An Angel From Her

An Angel From Her
17# Pilihan Paling Berat



"Keputusan tersulit dalam hidup bukanlah antara baik dan buruk atau benar dan salah. Tetapi antara dua barang atau dua hak" - Joe Andrew


Dua hak, yang mana kedua-duanya memiliki hak atas dirinya, dan hak untuk bahagia. Bunda berhak untuk bahagia, sementara Nathan juga berhak untuk menentukan pilihannya. Namun jika keadaan memaksa, maka ia juga harus bijak mempertimbangkan hak mana yang mesti di dahulukan.


Keputusan yang Nathan buat, di ambil dari dua pilihan tersulit baginya. Hati siapa yang harus di korbankan? Hatinya? Ibunya? Atau kekasihnya?. Dua wanita yang di cintainya, sebenarnya mereka bukanlah pilihan. Jika bisa, ia akan memilih dua-duanya.


Namun keadaan mendesaknya tanpa memberi celah. Tanpa memberinya kesempatan untuk memiliki second opinion. Perjodohan, ah.. Mendengarnya saja sudah memuakkan. Tapi apa daya? Semua mau tak mau harus di jalaninya. Demi 'kebahagiaan' seseorang yang darahnya mengalir dalam tubuhnya.


Nathan dan Monica, tengah menghabiskan waktu berdua di sebuah kamar dalam rumah milik Monica. Setelah hampir dua pekan menjalani perawatan di rumah sakit, kini Nathan telah benar-benar pulih dan lepas dari barang terlarang itu. Dirinya juga telah berjanji pada diri sendiri untuk tak akan menyentuhnya lagi.


Pria itu membelai lembut rambut sang pujaan hati yang menyandarkan kepala di atas paha nya. Mendengarkan seluruh celoteh dan cerita yang terlontar dari mulutnya. Perasaannya masih sama seperti ketika pertama kali berjumpa. Rasa cinta yang meluap-luap, walau mungkin sebentar lagi perasaan itu harus di pendam dalam-dalam.


"Honey" Panggil Monica dengan suara manja.


"Ya?" Jawab Nathan.


"Tetap bersamaku ya?" Ucap Monica.


"Memangnya aku akan bersama siapa?" Tanya Nathan. Ada setitik rasa perih di hatinya.


"Ya harus sama aku" Jawab Monica sambil mencubit pucuk hidung Nathan di atasnya.


Nathan menjawab dengan senyuman. Monica lalu membangunkan badannya dan duduk bersebelahan dengan Nathan.


"Kemarin, aku tiba-tiba saja takut kehilanganmu" Gurau Monica.


"Aku kan gak kenapa-kenapa" Ucap Nathan.


"Kamu hampir mati honey. Aku yang menyaksikannya"


"Oh ya?"


"He'em" Angguk Monica.


"Honey. Kalau misalnya tiba-tiba aku menghilang bagaimana?" Tanya Nathan.


"Akan aku cari"


"Kalau gak ketemu?"


"Pokoknya harus ketemu! Iih.. Kamu kenapa sih bicaranya gitu" Ucap Monica yang langsung memeluk erat tubuh Nathan.


"Hi..hi..hi.." Kekeh Nathan.


"Jangan bicara yang bukan-bukan. Pokoknya kita akan terus sama-sama! Ya?" Ucap Monica sembari mendongakkan wajahnya. Posisi mereka sangat dekat, hanya dibatasi oleh hidung yang saling menempel.


Dalam situasi seperti ini, tentulah setan yang memegang kendali. Nathan tergoda dengan sang kekasih yang saat itu hanya mengenakan baju berbahan tipis serta celana pendek dan memamerkan area kakinya yang jenjang.


Pria itu mendorong bibirnya dan ******* bibir seksi kekasihnya yang langsung mendapat balasan darinya. Jemari nya menyingkirkan rambut panjang Monica yang terjulur di depan ke arah punggungnya. Membelai lembut pipinya, dan perlahan menurunkan bibirnya ke area dagu, lalu leher. Menciumi sambil sesekali menjilati juga memberi gigitan kecil disana.


Monica mulai menggelinjang seiring dengan diturunkannya satu lengan bajunya. Ciuman semakin panas, Monica mengeluarkan desahannya yang membuat Nathan makin terlena.


