An Angel From Her

An Angel From Her
88# Aku Mencintaimu!



Dara memulai hari yang baru, mencoba melupakan masalah dan sakit hatinya sejenak. Menyingkirkan kebencian yang membuncah pada sang kakak ipar. Pagi ini, seperti biasanya Dia mulai sibuk di dapur memasak sarapan untuk suaminya.


Nathan telah berulang kali menyakitinya, namun rasa sayang dan tanggung jawab menuntunnya untuk selalu menghormati dan melayaninya sepanjang ia jadi istrinya.


Semangkuk nasi goreng nan harum sudah tersaji di atas meja, lengkap dengan dua buah omelette yang diletakkan di piring sebelahnya. Dara memang selalu menyajikan nasi goreng dalam satu wadah besar, agar Nathan bisa menambah porsi sepuasnya.


"Kamu masak apa, Ra?" Ucap Nathan yang baru sampai di ruang makan. Dia menatap wajah istrinya yang berangsur membaik. Sedangkan Dara sedikit terperanjat dengan kehadiran Nathan yang tiba-tiba.


"Masak nasi goreng dan omelette nya. Sarapan Nath!" Sahut Dara ramah.


Nathan menempatkan diri di kursi, duduk dan bersiap menyendok makanan yang nampak lezat di depannya.


"Selamat pagi.." Sapa Keenan yang ikut bergabung. Nathan mengulas senyum, sedangkan Dara memasang wajah penuh amarah.


Melihat pria itu membuat Dara kembali mengingat perbuatan memalukannya kemarin sore, memancing rasa benci datang lagi.


"Uhm.. Nath, kamu sarapan duluan saja ya. Aku sedikit nggak selera" Dara mengurungkan niatnya untuk duduk dan menyantap hidangan bersama Nathan.


Dia melenggang pergi cepat-cepat meninggalkan Nathan yang diliputi keheranan melihat tingkah istrinya yang tak biasa.


Sementara Keenan, jangan ditanya seberapa merasa bersalahnya dia ketika perlakuan Dara berubah drastis padanya.


...***...


Sejak hari itu, sebisa mungkin Dara selalu menghindari kontak langsung dengan Keenan. Ketika pria itu sampai di apartment, dia buru-buru masuk ke kamar. Dan baru akan keluar jika Keenan sudah kembali pergi.


Tidak ada sarapan, atau kadang makan malam bersama lagi seperti dulu. Tidak ada obrolan-obrolan hangat yang biasanya ia lakukan bersama Keenan di sela-sela waktu senggangnya. Juga tidak ada lagi tegur sapa penuh keramahan darinya.


Semua telah berubah, setelah pria kurang ajar itu memutuskan untuk menciumnya sembarangan.


Dara belum berani mengatakan hal ini pada Nathan, dia sudah menduga bahwa akan terjadi pertengkaran. Nathan baru saja 'sedikit' bisa menerima kehadiran Keenan disini, memperbaiki hubungan mereka yang bersitegang selama bertahun-tahun. Biar bagaimanapun, mereka adalah saudara kandung, sudah sepantasnya saling menyayangi penuh kedamaian.


Dia tidak mau menjadi alasan atas permusuhan dua kakak beradik itu untuk yang kedua kalinya.


Kejadian itu sudah berlalu kurang lebih dua minggu, Keenan tak pernah lagi bisa hidup dengan tenang. Dara nampak sulit mengampuninya, dan itu sangat mengganggu pikirannya.


Dia sering kehilangan fokusnya bahkan ketika sedang membuka jam praktek. Ini sangat mempengaruhi reputasinya sebagai seorang dokter yang menanggung kepercayaan para pasien di atas tangannya.


Hari ini jadwal prakteknya selesai pukul 15:00, Keenan bergegas pulang, berniat ingin meminta pengampunan sekali lagi pada Dara, meski dia ragu apakah hal ini akan berhasil.


Sesampainya di apartment, Keenan benar-benar langsung berhadapan dengan Dara yang memandang benci. Dia terpergok sedang membaca sebuah buku di tangannya, seorang diri duduk di sofa ruang keluarga.


Usai mempertimbangkan situasi yang memungkinkan, Keenan cepat-cepat melancarkan aksinya untuk berbicara dengan Dara. Namun wanita itu juga bergegas bangkit dan menjauh darinya.


