
Kurang lebih tiga puluh menit berlalu, Dara masih menunggu seseorang yang memintanya untuk bertemu siang ini. Di sebuah cafe, dalam ruangan bertema klasik.
Ia duduk, memesan secangkir lemon tea hangat yang sudah tinggal separuh. Sambil sesekali mengecek ponsel, Dara mengedarkan pandangan ke arah pintu masuk. Berharap sebentar lagi orang itu akan datang.
Dara datang sendirian, tanpa mbak Asih, tanpa sepengetahuan Nathan. Karena yakin pria itu takkan mengizinkan seandainya ia mengatakan ingin ke cafe untuk menemui seseorang.
Dan mbak Asih, ia memintanya untuk sportif agar tidak memberi tahu suaminya, meski sang asisten merasa khawatir luar biasa jika melepas majikannya itu pergi sendirian.
Dara kembali memusatkan perhatiannya pada ponsel dalam genggaman. Mencoba untuk menghubungi orang yang ditunggu nya.
"Hai Dara.." Sapa seseorang tiba-tiba.
Dara mengerjap, langsung mengangkat wajahnya, menatap seorang wanita di depannya.
"Hai.." Sahutnya.
"Maaf ya, aku lama"
"Nggak masalah" Ucap Dara ramah.
Ia memandangi wanita itu, begitu banyak perubahan yang terjadi. Dara tidak tahu, apa yang tengah di alaminya.
Monica, tampil dengan tubuh yang dua kali lebih kurus, meski buah dadanya tetap tidak mengalami penyusutan seperti berat badannya. Wajah nya juga nampak tirus, dengan kantung yang menghitam di kedua area mata.
Rambutnya juga di potong pendek, membentuk bob se-leher. Sekilas, ia seperti bukan Monica yang di kenalnya.
"Apa kabar Mon?" Sapa Dara memulai obrolan.
"Begini-begini aja Dara.." Sorot matanya sendu.
"Oh iya, kamu mau pesan minum?"
"Nggak perlu Dara, aku sepertinya hanya sebentar"
"Oke.." Dara mengiyakan.
"Mungkin kamu bertanya-tanya, tujuanku ingin bertemu untuk apa ya" Ucap Monica, sedangkan Dara mengangguk sembari mengulas senyum.
"Dara.. Dari lubuk hatiku yang paling dalam, dengan segala kerendahan hati, aku ingin meminta maaf atas semua yang pernah ku lakukan padamu. Aku tau, dosaku terlalu banyak. Tapi aku rasa nggak ada salahnya untuk tetap meminta maaf" Lanjut Monica.
Dara terdiam, sambil menyimak kalimat Monica yang belum selesai.
"Kiranya kamu sudi, untuk memberiku maaf. Aku akan sangat berterimakasih Dara.." Tutupnya dengan nada penuh harap.
"Monica.. Kamu nggak perlu mengiba seperti itu. Aku sudah memaafkanmu, bahkan sebelum ini" Ucap Dara. "Aku sudah melupakannya. Jadi nggak usah di bahas lagi ya"
Monica begitu terpana, dengan ketulusan yang terpancar dari Dara. Wanita itu seakan dengan mudahnya memberi maaf pada orang yang sempat mengacak-acak hidupnya, berusaha merebut suaminya, bahkan meracuninya dengan obat penggugur kandungan.
"Aku pikir, manusia pemaaf hanya ada di dalam cerita. Ternyata nggak. Kamu nyata.." Ucap Monica. "Terimakasih ya Dara, kamu benar-benar baik. Kamu memang cocok bersanding dengan Nathan"
Sebenarnya, ia sangat ingin membuat pengakuan tentang apa saja yang pernah dilakukannya, namun setelah berpikir ulang, pada akhirnya Monica merasa hal ini tak perlu dijabarkan secara gamblang. Khawatir akan mengguncang Dara yang tengah hamil, dan bisa saja berakibat buruk untuknya.
Dara mengukir senyum manis yang menampilkan lesung pipinya, bersamaan dengan Monica yang menyesali perbuatannya di masa lalu.
"Ngomong-ngomong, sudah berapa bulan usia kandunganmu Dara?"
"Delapan. Sebentar lagi masuk sembilan"
"Semoga lancar ya"
"Makasih do'a nya Monica"
Keheningan menjeda obrolan mereka beberapa menit. Dengan dua orang wanita yang terjebak dalam pikirannya masing-masing.
"Monica, maaf. Boleh aku bertanya?" Akhirnya Dara memulai kembali percakapan itu.
"Silahkan Dara.."
"Apakah kamu.. Sedang, sakit?" Tanya Dara ragu-ragu.
Monica diam, terlihat enggan memuaskan Dara dengan jawabannya. Beberapa detik kemudian, ia menghadiahi Dara hanya dengan senyuman.
