
Bayang-bayang Dara entah bagaimana terasa lekat dalam otaknya, menelusup sembarangan memenuhi ruang di dalamnya.
Nathan memutuskan untuk langsung pulang, hatinya yang memerintah. Meskipun kawannya mengajak untuk hangout merayakan kebebasannya, tapi dia tidak berminat sama sekali. Bagaimana bisa menikmati suasana disaat hatinya resah?
Pria itu sampai di apartment, membuka pintu utama dan melenggang masuk ke dalam. Pemandangan pertama yang di tangkap sorot matanya adalah segaris senyum amat manis yang mekar dari seorang wanita cantik bertubuh mungil, dengan perutnya yang nampak menonjol.
Dara..
"Hei Nath.." Dara menyapa ramah.
"Hei.."
"Gimana acara konferensi pers nya? Lancar?"
"Uhm.. Ya. Lancar" Nathan berusaha mengulas senyum, tapi bibirnya terasa kaku.
Dara berdiri tepat di depannya, memandang dengan intens setiap inci dari wajahnya. Jika dilihat dari dekat, hari ini Dara terlihat pucat.
"Ra.." Suara Nathan melembut.
"Ya Nath?"
"Kamu.. Sakit?"
"Hmm? Nggak.. Ah, sebenarnya hari ini aku merasa sedikit pusing" Dara memijit-mijit dahinya sendiri.
Nathan meraih salah satu lengan Dara dan reflek menggenggam nya. Menciptakan serangan gugup pada wanita itu.
"Apa itu sesuatu yang buruk?" Wajah pria itu berubah khawatir.
Dara mengulas senyum "kamu nggak perlu khawatir Nath. Aku baik-baik saja, asal..." Dara menggantung kalimatnya sejenak. "Asal ada kamu, disini" Wajahnya memerah saat mengatakan kalimat terakhir.
Sedangkan Nathan tidak tahu harus bereaksi seperti apa.
"Ehmm.. Dara.."
Cklek..
Tiba-tiba pintu utama dibuka seseorang yang tidak diduga. Membawa kejutan di tengah-tengah pasutri yang sedang di selimuti rasa salah tingkah.
"Hai semua" Monica masuk tanpa aba-aba dan izin dari tuan rumah, menggubris moment hangat Nathan dan Dara.
"Monica? Ada apa?"
Wanita bertubuh seksi itu menggandeng sembarangan lengan Nathan dengan mesra.
"Temani aku ya. Hari ini ada jadwal pemotretan" Ucap Monica manja.
Bukan tak masalah, Dara hanya tidak memiliki lisan selentur bunda untuk memaki orang lain. Dia terlalu terbiasa mengalah, meski seseorang merebut miliknya yang berharga sekalipun.
"Ayo!" Monica mengerling pada Nathan sambil berusaha menuntun pria itu mengikuti langkahnya.
"Nath.. Tunggu!" Pada akhirnya Dara memiliki keberanian untuk menghalau suaminya yang akan dibawa wanita lain. Ia menarik lengan Nathan yang lain dan menggenggamnya erat.
"Oh iya, aku lupa" Ucap Monica. "Dara, aku izin ya. Mau ajak suami kamu pergi denganku. Nggak apa-apa kan?"
Dara menggeleng perlahan, air mata nampak menyembul dari ujung matanya.
"Nath.. Kamu baru saja sampai. Dan aku butuh kamu" Lirih Dara, mengacak-acak perasaan Nathan seketika.
"Sorry to say ya Dara, tapi kami juga butuh waktu berdua. Menghabiskan hari, sebagai pasangan yang saling mencintai" Tutur Monica sinis.
Dara berusaha mati-matian agar tidak terlihat lemah di hadapan Monica, tapi mata nya mengkhianati. Bulir-bulir air mata berjatuhan mengaliri wajahnya.
"Tapi dia suamiku!"
"Ya, aku tau itu! Tapi bukannya cuma di atas kertas saja? Kenyataannya, kalian tidak saling mencintai kan?"