"Dara.. Bisa kita bicara sebentar?" Ucap Keenan berusaha mengejar Dara yang langkahnya mendadak gesit. Dengan lincah menapaki satu per satu anak tangga menuju lantai dua, Keenan tahu, dia pasti akan mengunci diri dalam kamar.


Dara tak menyahut, menoleh pun enggan. Dia terus berjalan mengikuti kemauannya.


"Dara.." Ketika akhirnya mereka sampai di lantai dua, salah satu tangan Dara berhasil di genggam Keenan.


"Lepas! Jangan sentuh aku!" Dengan kasar Dara menyentak-nyentakkan tangannya mencoba melepaskan jeratan Keenan.


Genggaman itu melemah, dan Dara berhasil melepasnya. Sorot matanya berapi-api memandang lawannya. Amarah sangat jelas tergambar di wajahnya.


"Dara, kakak tau perbuatan kakak sudah sangat kelewatan dan melukai kamu. Kakak juga paham kalau tidak semudah itu memberi maaf untuk orang seperti kakak. Tapi.. Jujur kakak benar-benar tidak tenang belakangan ini" Keenan menggantung kalimatnya, mengamati respon Dara sejenak.


"Kakak tidak memaksa kamu untuk bisa memaafkan, tapi tolong izinkan kakak untuk meminta maaf kembali padamu. Dara, maafkan kakak. Atas semua tindakan bodoh yang telah kakak lakukan, atas semua luka yang telah kakak goreskan dihatimu" Keenan mengiba, tapi Dara tak tersentuh sedikitpun.


"Aku mungkin bisa memaafkan kakak, tapi butuh waktu. Mengingat betapa menjijikkan nya ketika menyadari ada seorang kakak yang dengan teganya mengkhianati adiknya sendiri. Mencium istri adiknya sembarangan!" Hardik Dara diiringi dengan emosi yang mencuat dari dalam hatinya.


"Apa?! Mencium?!!" Suara menggelegar terdengar dari balik tubuh Keenan yang menutupi Dara. Mereka terlalu larut dengan perdebatan hingga tidak menyadari Nathan pulang lebih awal dari biasanya. Dan secara tidak sengaja mendengar semua yang sebenarnya ingin Dara rahasiakan.


Mereka berdua menoleh berbarengan, mendapati Nathan yang berdiri tegak di belakang Keenan. Kemarahan tercetak jelas dari ekspresi wajahnya.


"Siapa yang menciummu?!" Nathan mendekat pada Dara yang tertunduk ketakutan. Tak ada jawaban darinya.


"Ehm.. Nath, kakak bisa jelaskan ke kamu"


Nathan mengangkat sebelah tangannya, memberi isyarat agar Keenan tak melanjutkan ucapannya. Dia tidak membutuhkan penjelasan apapun darinya.


Dara mengangguk pelan sambil terus menunduk, dia tak punya nyali untuk menatap Nathan yang nampak begitu marah.


"Baj*ngan!"


Nathan melayangkan tinjuan keras ke wajah Keenan hingga jatuh tersungkur. Belum puas melampiaskan emosi nya yang membara, ia menubruk tubuh sang kakak yang terduduk tak berdaya di lantai. Terus menghadiahi wajahnya dengan pukulan berkali-kali.


Dara panik, melihat Nathan yang nampak tak memiliki belas kasih pada Keenan. Pria itu hampir pingsan mendapat pukulan bertubi-tubi di wajahnya.


"Nath! Nath! Cukup.. Cukup!!" Dara berusaha melerai suaminya yang kalap, meski tak terlalu membantu.


"Nath! Ku mohon hentikan!" Kali ini dia berhasil menggenggam lengan Nathan yang akan meninju Keenan untuk yang kesekian kali.


Nathan menghentikan pukulannya ketika menyadari Dara memegangi lengannya. Sentuhan tangan itu seakan menghantarkan energi positif padanya. Dia bangkit, dan membiarkan Dara terus menggenggamnya.


"Uhukk.. Uhuk..." Sementara Keenan masih tergeletak tak berdaya di atas lantai. Darah segar nampak mengalir dari hidung dan bibirnya yang pecah.


