
"Bunda rindu.. Keenan.. Nathan.." Ucap bunda lirih. Jemarinya mengelus-elus foto masa kecil Keenan dan Nathan dalam sebuah album yang dipegangnya.
"Mudah-mudahan suatu hari nanti kita dapat berkumpul lagi nak. Bunda sangat ingin memeluk kalian" Sambungnya.
"Tidak perlu menunggu suatu hari nanti. Sekarang pun bisa.. Aku disini.. Bunda" Ucap Nathan.
Bunda terperanjat, ia langsung menolehkan kepalanya pada sumber suara di belakangnya. Putra bungsu yang di rindukan tengah berdiri disana, mematung di ambang pintu.
"Nn.. Nat.. Nathan?" Panggil bunda. Nathan sedikit terkejut melihat betapa pucatnya wajah bunda, dan bentuknya yang juga sedikit lebih tirus. Nampaknya bunda telah kehilangan berat badan cukup banyak.
Nathan melangkahkan kaki memasuki kamar tempat bunda berada. Ia bersimpuh di depan bunda yang merasa seperti dapat kejutan dengan kedatangannya. Dirinya dapat dengan jelas melihat mata bunda yang berkaca-kaca kala menatapnya.
"Bunda, aku minta maaf. Atas segala yang telah aku perbuat pada bunda. Aku selalu membangkang, tak pernah mau mendengarkan bunda. Padahal, bunda adalah satu-satunya orang yang rela berkorban demi aku. Tapi aku sendiri egois, hanya mementingkan perasaanku sendiri tanpa memikirkan perasaan bunda" Ucap Nathan lirih. Ia menggenggam sebelah tangan bunda dengan kedua tangannya.
Bunda hanya diam dengan kedua matanya yang terus terpusat pada putranya.
"Maafkan juga jika aku telah membuka luka lama bunda yang mungkin selama ini telah berhasil dilupakan. Aku sungguh berdosa dengan bunda" Sambungnya.
"Dari semua yang telah ku lakukan, sudikah bunda memberi maaf padaku?" Tanya Nathan ia menatap balik wajah bunda yang memerah.
"Pintu maaf bunda, akan selalu terbuka untuk anak-anak bunda yang mau berbesar hati mengakui kesalahannya. Dan berusaha memperbaikinya. Tentu bunda maafkan kamu nak" Jawab bunda sembari menyeka bulir air mata dari pelupuk matanya.
Nathan langsung memeluk tubuh bunda dengan erat. Dia bersyukur mempunyai ibu seperti bunda, seorang wanita dengan hati yang kuat, tangguh, juga pemaaf.
"Terimakasih bunda" Ucap Nathan.
"Iya nak" Jawab bunda sembari melepaskan pelukannya. Ia mengusap pipi Nathan penuh kasih sayang.
"Dan juga, aku mau. Aku mau menikah dengan Dara" Ucap Nathan.
"Apa?" Tanya bunda.
"Aku mau, menikahi Dara" Jawab Nathan.
"Kamu, tidak sedang main-main kan?" Bunda seakan tak percaya dengan apa yang baru saja di dengarnya.
"Aku sangat serius bunda" Tugas Nathan.
"Syukurlah.. Bunda senang sekali mendengarnya nak" Ucap bunda seraya kembali mendekap tubuh Nathan dalam pelukannya.
"Itu adalah pilihan yang tepat. Kamu pasti akan berbahagia dengannya" Sambung bunda.
"Mudah-mudahan ya bun" Ujar Nathan.
"Pasti. Bunda jamin" Ucap bunda, nampaknya ia mulai mendapatkan kembali semangat hidupnya. Senyum tipis tersungging di bibir Nathan.
\*\*\*
"Ini nak. Makanlah, kamu harus tetap sehat sampai waktunya tiba" Ucap bunda. Tangannya dengan cekatan menyendoki beberapa makanan yang tersaji untuk Nathan.
"Sudah cukup untukku. Bunda yang harus banyak makan protein. Aku lihat bunda nampak kurus sekarang" Ucap Nathan.
"Ah, masa iya? Tapi bunda makan terus kok" Sahut bunda.
"Makan, tapi sering ndak habis lho mas" Celetuk bi Sari ikut menimbrung. Ia baru bergabung di ruang makan sembari membawa beberapa makanan penutup.
