
"Selamat datang pengantin baruu..." Sambut bunda yang berdiri di depan pintu ketika mereka masuk ke apartment. Pasutri itu tiba disana sekitar pukul 14:00 siang karena mengambil penerbangan di pagi hari.
Satu minggu telah dilalui dengan kebersamaan antara Nathan dan Dara di Bali. Semua berjalan cukup lancar, meski tetap tak akan 'menghasilkan' karena mereka tak melakukan apa-apa selama disana. Dan hari ini, mereka kembali pulang dan akan segera menjalani rutinitas harian seperti biasa.
"Bukan baru lagi lah.." Bantah Nathan yang langsung memeluk sang bunda.
"Bagaimana bulan madu kalian? Menyenangkan? Oh.. Sudah pasti sih ya" Tebak bunda sambil cekikikan sendiri.
"Begitulah.." Sahut Nathan sembari melepaskan pelukannya.
"Apa kabar bunda" Sapa Dara yang juga memeluk ibu mertuanya.
"Bunda sangat baik nak.. Apalagi setelah melihat kalian yang baru pulang berbulan madu. Jadi tidak sabar.."
Dara tersenyum mendengar ucapan bunda yang begitu mengharapkan cucu darinya.
"Ayo kita masuk, kamu pasti lelah kan"
Bunda melepas pelukannya dan menuntun Dara menuju ruang keluarga. Nathan telah lebih dulu menyandarkan tubuhnya disana.
"Kalian liburan kemana saja? Cerita dong sama bunda" Tanya bunda antusias.
"Banyak tempat bunda" Jawab Dara. Sementara Nathan nampak ogah menjawab apa yang ditanyakan bunda.
"Apa kalian menyukai villa yang bunda booking? Maaf ya.. Bunda baru bisa memberi kalian liburan ke Bali. Lain kali, bunda akan mengatur lagi liburan kalian ke luar negeri"
"Ya ampun bunda. Nggak perlu repot-repot.." Ujar Dara tak enak hati.
"Tidak repot sama sekali kalau untuk anak-anak kesayangan bunda ini.."
"Ah, bun.. Maaf memotong. Aku harus pergi sekarang. Ada urusan" Selak Nathan di tengah hangatnya obrolan.
"Lho, kamu baru saja sampai. Mau kemana Nath?" Panggil bunda pada Nathan yang langsung beranjak dari tempat duduknya.
"Mau ketemu teman-temanku. Sudah terlalu lama aku cuti.. Aku pergi ya" Nathan melanjutkan kembali langkahnya dan keluar dari apartment.
Bunda nampak gusar, ia menggelengkan kepalanya sambil berdecak kesal.
"Sudahlah bunda, mungkin memang Nathan sedang ada pekerjaan" Ucap Dara berusaha menghangatkan suasana kembali.
"Apa dia masih seperti itu? Cuek sama kamu?" Pertanyaan bunda bagai sedang menginterogasi.
Dara diam sejenak sambil memikirkan kata-kata apa yang dapat memuaskan keingintahuan bunda sekarang.
"Ehm.. Nggak kok bunda. Nathan baik denganku"
Bunda menatap Dara bagai tak percaya. Dia tahu menantunya selalu menjaga nama baik Nathan bahkan di depan ibunya sendiri.
"Kamu tidak berbohong kan?" Terka bunda.
"Nggak bunda.." Ucap Dara sambil tersenyum.
"Dengar, kamu tidak perlu sungkan untuk bilang ke bunda kalau ada perbuatan Nathan yang menyakitimu. Dia harus berurusan dengan bunda. Mengerti nak?"
"Iya bunda.. Terimakasih.."
Bunda merangkul Dara dan memeluk menantu kesayangannya dengan hangat. Wanita itu benar-benar beruntung, karena memiliki seorang ibu mertua yang sangat memperhatikannya dengan penuh kasih sayang.
...***...
Usai berlibur selama sepekan, otomatis semua kegiatannya di band digantikan sementara oleh orang lain. Dan untuk menebusnya, hari ini Nathan langsung ikut serta manggung di sebuah acara yang di gelar pada sebuah tanah lapang yang cukup luas tak jauh dari tempat tinggalnya.
Seakan melupakan rasa lelahnya setelah menempuh perjalanan pulang dari liburan, Nathan beraksi dengan energic di atas panggung dengan gitarnya. Sorak sorai penonton menambah semangat dari dalam dirinya.
