amplop coklat pada Dara yang tengah mengisi waktunya dengan merajut. Ia duduk dengan tenang di dalam kamar.


Semenjak Nathan menjadikan apartment sebagai basecamp darurat sejak satu bulan yang lalu, Dara jadi lebih sering menghabiskan waktu di kamar. Ia hanya akan turun ke lantai satu untuk memasak dan jika ada keperluan mendesak lainnya.


"Ehmm.. Ini?"


"Uang belanja" Sambar Nathan.


Dara menerima amplop itu ragu-ragu. Selama menikah, baru kali ini Nathan memberi uang belanja secara langsung. Biasanya, pria itu selalu menitipkannya pada mbak Asih yang kemudian akan memberikannya kepada Dara.


"Aku akan menggunakannya sebaik mungkin" Ucap Dara.


Nathan berbalik arah, hendak keluar dari kamar. Namun beberapa detik kemudian, ia merasa harus mengatakan sesuatu pada sang istri yang masih termenung disana.


"Ada sedikit bonus untukmu. Anggap sebagai ucapan terimakasih karena telah memasakkan makanan lebih untuk teman-temanku"


"Terimakasih Nath.." Ucap Dara sembari melempar senyum manis pada Nathan yang tampak dingin.


"Ehm.. Nathan.. Bolehkah aku ke warung ibu? Aku ingin mengecek bagaimana kondisi ibu. Khawatir sesuatu terjadi lagi padanya" Dara harap-harap cemas, dalam hatinya menebak-nebak jawaban apa yang akan diucapkan suaminya.


Nathan masih diam sembari mempertimbangkan suatu hal dalam pikirannya. Jika Dara tak ada di apartment mungkin saja akan lebih baik karena kawan-kawannya terutama Nico, takkan lagi menggoda Dara semaunya.


Pria itu sejujurnya juga tak mengerti dengan perasaannya sendiri. Kenapa ketika melihat Dara di goda sedemikian rupa, ada perasaan kesal dan tak nyaman di hatinya. Ia terus menyangkal bahwa dirinya mulai menaruh perasaan pada wanita itu. Tak mungkin, itu takkan terjadi. Selalu kata-kata itu yang diulangnya.


"Ya.. Kamu bisa kesana. Justru saat ini, jauh lebih baik kamu berada disana"


Dara begitu merasakan suka cita ketika Nathan mengizinkannya pergi mengunjungi ibu. Tampaknya, Nathan sudah berubah sekarang.


"Terimakasih banyak sekali lagi Nath.. Aku akan berangkat sebentar lagi" Ucap Dara.


Nathan mengangguk perlahan lalu berjalan keluar meninggalkan Dara yang terlihat sumringah disana. Wanita itu cepat-cepat membereskan peralatan merajut nya yang berserakan. Kemudian bersiap, mengganti pakaiannya dengan yang lebih rapi.


...***...


Dara tiba di rumah makan milik ibu sekira pukul 14:00 siang, ia menggunakan jasa ojek karena Nathan kali ini tak menawarkan untuk mengantarnya. Hari ini cukup terik, sinar mentari cukup membuat wajahnya memerah. Bulir-bulir peluh juga berjatuhan melewati kening, meluncur dengan lincah mencapai rahang.


Wanita itu sesekali menyeka wajahnya dengan tissue yang dibawa dalam tas kecil bertali panjang yang di selempangkan pada sebelah bahunya. Dari luar, Dara mengamati seseorang yang sedang duduk di dalam dan berbincang akrab dengan ibunya.


Orang itu, nampak seperti bunda dari kejauhan. Mungkinkah memang benar itu ibu mertuanya? Ia memutuskan untuk memuaskan rasa penasarannya dengan segera menghampirinya. Ketika akhirnya semakin dekat, ia baru benar-benar yakin bahwa itu memang bunda.


"Bunda.. Apa kabar?" Ucap Dara sembari mencium punggung tangan bunda dan memeluknya.


"Kabar baik nak.. Dara sendiri bagaimana? Sudah lama juga ya tidak bertemu" Balas bunda.


"Dara juga baik.." Jawab Dara. Mereka saling melepaskan pelukan.


"Menantu kesayangan bunda, makin cantik saja ya" Puji bunda.


"Sama seperti ibu mertuanya, yang juga semakin cantik" Ujar ibu menanggapi.