Tanpa aba-aba pria itu segera menerkam mangsa di hadapannya tanpa ampun. Menyerangnya dengan seluruh nafsu yang menggebu. Malam itu, adalah kali kedua mereka melakukannya tanpa ikatan yang resmi.


...***...


Usai melewati malam penuh kenikmatan, Nathan bangun lebih pagi dari biasanya. Dirinya kini masih berada di kamar Monica, terbaring di ranjang dengan hanya mengenakan selimut. Ia menoleh ke sebelah kirinya, mendapati Monica masih tertidur lelap dengan keadaannya yang juga serupa dengannya. Posisinya miring kanan menghadap ke arahnya.


Kedua matanya menatap sendu wanita yang dicintainya itu. Padahal, pemandangan ini begitu indah jika suatu hari nanti Monica lah yang akan jadi istrinya. Melihat wajah manis dan cantiknya saat tengah terlelap, rambut curly panjangnya yang tergerai indah dengan sedikit acak-acakan akibat perbuatannya semalam. Memandangi dua buah aset nya yang tertutup setengah, benar-benar surga.


Pria itu mencari celana nya yang tercecer dilantai, meraihnya, dan kemudian segera memakainya. Dia kembali duduk di tepi ranjang, sebuah foto dengan frame berukuran kecil yang diletakkan di meja samping ranjang mengalihkan perhatiannya.


Itu adalah foto dirinya dan Monica, ketika pertama kali nge-date. Banyak kenangan indah yang tertulis dalam foto itu, seakan mengajaknya untuk kembali bernostalgia pada masanya. Ia tersenyum tipis sembari mengingat-ingat momen yang takkan pernah bisa dilupakannya.


"Hhmm.. Sayang.." Ucap Monica seraya melingkarkan lengannya pada pinggang Nathan dari arah belakang.


"Sudah bangun?" Sapa Nathan dengan sedikit menolehkan kepalanya.


"Uhm.." Sahut Monica.


"Maaf, aku melakukannya lagi" Ucap Nathan.


"Kenapa minta maaf? Memangnya kamu tidak mau?" Tanya Monica dengan masih memeluk Nathan.


"Tentu saja mau, tapi aku tidak minta izin dulu"


"Anggap saja aku istrimu" Goda Monica.


Nathan berbalik arah, ia menyaksikan Monica yang duduk dengan hanya menutupi setengah dari buah dadanya. Membuat Nathan sedikit bergidik. Ia berusaha menahan diri sekuat tenaga.


Monica memberi serangan ciuman tiba-tiba yang tak dapat di hindari oleh Nathan. Kedua lengannya di letakkan pada kedua bahu Nathan sembari menjenggut manja rambutnya.


"Hhh.. Sayang.. Sudah cukup ya?" Ucap Nathan sembari melepaskan ciuman Monica.


"Hmm?" Monica keheranan.


"Cukup, sayang"


"Tumben sekali. Biasanya kamu.."


"Aku merasa sudah cukup. Kamu juga perlu membersihkan diri" Ujar Nathan.


"Kamu juga belum bersih-bersih"


"Sudah. Tadi aku sempat terbangun sebentar untuk ke toilet. Lalu aku tidur lagi" Sanggah Nathan.


"Honey. Kamu gak lagi kenapa-kenapa kan?" Tanya Monica. Intuisi nya mengatakan bahwa ada sesuatu yang janggal dari diri Nathan.


"I'm okay honey" Ucap Nathan meyakini, meskipun belum dapat memuaskan Monica.


"Yasudah, aku bersih-bersih dulu ya" Ucap Monica.


"Iya honey" Sahut Nathan.


Monica berlalu dari hadapannya, berjalan santai menuju toilet yang berada di kamarnya untuk segera membersihkan diri dari sisa pertarungan malam tadi.


"Lagi liat apa sih" Tanya Monica yang ikut nimbrung dengan Nathan.


"Balas chat. Sudah selesai mandinya?" Sahut Nathan seraya mengusap-usap kepala Monica dengan rambutnya yang masih setengah basah.


"Sudah dong"


"Honey. Aku pulang ya" Ucap Nathan.


"Hhm.. Kamu gak mau sarapan bareng aku dulu?" Tanya Monica manja.