"Do'akan yang baik-baik untukku ya Dara.." Jawab Monica singkat. Ia meraih tas kecil yang sebelumnya di letakkan di atas meja, menggantungkan tali rantai panjang di salah satu bahunya, kemudian beranjak dari tempat duduknya.
"Monica.." Gumam Dara tanpa memindahkan sorot mata dari Monica yang perlahan menghilang dari pandangannya.
Ia amat yakin ada sesuatu yang menimpa wanita itu hingga mampu membuat perubahan besar dari segi fisik di tubuh nya. Walau tak tahu apa, namun Dara tetap berharap ia baik-baik saja.
Dara meneguk sisa hot lemon tea nya hingga habis tak tersisa, kemudian beranjak dari kursi yang di tempati. Ia berjalan perlahan hendak keluar dari cafe tersebut. Ketika akhirnya kedua kaki itu mencapai ambang pintu, seseorang menghentikan langkahnya tiba-tiba, membuatnya terperanjat seketika.
"Dara!! Kamu baik-baik saja? Apa yang dia lakukan padamu?" Nathan muncul tiba-tiba dengan wajah paniknya. Ia memegangi istrinya, mengecek keseluruhan tubuh ibu hamil itu dari atas sampai bawah, depan belakang, segala sisi tak terlewatkan satupun.
"Nathan.."
"Kamu beneran nggak kenapa-kenapa kan? Apa ada yang sakit? Wajahmu? Perutmu? Atau.."
"Nath!" Ucap Dara setengah teriak, berusaha menghentikan penggeledahan yang dilakukan Nathan.
Pria itu diam, dengan napasnya yang naik turun.
"Aku akan menjelaskan semuanya padamu, tapi kita harus pindah dulu. Karena kita menghalangi orang lain untuk keluar dan masuk!"
Nathan tersadar, posisi mereka memang benar tepat di depan pintu dan tampak beberapa orang yang hendak keluar dan masuk ke sana terhenti langkahnya karena keberadaan mereka.
Ia mengulas senyum getir, sembari sedikit membungkukkan badan meminta maaf atas perbuatannya. Kemudian melenggang buru-buru dengan setumpuk rasa malu di atas kepala. Tak lupa ia menggandeng Dara yang diam-diam menertawai dibelakangnya.
Sesampainya di area parkir, Nathan membuka pintu mobil pada kabin depan, meminta Dara untuk duduk dengan kakinya yang mengarah ke bagian luar sementara ia berdiri menghadapnya.
"Apa yang dia lakukan padamu?" Nada interogasi terdengar jelas dari intonasinya.
"Dia siapa?" Dara berpura-pura.
"Duh.. Monica! Kamu tadi bertemu dia kan?"
"Darimana kamu tau?"
"Mata-mataku banyak! Sudahlah! Sekarang aku sedang bertanya padamu. Jangan malah bertanya balik. Aku butuh jawaban!"
"Nggak ada yang dia lakukan selain meminta maaf Nath.."
"Minta maaf?" Nathan tampak tak memercayai ucapan Dara.
"Iya. Atas semua yang pernah dia lakukan di masa lalu"
"Hanya itu?"
Dara mengangguk yakin.
"Dara, kamu nggak tau siapa Monica. Dia adalah orang paling mengerikan yang pernah ku kenal. Kamu nggak bisa memercayai nya begitu aja!"
"Aku yakin kok, tadi itu dia benar-benar tulus. Karena ada.. Sesuatu yang berbeda darinya"
"Apapun itu, kamu tetap bersalah. Ini pelanggaran Dara! Kamu pergi tanpa sepengetahuan ku. Bahkan sendirian tanpa mbak Asih. Yang lebih mencengangkan, kamu bertemu dengan orang seperti Monica, berbincang hanya berdua dengannya. Apa sih yang kamu pikirkan?" Nathan memandang Dara begitu tajam.
"Oke. Aku memang salah" Ucap Dara lembut. "Aku minta maaf ya?"
Nathan diam, mengedarkan sorot mata ke sembarang arah. Berusaha meredam emosi yang sempat tersulut.
"Nathan?" Panggil Dara dengan nada manja membuat Nathan melirik padanya.
"Maafin aku?" Ucap Dara lagi mengiba.
Nathan melemah, wajah cantik istrinya bagai obat peredam emosi paling tokcer. Ia memeluk Dara, mendekap tubuhnya erat.
"Sayang, dia itu ular berkepala dua. Kamu nggak bisa menaruh kepercayaan semudah itu dengan orang macam dia. Kamu itu terlalu polos, gimana kalau tiba-tiba dia menyakitimu?" Nada bicara Nathan melembut.
"Iya Nath.. Maaf ya?"
"Oke. Aku memaafkanmu" Ucap Nathan. Ia melepas pelukannya sambil memandangi wajah istrinya dengan intens. "Tapi ada syaratnya"
"Apa?"
"Kamu harus membayar.. malam ini"