"Ah bu Renny.. Dara ini kan mewarisi wajah cantik ibunya.. Ya kan nak?" Bunda tak mau kalah. Dara menjawabnya dengan senyum khas nya.


"Ibu.. Gimana kabar ibu? Sehat kan bu" Dara melanjutkan juga dengan mencium punggung tangan ibu.


"Ibu sehat nak.. Apalagi ketika melihat kamu datang" Jawab ibu sembari membelai rambut Dara yang terurai.


"Oh iya, Nathan mana nak? Apa dia tidak mengantarmu?" Tanya bunda yang celingukan mencari keberadaan putranya disana.


"Ah.. Nathan.. Dia.. Sedang ada pekerjaan bun. Jadi nggak sempat antar aku kesini"


"Ya ampun anak itu.. Bisa-bisanya istri secantik ini dibiarkan pergi keluar sendirian" Keluh bunda sembari menepuk keningnya sendiri.


"Tidak masalah bu Erina, masih banyak alat transportasi yang bisa ditumpangi. Lagipula, nak Nathan kan juga sedang bekerja, bukan main-main" Ucap ibu dengan bijak.


"Eh, ngomong-ngomong.. Nak Nathan itu katanya musisi ya bu Erina? Anak band apa ya kalau saya tidak salah dengar. Apa betul bu?" Lanjut ibu. Rupanya dia juga penasaran dengan desas desus yang sempat di dengarnya dari beberapa tetangga yang mengenal menantunya.


"Yah.. Begitu lah bu Renny. Saya sih sebenarnya kurang setuju. Tapi mau bagaimana ya, susah anaknya dikasih tahu" Jawab bunda.


"Mungkin memang itu sudah menjadi kesenangannya juga bu. Terlalu mengekang juga akan berdampak kurang baik untuknya" Tanggap ibu.


"Iya bu Renny. Saya ya.. Jadi pasrah saja begitu. Apa maumu lah istilahnya"


Ibu menjawab dengan senyum dan anggukan perlahan.


"Dara.. Bunda malam ini rencananya mau menginap di apartment, boleh kah?" Tanya bunda pada Dara yang duduk di sebelahnya.


"Ya.. Kan sekarang kamu nyonya disana nak.. Sedangkan bunda tamu" Ujar bunda.


"Ya ampun bunda.. Nggak begitu ah.. Masa bunda dibilang tamu. Lagipula nyonya apa sih bunda, aku jadi gimana gitu rasanya disebut seperti itu.." Ucap Dara yang langsung merasa tak enak hati.


"Ha.. Ha.. Ha.. Kenapa nak? Benar lho, kamu nyonya, Nathan tuannya. Ya kan?" Ucap bunda menggoda Dara yang jadi malu sendiri.


"Ada yang bunda ingin sampaikan ke kamu dan Nathan. Nanti kita bicarakan ya" Sambung bunda lagi.


"Siap bunda" Sahut Dara.


"Kamu sudah makan siang nak?" Tanya ibu yang selalu perhatian dengan putrinya.


"Sudah bu. Sebelum kesini tadi aku sempat makan siang dulu" Sahut Dara yang diikuti anggukan dari ibu.


Perkataan bunda barusan, sedikit membuatnya penasaran. Dalam hati ia menduga-duga hal apa yang akan disampaikan ibu mertuanya itu. Apa mungkin bunda akan minta ia dan Nathan untuk ikut program hamil lagi seperti yang sudah-sudah?


Ataukah hal lain yang berada diluar dugaannya? Entahlah.. Saat ini, hanya bunda dan Tuhan yang tahu. Tapi jika boleh jujur, Dara sudah tak ingin lagi diminta untuk mengikuti program kehamilan, karena ia merasa semua akan percuma. Nathan pasti akan membatalkannya lagi dan lagi.


.


.


.


Sepulangnya dari warung makan, hari mulai gelap. Bunda mengajak Dara berjalan-jalan terlebih dahulu sebelum ke apartment. Ia membelikan menantunya ini dan itu. Baju baru, sepatu, tas juga semua perlengkapan yang dibutuhkan seorang wanita tak luput dari keranjang belanja.


Semuanya adalah barang mewah bagi Dara. Saking royalnya, ia sampai merasa tak enak hati dengan bunda yang membelikannya barang semahal itu bahkan tanpa melihat banderol harganya terlebih dahulu.