"Aku ada keperluan. Mungkin lain kali ya" Jawab Nathan.


"Oke lah. Pacarku ini memang sibuk sekali ya" Ujar Monica.


"Makasih ya pengertiannya" Ucap Nathan sambil mengecup kening Monica dengan hangat.


Nathan beranjak dari sofa. Monica segera memeluknya ketika Nathan telah berdiri sempurna. Sangat erat bagai tak ingin di lepasnya lagi.


"I love you honey. Kabari aku ya" Ucap Monica.


Nathan menjawab dengan mendaratkan ciuman di puncak kepala Monica setelah mereka saling melepaskan pelukan. Ciuman mendalam yang mungkin akan jadi yang terakhir kalinya. Namun ia harus kuat, dia harus tetap menguatkan tekadnya. Demi bunda.


Nathan berjalan keluar diiringi Monica yang dengan mesra mengantarnya sampai depan. Kemudian pria itu menaiki mobil jeep nya yang terparkir di teras rumah. Lalu segera memacunya, meninggalkan Monica yang tengah di selimuti rasa penasaran.


Mengapa Nathan bahkan tak membalas kata I Love you yang ditujukan padanya? Padahal biasanya dialah yang selalu melontarkannya lebih dulu. Bahkan semalam usai bercinta, Nathan nampak begitu pasif. Apa yang salah dengan lelakinya itu? Semoga bukan hal yang buruk, harapnya.


Nathan menyetir mobilnya dengan kecepatan sedang, menyusuri setiap kelok jalanan ibu kota yang di laluinya. Pikirannya melayang pada bunda, yang telah cukup lama tak terdengar kabarnya. Sembari memainkan pedal dan memegang setir ia terpikir untuk mengunjungi bunda di Bandung, karena hal seperti ini tak bisa di biarkan terus menerus.


Ia melirik jam tangan yang terpasang di lengan sebelah kirinya, pukul 08:00 saat ini. Tentulah masih banyak waktu untuk menempuh perjalanan ke Bandung yang memakan waktu sekitar empat jam perjalanan. Kecepatan laju kendaraannya di rendahkan sembari ia meraih headset wireless nya yang terletak di dashboard.


Panggilannya tertuju pada Regy. Dirinya hendak mengabari bahwa hari ini atau beberapa hari ke depan akan absen datang ke basecamp.


"Iya. Gy, hari ini gue absen ya. Lagi on the way Bandung" Ucapnya.


"Berapa hari disana Nath?" Tanya Regy.


"Belum tahu. Nanti gue kabari lagi. Oke. Thanks ya gy" Ucap Nathan seraya mengakhiri panggilan.


Sinar mentari pagi cukup menyilaukan mata, Nathan segera mengenakan kacamata hitam aviator untuk menjaga fokusnya dalam menyetir. Setelah berhasil melewati kemacetan ibu kota yang lumayan padat, ia mengarahkan mobilnya masuk ke jalan tol, dan memacunya secepat mungkin. Tak sabar rasa hatinya ingin berjumpa dan mengetahui kabar bunda. Semoga bunda baik-baik saja disana.


...***...


Kota Bandung, yang memiliki sejuta pesona di dalamnya. Alamnya, Tempat-tempat wisata indah yang menjamur membuat siapapun tergiur untuk mengunjungi atau bahkan tinggal disana. Area kota yang terlihat rapi, dan bersih karena di kelola dengan baik oleh pemerintah setempat seakan menyambut kedatangan Nathan.


Namun ia masih harus menempuh perjalanan sekitar satu jam lagi agar dapat mencapai rumah bunda yang letaknya berada di dataran tinggi. Dirinya harus bersabar sebentar lagi.


Cuaca yang terik di Bandung kota berganti jadi gerimis rintik-rintik setibanya ia di kawasan tempat tinggal bunda. Kini tinggal beberapa meter lagi jaraknya dari rumah tersebut.


Suasananya sangat sejuk, jauh dari hiruk pikuk kota yang penuh dengan polusi. Memang cocok bagi orang seperti bunda untuk tinggal di daerah seperti ini, yang selalu menggerakkan gaya hidup sehat.


Tiin..tiin..