Dara bungkam. Meski pahit, tapi yang diucapkan Monica adalah sebuah kenyataan. Dia tahu, Nathan memang tidak akan bisa mencintainya sebanyak ia mencintai wanita seksi itu.
"Sudah ya, kita buru-buru nih. Ayo honey!"
Nathan dihadapkan pada dua pilihan sulit, dia tak bisa menolak Monica begitu saja. Dan di sisi lain, dia juga tak sampai hati jika harus meninggalkan Dara yang membutuhkannya.
Walau pada akhirnya, Monica menang dan mampu menguasai Nathan di atas air mata istri sah nya.
Dara berusaha mengejar mereka, namun sempat terhenti beberapa detik karena merasakan kepalanya yang kembali terasa pusing.
Dia mengerahkan tenaga, mencoba sekali lagi dan berhasil. Mencapai, menaiki lift yang sama dengan Nathan bersama selingkuhannya.
"Nath, tolong pikirkan dia. Calon anak kita, karena dia yang paling membutuhkanmu" Dara mengiba di hadapan suaminya, menyingkirkan sejenak harga dirinya.
Ketika akhirnya mereka sampai di area parkir basement, genggaman tangan Dara makin dipererat pada lengan Nathan. Dia hanya mencoba untuk mempertahankan ayah dari anaknya, setidaknya menjamin kehidupan keturunannya agar mendapat kasih sayang lengkap dari kedua orang tuanya.
"Nath.. Ku mohon!" Wajah Dara memerah, ia menatap dalam-dalam Nathan yang mulai nampak iba.
"Jangan buang waktu honey!" Monica tak mau kalah. Menarik sekuat tenaga lengan Nathan dan berhasil membuat pria itu mengikuti langkahnya.
"Nath! Akh.." Mendadak kepalanya terasa sakit, langkahnya terhenti. Nathan telah lepas dari genggamannya, pergi dengan wanita yang cintainya. Rasa sakit itu kian bertambah, ketika menyadari Nathan tak lagi menolehkan wajahnya.
"Naath... Hiks.. Hiks.."
Tubuh Dara melemah, kedua lututnya seakan menolak untuk di ajak bekerja sama. Mungkin sebentar lagi ia akan ambruk, di sini, sebuah basement yang sepi. Tidak ada orang lagi selain dirinya. Entah bagaimana kelanjutannya, Dara hanya pasrah.
Pandangannya kabur, rona gelap mulai menyelimuti matanya. Dara hampir pingsan, tapi seseorang muncul tiba-tiba bagai super hero. Menyangga bagian belakang tubuhnya, tak ingin membiarkannya jatuh menghantam dataran keras nan dingin.
"Dara!"
Keenan. Dia datang dengan segenap perasaannya yang berkecamuk ketika menyaksikan sendiri di depan mata, wanita yang diam-diam dicintainya disakiti oleh suaminya sendiri. Di selingkuhi, dikhianati.
Dara yang rapuh hanya bisa menumpahkan air mata, dalam pelukan Keenan tanpa disadarinya. Pria itu mempererat dekapannya, membiarkan Dara tenggelam di dalamnya.
.
.
.
Keenan memapah Dara hingga masuk apartment. Membantu wanita itu duduk di sofa ruang keluarga. Wajahnya nampak pucat dengan peluh yang bermunculan di dahinya.
"Dara, apa yang kamu rasakan?" Keenan mencoba memberi pertolongan pada Dara yang melemah.
"Pusing" Sahutnya singkat, ia menyandarkan punggung di sofa.
"Coba kakak periksa tensi nya ya. Tunggu sebentar" Keenan mencari tensi meter dalam tas jinjingnya cepat-cepat. Kemudian memasangkannya pada pergelangan tangan Dara.
"Ini tekanan darahnya rendah banget Dara. Kamu kurang istirahat ya? Atau minumnya sedikit?"
Dara menjawab dengan gelengan kepala yang dilakukan perlahan, belum sanggup banyak bicara.