Ia juga memperhatikan sang ibu mertua yang dengan entengnya membayar total belanjaan yang mencapai puluhan juta dengan debit card pribadinya. Dalam satu malam, bunda telah menghabiskan nominal besar hanya untuk barang-barang yang sebenarnya belum diperlukan Dara.


Di sepanjang jalan menuju apartment, Dara tak hentinya mengucapkan terimakasih pada bunda atas apa yang diberikannya. Ia merasa ini terlalu berlebihan, tapi bunda merasa ini belum seberapa. Wanita paruh baya itu benar-benar menyayangi Dara seperti anaknya sendiri.


"Bunda.." Ucap Dara bagai sedang memelas.


"Apa lagi nak? Mau bilang terimakasih lagi? Sudah yang keberapa kali ini?" Terka bunda.


"Aku benar-benar nggak enak hati dengan bunda. Ini mahal-mahal banget bun. Aku juga belum perlu"


"Sudah.. Tidak usah terlalu difikirkan. Nanti kamu jadi susah tidur lho. Ayo masuk" Ajak bunda ketika mereka sampai di depan pintu masuk apartment.


Bunda menekan tombol password dengan sebelah tangannya, sementara tangan yang lainnya ia gunakan untuk membantu Dara membawa beberapa tas belanja. Ia tertegun sekian detik kala pintu terbuka dan melihat sesuatu yang mengejutkannya di dalam apartment.


Ruangan itu, nampak ramai di sesaki oleh Nathan dan kawan-kawan yang tak disukainya. Sekumpulan pria itu juga tak kalah terkejut ketika menyadari kehadiran bunda yang mendadak. Nathan mencoba mengambil alih suasana dengan segera menghampiri bunda yang masih berdiri di depan pintu.


"Bunda.. Apa kabar?" Sapa Nathan sembari memeluk tubuh bunda, ia juga cukup merindukannya.


"Bunda baik nak.. Ini ada apa ramai-ramai begini?"


Nathan melepaskan pelukannya dari bunda. Ia mulai menyusun kata-kata untuk menjelaskan situasi saat ini. Ia paham betul, bunda pasti tak menyukai keberadaan kawan-kawannya disini.


"Ehm.. Masuklah terlebih dahulu bunda.. Akan kujelaskan nanti" Ajak Nathan sembari menuntun tangan bunda agar ia mau masuk ke dalam.


Bunda mengikuti arahan putranya dengan tanpa mengindahkan sorot matanya pada mereka yang ada disana.


"Hai tante.. Apa kabar? Lama tidak bertemu" Sapa Regy berusaha berbasa-basi dengan bunda yang ekspresi wajahnya cukup mengerikan.


"Cukup baik.." Sahut bunda seperlunya. Regy tersenyum getir.


Nico, Mike dan Adly yang tengah duduk di sofa ruang keluarga itu langsung beranjak. Mereka bermaksud ingin mempersilahkan bunda untuk duduk disana, namun nampaknya wanita paruh baya itu enggan mendekat.


"Ah.. Bun.. Jadi begini, teman-temanku hanya menumpang kerja sementara disini, karena basecamp kita kebakaran sekitar satu bulan yang lalu. Sampai dengan saat ini, masih dalam tahap renovasi, jadi yaah.. Ini.. Ya.. Cuma sementara aja kok bun.." Ucap Nathan sedikit grogi. Bunda terus menatapnya tanpa berkedip.


"Iya tante.. Cuma sebentar saja kok. Mohon izin ya tante" Mike ikut menimbrung.


"Yaa.. Bukan masalah sih, lagipula apartment ini juga milik Nathan, jadi dia yang berhak menentukan" Sahut bunda.


"Oh iya anyway, sepertinya Nathan akan cuti selama kurang lebih satu minggu. Dia akan berbulan madu dengan Dara" Lanjut bunda.


Nathan terbelalak, sangat kaget dengan apa yang baru di dengarnya. Ia sama sekali tak menduga bunda masih saja bersikeras menyuruhnya untuk berbulan madu.


"Apa bun?! Aku nggak salah dengar? B-bulan madu?!" Ulang Nathan. Kedua pupil mata cokelatnya membesar seiring dengan nada bicara yang juga naik setengah oktaf.