Nathan menekan klakson mobil untuk memberi tanda agar dibukakan gerbang. Kini ia telah sampai di rumah bunda. Pak Eko, sopir pribadi bunda cepat-cepat menghampiri ketika menyadari Nathan tiba disana. Ia menarik gerbang dan mempersilahkan Nathan memarkir mobilnya di halaman rumah.


"Siang mas Nathan" Sapa pak Eko ketika Nathan baru turun dari mobil.


"Siang Pak. Bunda ada?" Tanya Nathan seraya melepaskan kacamata nya.


"Ada mas. Sejak kemarin ibu belum ada keluar" Jawab pak Eko.


"Oh. Baik, saya masuk dulu ya"


"Silahkan mas" Ucap pak Eko.


Tanpa aba-aba Nathan segera memasuki rumah tersebut. Berjalan perlahan melewati ruang tamu lalu menuju ruang keluarga. Rumah itu terlihat makin luas, sepertinya ada beberapa barang yang di tata ulang oleh bunda. Dirinya memang telah lama tak menyambangi rumah ini, hingga sedikit lupa bagaimana tatanan interior nya ketika terakhir kalinya ia kesini.


"Lho.. Mas Nathan?" Sapa seseorang pada Nathan.


"Eh.. Bi.." Sahut Nathan.


Bi Sari, dia adalah seorang asisten rumah tangga berusia 50 tahun yang selama ini telah banyak membantu dan menemani bunda. Tanpanya, mungkin bunda akan kesepian tinggal di rumah sebesar ini. Bi Sari adalah ibu kandung dari mbak Asih, asisten yang membantu Nathan di apartment.


Kala itu, bi Sari menyampaikan bahwa anaknya tengah mencari pekerjaan. Suaminya menganggur sedangkan ia memiliki anak-anak yang usianya masih sangat kecil dengan jarak yang berdekatan. Kebetulan anak bi Sari ini tinggal cukup dekat dengan apartment, mengontrak di sebuah rumah yang juga masih satu kawasan dengan rumah mertuanya.


Bunda tak perlu berpikir dua kali ketika menyadari bahwa Nathan juga perlu tenaga bantuan disana, mengingat ia mesti tinggal berjauhan dari putranya itu. Pada akhirnya bunda merekrut mbak Asih, anak dari bi Sari untuk bekerja di apartment.


"Bunda ada, bi Sari?" Tanya Nathan.


"Ada mas. Aduh.. Sudah lama juga mas Nathan gak kesini ya. Sibuk ya mas? Lagi banyak konser ya? Saya suka liat mas Nathan di TV. Hebat ih" Puji bi Sari seraya memberi dua jempol untuk Nathan.


Nathan tersenyum ramah.


"Si Asih gimana kerja nya mas? Kalau ada dia bikin salah jangan sungkan untuk ditegur ya mas" Lanjut bi Sari.


"Bagus kok bi. Mbak Asih gak ada masalah. Mmm.. Bunda, ada di kamar bi?" Tanya Nathan.


"Iya mas.. Bunda ada di kamar. Sudah hampir dua bulan bunda rada jarang pergi keluar mas. Lebih sering terima tamu dirumah juga. Bibi tanyain sakit apa nggak, jawabnya nggak. Tapi bibi juga heran kenapa bunda tiba-tiba jadi kayak gak bersemangat begitu ya" Jelas bi Sari.


Nathan merasa sedikit tertampar dengan laporan yang baru saja di dengarnya.


"Saya ke bunda dulu ya" Pamit Nathan.


"Iya mas. Eh mas Nathan mau dibuatin minum apa?" Tanya bi Sari.


"Tidak usah bi. Nanti saya ambil sendiri" Sahut Nathan.


Ia lalu menuju kamar bunda yang terletak di sebelah ruang keluarga pada lantai satu. Itu adalah kamar utama pada rumah tersebut. Pintunya terbuka sedikit memperlihatkan bunda yang tengah duduk di tepi ranjang membelakangi arahnya.


Di tangannya terdapat sebuah album foto yang tengah di bolak balik halamannya. Sepertinya itu adalah foto kenang-kenangan keluarganya. Nathan dapat sedikit mendengar isak tangis dari bunda, dengan bahunya yang terlihat bergetar.


"Bunda rindu.. Keenan.. Nathan.." Ucap bunda dalam lirih.