Pria itu tampak begitu merindukan suasana ini. Ia terus menggesek gitarnya, menghasilkan melodi yang sedap di dengar para penggemar yang menggilai nya.
Tiga jam berlalu, acara konser yang juga menghadirkan beberapa musisi lainnya tersebut berakhir. Penonton yang hadir dan turut meramaikan acara itu tampak begitu puas, sedikit demi sedikit mereka meninggalkan area panggung yang awalnya terlihat begitu sesak.
Nathan dan teman-temannya juga beristirahat di dalam tenda yang di dalamnya sudah disiapkan kursi lipat untuk masing-masing pengisi acara. Hari sudah malam, dan Nathan baru merasakan lelah menyerang tubuhnya.
"Another good job guys.. Dan khusus Nathan, makasih banyak udah nyempatin datang. Lo keren banget sih Nath.." Ujar Regy.
"Ya.. Ya.. Ya.. Ada tip dong buat gue nih" Celetuk Nathan sambil menenggak air mineral.
"Ha.. Ha.. Ha.. Tip apanya" Balas Regy.
"Lo nggak capek Nath? Baru pulang udah pergi lagi" Ucap Adly.
"Capek sih, cuma gue rindu. Gimana dong?"
"Rindu sama gue?" Celetuk Mike yang ikut menimbrung.
"Najis.." Sahut Nathan. Sementara Mike cekikikan.
Nathan tersenyum sinis menanggapi celotehan sang manager.
"Gue aminin paling kenceng!!" Sahut Mike semangat.
"Jangan di hamilin dulu dong. Dara boleh buat gue kan Nath?" Goda Nico. Dibanding kawannya yang lain, hanya Nico yang otaknya sedikit kurang waras. Tentu semua berawal dari penyalahgunaan obat-obatan terlarang yang di konsumsinya.
"Eh si sinting!" Hardik Adly yang sedang duduk di sebelahnya.
"Lo kira Dara barang bisa dipindah tangankan begitu" Ucap Regy.
Jika boleh jujur, Nathan mulai tidak menyukai Nico yang beberapa kali senang menggoda Dara bahkan saat di depannya. Sebetulnya, Nico pun tak salah karena pada awalnya dia pasti mengira bahwa Nathan tak mencintai Dara dan berniat untuk meninggalkan wanita itu, jika dilihat dari sikap nya.
Tapi karena kini dirinya mulai menyukai Dara, hal itu justru membuat emosinya terpancing dan bukan tak mungkin lama kelamaan ia akan membenci sahabatnya sendiri.
"Gue balik duluan ya.." Pamit Nathan.
"Buru-buru banget Nath? Minum-minum dulu lah kita" Ucap Adly.
"Thanks.. Tapi gue capek banget. Sorry ya nggak bisa ikut" Sahut Nathan sembari menyelempangkan tali tas gitarnya.
"Nath, lo tersinggung ya? Sorry..?" Ucap Nico.
"Santai aja.. Cabut ya!" Nathan berlalu dari hadapan kawan-kawannya.
Usai menggerakkan beberapa langkah kakinya keluar dari tenda, terdengar samar kasak kusuk suara dari dalam yang menghakimi Nico karena ucapannya tadi. Nathan tersenyum menang, merasa di bela oleh kawan-kawannya. Si bocah kurang ajar Nico memang perlu di bully sekali-sekali.
.
.
.
Nathan memasuki apartment dengan langkah gontai, tubuhnya terasa sangat lelah. Bahkan ia juga sudah tak merasa ingin makan malam lagi. Yang dibutuhkan saat ini hanya singgasananya dan tidur sampai esok hari.
Untuk menaiki anak tangga menuju lantai dua saja dia mesti mengerahkan tenaga terakhir yang di miliki nya. Andai apartment ini punya fasilitas lift atau eskalator di tiap unit, mungkin akan sangat membantu di saat-saat seperti ini, khayal nya.
Ia merasa lega ketika akhirnya sampai di depan kamar. Tanpa pikir-pikir ia langsung membuka pintu dan masuk ke dalam. Pemandangan pertama yang menyambutnya adalah Dara yang tengah tertidur nyenyak di atas sofa dengan beberapa pakaian di atas pahanya.
"Ngapain dia tidur disini" Batin Nathan.