Keenan bangkit, berjalan menuju dapur lalu kembali dengan segelas air mineral di tangannya.
"Minum dulu ya, Dara.."
Menuruti perintah sang kakak ipar, Dara segera meneguk air tersebut sedikit demi sedikit. Lumayan membantu membasahi kerongkongan nya yang tercekat dengan kekecewaan. Ia mengulas senyum getir, menghaturkan terimakasih pada Keenan.
"Makasih ya kak.."
"Sama-sama Dara" Keenan meletakkan sejenak gelas berisi air mineral itu di meja. "Nanti minum lagi ya! Kebutuhan air putih untuk ibu hamil itu delapan sampai dua belas gelas setiap harinya. Kurang dari itu bisa meningkatkan risiko terjadinya masalah pada kehamilan. Jadi jangan malas minum ya" Ucap Keenan bernada lembut.
Lagi-lagi Dara hanya menjawab dengan anggukan kepala. Air matanya terus melakukan pengkhianatan dengan kembali keluar dari tempatnya. Perasaannya yang terluka lah yang memiliki andil atas semakin derasnya air mata itu mengalir, menuruni setiap lekuk di wajahnya.
Keenan merasa seperti ada sesuatu yang menusuk sanubari nya, menjalar hingga ke tulang. Menimbulkan ekses tak terduga dalam setiap hembusan napasnya, hanya dengan melihat betapa rapuhnya Dara.
Dia menyerahkan bahunya untuk tempat bersandar bagi Dara. Sambil telapak tangannya dengan lembut membelai puncak kepala adik iparnya tersebut. Sungguh Nathan telah menjelma jadi lelaki paling tidak tahu diri. Hidupnya amat sempurna dengan Dara di sisinya, namun kenapa masih saja dia berani mengkhianatinya?
Keenan sangat ingin mengutuk Nathan, apalagi saat mendengar rintihan Dara yang sudah pasti merasa hancur.
Di situasi seperti ini, terkadang membuat seorang pria tidak mampu berpikir lebih panjang. Mendadak otaknya meng-ide tentang sesuatu yang sebelumnya belum pernah terpikirkan.
Melihat Dara dalam keadaannya yang sekarang, hati kecil Keenan sangat ingin membahagiakannya. Dia tidak ingin lagi mendapati ada air mata yang membasahi wajah cantik Dara.
"Dara, kamu sudah mengetahui tentang Nathan dan Monica yang masih menjalin hubungan di belakangmu. Apa kamu yakin akan tetap bertahan?"
Dara masih terisak, bahkan hampir tidak menyimak baik-baik kalimat Keenan.
"Mereka menjalin hubungan cukup lama. Dan perempuan itu adalah cinta pertama untuk Nathan. Akan sulit memisahkan mereka, bahkan dengan pernikahan seperti ini sekalipun" Lanjutnya.
Perlahan Keenan meraih bagian dagu Dara, membuat ia mendongak ke arahnya. Tepat menghadap wajahnya.
Diamati nya lekat-lekat raut wajah Dara. Matanya hampir sembab.
"Kenapa nggak kamu tinggalkan saja dia?" Nada bicara Keenan terdengar makin intens. Kali ini Dara menyimak betul ucapan kakak iparnya yang justru memberi kesan aneh.
"Aku bisa, menggantikan posisinya. Menanggung hidupmu, dan juga keponakanku ini. Membahagiakanmu, tanpa sekalipun mengkhianatimu.."
Degup jantung Keenan mengalami peningkatan drastis, mungkin jika lebih fokus Dara akan bisa mendengarnya dengan jelas. Perlahan kepalanya mendekat, semakin dekat hingga hidung mereka saling bersentuhan.
Pada detik berikutnya, Keenan mulai kehilangan akal sehatnya sejenak. Dia menutup mata dan menempelkan bibirnya pada bibir Dara. ******* sedikit demi sedikit bibir wanita yang memiliki status sebagai adik iparnya.