"Dari awal gue udah curiga ya, tiap kali liat lo menatap Dara. Lo pikir gue nggak paham? Ternyata dugaan gue benar!" Hardik Nathan, napasnya naik turun menahan semua gejolak dari hatinya.


"Tapi sorry. Dara milik gue! Lo nggak bisa seenaknya memperlakukan dia seperti itu. Sama aja lo udah menginjak-injak harga diri gue Keenan!" Lanjutnya.


Meski masih ketakutan, ada sedikit perasaan hangat yang menjalar di hati Dara saat mendengar kata-kata Nathan barusan. Terutama saat pria itu menyebut dirinya adalah "miliknya".


"Gue minta, sekarang juga lo pergi dari sini! Gue nggak sudi tinggal satu atap dengan orang mesum kayak lo!"


Setelah puas memaki kakaknya, Nathan langsung memboyong Dara masuk ke dalam kamar. Membiarkan Keenan merenungi ucapannya, dan segera mengemasi barangnya agar bisa segera meninggalkan apartment sore ini juga.


Nathan mendudukkan Dara di tepi ranjang, sementara ia berjongkok dengan menjadikan satu lututnya sebagai tumpuan.


"Maaf, kamu harus melihatnya" Sesal Nathan karena tidak lebih dulu menyingkir dari hadapan Dara ketika ia memukuli Keenan. Emosi yang memuncak membuatnya kehilangan sedikit kesadaran.


"Apa lagi yang dia lakukan padamu?!"


Dara menggeleng. Dia masih belum berani menatap Nathan.


"Kapan dia melakukannya?"


"Uhm.. Sudah.. Sekitar satu atau dua minggu yang lalu. Aku lupa kapan pastinya" Sahut Dara tak yakin.


Nathan menghela napas, berusaha menetralisir emosinya. Kecurigaannya selama ini terbukti, Keenan diam-diam menyukai Dara. Namun kejadian yang menimpa istrinya itu adalah hal yang paling berada dalam radius paling jauh dari dugaannya.


"Kenapa kamu nggak bilang sama aku sih Dara?" Tanya Nathan, nada bicara nya melembut.


"A-aku.. Hanya nggak mau kalian bertengkar lagi. Kamu sudah bisa menerimanya, dan kalau aku cerita soal ini, pasti kamu akan membencinya lagi. Aku nggak mau jadi penyebab permusuhan di antara kalian"


"Tapi dia sudah melecehkanmu!"


"Aku tau.." Dara menjawab dengan cepat. "Itu pun sangat menyakitiku. Tapi, aku coba menerima ini sebagai peringatan untukku. Agar tidak lagi mengabaikan perintahmu" Lanjutnya dengan rasa penyesalan di akhir kalimat.


"Ya! Jangan lagi. Tolong jangan lagi meremehkan ucapanku" Nathan meraih dagu Dara agar dia tak bisa lagi mengarahkan sorot matanya ke sembarang tempat.


Dara tidak dapat menyembunyikan rasa gugupnya, wajahnya memerah.


"Dara. Aku minta maaf, semua yang telah ku lakukan. Aku tau itu sangat menyakitimu, bahkan mungkin menghancurkan perasaanmu" Ucap Nathan lembut.


Memandangi wajah Dara yang termangu membuatnya gemas. Tanpa permisi Nathan langsung memeluk Dara, yang tentu langsung menciptakan serangan gugup bagi wanita itu.


"Maukah kamu memulainya lagi dari awal? Rumah tangga ini?" Tanya nya lagi. Nathan menempatkan dagunya di atas bahu Dara yang terasa kaku.


"Aku menyadari, bahwa aku sudah jatuh cinta padamu. Dara, aku mencintaimu!" Nathan membenamkan wajah nya dalam tubuh Dara yang semakin lama makin kaku seperti arca.


Dia tak menyangka akhirnya Nathan akan mengatakan itu. Mungkin inilah yang dikatakan hikmah dari setiap musibah yang terjadi dalam hidup.


Kini, dalam pelukan Nathan, Dara tidak mampu mengendalikan perasaannya. Senang, haru, gugup dan semuanya bercampur jadi satu. Menciptakan ledakan hebat dalam hatinya.


Dia hanya sanggup membatin, dengan segala kebahagiaan yang membuncah.


"Kamu mencintaiku. Aku pun amat mencintaimu, Nathan!"