Saat ini, Nathan sedikit bimbang. Dia tak tega jika harus membiarkan Dara tidur dengan posisi duduk seperti itu. Tapi dia juga tak ingin membangunkannya. Lalu, haruskah ia menggendong dan memindahkannya ke atas ranjang?
Pria itu menimbang dua pilihan di tangannya. Dan beberapa menit kemudian, dia memutuskan untuk menggendong Dara ke ranjang. Ia berusaha mengisi ulang kembali energinya dengan menarik napas dan membuangnya secara beraturan.
Dengan perlahan dan hati-hati ia memindahkan terlebih dahulu pakaian yang berada di atas pangkuan Dara ke sofa. Lalu sedikit demi sedikit menyelipkan sebelah tangannya pada lipatan bagian belakang lutut sementara satu tangan lainnya menyangga punggung Dara yang terkulai lemah.
Nathan mengangkat tubuh Dara dengan hati-hati. Wanita ini tampak begitu kelelahan hingga tak sama sekali terganggu dengan apa yang dilakukan Nathan. Ia berjalan penuh kehati-hatian, hingga mencapai ranjang. Sepanjang menggendong Dara, hati Nathan dipenuhi rasa yang dia sendiri tak bisa mengerti.
Sebelum meletakkan tubuh mungil sang istri di atas ranjang, ia menyempatkan diri untuk memandangi wanita dalam pelukannya itu. Dara terlihat berkali-kali lipat lebih cantik ketika sedang tertidur. Wajahnya terasa damai, merona benar-benar seperti malaikat.
Jantungnya kembali berdegup kencang. Tanpa sadar ia tersenyum, dengan sorot matanya yang tak berpindah sedikitpun dari Dara. Raut wajahnya seakan jadi candu. Ia bertanya dalam hati, bagaimana bisa setelah berbulan-bulan jadi istri, dirinya baru menyadari kecantikan Dara sekarang.
Pantas saja kalau kawan-kawannya, terutama Nico, dan juga turis waktu itu begitu menyukainya.
"Sekarang gue suka. Tapi apa nanti akan cinta?" Batinnya.
Diluar dugaan, Nathan tiba-tiba merasakan sedikit pergerakan dari tubuh Dara. Rasa gengsi nya kembali datang, dia tak ingin Dara tahu bahwa saat ini dirinya tengah menggendong dan memandangi wajah wanita itu dengan intens.
Nathan cepat-cepat menurunkan Dara, dan hendak menaruhnya di atas ranjang. Namun karena perhitungannya yang kurang, tubuh mungil Dara justru malah terhempas cukup kencang di ranjang. Hal ini tentu membuatnya tersadar dari tidur nyenyak nya.
"N-nath.." Ucap Dara dengan napasnya yang terengah-engah karena sedikit terkejut.
Satu hal yang masih belum disadari Nathan adalah, kedua tangannya masih memegang erat tubuh Dara yang sudah mendarat di atas ranjang dengan sempurna. Membuat wajah mereka berada dalam jarak yang sangat dekat dan dapat merasakan hembusan napas satu sama lain.
Deg!
"Ahh.. Maaf.. Maaf.." Nathan langsung menarik tangannya cepat-cepat. Ia makin salah tingkah.
"Kenapa..?" Dara menarik selimut yang ada di ranjang dan menutupi sebagian tubuhnya. Gelagatnya bagai seseorang yang hendak di perkosa.
"A-aku.. Tadi aku lihat kamu tidur di sofa. Aku kasihan saja, jadi aku pindahkan kamu kesini. Maaf ya? Aku nggak bermaksud lain. Sumpah" Ucap Nathan gelagapan.
Dara masih nampak shock karena sama sekali tidak menyangka dengan apa yang dilakukan Nathan. Meski disamping itu, ia tak menampik bahwa juga ada rasa senang di hatinya.
"I-iya.. Nggak apa-apa kok. Makasih ya" Ucap Dara.
Nathan menggaruk-garuk kepalanya, ia bahkan tak tahu akan berbuat apa. Melihat Dara yang nampak ketakutan, membuat dirinya merasa bersalah.
"Yasudah aku.. Aku tidur disana ya. Kamu bisa lanjutkan lagi istirahatnya" Ujar Nathan.
Ia menjauh dari Dara secepat kilat, kemudian menggapai sofa dan langsung merebahkan tubuhnya disana. Nathan mengutuki dirinya sendiri karena kurang berhati-hati. Semestinya, ia bisa lebih lembut lagi agar Dara tak perlu tersadar dari tidurnya.