"Ah bi Sari" Ucap bunda.
"Saya itu khawatir lho bun, takut bunda sakit kalau makannya ndak habis terus" Ujar bi Sari.
"Tapi buktinya saya tidak sakit kaan? Sudah sini, bi Sari ikutan makan yuk" Ajak bunda.
"Terimakasih bun, saya sudah makan duluan tadi. He..he.. Maaf bun lapar soalnya" Ucap bi Sari.
"Oh.. Ya tidak apa-apa. Sekarang sudah lewat banget sih jam makan siangnya" Ucap bunda.
"Kalo gitu saya permisi ke dapur dulu ya bun" Pamit bi Sari.
Nathan dan bunda kembali melanjutkan makan siang telat mereka sembari berbincang. Sambil sesekali Nathan memandangi wajah ibu yang sangat disayangi nya itu. Bunda benar-benar telah kurus sekarang. Padahal belum dua bulan mereka tidak bertemu, tapi secepat ini perubahan yang terjadi pada bunda. Ada rasa bersalah yang tiba-tiba datang dihatinya.
"Ehm.. Bunda, sebenarnya aku punya pertanyaan. Bisa bunda menjawab nya?" Tanya Nathan.
"Bisa. Kamu mau tanya apa?" Jawab bunda seraya menyuap makanan ke mulutnya.
"Kenapa bunda menjodohkan Dara denganku? Kak Keenan pun belum menikah, usianya, bahkan hampir mencapai empat puluh tahun. Kurasa lebih pantas dia menikah lebih dulu. Lagipula, kalau seperti ini kan aku jadi melangkahi dia" Ucap Nathan menyampaikan apa yang selama ini jadi pertanyaan besarnya.
"Simple saja. Bunda ingin kamu berubah" Tukas bunda.
"Berubah?"
"Ya. Berubah jadi lebih baik"
"Kamu itu tipe orang yang sangat mudah terpengaruh. Mudah terbawa arus. Orang ajak kamu ke selatan, kamu ikut ke selatan. Orang ajak kamu ke barat, kamu ikut ke barat. Jadi jika bunda ingin kamu berubah, bunda harus menyandingkan kamu dengan orang yang tepat. Sedangkan Keenan, bunda cukup bisa mengandalkannya, karena dia adalah tipe orang yang teguh dengan pendiriannya" Jelas bunda.
"Tapi sepertinya dia kesulitan dapat pasangan bun. Apa bunda tidak takut dia jadi perjaka tua? Atau lebih parahnya, dia jadi penyuka sesama jenis"
"Tidak menikah pun bukan masalah kalau untuknya. Setidaknya di sisa umurnya dia dapat jadi pribadi yang membawa manfaat untuk banyak orang" Ucap bunda.
"Ya.. Dia memang hebat" Ucap Nathan.
"Kalian berdua hebat. Bunda bukan bermaksud membandingkan kamu dengan kakakmu. Bunda hanya ingin kamu open minded. Yang lebih tua, tidak harus selalu menikah duluan" Sanggah bunda.
"Tapi.. Bagaimana aku bisa berubah seperti yang bunda harapkan? Aku tidak cinta dengan Dara, menyukainya pun tidak. Padahal, kalau ingin merubah kebiasaan buruk kan tidak harus menikah" Ucap Nathan.
Bunda meletakkan sendok dan garpu pada posisi terbalik di atas piringnya yang telah bersih dari sisa makanan. Ia mengambil jeda sejenak sebelum menjawab kata-kata Nathan barusan.
"Bunda tidak selalu ada bersamamu. Kita tinggal di tempat yang jaraknya berjauhan. Tentu tidak ada role model yang dapat kamu lihat, apalagi kamu berteman dalam circle yang seperti itu. Teman-teman satu band kamu, tidak ada yang beres. Lalu pacarmu? Apa yang bisa diharapkan dari dia? Sangat sulit bagimu untuk bisa meninggalkan kebiasaan burukmu dengan lingkungan yang seperti itu Nath" Ucap bunda berusaha menjelaskan panjang lebar.
Nathan mengangguk pelan.
"Ya. Terimakasih karena bunda sudah banyak memikirkanku" Ucapnya.
"Sudah sepatutnya seperti itu. Mmm.. Ngomong-ngomong, kamu dari Jakarta?" Tanya bunda mengalihkan pembicaraan.
"Iya. Aku dari Jakarta. Berangkat sejak jam delapan pagi" Sahut Nathan.
"Bunda pikir kamu lupa dengan bunda" Gurau bunda.
"Mana mungkin bun" Nathan tertawa kecil.
"Kamu langsung pulang setelah ini?"
"Tidak. Aku ingin menemani bunda dulu disini. Lagipula, aku juga rindu dengan rumah ini, suasananya yang sejuk, jauh dari keramaian. Benar-benar Ngangenin" Ucap Nathan yang juga telah menyelesaikan makan siangnya.
"Oke. Bunda minta bi Sari rapihkan kamarmu ya"
"Tidak perlu bunda. Aku bisa rapihkan sendiri" Tolak Nathan.
"Yakin?"
"Iya bunda" Ucap Nathan seraya beranjak dari kursinya.
"Baiklah.." Tukas bunda.
Nathan menaiki tangga menuju kamar lama nya yang berada di lantai dua. Kamar itu ditempatinya ketika bunda berhasil menyelesaikan pembangunannya dari nol, kira-kira ketika ia berada di tingkat sekolah menengah pertama. Semua design kamar tersebut bunda yang merancang bersama arsitek yang digandengnya kala itu.
Ia menekan gagang pintu dan masuk dalam kamarnya. Ternyata seluruh interior dan poster-poster yang di tempelnya sejak dulu masih ada dan tertata rapi. Dirinya telah meninggalkan kamar itu sejak masuk perguruan tinggi, dan merantau di ibu kota. Bunda yang saat itu telah memiliki apartment pun akhirnya menyerahkannya pada Nathan untuk ditempati.
Sejak saat itu dia memang sangat jarang datang ke Bandung dan mengunjungi rumah bunda. Maka dari itu, ketika akhirnya ia menyambangi kamar penuh kenangan masa remajanya lagi, rasanya seperti sedang bernostalgia.
Bahkan di sudut kamar tersebut, ia menemukan gitar pertamanya yang dibeli dari hasil usahanya sendiri. Menjadi penyanyi di cafe semasa SMA bersama dua orang temannya yang sekarang entah dimana rimbanya.
Dia meraihnya, kemudian memetiknya sembari mengencangkan senar-senar yang dirasa mengeluarkan suara sumbang, agar dapat menciptakan alunan musik yang sedap di dengar. Sembari sesekali mulutnya bersenandung seirama dengan petikan gitar tersebut.
"Nathan?" Panggil bunda yang mengintip dari balik pintu.
"Iya bunda?" Sahut Nathan seraya menghentikan permainannya.
Bunda berjalan masuk dan menghampiri Nathan yang tengah duduk di tepi ranjang bersama gitarnya.
"Coba kamu lihat brosur ini. Bunda dapat ini beberapa bulan yang lalu. Menurut kamu, kita harus pakai W.O yang mana?" Tanya bunda seraya memperlihatkan beberapa lembar brosur jasa wedding organizer.
Nathan memperhatikan satu per satu dan membuka-buka brosur itu.
"Sepertinya tidak perlu pakai W.O bun" Ucap Nathan seraya mengembalikan brosur itu ke tangan bunda.
"Memangnya kenapa?" Tanya bunda.
"Aku menginginkan pernikahan yang sederhana saja. Tidak perlu mewah dan meriah. Cukup beberapa keluarga kita dan keluarganya Dara" Ucap Nathan.
"Tapi ini kan momen paling penting dalam hidupmu. Apa kamu tidak ingin punya kenangan?"
"Tidak" Jawab Nathan singkat.
"Sederhana saja ya bunda" Ucapnya lagi.
Bunda mendengus pelan usai mendengar keinginan Nathan. Walau sedikit tidak setuju, ia tak punya pilihan lain selain menurutinya. Sudah bagus akhirnya Nathan mau menikah dengan Dara. Kali ini, bunda tak ingin memaksa lagi. Demi menghindari kemungkinan Nathan akan membatalkan pernikahan tersebut.
"Baiklah, kalau itu yang kamu mau. Bunda ikut saja" Tukas bunda.
Nathan tersenyum tipis pada ibunya. Tanpa basa basi lagi bunda langsung beranjak dari sana, meninggalkan Nathan yang kembali asyik berduaan dengan gitar nya.